
"Sekarang kemana kita?" Kuro sambil menyipitkan matanya bertanya pada Lysa yang terlihat sangat santai mengamati pemandangan kota Wuling.
"Hm, kemari," Lysa dengan senyum percaya diri berjalan untuk memimpin.
Lokasi yang dituju adalah sebuah toko bernama small candle yang sepertinya dimiliki oleh pemain. Saat memasuki toko, Kuro dan Ares memperhatikan sekelilingnya, disana banyak barang yang dipajang. Kebanyakan adalah senjata seperti pedang, busur, tombak dan sebagainya. Tetapi, ada juga hal lain seperti tali, baju dan kembang api.
Meskipun tidak terlalu paham kenapa ada kembang api di toko seperti itu Ares berusaha mengabaikannya dan terus mengikuti Lysa yang naik ke lantai dua toko.
Tidak seperti lantai satu yang berisi beragam barang yang dijual, di lantai dua lebih terlihat seperti ruang istirahat, disana ada sebuah dapur, sofa yang terlihat nyaman dan berbagai hiasan di dinding.
"Hay, apa kabar Deep?" Lysa menyapa dengan sangat santai pada seorang pria yang memakai jubah penyihir bewarna gelap, rambutnya yang panjang diikat kebelakang, tatapannya terlihat sangat ramah tapi tidak tahu kenapa Ares merasa seperti akan tersedot jika ia tidak hati-hati.
Setelah melihat dan mendengar nama yang disebut oleh Lysa, Ares sadar apa yang ia rasa, itu adalah rasa waspada, sangat waspada. Karena orang yang berada didepan mereka sekarang adalah ahli strategi dari Empire.
"Lysa ya? Silahkan duduk," Sambil membuat teh untuk Ares dan yang lain, Deep menyuruh mereka untuk duduk di sofa yang ada.
"Jadi kalian kemari karena ingin bertemu pemimpin kami?" Sambil menyajikan teh, Deep bertanya dengan halus.
"Ya, apakah tidak bisa?" Kuro berbicara dengan tidak sabar, melihatnya Deep menyeringai.
"Tentu saja tidak masalah. Ah tapi, kalian tahu kan situasi kami sedang tidak bagus," sambil mengamati orang-orang yang duduk didepannya Deep berbicara dengan ramah.
"Kami mempunyai urusan dengan seseorang dari Shadow, jadi kami akan membantu," Ares yang sejak awal hanya diam berbicara dengan serius.
"Kamu serius? Mereka adalah salah satu guild terkuat saat ini," sambil menghela nafasnya Deep bertanya pada Ares.
"Tentu."
Mendengar jawabannya Deep bertepuk tangan singkat sambil tersenyum, "lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Kami akan membantu Empire untuk mencapai tujuan kami," Ares melihat ke arah Deep dengan serius.
__ADS_1
"Kau ingin menggunakan Empire sebagai batu loncatan?" Sambil menyeringai Deep melepaskan aura yang dimilikinya. Meskipun ia adalah seorang ahli strategi tapi kekuatannya tidaklah kurang malah dia adalah salah satu penyihir terkuat di Empire.
"Aura yang sangat kuat, tentu saja orang yang mendapat julukan Sima Yi dari Empire bukanlah sembarang orang," Ares yang menggunakan conqueror aura berusaha tetap tenang, karena perbedaan level yang besar antara keduanya ia conqueror aura tidak terlalu efektif.
Sedangkan Kuro yang awalnya duduk dengan tenang mulai memegang dadanya dan terjatuh, Lysa yang ada disebelahnya melihat dengan bingung karena dia sama sekali tidak terkena aura yang dikeluarkan Deep sama sekali.
"Yah, sejujurnya Empire tidak mempunyai kesempatan untuk menang jika Shadow dan Star World bekerja sama dan menargetkan kami," Deep menutup matanya sejenak sebelum kembali menatap Ares dengan intens.
"Aku tidak peduli," Ares menjawab dengan cepat.
Mendengarnya Deep menyeringai dan dengan tenang ia berkata," Kalo begitu bergabunglah dengan Star World!"
"Hah?!" Tidak hanya Ares, bahkan Lysa dan Kuro yang sudah duduk lagi mengerutkan kening mereka tidak paham dengan apa yang barusan dikatakan oleh Deep.
Melihat jika tidak ada yang memahami apa yang ia maksud, Deep tersenyum sebelum memberikan penjelasan.
"Untuk mengenali musuhmu, kamu harus menjadi musuhmu. Kau akan mengumpulkan informasi dari dalam sedangkan Empire mengumpulkan informasi dari luar, sekaligus jika bisa kau akan menyerang mereka dari dalam."
"Shadow dan Star World sedang bekerja sama, dan masuk ke Star World lebih mudah dari pada mencoba ke Shadow kan? Ini adalah situasi terbaik," sambil menyeringai lebar, Deep melihat ke arah Kuro yang terdiam.
"Ares?" Melihat Ares yang berdiri Kuro terlihat agak bingung, begitu juga Lysa yang sedang minum teh.
"Kau hanya ingin meminjam tangan kami untuk mencari info lewat dalam kan? Oke kami setuju," Ares segera pergi setelah menyetujuinya. Deep yang melihatnya tertawa kecil sebelum menyipitkan matanya dan melihat Ares dengan waspada.
"Ares! Oi! Kenapa?" Kuro bertanya dengan tidak paham saat Ares berjalan turun dan keluar dari toko.
"Ini yang terbaik, meskipun dia memanfaatkan kita tapi memang tidak ada pilihan lain selain ini dan langsung menyusup ke Shadow yang adalah hal mustahil," Ares berbicara dengan nada tidak senang pada Kuro yang ada di sampingnya.
"Lalu apakah kita akan ke tempat Star World?" Dengan nada santai Lysa bertanya pada Ares dan Kuro yang masih berdebat.
"Tidak... Aku akan ke Kota Ishimori," Kuro menjawab dengan tegas, Ares yang berjalan disampingnya berhenti dan melihat kearahnya dengan bingung.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Tidak ada, hanya aku ingin meminta bantuan Kiniro," Kuro menjawab dengan penuh tekad.
"Yah terserahlah."
"Aku ikut!" Lysa yang akan ditinggal mendekati keduanya.
***
Di sebuah hutan di Kerajaan Naira, seorang gadis dengan topeng biru melihat ke langit dengan hampa, di depannya terdapat banyak npc dari segala usia dan ras yang diikat dan dibuat pingsan.
Dan disampingnya seorang laki-laki bertubuh besar dengan topeng gagak mengamati dengan dingin.
Mereka disini untuk menjaga para npc yang ditangkap dan akan digunakan untuk ritual yang akan dilakukan oleh Guild Shadow, lebih tepatnya ritual untuk menyelesaikan quest guild mereka.
"Huh," Blue menghela napasnya perlahan, ia merasa sangat tidak nyaman dengan atmosfir yang ada di tempat ini.
"Ada apa Blue? Apa ada yang menganggumu?" Wanita yang memiliki tubuh sangat sangat hebat, menggunakan topeng merpati mendekati Blue dan bertanya dengan lembut.
Jika orang yang tidak mengenalnya pasti akan mengira jika ia hanyalah kakak perempuan yang ramah dan lembut, tapi bagi Blue ia benar-benar menakutkan, Pigeons ia adalah salah satu pembunuh terbaik milik Shadow sampai saat ini ia belum pernah gagal menjalankan misi untuk membunuh npc ataupun player.
"A-ah ya, tidak apa nona Pigeons," Blue menjawab pelan sambil melihat ke arah Pigeons sekilas.
"Okey! Jika ada apa-apa laporkan padaku ya~" Sambil melambaikan tangannya Pigeons berjalan menjauh dari Blue, Blue yang melihatnya pergi menjadi agak tenang.
"Ada apa Pigeons?" Seorang perempuan langsing dengan topeng burung Phoenix merah bertanya pada Pigeons setelah ia mendekati Blue.
"Ah, Nona Phoenix, tidak apa, aku hanya agak tertarik dengan anak itu," Pigeons menjawab dengan ramah sambil melihat ke arah Blue.
"Blue yah?" Phoenix melihat antara Pigeons dan Blue dengan tidak peduli sebelum memutuskan untuk pergi.
__ADS_1