
Di tepi sebuah sungai yang mengalir dengan deras seorang Night Elf yang memakai jubah hitam menatap lurus ke sebuah dahan pohon besar yang cukup tinggi.
Ia dengan cermat mengamati seorang gadis kunoichi berjubah biru dan sedikit warna merah, rambutnya yang biru dikucir dua terlihat imut. Di tangannya sebuah kunai siap untuk dilemparkan yang akan memulai pertempuran keduanya.
"Aoi," Kuro bergumam sambil mendesah dengan agak kesal.
Aoi dengan wajah sedih melemparkan kunai ke arah Kuro sebelum ia menghilang ke dalam bayangan langsung menuju Kuro.
Sambil mengamati area sekitarnya Kuro mengeluarkan belati miliknya bersiaga penuh untuk pertarungan yang akan ia jalani.
Aoi dengan wajah datar dengan short sword miliknya menebas punggung Kuro, Kuro dengan cepat melompat untuk menghindari tebasan Aoi sambil menggertakkan giginya.
"Kenapa Aoi? Bukankah kamu senang bersama yang lain?" Saat Kuro mengucapkannya sejenak tubuh Aoi bergetar yang dimanfaatkan oleh Kuro untuk melakukan serangan, ia melompat langsung mengarahkan belati miliknya ke jantung Aoi.
"Kamu tidak paham," Sambil menahan serangan Kuro, Aoi bergumam perlahan matanya menunjukkan kesedihan.
"Ya, aku tidak paham," Kuro mengakui, ia melompat mundur untuk memberi jarak,"Karena itu buat aku paham," Kuro menghela nafasnya sebelum menggunakan Illusion of Killer untuk membuat doubleganger.
Kuro segera melakukan serangan dua arah menuju Aoi yang masih diam di tempatnya,"maaf entah kamu mengerti atau tidak aku akan tetap pergi," Aoi menatap datar ke arah Kuro segera ia menggunakan double attack untuk menghancurkan doubleganger Kuro serta menahan serangan Kuro sebelum menggunakan back slide dan kembali memasuki bayangan.
"Kenapa baru memberitahu sekarang? Yang lain sudah tau?" Kuro bertanya dengan kesal saat ia mulai mencoba mendeteksi pergerakan Aoi.
Segera Kuro mendeteksi keberadaan Aoi yang memaksanya keluar dan segera menyerang, pedang dan belati bertemu Aoi dengan muka datar mulai berbicara, ia memberitahukan pada Kuro jika ia belum memberitahu siapapun dan tidak berniat memberitahu, tetapi karena Kuro adalah pengecualian maka Aoi memberitahunya tentang ini.
Mendengarkan penjelasan Aoi sambil terus beradu serangan Kuro menggertakkan giginya ia merasa tidak berguna saat temannya membutuhkan bantuan tapi ia tidak bisa apa-apa.
"Menyerahlah Kuro-kun aku akan tetap pergi atau mereka akan membuat kalian tidak bisa bermain dengan tenang," Aoi menunjukkan senyum kecil saat ia memulai serangan dengan envenom langsung ke titik vital Kuro yang berhasil menghindar.
"Yah, lalu bagaimana denganmu?" Kuro bertanya dengan suara bergetar saat ia mengeluarkan spirit attack untuk memulihkan mana miliknya.
"Kalian pasti akan melupakanku perlahan-lahan. Jadi, tidak apa."
"Mana mungkin! Dasar bodoh!" Kuro dengan marah melesat ke arah Aoi ia secara terus menerus menyerang dengan skill-skill miliknya tanpa memperhatikan mana miliknya yang terus berkurang meskipun sudah menggunakan spirit attack.
Aoi yang bertahan beberapa kali gagal menahan dan terkena serangan Kuro yang membuat HP miliknya sedikit demi sedikit berkurang terlebih lagi ia cukup terkejut dengan wajah marah Kuro yang belum pernah ia lihat.
Ia selalu melihat Kuro sebagai seorang yang suka tersenyum dan jahil. Baru kali ini ia menyaksikan Kuro yang seperti ini yang agak membuatnya merasa bersalah.
Kuro yang mulai kehabisan mana terduduk dan berusaha menumpu tubuhnya dengan belati miliknya dan menatap tajam ke arah Aoi.
Aoi dengan agak goyah mendekati Kuro dan memeluknya, air mata mengalir tidak seperti yang ia harapkan, Kuro yang melihatnya membeku tidak bisa berbicara apapun saking bingungnya.
"Maaf Kuro-kun," Aoi dengan cepat menusuk pedangnya ke leher Kuro yang langsung menembusnya dan berlanjut menembus lehernya yang langsung menghabiskan seluruh HP keduanya.
***
__ADS_1
Setelah habisnya durasi DemonĀ Power Ares mengeluarkan power stone untuk menambah kekuatannya, tetapi untuk melawan Kiniro itu tidak berarti banyak.
"Nitoryu Kiniro, 20 Renda," Kiniro tanpa ragu maju dan melancarkan serangan serangan cepat, sedangkan Ares berusaha untuk menahan semua serangan Kiniro.
"Fly, Garuda Sword Technique, Garuda Invansion!" Ares dengan cepat terbang dan memusatkan perhatiannya pada posisi Kiniro dan mulai mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat yang membuat banyak energi pedang yang mengarah ke arah Kiniro dengan kekuatan penghancur yang sangat kuat.
Kiniro yang melihatnya berusaha menghindar, tetapi meskipun ia mencoba menghindar beberapa energi pedang Ares sepertinya agak meleset dari arahnya yang membuatnya lebih sulit untuk menghindar.
***
Disisi lain duo Minerva dan Iris berada di posisi yang tidak menguntungkan saat bertarung melawan Shiro, meskipun pertarungan dua lawan satu tapi kemampuan Shiro dalam berpedang lebih tinggi dari kemampuan Minerva dalam bermain cakram.
Bahkan setelah menerima buff dari power stone yang diberikan oleh Ares ia masih belum bisa mengimbangi Shiro, meskipun ia unggul dalam kecepatan yang membuatnya frustrasi adalah insting Shiro yang agak tidak masuk akal hingga tidak satupun serangan cepatnya yang bahkan mengoresnya.
"Fire Strike!" Iris yang mencoba membantu mengeluarkan banyak bola api yang langsung ia arahkan ke Shiro terus menerus.
Shiro yang melihatnya mengangkat nodachi miliknya dan menebas ke arah datangnya bola api dengan kekuatan penuhnya yang menciptakan angin yang cukup besar dan membuat bola api menghilang begitu saja.
"Wind Breaker," Shiro melesat maju menuju ke arah Iris, yang terakhir segera menggunakan skill pertahanan yang ia bisa.
Sedangkan Minerva melihat itu agak panik dan bingung, saat ini perhatian Shiro sedang berpusat pada Iris jadi jika ia mengambil bendera tim lawan, tim nya harusnya menang, tetapi ia tidak bisa diam melihat Shiro yang akan menyerang Iris.
Disaat itu anak panah menghujani Shiro yang membuatnya berhenti dan fokus untuk menghindar dan menahan anak panah yang mengarah padanya.
Memanfaatkan hal itu Minerva berlari menuju bendera tim Kiniro dan mengambilnya saat semua orang sibuk, dan pemenangnya telah ditentukan.
Segera mereka keluar dari hutan dan kembali ke tanah lapang tempat mereka awalnya berkumpul.
Yang menunggu mereka disana adalah Kuro yang memasang wajah sedih meskipun timnya menang yang cukup aneh untuk dilihat.
"Kenapa?" Ares mengerutkan kening saat ia bertanya pada Kuro dengan hati-hati.
Kuro hanya menggelengkan kepalanya ia tidak ingin mengganggu teman-temannya paling tidak untuk sekarang.
"Baiklah! Kalian selamat telah memenangkan lomba ini! Nah untuk hadiahnya kalian berlima satu permintaan kalian akan dikabulkan oleh Raja asalkan masih masuk akal, itu juga termasuk gelar bangsawan tapi hanya gelar terendah karena bisa memicu masalah dengan bangsawan lainnya jika memberikan gelar tinggi," Laks tersenyum cerah saat ia berbicara dengan senang, dibelakangnya Raja, Ratu dan Pangeran Kerajaan Nusantara berdiri dengan bermartabat benar-benar keluarga kerajaan.
"Baiklah silahkan katakan permintaan kalian!" Raja yang melangkah maju merentangkan tangannya dengan bangga saat ia memandangi Ares dan teman-temannya yang telah berlutut.
"Baik Yang Mulia, nama saya Ares, jika Yang Mulia mengizinkan, saya menginginkan tiket untuk partisipasi dalam lelang internasional yang akan diselenggarakan di Sparta," Ares tanpa keraguan menyebutkan keinginannya, lelang internasional yang Ares maksudkan adalah event untuk melelang barang-barang yang sulit untuk ditemukan dan bagi pemain untuk berpartisipasi di dalamnya sangatlah sulit, tapi walaupun begitu NPC khususnya para bangsawan tinggi bisa berpartisipasi dengan tiket undangan yang cara mendapatkannya tidak diketahui oleh pemain.
"Lelang itu? Yah itu tidak terlalu sulit, tetapi lelang itu sendiri masih lama apakah tidak apa?" Sang Raja bertanya dengan ramah pada Ares yang tersenyum dan mengangguk sambil memberikan jawabannya.
Disisinya teman-teman Ares meminta secara bergantian, Kuro meminta set perlengkapan untuk penyamaran, Jedi meminta sebuah busur dengan efek elemen, Iris meminta skillbook yang diperlukan untuk menjadi wizard, sedangkan Minerva meminta peralatan yang memiliki efek untuk menambah kecepatan dan kelincahannya.
Setelah semua selesai dan mendapatkan barang yang diinginkan mereka pamit dan pergi menuju rumah teleportasi untuk kembali ke Kota Loka.
__ADS_1
Di depan rumah teleportasi Kiniro dan anggota partynya berdiri disana dengan agak cemas sepertinya.
"Kalian kenapa?" Jedi bertanya saat mengamati wajah anggota party Kiniro yang tidak terlihat baik.
"Aoi belum datang, tidak bisa dihubungi padahal jelas jelas dia online," Shiro menjawab dengan sedikit jengkel.
"Dia pergi."
"Apa?" Ares bertanya pada Kuro, tidak hanya ia yang lain juga mulai melihat ke arah Kuro dengan tatapan bingung.
"Aoi, dia pergi,"Kuro memperjelas kalimatnya dengan dingin.
"Apa maksudmu?!" Kiniro mendekati Kuro dan menatapnya dengan sangat tajam.
Melihat itu Kuro menghela napasnya dan mulai menjelaskan semuanya dari awal saat mereka bertarung dan apa yang dikatakan oleh Aoi kepadanya.
Saat mendengarkan penjelasan Kuro Guree mulai sedikit menangis sedangkan Noukon membantunya untuk tenang dengan mengatakan bahwa Aoi pasti kembali dan sebagainya.
"Karena itu, aku akan mencarinya,"Kuro langsung mengungkapkan niatnya saat semua orang sudah agak tenang.
"Apa maksudmu?" Ares bertanya dengan mata lebar ia bingung dengan ungkapan Kuro, mungkin terdengar mudah untuk mencari seseorang tapi ini tidaklah mudah dunia itu luas dan Aoi bisa berada dimana saja.
"Aku mempunyai gambaran kasar kemana dia pergi, tapi aku akan pergi sendiri. Aku tidak bisa melibatkan kalian, terlalu berbahaya," Kuro mengucapkannya dengan tekad yang membuat Kiniro yang daritadi diam menjadi agak geram.
"Kau! Kalo kau punya gambaran kasar kenapa tidak bilang?! Kami bisa membantumu!" Kiniro berteriak yang merupakan hal yang sangat jarang untuk dilihat.
"Maaf kali ini biarkan aku sendiri," Kuro menundukkan kepalanya dan dengan hati-hati berucap.
Saat Kiniro akan berteriak lagi Ares menahannya dan menyuruhnya untuk mempercayai Kuro sebagai temannya.
Dengan itu Kiniro sudah agak tenang, ia memutuskan untuk kembali ke Kekaisaran Sakura untuk melihat keadaan disana dan memastikan apakah Aoi disana atau tidak.
"Jadi kapan kau pergi?" Ares bertanya pada Kuro yang ada di sebelahnya sambil menepuk bahunya.
"Aku akan pergi sekarang," Kuro berucap sambil tersenyum tipis sebelum ia pergi.
"Jadi kita tinggal berempat?" Jedi bertanya dengan senyum kaku, ia hampir diam sepanjang waktu.
"Sepertinya ya," Ares menjawab saat ia menghela napasnya.
...****************...
**Hay dan disini arc 1 selesai walaupun aku lebih suka nyebutnya arc pengenalan, yasudahlah. untuk arc 2 sepertinya akan sedikit panjang karena akan ada 3 inti cerita.
Selamat membaca jangan lupa like ya**
__ADS_1