Terra Online

Terra Online
57. Pengkhianatan, Pembunuhan dan Ketidakpedulian


__ADS_3

"Semuanya! Jangan sampai terpisah! Berdekatanlah!" Kapten Lasos berteriak dan mengarahkan para prajurit agar tidak ada yang terpisah.


Sedangkan Ares dan yang lain sedang berbicara dengan dua orang bertopeng yang saat ini telah di ikat dengan sulur anggur.


"Apa di kelompok kalian ada seorang gadis dengan nama Aoi?" Ares bertanya dengan dingin, ia juga mengaktifkan Conqueror Aura untuk mengintimidasi.


"Aoi?" Keduanya sambil terikat saling bertatapan sebelum menggelengkan kepala,"kami tidak tahu."


"Apa maksudnya?" Kuro yang berdiri di belakang keduanya mengeluarkan belati dan menempelkannya di leher mereka.


"Di guild kami, Shadow ada peraturan khusus setiap anggota tidak diperbolehkan mengetahui identitas masing-masing ataupun saling menambah teman antar anggota. Hal itu dilakukan untuk menghindari kebocoran informasi," Lavender menjawab dengan cepat sambil mencuri-curi pandang ke arah belati yang menempel di lehernya dengan cemas.


"Begitu?" Kuro yang agak tidak puas secara tidak sengaja semakin menekankan belatinya yang membuat Lavender semakin cemas.


"Ta-ta-tapi! Memang ada seorang gadis berambut biru! dia juga memakai topeng biru! Codename nya adalah Blue!" Lavender menyebutkan informasi tentang identitas anggota guild dengan tergagap, Gray yang mendengarnya menatap Lavender dengan dingin, ia merasa Lavender telah menyebutkan sesuatu yang sangat dilarang di Shadow.


Dengan tanpa ragu saat Ares dan yang lain melonggarkan kewaspadaannya saat memikirkan kata-kata Lavender. Gray melemparkan beberapa pisau kecil ke arah titik vital Lavender dengan tangannya yang terikat. Lavender yang melihat itu membelalakkan matanya terkejut sebelum tewas karena serangan di titik vital.


"Hey... Apa yang kau lakukan?" Alphios yang sedari tadi diam melihat ke arah Gray dengan dingin, di tangannya ia sudah menyiagakan busurnya dan bersiap menembak.


Gray yang melihat itu balas menatap dan menjawab dengan percaya diri," Dia melanggar peraturan guild, setelah ini orang itu harus dibunuh beberapa kali sampai levelnya turun beberapa kali."


Ares yang mendengarnya tersenyum kecil ia tidak menyangka hukuman pengurangan level saat mati dipakai untuk hal seperti ini.


Sedangkan Alphios ia sudah menembakkan anak panahnya langsung ke jantung Gray yang masih terlihat sangat percaya diri.


"Aku membenci orang itu," Kuro bergumam pelan dan tidak ada yang membantahnya, baik Ares dan Alphios keduanya tidak bisa menerima apa yang dilakukan Gray.


"Sial! Tempat ini gila! Kenapa tidak ada monster sama sekali!"

__ADS_1


Setelah hampir satu jam berjalan dan tidak menemui apa-apa Alphios mulai berteriak dengan frustasi, ia yang mengharapkan petualangan yang penuh akan pertarungan mulai menjadi murung.


"Ah, tuan tenanglah, labirin ini memang di desain untuk mengurung Minotaur dan apapun yang masuk kesini biasanya telah binasa oleh Minotaur jadi normal jika tidak ada monster," Kapten Lasos sambil menenangkan Alphios mulai menjelaskan tentang labirin.


"Bagaimana mungkin? Bukankah labirin di game biasanya penuh akan monster? Ini terlalu realistis! Oi AI sialan! Realistis boleh tapi tetep patuhin dasar-dasar RPG dong!" Alphios yang terlihat akan menangis masih terus berteriak, Kapten Lasos juga masih berusaha menenangkan.


"Alphios tenanglah, lagipula kamu terlalu suka main game rpg sepertinya," Kuro menghela napas saat ia melihat Alphios yang masih frustasi.


"Kapten Lasos, boleh tolong gendong Alphios dulu? Nanti pasti tenang," Kuro dengan tersenyum ramah bertanya pada Kapten Lasos yang segera mengangkat Alphios dan menggendongnya di punggung.


Setelah berjalan sebentar Alphios yang masih digendong Kapten Lasos mulai tertawa sendiri.


"Oi Kuro, kau yakin dia tidak apa?" Ares memandang Alphios dengan ngeri saat ia bertanya.


Kuro yang ditanyai memalingkan wajahnya sambil menjawab,"aku tidak tau, tapi sepertinya itu kebiasaan Alphios saat tertekan, waktu aku menemukannya yang disergap sekelompok monster dia juga begitu."


"Benarkah?" Ares bertanya dengan ragu pada Kuro saat mendengarkan alasannya, lagipula siapa yang tidak akan curiga jika tau seorang kenalannya suka tertawa sendiri.


***


Disisi lain, kelompok tiga orang dengan waspada terus berjalan untuk menemukan jalan keluar, diantara mereka pria bertopeng rubah yang berjalan memimpin mengeluarkan aura yang berbahaya karena amarah.


"Sial! Sial! Sial! Kenapa mereka bisa terpisah!" Fox menggerutu saat ia menebaskan pedang pendek ke dinding labirin dengan marah.


"Para petinggi sialan itu juga! Bisa-bisanya mereka mengirimku ke misi bunuh diri seperti ini!"


Blue dan Pink yang mendengarkan secara bersamaan menghela napas, mereka saling tatap dan menggelengkan kepala.


"Kapten Fox, menurutku lebih baik kita menyerah saja dan mengulang kembali," Pink dengan takut memberi saran pada Fox yang masih menggerutu.

__ADS_1


"Ha? Ahahahah yang benar aja! Kau pikir mudah membuat akun baru?! Kau hanya akan ketinggalan oleh pemain lain!" Fox yang masih marah membentak Pink.


"Kapten Fox tenanglah, walaupun tidak menyerah jika kita tetap didalam sini itu akan menjadi percuma," Blue dengan datar mengingatkan Fox yang menjawabnya dengan ejekan.


"Lalu apa? Meskipun kau orang yang direkomendasikan langsung oleh pemimpin guild tapi aku tidak peduli lagipula aku akan membunuh para petinggi sialan itu," mata Fox mengeluarkan kilasan dingin saat ia berbicara, ia juga mengarahkan pedang pendeknya ke arah Blue.


Blue yang melihatnya tetap tenang, ia sama sekali tidak memperhatikan pedang yang diarahkan padanya, melihat apa yang ia lakukan tidak berefek Fox mendengus dan kembali berjalan diikuti oleh Blue yang menatapnya dengan pandangan dingin dan Pink yang ketakutan.


Setelah beberapa saat kewaspadaan mereka mulai sedikit menurun karena tidak menemukan apapun selama mereka berjalan.


Blue yang melihat kesempatan mengaktifkan Stealth dan Backstab sebelum menebas leher Fox yang segera menghabiskan hp Fox.


Pink yang melihat itu tercengang, ia secara tidak sadar berjalan mundur menjauhi Blue yang tidak menunjukkan ekspresi sama sekali.


"Pink, kemari, kita lanjut," Blue mengajak Pink yang masih ketakutan karena aksinya.


"Ta-tapi bagaimana kapten Fo-"


"Lupakan, seorang sampah seperti itu tidak pantas menjadi kapten, lagipula karena kata-katanya tadi ia sudah pasti akan dikeluarkan dari guild."


Mendengarkan jawaban Blue, Pink sedikit paham apa yang dimaksud tapi ia masih tidak mengerti kenapa Blue harus membunuhnya, menurut Pink lebih baik untuk bekerja sama sampai mereka keluar karena itulah ia tidak paham dengan Blue.


"Uh sudah berapa lama kita berjalan?" Pink mengeluh dan bertanya, ia bahkan sudah lupa berapa lama mereka berjalan tanpa menemui jalan keluar sekarang.


"Dari kematian Fox sekitar dua jam," Blue sedikit tersenyum saat menjawab pertanyaan Pink, sudah agak lama ia tidak santai saat berada di dalam game.


Hanya kesehariannya untuk menyelesaikan misi dan memenuhi harapan petinggi yang sangat tidak ia sukai. Tanpa ada kebebasan tanpa ada kesenangan. Seperti boneka yang dikendalikan dan tidak bisa bergerak semaunya.


Tapi sekarang, karena hanya ada ia dan Pink, dia sedikit merasa santai.

__ADS_1


"Mereka saat ini sedang apa ya?" Blue bergumam dengan senyuman manis yang telah lama tidak terlihat.


__ADS_2