
Saat Kevin masih makan, seorang gadis remaja keluar dari mobil bersama gadis kecil yang terlihat berumur sekitar 5 atau 6 tahun.
"Vin!" Liyana yang memakai kameja lengan panjang polos dan celana panjang mendekati Kevin sebelum memanggilnya.
"Hey, hem kamu memang cantik," Kevin berbicara dengan tidak peduli saat ia menatap gadis cilik yang digandeng Liyana dengan sedikit penasaran.
"Mama, kakak ini menatapku terus."
Kevin yang mendengar panggilan yang dipakai gadis cilik itu membeku dan secara tidak sadar melihat ke arah Liyana dengan tatapan aneh saat Liyana terlihat agak panik.
"Li, serius kamu punya anak? Kapan kamu hamil? Siapa ayahnya?" Dengan curiga Kevin bertanya pada Liyana yang menghela napasnya.
"Dia bukan anakku!" Saat Liyana mengatakannya gadis cilik itu terlihat seperti akan menangis, "maaf maaf kamu anakku! Kamu anakku jangan menangis!" Dengan panik Liyana menenangkan gadis cilik yang akan menangis.
Kevin melihat kembali gadis cilik dan itu mengingatkannya dengan Liyana sewaktu kecil hanya saja rambutnya yang berbeda warna, Liyana bewarna hitam sedangkan gadis cilik ini pirang cokelat agak kemerahan.
"Jadi, bagaimana caraku bertanya hm ini anakmu? Kapan kamu hamil?" Sambil menatap dengan curiga pada Liyana, Kevin bertanya langsung.
"Dia Ella sepupuku, ibunya sudah tiada dan karena dulu sering berada di rumahku dia mulai memanggilku mama," Liyana menjawab dengan ringan saat ia tersenyum.
"Sebentar, ada yang aneh, kenapa aku tidak tau?!" Kevin dengan aneh dan mengingat-ingat saat ia menatap bolak-balik antara Ella yang sedang minum teh dan Liyana.
"Memangnya kamu sering kerumahku?! Bukannya kamu yang sering menolak main kerumah," Liyana menghela napasnya sambil melihat ke arah Kevin yang kehilangan kata-kata sebelum mulai tersenyum.
"Nah untuk urusan mendesak yang aku maksud, aku akan pindah," Dengan senyum manis yang sangat dikenal Kevin, Liyana mengucapkan perpisahan.
"Hey, apa maksudnya?" Dengan bingung Kevin bertanya, dia mengigit ibu jarinya untuk memikirkan beberapa skenario yang menurutnya mungkin seperti jika Liyana hanya liburan atau sebagainya.
"Aku akan pindah, orang tuaku akan ke New York dan aku diminta melanjutkan pendidikan disana," Sambil mengusap air mata di ujung matanya, Liyana menjelaskan dengan senyum.
"Tidak bisakah ka-kamu tetap disini?" Dengan gugup dan sedikit berharap Kevin menanyakannya pada teman masa kecilnya, sekaligus orang yang paling dekat dengannya.
Menggelengkan kepalanya Liyana menjawab dengan pelan bahwa ia tidak bisa untuk tetap disini paling tidak sampai pendidikannya selesai.
"Kapan kamu berangkat?" Merasa tidak bersemangat Kevin bertanya pada Liyana dengan serius.
__ADS_1
"Besok."
"Bukankah terlalu cepat?" Kevin menjadi diam sejenak ia tidak bisa mengatakan apapun lagi, hal ini terlalu mendadak baginya.
"Aku tau, aku selalu ingin memberitahumu sejak kapan itu, tapi aku tidak bisa mengumpulkan keberanianku," Liyana dengan senyum kecut menatap mata Kevin yang terlihat sedih.
"Huh, kamu temanku, aku tentu ingin yang terbaik untukmu kan? Kalo begitu semoga lancar sewaktu disana," menghela napasnya Kevin berucap dengan senyum yang sangat jarang ia tunjukkan.
"Kamu tidak akan menahanku? Maksudku seperti di drama-drama saat heroine pergi tokoh utamanya akan menghentikannya?" Liyana bertanya dengan pelan saat ia mengalihkan pandangannya.
"Apa maksudmu? Meskipun aku sedih temanku pergi, aku tidak akan menghentikanmu lagian itu bagus untuk masa depanmu," Kevin mengerutkan keningnya saat ia melihat Liyana.
"Dan lagi apa maksudmu heroine? Tokoh utama? Ayolah ini dunia nyata Li," Kevin tersenyum kecil saat melihat teman masa kecilnya yang menggerutu saat ia menjawab pertanyaannya.
"Cih, Besok datang ke bandara jam 10 pesawat yang aku tumpangi akan berangkat satu jam setelahnya," Dengan agak kesal Liyana memberitahu Kevin jadwal keberangkatannya.
"Tentu aku akan datang, tapi bukannya kata-katamu agak kasar? Disini ada anak kecil," Kevin menegur Liyana dengan santai.
"Yah, baik cukup, Ella ayo pulang," Sambil menggandeng Ella, Liyana bersiap untuk kembali ke mobilnya.
"Bye Vin, dan posisi heroine adalah milikku!" Sambil tertawa kecil Liyana masuk ke dalam mobilnya dan pergi.
"Aku tidak paham apa maksudnya," Kevin bergumam pelan sebelum berjalan ke penjual untuk membayar biaya makannya.
"26.000 ribu," Saat mendengar ucapan penjual, Kevin mengerutkan keningnya dengan serius.
"Maaf pak, bukankah biasanya cuma 12.000 ribu?" Kevin bertanya dengan halus kepada bapak pemilik rumah makan favoritnya ini.
"Nona yang tadi yang bersama gadis kecil belum membayar," mendengar itu Kevin terdiam dan dengan patuh membayar sebelum kembali pulang dengan lelah.
***
Setelah kembali login, Ares berjalan menuju pintu masuk labirin setelah mengetahui Kuro dan yang lainnya menunggunya disana.
"Maaf aku terlambat," Ares meminta maaf saat ia turun dari punggung Wolfshef yang segera berubah ke bentuk chibi dan melompat ke atas kepala Ares.
__ADS_1
"Tidak apa, ini temanku Alphios dan ini pasukan yang akan membantu kita," Kuro yang tersenyum menjawab sambil memperkenalkan orang-orang yang ada disekitarnya.
Ares bereaksi dengan mengganguk dan melihat kembali ke arah pasukan yang ada di depannya yang berlevel paling tinggi adalah, Lasos seorang kapten berlevel 110 sedangkan yang lain rata-rata berlevel 80 sedangkan Alphios sendiri berlevel 120.
"Kita masuk sekarang?" Ares bertanya saat ia membagikan power rune kepada para prajurit, karena perilakunya ditambah stat leadership yang ia miliki Ares mulai dipandang dengan hormat oleh para prajurit bahkan kapten mereka tersenyum melihat itu.
"Iya, ayo," Alphios yang daritadi diam berbicara dan memimpin di bagian depan.
Ares yang ada di bagian belakang memanggil Napoleon dan mengeluarkan benang yang ia dapat dari Ariadne untuk menandai jalan yang mereka gunakan.
Napoleon yang tubuhnya tertutupi petir menjaga bagian belakang saat Ares maju dan bergabung bersama Kuro dan Kapten Lasos.
"Kapten, apakah benar-benar tidak ada yang pernah keluar dari sini?" Ares bertanya pada Kapten Lasos dengan penasaran bahkan Kuro juga ikut menyimak dengan penasaran. Selama ini informasi yang mereka dapat hanya bersumber dari pemain dan tidak ada dari NPC jadi jelas mereka merasa penasaran bagaimana sudut pandang NPC tentang hal ini.
"Iya, itu benar sama sekali tidak ada yang bisa keluar darisini dan berakhir menjadi makanan minotaur," Kapten Lasos dengan senyum sedih menjawab, ia terlihat seperti mengenang masa lalu.
"Lalu kenapa kalian mau masuk?" Kuro bertanya langsung saat ia mengerutkan keningnya.
"Karena ini perintah, dan tuan kami sepertinya tidak mengganggap kami penting," Kapten Lasos yang tersenyum pahit menjawab pertanyaan Kuro yang membuatnya terdiam.
"Kalo begitu buktikan saja jika kalian penting, kalian harus keluar dari labirin ini dengan selamat," Ares dengan acuh berkata saat ia melangkah maju dan melewati Alphios yang bingung karena Ares mendahuluinya.
Saat Alphios hendak mengucapkan sesuatu Kuro menahannya dan melihat Ares menatap tajam ke suatu tempat gelap tepat di depan mereka.
"Kalian keluar atau bertarung?" Ares bertanya dengan berat saat ia menarik Bloody War dari sarungnya.
Saat Ares melakukan itu dua orang keluar dari sana seorang pria dengan topeng abu-abu dan seorang wanita bertopeng lavender.
"Siapa dan kenapa kalian disini?" Ares dengan dingin bertanya Wolfshef yang berada di atas kepalanya beberapa saat yang lalu turun dan berubah menjadi bentuk aslinya.
Melihat itu kedua orang bertopeng segera menjelaskan jika mereka anggota guild Shadow yang menerima misi untuk menyelidiki labirin dan mereka sebenarnya berlima hanya saja mereka terpisah saat melarikan diri dari Minotaur.
Untuk berjaga-jaga, setelah mendengarkannya Ares mengeluarkan sulur anggur dan menggunakan bind untuk mengikat keduanya yang kemudian ia serahkan kepada dua prajurit untuk menjaganya.
Kedua orang bertopeng tidak melawan sedikitpun ketika mereka diikat oleh sulur anggur dan mengganggap perlakuan itu sebagai normal lagipula mereka tidak tahu apakah yang dikatakannya itu benar atau tidak.
__ADS_1