
"Sepertinya kita beruntung," Ares dengan acuh berkomentar di sebelah Kuro.
"Beruntung yah? Ya sekarang lebih baik kita kembali dulu," Kuro menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pahit, walaupun ia memang paham jika kemenangan melawan Necromancer memang sebagian besar karena keberuntungan. Ia dengan tegas tidak menginginkan keberuntungan seperti ini lagi.
"Eh!!! Kalian baik baik saja?!" Minerva yang melompat turun dari pohon berteriak pada Kuro dan Ares yang terlihat cukup baik, padahal ia telah berlari dan berusaha sampai secepatnya. Yah, bukan berarti dia ingin mereka tidak baik baik saja, hanya saja rasanya agak kecut saat ingin menolong tapi orang yang ditolong ternyata baik baik saja.
"Ya untungnya kita baik, sekarang ayo kembali," Ares menepuk bahu Minerva yang terkejut dan menunggangi Napoleon untuk berjaga-jaga karena bagaimanapun staminanya belum terisi penuh.
"Bagaimana keadaan yang lain?" Dalam perjalanan kembali ke gua yang mereka jadikan markas untuk melindungi bola biru mereka.
"Kita sempat diserang beberapa kali tapi yah mereka semua gagal, jebakan Jedi dan sihir pertahanan Iris mampu mengeliminasi mereka," Minerva menjawab dengan senyum bangga.
"Ares, setelah lomba ini selesai apa yang akan kamu lakukan?" Minerva bertanya dengan nada santai.
"Aku mungkin mengambil quest untuk meningkatkan level dan reputasi," Ares menjawab dengan jujur setelah berpikir beberapa saat. Lagipula ini bukanlah suatu rahasia.
"Begitu ya? Seperti yang kuduga," Minerva tersenyum manis saat telinga kelincinya bergerak-gerak yang agak mengalihkan perhatian Ares sesaat.
***
Di depan gua yang mereka jadikan markas, Minerva membimbing Ares dan Kuro agar mereka tidak menginjak atau menyentuh jebakan secara tidak sengaja.
"Kalian benar benar memasang jebakan sebanyak ini?"
Kuro mengerucutkan bibirnya, ia tidak menyangka teman-temannya akan memasang jebakan sebanyak ini. Awalnya ia berpikir mereka hanya akan memasang jebakan di pintu masuk gua dan beberapa wilayah yang rawan, tapi setelah mendengar ucapan Minerva ia baru menyadari bahwa jebakan yang dipasang ada di seluruh gua kecuali wilayah kecil yang mereka gunakan untuk keluar masuk.
"Yah~ karena musuh begitu pintar, tentu saja kami akan menambah kualitas pertahanan disini," Minerva dengan nada bangga menjawab Kuro yang melihatnya dengan skeptis.
"Meningkatkan pertahanan? Kalian hanya ingin memusnahkan musuh," Kuro bergumam dengan pelan sehingga tidak ada yang memperhatikannya.
__ADS_1
"Baik, kita sampai!" Minerva memberitahu sambil melihat ke arah Iris dan Jedi yang berada di depan api unggun dengan senyuman.
"Kalian kembali!" Iris mengalihkan pandangannya ke Ares dan Minerva dengan senyum ramah.
"Kalian, makanlah dulu, meski ini hanya game kalian perlu makan untuk memulihkan energi dan juga kalian pasti tidak ingin makan roti kering setiap kali,"
Jedi menyerahkan sup hangat yang baru saja dimasak pada Ares, Kuro dan Minerva dengan santai, sebelum kembali untuk memasak hal lain.
"Jedi kamu punya ketrampilan memasak?"
Kuro yang penasaran bertanya pada Jedi yang sedang memasukkan beberapa bahan ke dalam panci.
"Oh? Ya aku mempelajari ketrampilan memasak saat aku bosan di kota," Jedi berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Kuro.
"Hebat ini memang enak!" Kuro dengan mata berbinar memasukkan sup ke dalam mulutnya suap demi suap hingga habis dengan cepat.
"Hey hey boleh nambah Jedi?" Kuro mendekati Jedi dan bertanya dengan mata berbinar yang membuat Jedi menghela napasnya, ia lalu mengambil sup untuk piring Kuro dan menyerahkannya.
***
Shiro yang sedang memejamkan matanya di bawah pohon secara reflek mengambil nodachi miliknya saat mendengar namanya dipanggil.
"Guree?" Sedikit membuka matanya, Shiro melihat gadis dengan jubah abu-abu berlari ke arahnya dengan terengah-engah.
Setelah melihat dengan benar, Shiro melihat seekor Dire Wolf di belakang Guree seakan mengejarnya. Mengambil kesimpulan secara langsung, Shiro berdiri dan menyiapkan nodachi-nya untuk menyerang. Akan tetapi, saat ia melihat tubuh Kiniro yang berbaring di atas Dire Wolf ia mengurungkan niatnya.
"Guree apa yang terjadi?" Sebelum Shiro bertanya, Aoi yang turun dari salah satu dahan pohon bertanya pada Guree dengan khawatir, disebelahnya Noukon sedang mengeluarkan potion untuk digunakan pada Kiniro.
Mendapatkan pertanyaan, Guree menstabilkan napasnya sebelum menceritakan apa yang terjadi, mulai dari pertarungan Kiniro dan Ares hingga pertarungan melawan Necromancer yang tiba-tiba muncul.
__ADS_1
Mendengarkan cerita Guree, Aoi menghirup udara dingin, bagaimanapun ia tidak berharap Ares dan Kiniro akan bertemu secepat ini ditambah lagi mereka benar benar bertempur habis-habisan sampai kehabisan stamina dan mana.
"Guree istirahatlah dulu, biar aku dan Noukon yang merawat Kiniro," Guree menatap Aoi sejenak sebelum mengganguk dan pergi duduk di bawah sebuah pohon yang cukup besar dan rindang untuk beristirahat.
Disisi lain Kiniro yang sudah meminum potion pemberian Noukon mulai bangun dan menggerakkan tubuhnya.
"Huh, sial kukira aku tidak akan bisa bergerak dalam waktu lama," Kiniro menguap sejenak sebelum berbicara dengan kesal. Ia tidak menduga kehabisan stamina akan memberikan efek yang sangat buruk bagi tubuhnya.
"Terimakasih Noukon," dengan wajah mengantuk, Kiniro tersenyum dan menepuk kepala Noukon dengan lembut, sedangkan yang terakhir menikmatinya dan sedikit menyipitkan matanya.
"Jadi, bagaimana kabar kalian?" Kiniro bertanya dengan penasaran pada Aoi dan Noukon yang ada dihadapannya, yah lagipula ia tidak bisa bertanya pada Shiro yang sudah kembali tidur di bawah pohon.
"Disini relatif aman, hanya ada sedikit gangguan dan kita bisa menjaga bola ini," Aoi menjelaskan sambil menunjuk bola yang ada di dalam tas milik Noukon.
"Syukurlah kalo begitu," Kiniro tersenyum dan mulai berjalan untuk istirahat. Dibelakangnya, Wolfshef sudah berbalik dan berlari menuju tempat Ares dengan sangat cepat setelah menyelesaikan misinya.
" Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?" Kiniro yang telah duduk bertanya dengan sedikit menyipitkan matanya yang mengantuk.
"Karena kondisimu dan Guree tidak terlalu baik, yang terbaik bagi kita adalah membangun garis pertahanan kita disini, sambil menunggu batas waktu berakhir," Aoi memberikan saran sambil mengamati wajah teman-temannya dengan cermat.
Shiro yang sudah bangun mendengarkan dengan cermat begitu juga dengan Kiniro. Sedangkan Noukon dan Guree yang tidak terlalu paham memilih untuk berjaga-jaga dibelakang sambil memasak makanan.
"Menurutku baik baik saja dengan itu, Guree dan Noukon juga bisa memasang beberapa jebakan untuk membantumu Aoi," Shiro menjawab Aoi dengan serius walaupun ia memperlihatkan sikap tidak pedulinya.
"Kurasa ini bisa dilakukan," Kiniro menimpali setelah beberapa kali menguap dan melihat ke arah Aoi," sekarang waktunya memasang jebakan."
Aoi yang paham maksud Kiniro segera mengajak Guree dan Noukon untuk memasang jebakan di sekitar tempat mereka.
Karena mereka memilih tempat yang penuh dengan pepohonan besar, pemasangan jebakan di tanah dan di beberapa pohon praktis tidak mudah ketahuan.
__ADS_1
Tetapi, setiap ada plus pasti ada minus, walaupun jebakan mereka akan mudah tersembunyi tetapi karena tempat mereka juga memiliki kemungkinan besar dikepung secara penuh jika ada beberapa peserta yang memilih untuk saling bekerjasama dan beraliansi.
Disamping itu, tempat mereka juga relatif mudah ditemukan karena mereka hanya memilih tempat acak dengan banyak pohon besar tanpa pertimbangan secara khusus.