Terra Online

Terra Online
37. Awal Lomba


__ADS_3

Memasuki sebuah restoran cepat saji, Kevin memesan makanan lalu mencari tempat duduk untuk dirinya.


"Hah, aku harus menunggu?" Kevin menghela napasnya sambil melihat smartphone miliknya sembari menunggu seseorang.


Setelah beberapa saat menunggu makanan dan minuman Kevin sudah diantar. Melihat orang ditunggunya belum juga datang, Kevin memutuskan untuk makan terlebih dahulu.


"Kak Kevin, udah nunggu lama?" Suara feminim seorang gadis masuk ke telinga Kevin saat ia tengah menyantap makanannya.


Melihat ke arah suara, Kevin melihat orang yang sudah ia tunggu, seorang gadis dengan senyum cerah dan berambut hitam yang saat ini memakai hoodie putih.


"Kamu terlambat Nisa," Kevin melihat ke arah gadis berambut hitam itu dengan sedikit kekesalan.


"Maaf kak, tadi aku harus bantuin mama dulu," dengan senyum lebar Nisa menjawab Kevin sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ya gapapa juga sih, tapi kenapa disini? Kenapa gak dirumah kamu aja? Udah lama juga gak ketemu bibi,"  Kevin bertanya pada Nisa dengan tatapan tajam.


"Itu... Karena aku ingin bertanya tentang Terra Online," dengan sedikit gugup Nisa memberitahumu apa yang ingin ia bicarakan.


"Jangan bilang bibi tidak memberimu ijin tapi kamu nekat ingin main?" Kevin dengan datar bertanya pada Nisa setelah ia meminum jus miliknya.


"Eh em, ya bisa dibilang begitu?" Dengan senyum kaku Nisa menjawab Kevin dengan senormal mungkin.


"Kalo bibi tidak memberimu ijin, bagaimana caranya kamu main?" Kevin bertanya lagi kepada Nisa dengan sedikit kebingungan.


"Pinjem Kak Kevin! Ya?!" Dengan mata berbinar-binar dan senyum lebar Nisa menjawab Kevin yang hanya bisa menghela napasnya.


"Kamu gak tau? Satu AlphaVR hanya bisa login ke satu akun? Lagipula aku tidak mau kena masalah dengan meminjami kamu," Kevin berusaha menjelaskan pada Nisa yang menjadi cemberut setelah mendengarkan Kevin.


"Lagipula tau darimana kamu kalo aku main Terra Online," Kevin melanjutkan kalimatnya dengan sebuah pertanyaan.


"Eum, itu Claudia yang memberitahuku," masih dengan cemberut Nisa memberitahu Kevin yang terlihat sedang berpikir.


"Claudia? Itu?" Kevin mengerutkan keningnya, ia tidak mengingat mempunyai kenalan bernama Claudia. Lagipula orang yang tau ia main hanya Farel, Liyana dan Nayara.


"Ah, aku ingat, dia adik Farel kan?" Kevin akhirnya teringat tentang seorang gadis kecil yang seusia dengan Nisa.


"Heem, dia adik Kak Farel," Nisa dengan cemberut menjawab Kevin yang menjadi sedikit merasa bersalah.


"Begini saja, kalo kamu mendapat ijin dari bibi aku akan membantumu," Kevin berucap dengan menekankan kata katanya.

__ADS_1


"Aku akan berusaha," dengan lesu Nisa menjawab dan mulai memakan makanan miliknya yang tadi ia pesan sebelum menghampiri meja Kevin.


---


Kembali ke rumahnya, Kevin mencoba membuka forum untuk melihat apakah ada yang menarik atau tidak disana.


Diskusi teratas di forum adalah tentang perang melawan demon yang sedang terjadi, dibawahnya ada diskusi mengenai bentrokan antara Underworld dan Sunrise beberapa hari yang lalu.


Bentrokan itu cukup membuat Kevin bingung karena menurut yang diucapkan Kiniro kakaknya yang notabene adalah Ketua Sunrise bertemu dengan orang tertinggi di Underworld. Jadi, apa alasannya mereka bentrok setelah bertemu? Itu membuat Kevin bingung.


Setelah melihat diskusi para player mengenai bentrokan itu, Ares mendapat beberapa informasi yang mengejutkannya. Salah satu informasi itu tentang kekalahan yang dialami Sunrise setelah tangan kanan Benjiro, Sora dikalahkan dan Benjiro sendiri menyerah pada Joker.


Kekalahan Sunrise itu dianggap oleh para player sebagai bukti jika peringkat tidak menandakan keunggulan. Selain itu, bentrokan ini juga dianggap sebagai awal pergerakan dari Underworld yang biasanya hanya bergerak dibelakang layar.


"Underworld ya? Seperti namanya, mereka kelihatannya berbahaya," Kevin masih terus membaca diskusi saat ia bergumam.


---


Sehari telah berlalu, saat ini di tanah lapang di belakang Kota Truewill sudah berkumpul cukup banyak player dan NPC untuk mengikuti lomba maupun untuk menontonnya.


Beberapa saat menunggu, sebuah suara memasuki telinga semua orang yang berada disana.


Saat Ares melihatnya, ia langsung mengenali Laks sebagai salah satu orang dari Danadyaksa yang sempat bertemu dengannya bersama Kenzie.


Di belakang Laks, terlihat beberapa orang sedang duduk, berbeda dengan yang lain, seorang pria yang duduk di tengah tidak menggunakan kursi biasa melainkan memakai kursi yang terlihat seperti singgasana yang membuat Ares langsung berpikir jika ia adalah Raja atau paling tidak adalah Pangeran.


"Pertama-tama saya harus beritahukan kepada kalian bahwa saat ini ada 64 tim yang mengikuti lomba, tapi itu terlalu banyak. Oleh karena itu, pihak penyelenggara akan mengadakan pertandingan tambahan untuk mengeliminasi 48 tim dan menjadikan 16 tim sebagai peserta," Laks menyeringai saat ia menyampaikannya yang membuat banyak orang yang ada disana sedikit ngeri.


"Untuk itu, kalian akan dibagi menjadi 16 grup yang masing-masing berisi empat tim yang akan bertanding."


"Dan untuk peraturannya mudah saja, di tiap-tiap grup akan ada tiga ronde. Di tiap-tiap ronde setiap tim akan mengirimkan satu perwakilan untuk bertarung melawan tim-tim lain, pemenang tiap ronde ditentukan jika semua lawannya menyerah atau tidak bisa melanjutkan pertandingan dan bagi tim yang paling banyak menang akan menjadi juara grup dan akan menjadi peserta resmi."


"Bagi beberapa dari kalian mungkin ini menjadi tidak adil. Jadi, untuk keadilan dan kenyamanan bersama level kalian telah disesuaikan," Laks menjelaskan tentang pertandingan tambahan dengan senyum cemerlang.


"Ah, untuk pembagian grup kalian bisa bertanya pada anggota Danadyaksa yang sekarang ada di tepi, mereka juga akan menunjukkan lokasi dimana grup kalian bertanding," Laks melanjutkan saat ia tersadar ada informasi yang belum ia ucapkan.


"Aku saja yang bertanya," Ares menyarankan saat ia mulai berjalan menjauh tanpa menunggu persetujuan anggota partynya.


Bertanya pada salah satu anggota Danadyaksa yang ia tidak tahu namanya, Ares diberitahu jika timnya berada di grup 16 yang akan bertanding di ujung tanah lapang di dekat hutan. Arenanya sendiri sebenarnya hanya dibatasi oleh sihir antara dalam dan luarnya.

__ADS_1


Setelah memberitahu anggota party yang lain, Ares dan teman-temannya berjalan menuju tempat grup mereka berada.


Saat sampai disana, mereka melihat sudah ada dua tim lain yang sudah tiba. Salah satu tim terlihat ceria dengan pakaian mereka yang bervariasi, sedangkan tim yang satunya Ares bisa langsung tahu jika mereka adalah anggota guild ataupun party tertentu setelah melihat lambang yang terlihat seperti sebuah daun yang sedang jatuh.


Beberapa menit kemudian, tim terakhir dari grup yang sama dengan Ares telah tiba. Saat melihat orang yang ada di tim itu Ares dan Iris mengerutkan keningnya.


Orang yang ada di tim yang baru tiba adalah Rusty yang terlihat memimpin beberapa orang, mereka memakai jubah merah terang dengan logo pedang putih yang mengarah ke atas di dada mereka.


Saat Rusty melihat Ares, ia tersenyum sinis, ia merasa jika ini adalah kesempatan untuk membalas orang yang sudah membuatnya sangat malu, bahkan menurutnya mungkin saja orang itu yang membuat Fire Garuda hancur. Meskipun ketua Fire Garuda, Lien tidak ingin memperpanjang masalah dan memilih membubarkan guild miliknya. Tapi, Rusty sama sekali tidak bisa menerima itu dan memutuskan untuk balas dendam.


"Hey, sudah lama tidak bertemu ya," Rusty berjalan mendekati Ares dengan keangkuhan di wajahnya dan memandang rendah Ares.


"Terakhir kali, kau beruntung karena dilindungi orang Danadyaksa, tapi kali ini aku akan menghancukanmu di arena ini," Rusty menyeringai saat ia masih terus mendekati Ares. Teman-teman Ares yang tidak tau permasalahan apa yang terjadi sedikit bingung tapi mereka tidak ingin bertanya jika Ares tidak mau memberitahukannya.


"Aku menantangmu di ronde ketiga," Rusty mengacungkan jari telunjuknya pada Ares yang hanya mengamati dalam diam.


"Kuterima," Ares dengan datar menerima tantangan Rusty tanpa sama sekali menunjukkan keraguan maupun ketakutannya.


"Kau serius? Levelnya diatasmu," Kuro bertanya pada Ares dengan sedikit mengingatkannya.


"Tenanglah, lagipula level disesuaikan," Minerva tersenyum lebar saat melihatnya, ia cukup tahu siapa Rusty tapi menurut rumor Rusty biasanya hanya menyerang orang yang lebih lemah darinya.


"Semua sudah siap? Kita akan mulai!" Seorang penyihir yang memakai jubah lengkap dengan topi penyihir masuk ke tengah arena.


Hening, tidak ada yang menjawab. Ketegangan memenuhi tempat itu hingga penyihir yang sepertinya akan menjadi wasit melanjutkan.


"Untuk ronde pertama, silahkan setiap tim mengirim satu perwakilan untuk bertarung."


Setiap tim mulai berdiskusi mengenai siapa yang cocok untuk bertarung pertama.


"Aku yang akan bertarung pertama," Minerva menyeringai saat ia menawarkan dirinya untuk bertarung pertama.


"Tapi! Minerva aku sudah tidak sabar untuk bertarung!" Kuro dengan wajah putus asa berbicara pada Minerva.


"Kamu nanti saja Kuro hi...shi...shi..." Minerva tertawa kecil saat ia melambai ke arah Kuro dan masuk ke dalam arena.


Di dalam arena saat ini sudah ada empat orang termasuk Minerva yang sudah siap untuk bertarung.


Satu kesamaan dari keempat tim adalah mereka tidak mengirimkan mage yang memang tidak cocok untuk pertarungan seperti ini, sebaliknya dua dari empat petarung adalah pengguna pedang. Sedangkan yang lain, seorang gadis dengan jubah merah menggunakan dua belati untuk senjatanya.

__ADS_1


__ADS_2