
"Ja ja ja, untuk Kirin datang mengunjungiku apakah pak tua Thunder itu sudah gila?" Dibalik topeng Phoenix tersenyum sinis saat ia melihat Kirin masuk ke ruangannya.
"Jaga ucapanmu Phoenix, jika tidak aku mungkin tidak sengaja menghabisimu,"Dengan sangat tenang Kirin duduk di hadapan Phoenix sambil membalas sapaannya.
"Apakah kau mengancamku?" Ketegangan meningkat, Phoenix berbicara dengan nada rendah.
Kirin yang memperhatikan itu hanya dengan tenang mengabaikannya dan memulai pembicaraan tentang tugas yang diberikan Chairman.
Setelah mendengarkan Kirin, Phoenix menghela napasnya singkat,"kau serius? Bukankah untuk tugas semacam ini Snake atau Unicorn lebih cocok?" Phoenix bertanya dengan kebingungan yang jelas dalam suaranya.
"Sepertinya Chairman sedang mencurigai Petinggi Earth dan bawahannya, jadi Snake tidak mungkin. Untuk Unicorn sepertinya orang ini sedang di sekitar Benua Amerika," Kirin menjawab dengan santai meskipun untuk yang pertama hanyalah dugaannya saja tentang kecurigaan terhadap petinggi Earth.
"Hah, merepotkan sekali~ okey, tapi aku akan memanggil Dragon dulu untuk menggantikanku disini," Phoenix melambai saat ia berjalan keluar ruangan, Kirin disisi lain tetap duduk dengan tenang beberapa saat sebelum akhirnya pergi.
***
*Masuk ke dalam sudut pandang Phoenix*
Hah menyebalkan sekali~
Padahal aku sedang menyiapkan sebuah kejutan untuk tuanku Petinggi Fire yang agung~
Yah mari lupakan untuk kejutan sejenak, yang dibicarakan Kirin tadi sungguh apakah Chairman mendadak menjadi gila?
Yah itu tidak baik bagiku memikirkannya begitu, mari menemui Dragon lebih dulu, semoga otak otot ini bisa menjaga tempat ini sampai aku menyelesaikan misi sialan ini.
"Ja ja ja! Si cantik dan manis Phoenix datang!" Sambil melihat ke dalam gua yang hanya diterangi cahaya sihir, aku membuat sebuah pose imut, yah topeng ini agak menghalangi, jadi sudahlah.
"Kenapa? Apa kau mencariku Phoenix?"
"Hoho kau terlihat seperti imut seperti biasa ya meskipun menggunakan topeng yang tampak mengerikan," ah sepertinya aku menyeringai.
Di depanku, Dragon seperti namanya dia menggunakan topeng Naga yang tampak mengerikan tapi itu terlihat tidak sesuai jika melihat tubuhnya yang nampak seperti anak kecil dengan rambut hitam yang berantakan.
"Jadi kenapa kau disini? Apakah ada seseorang yang harus kukalahkan?"
Sudah kuduga dia meskipun imut tapi otak otot tetaplah otak otot.
"Tidak, misi untukmu adalah menggantikanku di Naira Kingdom," Aku berkata dengan lembut dan-
Bocah itu hanya menghembuskan nafasnya, sepertinya dia kesal tapi bagaimana lagi mari gunakan kartu yang tidak bisa ia tolak.
"Aku tid-"
__ADS_1
"Stop! tunggu dulu! Ini perintah dari Chairman langsung! Aku juga tidak bisa meminta 7 commander dari faksi lain kau tau? Jadi hanya kau yang bisa."
"Chairman huh? Apalagi kekacauan yang akan dibuatnya di dunia ini?" Mendengar itu aku serius ingin memintanya untuk mencoba melihat dirinya sendiri yang sering membuat kacau.
"Aku akan menggantikanmu."
Sambil mengatakannya Dragon berdiri dan melakukan peregangan.
"Ah aku ingat sesuatu! Kau tidak boleh menantang orang lain berkelahi maupun membunuh orang disana okey? Jika ada penyusup atau orang mencurigakan cukup tangkap jangan bunuh okey?"
Entah kenapa saat aku berbicara, Dragon yang mendengarkan menjadi terlihat sangat kesal, itu pasti hanya imajinasiku kan?
"Cih oke."
Bagus setelah mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Dragon sekarang aku bisa pergi melakukan misi dari Chairman dengan tenang atau begitulah harapanku.
***
*Kembali menjadi sudut pandang orang ketiga*
Di sebuah pulau kecil di samudra Pasifik, sebuah bayangan hitam terlihat membantai sebuah kelompok ksatria dengan armor lengkap.
"Bukankah ksatria negara kecil ini agak terlalu lemah," sambil membersihkan belati yang ia pegang dengan sapu tangan, dia bergumam dengan sedih.
Dia yang beberapa waktu menghilang tanpa jejak saat ini sedang melakukan pembantaian besar-besaran terhadap bangsawan dan ksatria dari Alki Kingdom, sebuah kerajaan kecil di Samudra Pasifik.
"Sekarang mari cek istana kerajaan," Arsalan berjalan dengan wajah yang terlihat sangat sedih.
Sesampainya di depan istana Arsalan melihat ke atas dan melemparkan sebuah jarum yang sudah diolesi racun.
Tidak sampai lima detik seorang pria yang terlihat seperti pelayan terjatuh dari lantai dua istana dengan tubuh yang nampak biru karena racun.
"Menyebalkan, seharusnya kamu tidak disitu agar tidak terbunuh," Arsalan bergumam saat melihat tubuh pelayan yang mati lalu kembali berjalan masuk ke dalam istana.
"Ka-ka-kamu! Bagaimana?! Bagaimana bisa kamu masuk kesini?!" Raja yang duduk di atas takhta ketakutan saat ia melihat Arsalan yang berjalan dengan santai ke dalam ruang takhta.
"Aku berjalan," sambil melihat Raja dengan tatapan sedih Arsalan terus berjalan sebelum berhenti karena didepannya para bawahan langsung Raja, Knight Penjaga mencegat jalannya.
"Harusnya aku yang bertanya, Raja kenapa kamu membocorkan lokasi anggota guild ku ke kelompok lain? Bukankah itu melanggar perjanjian?" Arsalan masih melihat raja dengan sedih, di tangannya belati bewarna hitam murni menebas leher para knight membunuh mereka seketika.
Raja dan para menteri yang melihatnya menjerit ketakutan, Arsalan tanpa belas kasihan terus memenggal kepala orang-orang di dalam ruangan kecuali Raja.
"Aku akan bertanya sekali lagi kenapa?"
__ADS_1
Raja yang sudah sangat ketakutan melihat kematian yang tepat di hadapannya berusaha berbicara tapi sampai akhir tidak ada kata yang keluar.
Arsalan dengan perlahan-lahan membunuh raja setelah selesai ia melihat ke langit-langit ruangan dengan sedih. Di hari itu Alki Kingdom sudah habis.
Ini adalah pertama kalinya sebuah kerajaan dihancurkan oleh seorang player meskipun itu hanya kerajaan kecil yang kekuatannya tidak signifikan.
"Ah, aku tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaanku."
"Harusnya kau menjawab, sekarang kau sudah menjadi mayat siapa yang bisa kutanyai sekarang?"
Arsalan bergumam penuh kesedihan, dengan perlahan kakinya bergerak keluar ruang takhta, disana skill nya mendeteksi sebuah tanda kehidupan.
Merasa bahwa dirinya meninggalkan sesuatu, Arsalan bergerak ke arah tanda kehidupan.
Didepannya adalah sebuah pintu yang mengarah pada sebuah kamar, setelah membukanya wajah Arsalan terlihat rumit.
Di depannya saat ini sesosok bayi perempuan yang mungkin adalah putri dari negara ini tertidur dengan pulas.
Sesaat Arsalan ingin meninggalkannya sendiri tapi mengingat seluruh keluarga kerajaan dan bahkan maid dan ksatria sudah habis, bayi ini pasti akan mati.
"Apa aku harus membunuhnya juga? Itu adalah satu-satunya jalan tanpa rasa sakit yang bisa diberikan padanya," Arsalan bergumam sambil menarik belati miliknya.
***
"Sial, pada akhirnya aku membawanya," Arsalan terlihat kesal, saat ini ia sedang berjalan di hutan sambil menggendong seorang bayi perempuan.
Setelah berjalan sedikit lebih lama Arsalan akhirnya mencapai sebuah kota, disana ia segera pergi ke salah satu mansion di dalam wilayah kelas atas.
"Di rumah memang nyaman meskipun ini game," Arsalan bergumam kecil sebelum memanggil seorang maid yang ia pekerjakan dari sebuah guild pekerja di kota.
"Umu, apakah ini putri tuan?" Maid wanita setengah baya bertanya pada Arsalan dengan sedikit menggoda.
Arsalan hanya mengklik lidahnya sambil mengatakan jika ia menemukan bayi itu di jalan saat ia kembali dari sebuah pekerjaan.
"Oho begitukah? Kalau begitu apakah bayi ini belum punya nama?"
Saat ditanya Arsalan terdiam, ia tidak tau nama dari bayi yang sedari tadi ia bawa.
"Apakah tuan akan menamainya?" Ditanya dengan halus oleh sang maid, Arsalan menghela napasnya dan memikirkan sebuah nama.
"Kalo begitu aku akan menamainya Beatrice," Arsalan menyebutkan nama yang terpikirkan olehnya. Maid yang saat ini menggendong sang bayi, ah tidak maksudnya menggendong Beatrice tersenyum lembut melihat Arsalan tersenyum meskipun hanya sebentar.
...****************...
__ADS_1
Pertama tama maafkan aku yang lama tidak terlihat. dan silahkan nikmati chapter ini!