Terra Online

Terra Online
36. Aliansi dan Demon


__ADS_3

"Aku benci antrean."


"Antrean itu menyebalkan."


Selesai mendaftarkan party mereka, Kuro dan Jedi terus bergumam mengenai betapa tidak enaknya mengantre dengan wajah datar.


"Diamlah kalian berdua," Iris menghela napasnya saat ia sudah tidak tahan lagi untuk mendengar gumaman Jedi dan Kuro.


"Kami hanya menyuarakan pendapat!" Kuro berbicara dengan sedikit berteriak pada Iris.


"Hem? Memangnya aku peduli? Yang penting diamlah!" Iris dengan tatapan tajam berteriak pada Kuro yang masih mencoba membela diri.


"Kita ketemu lagi disini besok kan?" Minerva bertanya tanpa memperdulikan Kuro, Jedi dan Iris yang masih berdebat.


"Ya, benar," Ares menjawab Minerva dengan santai dan dengan sedikit nada ketidakpedulian.


"Kalo begitu aku pergi dulu ya, sampai jumpa!" Minerva mengedipkan sebelah matanya pada Ares saat ia berjalan pergi.


"Sampai jumpa," Ares dan yang lain menjawab sambil melambaikan tangan mereka.


"Aku juga harus pergi," Ares seperti teringat sesuatu dan memberitahu teman-temannya jika ia juga harus pergi.


"Oke oke sampai jumpa," Iris yang menjawab pertama dan melambaikan tangannya dengan senyum manis.


"Sampai jumpa," Ares segera log out dari Terra Online dan kembali ke dunia nyata sebagai Kevin.


---


Kevin yang baru saja log out dari Terra Online memilih untuk melakukan peregangan otot terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas lainnya.


"Hah, hampir saja aku lupa," Selesai melakukan peregangan, Ares menggelengkan kepalanya lalu mengambil smartphone miliknya yang ia letakkan di meja sebelah ranjang miliknya untuk melihat saldo rekeningnya.


Melihat jam yang masih jam 12 siang, Ares memilih untuk makan terlebih dahulu karena ia merasa perutnya sudah lapar.


Membuat mi instan yang harum dan terlihat sangat enak, Ares makan sambil melihat TV di channel Terra Tv yang merupakan channel resmi milik perusahaan pembuat Terra Online.


Yang terlihat di tv saat ini adalah berita mengenai peperangan antara Atlantis dan beberapa negara yang membantunya bersama dengan guild-guild yang membantunya melawan para demon yang berada di Samudra Atlantik.


Di dalam video yang diputar di televisi, seorang dengan armor putih membawa pedang satu tangan yang memiliki bilah bergerigi terlihat sedang bertarung melawan sekelompok demon dalam perang.


Ace merupakan orang yang tersorot, ia benar-benar terlihat seperti yang sering digambarkan oleh orang-orang sebagai seorang player yang kuat.

__ADS_1


"Baiklah, kalian sudah melihat cuplikan di video barusan kan?" Seorang presenter cantik muncul di layar televisi setelah video habis.


"Setelah ini kalian akan dihubungkan dengan rekan saya yang sudah berada di markas besar pasukan aliansi melawan demon yang ada di salah satu pulau di Samudra Atlantik untuk mewawancarai beberapa orang. Dan kalian pasti akan senang melihat siapa yang diwawancarai!" Presenter wanita itu menampilkan ekspresi wajah yang sangat bersemangat dan matanya terlihat berbinar saat berbicara.


"Siapa yang akan diwawancarai?" Ares bergumam saat ia memakan mi miliknya sambil terus mendengarkan.


"Silahkan Riley," Presenter wanita yang membawakan acara mempersilahkan rekannya yang berada di Terra Online untuk memulai.


"Terimakasih Alia," Riley yang merupakan seorang demihuman kucing yang memiliki rambut hitam panjang dengan tubuh yang terbalut armor putih tersenyum, ia lalu berjalan pergi memasuki area markas besar aliansi dan memasuki sebuah tenda yang sepertinya sudah disiapkan.


"Kita akan masuk ya, jangan kaget melihat siapa yang ada di dalam!" Riley menahan senyum yang membuatnya terlihat sangat manis saat ia berbicara.


Di dalam tenda terdapat empat orang, dengan tiga diantaranya sedang berdebat sedangkan yang terakhir hanya duduk diam mengamati dengan wajah dingin.


"Kau harusnya membantu lini depan Arche!" Seseorang Demihuman Singa berteriak pada Arche yang terlihat kesal saat ia membenarkan posisi kacamatanya.


"Kau harusnya melihat dirimu sendiri singa sialan!" Seilon yang memegang trisulanya balik berteriak pada Demihuman Singa yang memicu perdebatan diantara ketiganya.


"Em, tuan Ace? Apa wawancaranya bisa dimulai?" Riley yang awalnya terlihat bersemangat menjadi gugup saat sudah bertemu para ketua guild teratas secara langsung.


"Hem? Kamu pasti orang dari televisi ya?" Ace yang terlihat bosan melihat ke arah Riley dan ke arah ketiga ketua guild lain yang masih saling berdebat.


"Lupakan ketiga orang bodoh itu, kita mulai saja," Ace kembali mengamati ketiganya yang masih berdebat dan menghela napasnya pasrah saat ia bicara pada Riley.


"Siapa yang bodoh?!"


"Apa kau bilang?!"


Ketiganya berteriak bersamaan saat mereka mendengar apa yang dikatakan oleh Ace dengan raut wajah kesal.


"Aku bilang kalian bodoh, puas?" Ace dengan wajah datar menjawab ketiganya dengan suara dingin.


Ketiganya terlihat ingin berargumen saat mereka melihat Riley dan memilih untuk berhenti karena tahu jika ini ditayangkan di televisi.


"Mereka bertiga tidak terlihat seperti seorang pemimpin," Kevin yang menonton siaran yang memperlihatkan perdebatan ketiga ketua guild menyuarakan pendapatnya.


"Baiklah, kita langsung mulai saja ya? Lagipula penonton pasti sudah tahu siapa orang-orang yang ada di depan saya!" Riley dengan sangat bersemangat berbicara menghadap ke kamera.


"Jadi, apa pertanyaannya?" Tanpa basa-basi Ace langsung bertanya pada Riley tentang apa yang ingin ditanyakannya.


"Pertama, bagaimana dengan situasi peperangan saat ini?" Riley bertanya dengan serius mengenai situasi peperangan yang sedang terjadi pada Ace dan yang lain.

__ADS_1


"Perang saat ini sedang dalam kebuntuan, bahkan dengan banyaknya bantuan NPC kami masih menderita banyak kekalahan," Ace menjawabnya dengan cepat dengan raut wajah tidak senang saat memberitahukan situasi peperangan saat ini.


"Bahkan dengan aliansi empat guild teratas perang masih dalam kebuntuan? Sebenarnya seberapa tinggi level musuh?" Riley mengerutkan keningnya saat mengetahui keadaan peperangan saat ini dan bertanya lagi.


"Mungkin kalian akan terkejut, tapi level musuh terendah yang kami lawan awalnya berlevel 100 akan tetapi sekarang kami tidak pernah melihat musuh berlevel 100 lagi dan yang terendah menjadi 110," Seilon dengan sedikit gemetar memberitahukan fakta yang cukup mengerikan.


"Benar, dugaan kami, mereka pasti bertambah kuat saat berperang. Padahal musuh tertinggi yang kita lawan saat ini saja sudah mengerikan," Arche menambahkan saat ia menghela napasnya dengan berat.


"Apa yang dimaksud musuh tertinggi?" Riley dengan penasaran bertanya pada para ketua guild tentang musuh tertinggi mereka.


Tidak hanya Riley yang penasaran, Kevin yang sedang menonton juga mulai penasaran saat ia teringat tentang Instruktur Reo yang kemungkinan juga sedang berada di markas besar aliansi untuk melawan demon.


"Yang kami maksud adalah Demon Chief bernama Saleos yang berlevel 300 awalnya, tapi sekarang menjadi 310," Ace memberitahu apa yang dimaksud dengan musuh tertinggi mereka.


"Bukankah itu berarti tidak ada pemain yang bisa menyainginya?!" Riley saking terkejutnya berteriak yang cukup mengejutkan para ketua guild.


"Benar sekali, sampai sekarang kami berempat terus bekerjasama untuk mencoba menumbangkannya,"Rock yang sedari tadi diam mulai berbicara dengan santai.


"Tapi tetap saja, dengan banyaknya demon yang menggangu, kami tidak bisa menang melawannya," Ace memberitahu tentang fakta yang cukup membuat hati para player yang menontonnya cukup gelisah saat mengetahui keempat ketua guild dari sepuluh guild teratas tidak bisa menang.


Melihat ke arah jam, Kevin mematikan televisi lalu mengambil hoodie hitam kesayangannya dan bersiap untuk keluar dari rumah.


Tempat pertama yang dituju oleh Kevin adalah ATM, ia berniat mentransfer sejumlah uang untuk orang tuanya, karena ia tidak ingin orang tuanya tetap hidup susah sedangkan ia mempunyai banyak uang dari hasil penjualan rune miliknya yang sangatlah laris.


Tut...tut...tut...


"Halo mama," Kevin segera menerima panggilan masuk setelah ia melihat yang memanggilnya adalah mamanya.


"Kevin, sudah lama kita tidak ngobrol ya nak?" Mama Kevin dengan lembut berbicara pada Kevin. Kevin yang mendengar suara mamanya juga cukup senang karena dia memang sudah lama tidak berhubungan dengan orang tuanya.


"Iya ma, mama sehat kan?" Kevin tersenyum tulus saat ia bertanya pada mamanya dengan lembut.


"Uhuk, uhuk, Mama sehat nak, kamu juga kan?" Mendengar mamanya batuk, Kevin menggigit bibir bawahnya dan sedikit merasa bersalah karena ia harus ada jauh darinya.


"Mama batuk? Ke dokter ma. Aku sekarang ada kerja sambilan, aku juga transfer hasil kerja aku buat mama sama papa, jadi mama kalo sakit ke dokter ya ma. Aku gak mau mama sakit," Kevin dengan tulus berkata pada mamanya.


"Kamu sudah besar ya nak sekarang," dipuji oleh mamanya, Kevin tersenyum senang.


"Sudah dulu ya, mama harus kerja."


"Iya ma, sampai nanti."

__ADS_1


"Sampai nanti."


Kevin tersenyum setelah telpon dari mamanya dimatikan, ia merasa senang setelah mendengar suara mamanya walaupun ia agak sedih waktu tahu mamanya sedang sakit.


__ADS_2