Terra Online

Terra Online
73. Keluarga


__ADS_3

Kevin yang baru saja menerima makanan yang tadi ia pesan duduk di sofa depan televisi.


Menyalakan tv, Kevin segera memilih channel yang biasa membahas berita-berita terkini yang ada di Terra Online.


Dan berita yang sedang panas-panasnya selain pertempuran dengan demon adalah tentang hancurnya Alki Kingdom yang terletak di Samudra Pasifik.


"Sebuah kerajaan hancur tanpa ada yang tau penyebabnya huh? Mungkinkah itu ulah demon?" Kevin bergumam sambil mengingat demon yang pernah ia lihat dan juga hancurnya Kuil Dewa Ares.


"Tapi jika dilihat dari tingkat kehancurannya ini berbeda dari serangan ke Kuil Dewa Ares, disana itu benar-benar hancur secara harfiah. Sedangkan ini, meskipun orang-orangnya terbunuh bangunannya tetap utuh ini lebih seperti dilakukan oleh assassin atau semacamnya," setelah berpikir sejenak, Kevin mengambil smartphone miliknya dan membuka mall online.


Sambil mengisi ulang rune yang ia jual, Kevin melihat-lihat barang-barang yang menarik perhatiannya disana.


Diantara banyaknya barang yang dijual di mall online, Kevin menaruh minat pada beberapa barang seperti, healing potion yang menjadi populer belakangan ini, selain itu beberapa skillbook cukup menarik perhatiannya, tapi setelah melihat harganya yang sangat tinggi Kevin mengurungkan niatnya untuk membeli dan hanya melihat-lihat saja.


Saat masih asik melihat-lihat, telpon masuk itu adalah dari sepupunya, Nisa. Mulai dua bulan yang lalu, sepupunya ini sudah mulai bermain Terra Online tentu saja dengan segala macam syarat yang diberikan oleh ibunya.


"Halo Nis, kenapa?" Kevin bertanya setelah menekan jawab pada smartphone miliknya.


"Kak Kevin! Nanti ke rumah ya? Itu mama katanya mau ketemu," Nisa langsung mengeluarkan inti pembicaraan begitu berbicara.


"Kenapa? Dan kenapa kamu yang nelpon? Bukannya bibi punya nomorku?" Kevin bertanya dengan curiga, terakhir kali Nisa pernah bilang seperti ini juga tapi saat ia datang ternyata bibi-nya tidak mencari dia, melainkan Nisa yang ingin diajari bermain Terra Online.


"Eh~ ini aku serius! Hp mama rusak kak, jadi nanti datang ya bye bye~" Sebelum Kevin dapat menjawabnya, Nisa sudah terlebih dahulu mematikan teleponnya yang membuat Kevin menghela napasnya dengan pasrah.


"Anak ini... Benar benar deh."


Setelah makanan miliknya habis, Kevin mematikan televisi dan segera mandi untuk bersiap-siap pergi ke rumah Nisa.

__ADS_1


***


"Permisi," setelah mengetuk pintu beberapa kali, Kevin berdiri di depan pintu. Saat ini ia memakai hoodie hitam yang sering digunakannya.


"Kak Kevin!" Sesaat pintunya dibuka suara feminim seorang gadis terdengar di telinga Kevin, saat ia melihatnya disana berdiri Nisa yang tersenyum cerah.


"Ayo masuk kak! Mama ada di ruang keluarga," Nisa sambil tersenyum memandu Kevin ke ruang keluarga.


"Nis, level berapa sekarang?" Kevin bertanya untuk berbasa-basi sambil berjalan.


"Um, aku baru level 30 hehe, lagipula aku jarang pergi berburu," Nisa tersenyum, level Nisa memang tidak terlalu berkembang karena dia sendiri hanya bermain untuk menghabiskan waktunya terlebih dia masih harus mematuhi syarat-syarat yang diberikan mama nya.


"Oh Kevin? Sudah datang ya," Saat masuk ke ruang keluarga, Kevin disambut bibi nya, dia adalah perempuan paruh baya berambut hitam panjang yang mirip dengan Nisa.


"Iya, siang bibi Rati, ada apa ya? Jarang jarang bibi menghubungi karena ingin bertemu," Kevin bertanya pada bibi nya dengan lembut, keluarga bibi Rati adalah yang merawat Kevin di kota ini sebelum Kevin pindah ke rumahnya yang sekarang yang merupakan rumah neneknya dulu.


Waktu itu Kevin tidak berani berbicara pada orang tuanya karena takut akan menjadi beban tambahan bagi mereka, dan Bibi Rati yang tahu tentang itu membantunya dan membuat keadaan agak membaik.


"Tidak apa bibi, aku tidak pernah diganggu," Kevin tersenyum lembut saat menjawab pertanyaan Bibi Rati.


"Syukurlah kalo begitu, oh iya bibi menyuruh kamu kesini karena ada sesuatu yang harus kita bicarakan," Ekspresi Bibi Rati berubah menjadi serius saat ia mulai berbicara.


"Nisa kamu masuk ke kamar," Bibi Rati menyuruh Nisa yang sedari tadi duduk di samping Kevin untuk masuk ke kamar dahulu.


"Baik ma~"


"Bibi dengar dari ibunya Nayara, kamu membayarkan hutang suaminya apa itu benar?" Bibi Rati bertanya dengan nada serius.

__ADS_1


"Benar bi..."


"Kamu dapat uang darimana Vin? Hutangnya itu tidak sedikit, tidak justru sangat banyak," Bibi Rati dengan raut khawatir bertanya pada Kevin yang menundukkan kepalanya.


"Kevin menjual barang langka di game Terra Online," Kevin menjawab dengan suara kecil.


"Begitu ya, fuh, bibi kira kamu terlibat dalam hal berbahaya. Lain kali, kalo ada hal seperti ini tolong kasih tahu bibi dulu ya? Memang itu uang milik kamu, kamu yang mendapatkannya dan bebas menggunakannya, tapi berbahaya jika kamu terlalu sembrono, menolong orang boleh tapi jangan sampai menjadi beban untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu masih ada uang dari game, lebih baik kamu memulai sebuah usaha, sebuah game itu bisa menurun kapan saja dan hilang kapan saja tidak ada yang tahu," Bibi Rati memberikan nasihat panjang kepada Kevin yang dengan sungguh-sungguh mendengarkan, ia juga sadar waktu itu ia terlalu sembrono dalam menggunakan uang yang baru didapatnya.


"Terimakasih bibi," Kevin tersenyum kepada bibi Rati yang mengganguk sambil tersenyum tulus.


"Kamu panggil Nisa gih, kita makan bareng," melihat senyuman Bibi Rati saat dia berjalan ke dapur, Kevin mengurungkan niatnya untuk mengatakan jika dia sudah makan dan beranjak menuju kamar Nisa.


***


{Flashback}


Di dalam ruangan seorang lelaki dengan setelan bewarna hitam dan rambut bewarna sama terlihat serius membaca beberapa artikel tentang Terra Online.


"Kakak?" Dari balik pintu, seorang gadis cantik berambut hitam yang diikat ponytail muncul, lelaki yang tadinya berfokus membaca melihat ke arahnya.


"Kamu sudah mengucapkan perpisahan?"


Ditanya begitu, bahu gadis itu agak bergetar, sambil menggigit bibir bawahnya dia menjawab," Ka-kakak tidak bisakah aku tetap bermain seperti biasa?"


"Akari, kita sudah membahas ini berkali-kali, aku sudah membiayai semua kebutuhanmu setelah orang tua kita tiada, dan aku sekarang memerlukan bantuanmu, agar kita bisa lebih sukses," lelaki itu menghela napasnya saat berbicara dengan tenang.


"Aku juga sudah menuruti kemauanmu dengan menambah waktu untukmu bersama mereka kan? Sampai saat itu ucapkanlah perpisahan dan bergabung dengan Shadow," setelah melirik Akari yang terlihat menahan air matanya, lelaki itu kembali berbicara.

__ADS_1


"Atau aku harus benar benar membuat teman-teman mu itu berhenti bermain Terra Online agar kau mau membantuku?" Mendengar itu Akari langsung menggelengkan kepalanya.


__ADS_2