
Jasmine menggerakkan tubuhnya yang terkurung di dalam pelukan Evan, pria itu memeluknya terlalu erat hingga ia kesulitan bernafas.
Ya, sejak kejadian di gedung kemarin pria itu semakin posesif padanya. Untungnya Evan tidak menyiksanya seperti yang sudah sudah.
"Evan, singkirkan lenganmu dari tubuhku." Desis Jasmine geram, ia sudah berusaha meronta namun tak merubah sedikitpun pelukan itu. Justru semakin mengerat.
"Kau mau pergi dari ku?" Evan berucap serak, khas suara pria seksi yang baru saja membuka mata.
"Apa kau pikir aku mampu melakukannya?" Jasmine membalas dengan pertanyaan telak dan berhasil membuat pelukan itu mengendur.
"Good boy" Jasmine beranjak dari tempat tidur setelah lengan kokoh nan keras bagai batu itu lepas dari tubuhnya. Berlari kecil ke dalam kamar mandi. Cuaca yang sudah memasuki musim dingin membuat ia sering sekali buang air kecil. Rasanya tidak tertahankan.
Evan menutup wajahnya dengan selimut, rasa kantuknya lebih mendominasi dari rasa laparnya. Ya, ia lapar karena semalam tidak bisa memakan Jasmine. Wanita itu hanya menggodanya saja, dan berakhir mengancam akan pergi jika ia sampai memaksa melakukan-nya tanpa persetujuan dari wanita itu.
"Kemarilah" titah Evan begitu mendengar suara pintu yang terbuka, yang ia tahu pasti itu Jasmine. Evan menepuk kasur di sampingnya, meminta wanita itu untuk kembali tidur dengannya.
Jasmine menghela nafas lelah, ia lapar. Apakah tidur bisa membuat laparnya hilang? Pria itu sungguh tidak manusiawi.
"Aku lapar, aku akan turun ke bawah dan membuat sarapan." Jasmine mengikat rambutnya asal, mengekspos jelas leher jenjangnya.
Lalu berjalan keluar meninggalkan Evan yang kecewa di atas tempat tidur. Masa bodoh dengan pria sinting itu, ia lebih mementingkan cacing dalam perutnya yang terus meraung meminta di isi.
Jasmine membuka lemari pendingin dua pintu itu, melihat apa saja isi di dalam sana. Ia berpikir sejenak bahan apa saja yang akan ia pakai untuk membuat sarapan.
Jasmine berdiri bersandar di pintu kulkas, dari yang ia tahu, pria itu menyukai masakan Asia. Terutama Indonesia. Segera Jasmine meraih ponselnya yang tergeletak di atas Kitchen table, ia butuh bantuan untuk mencari menu khas Indonesia itu.
Ia menekan aplikasi yang tahu segala hal, bahkan bisa menjadi teman curhat. Segera ia mengetikkan sesuatu di kolom pencarian. Menu sarapan orang Indonesia.
Tertera disana beberapa menu hasil dari ketikannya, mulai dari nasi goreng, nasi uduk, lontong sayur dan bubur ayam. Jasmine mengerutkan kening membaca daftar menu tersebut. Lalu membuka satu persatu cara membuat makanan itu.
Dan... Jasmine menghela nafas panjang. Tidak ada satupun yang ia tahu, semuanya sulit. Jasmine kembali meletakkan ponselnya di atas kitchen table, lalu berkacak pinggang menatap isi di dalam lemari pendingin itu.
"Hah, menyusahkan sekali." Gerutu Jasmine sambil menyentuh sekotak kornet dan kembali meletakkannya. Ia bingung mau di apakan kornet itu.
__ADS_1
Evan tertawa kecil sambil menggelengkan kepal melihat tingkah Jasmine. Ya, pria itu sejak tadi memperhatikan Jasmine dari mulai membuka lemari pendingin, dan beralih dengan ponselnya lalu kembali meletakkan bahan yang sudah di pegangnya ke tempatnya.
"Apa yang sedang kau rencanakan hum?" Evan bersandar di tepian kitchen set di belakang Jasmine. "Kau berniat meracuni ku dengan masakan mu itu?"
Evan tertawa pelan, dan Jasmine mengeram kesal. Pria itu seenaknya menghina. Jasmine tidak terima harga dirinya sebagai wanita di jatuhkan begitu saja. Di hempas ke lantai lalu di injak.
"Jika itu yang kau mau, aku bisa mengabulkan-nya." Balas Jasmine tak kalah sinis.
"Aku ragu" Evan berjalan mendekat ke arah wanita itu yang menghalangi pandangannya pada isi di dalam lemari pendingin itu. "Aku tau kau tak mungkin sanggup kehilanganku."
Evan tertawa mengejek, tangannya menyambar beberapa bahan untuk memasak sesuatu.
"Kau terlalu percaya diri boy" Jasmine menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Manik abu abunya terus memperhatikan gerak gerik Evan saat memilih bahan di dalam lemari pendingin, pria itu sangat terlatih ketika memotong...entahlah itu apa namanya ia tidak tahu.
Yang ia tahu, Evan terlihat semakin **** dengan kegiatan itu. Tubuhnya yang tak terbalut apapun membuat punggung bidang itu terekspos sempurna. Serta celana panjang yang sangat melorot kebawah hingga memperlihatkan bulu halus di sekitar bawah pusar semakin membuat Jasmine sesak nafas. Jasmine menelan ludahnya kelat, pemandangan itu benar-benar membuatnya semakin lapar.
"Kau bisa cepat sedikit? Cacing di dalam perutku nyaris mati karena kau terlalu menjiwai memotong bahan bahan itu." Geram Jasmine yang sudah tidak tahan dengan rasa laparnya.
"Kau bisa mengganjal perutmu dengan sesuatu." Evan melirik sekilas, lalu kembali dengan bahan bahan di depannya.
"Bercinta di atas sana" Evan menunjuk meja tempat Jasmine menaruh ponselnya, lalu terkikik geli melihat raut Jasmine yang memerah padam.
"Lebih baik aku mati kelaparan."
Kemudian Jasmine meraih apel merah yang ada di dalam lemari pendingin dan menggigitnya keras tepat di depan wajah Evan.
Evan yang melihat itu segera meletakkan pisau di tangannya, dan meraih tengkuk wanita itu, mencium Jasmine buas, hingga bongkahan apel yang ada di dalam mulut Jasmine kini berpindah ke dalam mulutnya.
"Manis" kata pria itu lalu mulai memanasi minyak di atas wajan. Sementara Jasmine masih menganga lalu mengatupkan bibirnya kembali. Ia menatap pria di depannya dengan tidak percaya. Ia tidak menyadari perbuatan Evan yang mencuri cium beserta pengganjal laparnya.
Sial! Pria itu benar-benar menghipnotis dirinya hingga lupa caranya bernafas dengan baik.
Jasmine tersadar dari lamunannya tentang ciuman singkat nan panas tadi ketika aroma harum mulai menusuk indra penciumannya. Kemudian mendekati pria itu yang masih memunggunginya.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau masak? Harum sekali" kata Jasmine sambil mengintip isi wajan yang sedang di bolak balik isinya oleh tangan Evan.
"Mie goreng, buatan ku" kata Evan dengan nada menyombongkan diri. Jasmine berdecih namun perutnya memuja aroma itu.
Jasmine menatap mie yang berwarna kecoklatan dengan beberapa potongan sayur menyatu di sana. Belum lagi irisan sosis yang bertaburan di sela sela mie itu membuat Jasmine tidak sabar melahapnya.
"Sepertinya tidak menarik." Bohong. Padahal air liur-nya nyaris tumpah karena tergoda dengan kilatan warna coklat keemasan yang mewarnai mie itu dengan sempurna.
"Kau tak pandai berdusta nona" Evan terkekeh geli, jelas ia melihat sorot mata tidak sabar dan saat wanita itu menelan ludahnya dengan dramatis.
"Aku bersungguh sungguh."
"Baiklah, sekarang kau cicipi ini." Evan menyodorkan sepiring mie goreng dengan telur mata sapi di atasnya.
Jasmine semakin kalang kabut di buatnya, aroma itu sungguh menggoda, belum lagi tampilan telur mata sapi yang tidak terlalu matang menambah selera makanya naik drastis.
"Jika kau menghabiskan-nya maka aku akan mengambil jatahku dari dirimu."
Jasmine menelan ludah, tubuhnya menegang seketika. Bisikan pria itu di telinganya bagai bisikan hasrat yang membuatnya ingin melahap mie itu beserta piringnya saat itu juga. Ia Sangat laparr.
Tanpa pikir panjang Jasmine segera mencicipi masakan itu, dan...benar saja. Ia ingin langsung menghabisinya dalam sekejap. Tapi, permintaan pria itu sungguh merugikan dirinya.
Jasmine menahan keras untuk tak memakan mie itu terlalu banyak, lalu mendorong benda itu menjauh. "Aku tidak suka."
Evan tersenyum mengejek, wanita itu terlihat sekali menahan hasratnya untuk melahap mie itu. "Ah, baiklah. Aku akan menghabiskan semuanya sendiri. Kebetulan sekali aku sangat lapar karena kau tidak memberiku makan semalam."
Evan memasukan mie itu kedalam mulutnya dengan gerakan perlahan, seakan menggoda Jasmine yang terus menatapnya dengan tatapan tidak rela. Kini raut wajah Jasmine berubah pias dan langsung merebut piring itu dari hadapan Evan.
"Ini milik ku!" Jasmine kembali melahap mie itu tanpa ragu, masa bodoh dengan permintaan Evan. Yang terpenting saat ini perutnya terisi.
"Dan kau milikku" Evan memeluk Jasmine dari belakang, melingkari tangannya di perut langsing Jasmine sambil mengecupi punggung wanita itu.
🍁🍁🍁
__ADS_1
to be continued...