
Pagi pagi sekali Jasmine sudah terbangun, padahal ia sedang tidak kuliah. Mungkin karena sudah terbiasa saat di Valencia yang membuatnya mengharuskan bangun pagi, untuk kuliah dan bekerja.
Jasmine merenggangkan otot-otot nya sejenak, sebelum akhirnya bergegas turun ke lantai bawah. Ini lah kebiasaan buruk Jasmine, ketika membuka mata yang menjadi tujuannya adalah dapur, mencari makanan.
Perlahan kaki jenjangnya menuruni anak tangga, dan langkahnya sempat terhenti begitu matanya menangkap sosok asing di rumah ini.
"Evan..." lirihnya.
Astaga, Jasmine baru saja lupa, jika semalam pria itu menginap di rumahnya. Kemudian Jasmine kembali melanjutkan langkahnya, tapi kali ini tujuannya bukan dapur, melainkan Evan.
Ia berhenti tepat di hadapan Evan yang tengah terlelap di sofa, pria itu memeluk boneka beruang miliknya hingga menutupi sebagian wajahnya karena ukuran boneka itu sama besarnya dengan Evan.
Jika sedang tidur seperti ini Evan terlihat manis dan tampan. Tidak seperti saat terbangun, yang justru menampilkan aura kelam yang menyeramkan.
Jasmine meraih selimut yang tergeletak di kaki Evan, lalu menariknya hingga dada. Tapi, tiba-tiba saja Evan terbangun dan menarik lengannya hingga ia jatuh tersungkur.
"Apa yang sedang kau lakukan hem? Kau ingin mencuri kesempatan saat aku tertidur?"
Evan bertanya sembari memeluk erat tubuh Jasmine yang berada di atasnya.
Jasmine berdecih. Siapa juga yang mau mencari kesempatan?
"Aku hanya ingin memakai kan mu selimut, tidak usah berpikir terlalu jauh." Jasmine meronta, "cepat lepaskan aku."
Bukannya menuruti permintaan Jasmine, Evan justru semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan mencuri cium di pipi gadis itu.
"Morning kiss" lirihnya, kemudian melepaskan pelukan itu.
"Kau!!" Jasmine mengusap pipinya kasar, menghapus jejak ciuman Evan. "Nanti kalau ayah ku melihatnya bagaimana?"
Evan melipat tangannya di belakang kepala sebagai bantalan, sambil menikmati ekspresi kesal Jasmine dengan terkekeh geli.
"Tenanglah, Ayah mu sudah berangkat beberapa menit yang lalu." Ujar Evan memberitahu.
"Benarkah?"
Evan mengangguk, dan Jasmine pun bangkit dari sofa untuk mengeceknya sendiri. Karena tidak biasanya ayahnya pergi berangkat bekerja tanpa memberitahu nya lebih dulu.
Tapi sayangnya itu tidak semudah yang di bayangkan oleh Jasmine, karena Evan kembali menarik tangannya hingga kembali terduduk di sofa. "Kau mau kemana?"
"Aku ingin melihatnya sendiri, mungkin saja kau berbohong." Sungut Jasmine.
"Apa aku pernah berbohong pada mu?"
Jasmine terdiam, seingatnya Evan memang tidak pernah berbohong padanya. Pria itu selalu berkata apa adanya.
"Baiklah, kali ini aku percaya padamu." Jasmine kembali bangkit, dan Evan turut mengikuti di belakangnya.
__ADS_1
"Kau mau apa?" Jasmine mengerutkan dahinya menatap Evan yang mengekorinya di belakang.
"Mengikuti mu tentu saja."
Jasmine mendengus, ini semua tidak akan mudah jika Evan berada di dekat nya.
"Lebih baik kau tunggu saja di ruang tivi. Aku hanya ingin membuat sarapan." Jasmine mengusir, tapi Evan tetap tak bergeming.
"Aku bisa membantu mu. Atau aku saja yang memasak, dan kau yang menunggu di ruang tivi. Atau mungkin kita masak bersama-sama, bagaimana?" Evan memasang wajah polosnya saat mengatakan itu, membuat Jasmine tak tega hati menolaknya.
"Terserah kau saja." Jasmine mengalah, toh hitung-hitung menghemat tenaga. Ia jadi tidak perlu repot-repot beradu dengan alat dapur, yang berakhir berantakan.
Jasmine akui jika eva termasuk pria idaman semua kaum wanita. Pria itu pandai memasak, dan rasa masakannya tidak perlu di ragukan lagi. Evan juga perhatian meski dengan cara yang tidak masuk akal dan tidak manusiawi.
Ah, entahlah. Jasmine sendiri juga tidak mengerti kenapa sekarang ia mulai menyukai pria itu. Yang bahkan sering membuat-nya luka dan takut setengah mati ketika pria itu mengeluarkan sisi lainnya.
Sejak tadi Jasmine hanya memperhatikan Evan yang sedang mengolah bahan makanan di atas wajan, entah apa yang sedang pria itu masak Jasmine tidak mengerti. Karena Evan melarangnya untuk membantu, dan malah mengusirnya.
Jasmine sangat penasaran dan akhirnya mencoba mendekati lagi, ingin melihat apa yang sedang Evan masak disana.
"Kau sedang memasak apa?" Jasmine bertanya sembari mengintip dari balik punggung tegap Evan.
Tapi, pria itu tetap menghalanginya, "jangan mengintip, nanti masakan ku jadi tidak enak." Evan menggoyangkan bahunya, agar Jasmine menjauh.
"Huh! Dasar pelit sekali." Jasmine menggerutu. Kemudian kembali duduk di kursi meja makan, menunggu Evan menyelesaikan masakannya.
Dua porsi steak terhidang di meja, membuat Jasmine sempat tak berkedip dan meneteskan liur melihatnya. Tampilannya sungguh menggoda, daging yang berwarna kecoklatan dengan irisan sayuran di sampingnya membuatnya semakin lapar saja.
"Makan lah. Kau tidak akan kenyang jika hanya melihatnya saja." Kata Evan mengejek ekspresi Jasmine.
Jasmine mendengus, lalu menarik satu porsi steak itu lebih dekat. Tanpa ragu Jasmine mulai memotong daging itu lalu melahapnya, masa bodoh dengan Evan yang mungkin akan ilfil melihatnya, saat ini ia sudah amat lapar.
"Pelan-pelan saja" Evan mengingatkan Jasmine seraya memasukan potongan daging itu ke dalam mulutnya.
Jasmine tidak mengindahkan perkataan Evan, ia tetap memakan steak itu lahap dengan sengaja sampai menimbulkan bunyi.
Dan, Evan hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat tingkah Jasmine.
"Setelah ini kita mau kemana?" Evan bertanya, mengalihkan kelakuan sang kekasih yang tidak wajar itu.
Jasmine mengangkat wajahnya dengan dahi berkerut.
"Kita? Memang siapa yang mau mengajak mu pergi?"
Evan nyaris saja terdesak bongkahan daging itu jika saja ia telat mengatur nafas. Jawaban Jasmine begitu menusuk sekali. "Memang kau mau pergi dengan siapa?"
__ADS_1
"Aku akan...."
"Jessy... Jessy"
Jasmine mengabaikan ucapannya yang sempat tertunda karena mendengar suara panggilan, lalu bergegas bangkit dari kursi meja makan dan berjalan cepat menuju pintu.
"Tunggu!"
Evan turut bangkit mengikuti Jasmine yang berjalan cepat ke arah pintu. Sebenarnya Evan tidak peduli, karena yang memanggil itu jenis suara wanita. Tapi Evan rasanya amat penasaran dengan siapa yang berkunjung ke rumah Jasmine.
Sementara Jasmine bersemangat sekali membuka pintu, yang ia yakini itu adalah Josephine sang sahabat. Ia ingin bercerita mengenai hal semalam, dimana sang ayah ingin menjodohkan dirinya dengan pria pilihan sang ayah_Jasson.
"Haii...Jessy" pekik Josephine atau Jossy begitu pintu terbuka, dan langsung memeluk Jasmine hingga nyaris terjengkang.
"Wooww, sabar Nona, kau bisa melukai ku." Jasmine bercanda. Ia berusaha melepaskan pelukan sahabatnya itu dengan susah payah.
"Ahhh, maaf kan aku. Aku terlalu bersemangat sekali bertemu dengan mu." Jossy tulus sekali saat mengucapkan itu, hingga matanya teralihkan pada sosok tampan yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka berdua.
"Kau kenapa? Melihat hantu?" Jasmine celingukan mencari sumber penglihatan sang sahabat, dimana gadis itu tercengang dan nyaris mematung di tempat dengan mulut menganga.
"Kau memelihara malaikat?" Jossy bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya pada sosok tampan itu.
"Siapa yang kau maksud?" Jasmine bingung, memangnya malaikat bisa di pelihara? Ada ada saja.
"Ada apa sayang?" Evan menyapa Jasmine yang terlihat menoleh kiri dan kanan seperti bingung.
"Sa-sayang?" Jossy berucap gugup.
Jasmine menoleh kesamping, dimana Evan sudah berdiri manis dan terlihat tampan, meski belum mandi.
"Kau ini, bisa tidak sih jaga ucapan mu. Ini tidak lucu." Desis Jasmine berucap lirih, agar tidak di dengar oleh Jossy.
"Aku tidak sedang melucu" jawbanya santai.
"Jadi kalian berdua memang benar sepasang kekasih?" Jossy kembali bertanya.
"Ya..." Kata Evan.
"Bukan!!" Bantah Jasmine. Dan itu membuat Evan jadi gemas, lalu tanpa aba-aba Evan sengaja mencium bibir Jasmine di depan sahabatnya.
Bahkan Jasson turut menjadi saksi moment mesra itu.
🍁🍁🍁
To be continued...
Maaf kalo ada typo 🙏 ngantuk 😂
__ADS_1