The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 47


__ADS_3

Jasmine dan Josephine berjalan kesana kemari melihat-lihat berbagai macam bunga, mereka berdua tidak sadar jika pria yang sejak tadi bersama mereka sudah tidak lagi berada di dekatnya.


Saking hebohnya berswa foto, Jasmine dan Josephine sampai menyenggol tubuh seseorang. Sesuatu yang di pegang orang itu tumpah dan jatuh ke tanah.


Wanita yang di senggol tadi menganga lebar melihat minumannya tumpah, lalu menoleh ke samping dimana Jasmine dan Josephine berdiri dengan raut menyesal, juga merasa bersalah.


"I'm sorry" kata Jasmine tulus.


"You think with the word sorry, all over?" Wanita itu marah.


Jossy mengerutkan keningnya melihat reaksi wanita itu yang mencak-mencak. Padahal insiden itu terjadi tanpa di sengaja, tidak ada niat sama sekali menumpahkan minuman wanita itu.


"Kami tidak sengaja, lalu apa masalah mu?" Jossy naik pitam.


Dan teman laki-laki dari wanita itu maju satu langkah, berdiri di hadapan Josephine dan Jasmine dengan ekspresi yang sulit di artikan.


"Ganti kerugian kekasih ku" katanya.


Jasmine pun mengangguk, lalu mulai merogoh dompet berwarna pink dari tas selempang-nya.


"Tiga kali lipat." Kata laki laki itu lagi, membuat Jasmine menghentikan pergerakannya mengambil uang.


"Yang benar saja? Lagi pula minuman itu hanya tersisa setengahnya." Jossy ikut angkat bicara.


"Sudah lah Jossy, biarkan saja dia meminta lebih. Aku sedang malas berdebat." Jasmine menambah lembaran uang di tangannya.


"Tidak bisa!! itu pemerasan namanya. Biar aku laporkan kau pada kekasih sahabat ku ini." Jossy menoleh kebelakang, lalu kekanan dan kekiri. Kemudian berbisik pada Jasmine.


"Dimana malaikat tampan mu itu?" Jasmine pun turut mengedarkan pandangannya mencari sosok Evan yang sejak tadi mengikuti mereka.


"Dia tidak ada?" Jasmine bengong sesaat, bagai itik yang kehilangan induknya.


"Sudahlah, kemarikan uangnya." Laki-laki itu merampas dompet Jasmine membuat Jasmine kaget.


Dan tentunya Jossy makin hilang kesabaran. Sempat terjadi aksi saling rebut dompet, hingga menarik perhatian pengunjung lain.


***


Sudah tak terhitung berapa lama Evan mencari, dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Evan sampai emosi karena beberapakali tubuhnya bertabrakan dengan pengunjung lain.

__ADS_1


"Dimana kau Jessy?" Gumam Evan.


Dan di saat dirinya hampir menyerah, Evan mendengar suara keributan yang tidak jauh darinya. Segera Evan mempercepat langkahnya untuk melihat. Tapi, bukan melihat keributannya yang menarik perhatian Evan, melainkan suara pekikan gadis gadis yang sejak tadi di cari olehnya.


"B*tch!!" Sebuah tangan melayang ke wajah Jasmine, namun belum sempat mendarat seseorang menahan pukulan itu.


Evan berdiri dengan wajah datarnya, menatap pria yang nyaris melukai kekasihnya itu dengan tatapan membunuh.


"Siapa kau? Tidak usah ikut campur urusan kami." Pria itu marah pada Evan, dan si wanita masih adu mulut dengan Jossy.


"Evan, kau kemana saja?" Jasmine senang Evan sudah kembali, tapi Jasmine lupa jika Evan kembali dengan membawa kematian. Karena pria itu sama sekali tak merespon ucapan Jasmine, dan masih fokus meremas pergelangan tangan pria itu.


"Heii, lepaskan tanganku bodoh." Pria itu berteriak, namun Evan tak menggubris.


"Kau tuli ya, lepaskan!! Kau bisa mematahkan tangan ku" Pria itu mulai panik dengan cengkraman kuat Evan, di tambah melihat sorot mata kelam milik Evan .


"Sudahlah Evan, lepaskan saja dia. Lebih baik kita pergi dari sini." Jasmine menarik lengan Evan yang keras seperti kayu. Namun, tak juga lepas, hingga terdengar bunyi krekk dan di sususl teriakan dari pria itu.


"Aarrgg"


Jasmine, Josephine, dan kekasih pria itu menoleh bersamaan. Sementara pria itu kelimpungan menahan sakit sampai berjongkok di bawah.


Evan tersenyum tipis dan berlalu pergi dari sana begitu saja sembari merangkul bahu Jasmine. Jossy mengejar Evan dan Jasmine dengan tampang bodoh, ia masih belum mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Evan.


***


Jasmine menghempaskan tubuhnya di sofa, rasanya begitu lelah. Bukan hanya karena lelah berjalan di kebun Botani, tapi lelah karena sikap Evan.


Sepanjang berkeliling kebun Botani hingga pulang ke rumah, Evan begitu erat menggenggam jemarinya sampai tangannya terasa sakit.


Berlebihan sekali.


"Ini sudah di rumah Evan, bisa kah kau lepaskan tanganku?" Jasmine melirik pria tampan yang duduk di sampingnya.


Yang di tatap justru diam dengan sorot mata yang sulit di artikan. Hingga akhirnya Evan membuka suara setelah keheningan yang menyapa beberapa detik.


"Aku tidak akan pernah melepaskan mu" hanya itu yang terlontar dari bibir Evan, tapi perlahan pegangan tangan itu mulai mengendur.


Dan, berlanjut kecupan mesra mendarat di kening Jasmine. Cukup lama, sampai Jasmine kesulitan bernafas dengan jarak Evan yang sedekat itu. Jujur saja, aroma tubuh Evan yang khas membuat dirinya candu.

__ADS_1


Setelah merasa puas, Evan pun menjauhkan wajahnya. "Menikahlah dengan ku. Dan menua bersama ku."


Ungkapan singkat namun mampu meluluh lantakkan hati Jasmine, bahkan wanita itu sampai tak berkedip menatap raut serius pria itu.


"Aku tidak ingin tua" kata Jasmine kemudian dengan kekehan kecil.


"Kalau begitu aku harus menggigit mu agar menjadi vampir. Dan kau tidak akan pernah tua." Evan membuka mulutnya bersiap menggigit leher Jasmine.


Bukannya takut, Jasmine justru tertawa terbahak-bahak, vampir klan mana yang tidak memiliki taring?


Melihat gelak tawa sang kekasih membuat Evan semakin bersemangat menggoda, memeluk wanita itu dan mengincar bagian lehernya. Bukan untuk di gigit melainkan untuk di cumbu.


"Fine, aku menyerah." Jasmine berseru sembari menggeliat di atas sofa, karena Evan tak kunjung berhenti menciuminya. Bahkan tangan pria itu turut serta menggelitik, membuat dirinya tidak tahan sampai kebelet buang air kecil.


"Tidak akan. Sampai kau mau menerima ku menjadi suami mu." Kata Evan dengan suara beratnya tepat di telinga Jasmine.


Untung saja saat itu Josephine sudah pulang, mereka berpisah di tengah jalan karena calon suami Jossy sudah menunggu di rumahnya. Mungkin jika gadis itu ada di ruangan yang sama, bisa bisa keringet dingin melihat kemesraan Jasmine dan Evan.


Aksi saling menggelitik itu berakhir ketika mata mereka saling bertemu, dengan posisi Evan menindih tubuh Jasmine.


Napas mereka saling memburu, lelah setelah bermenit-menit mereka berdua bergulat di atas sofa.Β Hingga detik-detik berlalu mereka masih saling melempar pandang dalam diam, mengantarkan energi lain.


Ayolah, Evan laki laki normal. Siapa yang tahan jika di hadapankan dengan makhluk cantik yang paling di cintainya. Di tambah dengan posisi seintim ini.


"I want you." Bisik Evan, bibirnya nyaris bersentuhan dengan bibir Jasmine. Dan, seolah mengerti dengan maksud Evan, Jasmine pun memejamkan matanya.


Kecupan lembut mendarat di mata, hidung, dan terakhir di bibir. Cukup lama Evan ******* bagian lembut nan lembab itu, hingga terdengar decapan yang menggema di ruangan itu.


Kecupan itu perlahan turun, menyusuri rahang, lalu tulang selangka. Sedikit menghisap di bagian itu, seolah Evan ingin meninggalkan jejak kepemilikan-nya di tubuh sang kekasih.


"Eemhh" desahan pelan meluncur bebas dari bibir itu, ketika Evan mulai memainkan bibirnya di atas dua gundukan sintal yang amat menggoda.


Jasmine bisa saja menghentikan kegiatan itu, tapi sepertinya wanita itu cukup menikmati dan seakan menginginkan semua itu terjadi.


Evan mengangkat sedikit baju Jasmine, hingga memperlihatkan perut datar nan mulus. Mencium pelan disana, dengan sedikit jilatan.


Tidak. Jasmine lemah. Siapa saja tolong sadarkan Jasmine dari cumbuan laknat itu.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Ok. Abng stop ya neng πŸ˜‚πŸ˜‚



__ADS_2