
Evan duduk berhadapan dengan Benjamin, sedang Jonathan berdiri di belakang Evan degan wajah tanpa ekspresi.
Disana tidak hanya mereka bertiga, Petter juga turut hadir disana bersama dengan Lucas. Mereka duduk di sofa yang berbeda dengan Evan, yaitu di sebelah kanannya.
Evan menatap bosan pada pria yang sedang duduk di hadapannya sembari menghisap rokok. Sungguh pemandangan yang tidak enak di lihat.
"Cepat katakan! Aku ingin pulang." Evan berujar tanpa sopan santun, padahal ia sedang berbicara dengan ayahnya.
Benjamin menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan nya sembari meletakan rokok itu pada wadahnya.
"Tinggalkan wanita mu itu, sebelum musuh ku menjadikan gadis itu untuk menghancurkan aku dan dirimu." Tuturnya dengan nada memerintah yang tegas.
"Jika aku tidak mau?"
"Kau akan hancur, karena mereka akan menjadikan gadis itu sebagai alat untuk menjebak mu." Benjamin kembali menjelaskan, kali ini nadanya terdengar khawatir. Bukan khawatir dengan Jasmine atau Evan sang putra kebanggaan, tapi dengan kelanjutan perusahaannya dan organisasi.
Tega sekali bukan? Sama sekali tidak memiliki sisi manusiawi. Pantas sekali di sebut Iblis.
"Kita bisa merahasiakan-nya." Lucas menyela, hingga membuat empat pria yang ada disana menoleh ke arahnya.
"Dengan cara apa? Mengurung gadis itu di dalam rumah, dengan penjagaan ketat? Atau mengirim gadis itu ke pulau terpencil Hem?" Benjamin balik bertanya pada Lucas.
Sontak saja mereka semua terdiam, begitu juga Jonathan. Hingga Petter membuka suara membuat perhatian mereka kembali teralihkan padanya.
"Kita bisa memanipulasi hubungan Evan dengan gadis itu. Dan merubah semua data-datanya."
"Maksudmu?" Lucas yang duduk di sampingnya lebih dulu bertanya sesaat Evan sudah membuka mulutnya untuk bertanya.
"Salah satu dari kita bisa berpura-pura menjadi kekasih Jasmine. Karena kita bukan orang yang di incar oleh orang-orang organisasi." Usulnya.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan wanita ku bersama salah satu dari kalian." Evan menyahut tidak terima.
"Aku setuju" Lucas ambil suara, "bagaimana kalau Brian? Aku rasa dia cocok dan tangguh, mereka akan mengira jika Jasmine adalah model brand di perusahaan tempatnya bekerja."
Petter mengangguk "aku setuju."
"Aku juga setuju" Jonathan ikut menyahut, setelah sejak tadi hanya diam menyimak.
__ADS_1
Evan menatap Jhonatan tajam, lalu beralih pada yang memberi usul_yaitu Lucas. Rahang Evan mengeras, tangannya juga mengepal kuat seolah ingin meninju wajah Lucas saat itu juga.
"Kau tidak akan bisa menyembunyikan wanitamu terlalu lama, karena suatu saat nanti pasti akan terbongkar. Dan kau akan menyesalinya nanti."
Benjamin bangkit dari sofa, berjalan beberapa langkah menuju dinding kaca dan berhenti disana. Matanya menatap bangunan-bangunan kecil di bawah sana, sembari menghisap rokok di tangannya.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkan-nya, meski nyawaku sebagai taruhannya." Evan berucap lantang nan tegas, menentang keputusan Benjamin.
"Jika aku bisa melakukannya, mungkin saat ini ibumu masih ada di sini." Benjamin membalas, kali ini nada suaranya tidak segarang tadi. Seolah menyiratkan kesedihan yang nyata. Benar-benar merasa sangat kecewa.
Evan bangkit dari sofa, ia benci pembahasan mengenai sang ibu. Masih terlalu pahit dalam ingatannya, bagaimana Benjamin tega melakukan hal keji itu pada ibunya.
"Aku bukan dirimu, jadi berhentilah mengatur ku." Evan beranjak pergi dari sana setelah mengatakan itu, lalu di susul Petter dan Lucas, kecuali Jonathan. Pria itu masih berdiri disana menemani Benjamin.
"Apapun yang kau katakan tak akan membuat dia percaya, karena terlalu rumit untuk di pahami." Jonathan bersuara setelah ketiga psikopat tampan itu keluar dari ruangan.
"Kau benar." Benjamin membalik tubuhnya hingga bisa menatap Jonathan, sang bawahan yang setia sejak lama mengabdikan diri padanya. Juga sebagai orang kepercayaannya.
"Apa yang harus aku lakukan agar dia mengerti, dan tidak merasakan berada di posisi ku dulu?" Benjamin bertanya pada Jonathan, yang notabenenya belum pernah merasakan di posisi itu, bahkan mencintai lawan jenis pun dia belum pernah.
Jonathan menggelengkan kepala, "tidak ada. Tapi aku yakin dia lebih tangguh darimu, dan mampu menjaga wanitanya meski dia dalam keadaan tersudut sekalipun."
Itu lebih menyakitkan baginya, meski dirinya sering berganti-ganti wanita. Tapi hanya ibunya Evan yang paling di cintainya, dan di akui dalam hidupnya. Sementara wanita yang lain? Bahkan benjamin lupa siapa namanya. Ia hanya butuh anak laki laki dari para jalang itu untuk meneruskan organisasi-nya.
***
Setelah kepergian Evan yang begitu menyiksa batin Jasmine, akhirnya wanita itu pun kembali ke Valencia hari itu. Pagi pagi sekali Jasmine sudah rapih, dan berpamitan pada ayahnya dengan alasan waktu cutinya sudah habis. Padahal masih tersisa beberapa hari lagi.
Rasa rindu yang begitu menyiksa, membuat Jasmine terpaksa berbohong pada ayahnya.
Jasmine juga bersumpah akan menghukum Evan jika bertemu nanti, hitung-hitung sebagai balas perbuatan Evan yang sudah membuatnya rindu setengah mati.
Bayangkan saja, dari malam sampai pagi, pria itu tak kunjung memberi kabar. Tentu saja Jasmine panik, dan semakin gelisah.
Demi Dewi aphrodite yang amat cantik, Jasmine sungguh mencintai pria itu. Tidak sanggup untuk berpisah terlalu lama.
Dan, setibanya di bandara tujuannya bukan apartemen miliknya ataupun Lucia sahabatnya, tapi Jasmine langsung menyambangi mansion Evan.
__ADS_1
Saat itu hari sudah hampir malam, karena perbedaan waktu enam jam antara New York dan Valencia di tambah perjalanan dari New York memakan waktu kurang lebih delapan jam. Meski begitu tak menyurutkan niat Jasmine untuk menemui sang kekasih.
"Ini alamatnya." Jasmine menunjukkan alamat yang di tuju pada driver. Dan di sambut anggukan kepala oleh pria yang duduk di balik kursi kemudi itu.
Mobil langsung melesat jauh meninggalkan area Bandara. Jasmine pun menyadarkan punggungnya di kursi karena lelah selama perjalanan, ia memejamkan mata bersamaan jantungnya yang berdegup lebih cepat. Jasmine merasa gugup, entah ia harus berkata apa nanti jika bertemu dengan Evan, terakhir bertemu mereka bercumbu di atas sofa. Lalu, jika nanti bertemu apa mereka akan melakukan itu lagi?
Apakah ia manut saja jika Evan meminta? Atau berpura-pura menolak?
Ah, memikirkannya saja sudah membuat darahnya berdesir cepat. Bagaimana nanti jika mereka benar-benar bertemu?
Ya Tuhan, sepertinya ia sudah gila.
"Nona, sudah sampai." Ucap sang driver setelah mobilnya terparkir sempurna di depan gerbang.
Jasmine tersentak, lamunannya pun buyar seketika. Ia menegakkan duduknya dan menoleh ke luar jendela.
Benar, Ternyata sudah sampai.
"Terimakasih." Ujar Jasmine setelah menyerahkan beberapa lembar uang. Kemudian bergegas turun dari dalam mobil setelah menurunkan kopernya lebih dulu yang di bantu oleh driver.
Mobil itu langsung pergi dan menghilang dari pandangan Jasmine. Sementara dirinya masih berdiri di depan pagar sambil melamun.
Masuk, tidak? Masuk, tidak? Masuk, tidak?
Setelah cukup lama berdebat dengan pikirannya, akhirnya Jasmine memberanikan diri masuk ke dalam halaman mansion megah itu.
Ia berjalan dengan berbagai macam perasaan. Senang, gelisah dan malu, berbaur menjadi satu. Namun, begitu dirinya melangkah setengah jalan, tiba-tiba ada yang menarik bahunya, dan langsung membungkam mulutnya.
Hanya sepersekian detik saja Jasmine meronta, detik berikutnya ia tak sadarkan diri.
🍁🍁🍁
To be continued...
Maaf lama, ceritanya aku sok sibuk bantu bikin ketupat 😂
Semoga hasilnya enak, buat ngirim ke rumah camer 😂
__ADS_1