The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 30


__ADS_3

Joe masuk ke dalam lift yang mengantarkan-nya langsung ke ruang bawah tanah. Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam lift itu, hanya orang-orang yang memiliki akses saja dan atas seijin dari Benedict.


Cukup lama Joe menempelkan ibu jarinya pada layar khusus, hingga sidik jarinya terbaca oleh benda yang tertempel di dinding lift, seketika benda itu kembali tertutup.


Benda itu mulai bergerak turun, dan detik kemudian kembali terbuka. Joe melangkahkan kakinya keluar yang menampilkan sebuah lorong panjang dengan dinding putih bersih tanpa noda. Mungkin itu mengingatkanmu dengan lorong rumah sakit yang selalu bersih.



Joe berjalan malas melewati lorong tersebut, meskipun ini bukan yang pertama kali baginya, tetap saja ia merasa seperti di awasi.


"Ada apa lagi iblis tua itu memanggil ku." Lirihnya sembari berjalan. Semoga saja Ben tidak mendengarnya.


Setelah cukup lama berjalan, tibalah Joe di depan ruangan khusus kantor utama perusahaan Matias.


Pria itu mengetuk pintu itu satu kali, kemudian membuka pintu kaca itu perlahan, dan mulai melangkah masuk.


Sosok pertama yang di lihatnya adalah Benedict sang atasan yang duduk di kursi kebesarannya dari balik kaca tebal anti peluru.  Lalu... Evan? Apa ia tidak salah lihat?


"Apa aku sedang mimpi? Iblis muda kita sudah kembali ke sini?" Joe berseru heboh seperti melihat aktor idolanya.


"Tidak usah berlebihan. Aku terpaksa." Evan membalas. Dan Joe tertawa pelan.


"Aahh, terserah kau saja. Aku sudah memperingati mu sebelumnya bukan? Jangan pernah menjalin hubungan serius dengan orang luar, karena itu akan menjadi kelemahan mu." Joe kembali berucap.


"Bukan urusan mu. Urus saja dirimu sendiri yang sudah berumur tapi masih jomblo. Menyedihkan sekali bukan?" balas Evan.


"Kau__"


"Sudah!" Ben menyela. "Aku mengundang mu kesini untuk mengawasi Evan selama bekerja. Mulai hari ini dia resmi bergabung di perusahaan Matias."


"Benarkah? Aku tidak menyangka kau akhirnya kembali menjadi kaki tangan ayahmu."


"Berhenti menyebut manusia laknat itu sebagai Ayah ku. Tidak Sudi." Evan mengoreksi ucapan Joe.


"Kau tidak pernah berubah" Ben berucap santai. "Masih tetap keras kepala."


"Lalu kenapa kau begitu mengharapkan ku kembali ke tempat terkutuk ini? Bukankah 'prajuritmu itu banyak sekali?" Evan sengaja menekankan kata prajurit pada ucapan-nya, karena iblis tua itu hobi sekali membuat anak.


Benedict berdecak sembari menyulut api pada rokoknya, lalu menghembuskan asap itu ke udara sembari menatap Evan tajam.


"Aku benci mengakui ini. Tapi, kau  memang yang terbaik di antara yang lain." Kata Ben kemudian.

__ADS_1


Evan tertawa sarkas lalu membalas ucapan Ben "kau yakin? Bahkan Axelo sangat menginginkan posisi yang kau tawarkan padaku, kenapa bukan dia saja?"


Benedict tersenyum samar, lalu bangkit dari kursi kebesarannya dan keluar dari dinding kaca tersebut. Kemudian berhenti tepat di hadapan Evan.


"Dia tidak secerdas dirimu" Ben kembali memuji, kali ini terdengar tulus tanpa kata terpaksa.


"Besok kau harus ikut rapat pertemuan dengan rekan bisnis yang lain, karena aku akan memperkenalkan dirimu sebagai penerus perusahaan keluarga Matias." Ben kembali berucap dengan nada menuntut.


Evan berdecih, kemudian bangkit dari kursinya, hingga berdiri sejajar dengan Benedict. Menatap pria parubaya itu tajam tanpa ekspresi.


CK, keluarga Matias memang pandai menyembunyikan emosi.


"Aku tidak mau menggantikan posisimu" Evan berujar santai, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan dua manusia yang paling Evan benci di muka bumi ini.


"Ikuti dia, dan ajarkan semuanya tentang apa yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin."


***



Seorang wanita duduk seorang diri di kafetaria kampus, manik abu-abunya menatap nanar pemandangan di luar jendela. Rintikan hujan yang kian deras di luar sana menambah kekosongan hati wanita malang itu.


Jasmine mengaduk hot chocolate miliknya yang sudah tidak lagi panas, minuman favoritnya itu sama sekali tak mampu mengalihkan perhatiannya dari lamunan tentang Evan.


Entah kenapa rasanya seperti ada yang hilang dari dirinya, tapi Jasmine tidak tau itu apa. Padahal jauh sebelum bertemu dengan pria itu, ia baik baik saja menjalani hidupnya seperti ini. Sendiri tanpa siapapun selain bersama sahabatnya_Luci.


Ting.


Benda pipih di atas tumpukan bukunya menyala. Terlihat notifikasi pesan singkat dari seseorang yang sejak tadi mengganggu pikirannya.


Segaris senyum terukir di bibir Jasmine setelah melihat nama yang tertera di sana. Tangannya terulur menyambut benda tersebut dan mulai membaca isi pesan itu.


Evan : tidak usah memikirkan ku terus Nona, katakan saja kalau kau sedang rindu padaku.


Jasmine mendengus, percaya diri sekali pria itu! Siapa yang merindukan dia?


Meski bibirnya menggerutu nyatanya binar di mata abu abu itu tak bisa berbohong. Dengan lincah Jasmine memainkan jemarinya di atas layar tujuh inci itu.


Jessy : kau terlalu percaya diri sekali Tuan, aku sama sekali tidak merindukanmu.


Tak butuh waktu lama, pria bernama Evan itu kembali mengirim pesan balasan.

__ADS_1


Evan : benarkah? Tapi sayangnya wajah mu yang cemberut itu tidak bisa berbohong.


Jasmine terkejut, kemudian menoleh ke sekeliling ruangan. Dan, tidak ada manusia gila satu itu di sekitar sana.


Jessy : darimana kau tau?


OPS!! Jasmine melakukan kesalahan besar membalas dengan pertanyaan seperti itu. Niat ingin men delete pesan tersebut ternyata sudah terlambat, karena Evan sudah lebih dulu membacanya dalam hitungan detik saja.


Evan : hahaha, kau mengakuinya bukan? Aku tau semua isi kepalamu.


Jessy : no, I said no, no, no!!!.


Jasmine membalas pesan tersebut dengan wajah merona malu, malu karena ternyata Evan tahu jika ia sedang memikirkan pria gila itu. Ah, sungguh memalukan.


Evan : ahh, Baiklah Nona blushing.  Aku hanya ingin memberitahu mu jika malam ini aku tidak pulang. Brian akan menjemput mu, dan mengantarkan mu ke mansion ku.


Jessy : kenapa kau tidak pulang?


Evan : mulai hari ini aku bergabung dengan perusahaan Ben dengan jadwal yang padat. Menyebalkan sekali bukan? Padahal aku ingin sekali meniduri mu seharian.


Jessy : berhenti berbicara mesum, atau aku akan menyumpal mulut mu.


Raut Jasmine berbanding terbalik dengan balasan yang di ketiknya, wanita itu tersenyum malu malu.


Evan : haahh, sekarang kau mengerikan sekali ya, aku jadi takut.


Jessy : ini semua karena mu, aku tertular sifat jelek mu.


Evan : dan aku menyukainya. Aku mencintaimu Jessy. Sangat.


Jasmine tidak membalas pesan itu lagi, ia mematung dengan masih menggenggam ponsel di tangannya. Kata-kata Evan membuatnya bungkam. Jadi seperti ini rasanya jatuh cinta? Seperti ada kupu-kupu yang menggelitik di perutnya.


Jasmine menggigit bibir bawahnya, dan menyembunyikan wajahnya di meja dengan melipat kedua tangannya.


"Apa benar aku jatuh cinta dengan pria gila itu?" Jasmine bermonolog dari balik lengannya.


Ia masih belum yakin dengan perasaan itu, apakah ia benar-benar sudah jatuh cinta dengan Evan, atau hanya sekedar rasa nyaman saja karena selalu bersama.


Di tengah keraguan hatinya tentang perasaan cintanya pada Evan, tiba-tiba ada yang menepuk bahunya dari arah belakang namun tak bersuara. Sontak Jasmine mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang.


"Hai... Senang bertemu dengan mu kembali."

__ADS_1


🍁🍁🍁



__ADS_2