
Petter tak hentinya merutuk, karena sikap Evan yang semena-mena padanya. Pria itu selalu saja menyuruh ini dan itu sesuka hatinya tak kenal waktu. Padahal ia masih sangat lelah.
Baru saja ia tiba di negara ini beberapa jam yang lalu dari Seol sehabis menonton konser Black Pink. Dan, Evan seenak udelnya menyuruh ia untuk membawa begitu banyak makanan ke mansion-nya.
Dasar pemaksa!
Petter mengedarkan pandangannya begitu memasuki pintu utama. Untuk pertama kalinya Evan mengijinkan dirinya menginjakkan kaki di sana, dan itu karena wanita asing yang membuat Evan menjadi lebih gila dari sebelumnya.
"Kenapa sepi sekali? Dimana wanita itu?" Petter melangkahkan kakinya ke dalam, memasuki ruang tengah dan langsung duduk di sofa.
Semuanya nampak rapih, seperti tidak berpenghuni. Apakah wanita itu melarikan diri saat Evan tidak ada?
Ahhh, jangan sampai itu terjadi. Bisa bisa ia akan di buat pusing oleh Evan, mencari wanita itu sampai ke ujung dunia.
Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki dari lantai atas, mengalihkan perhatian Petter, lantas Petter menolehkan kepalanya ke arah tangga.
"Hoaamm"
Jasmine yang tidak menyadari kehadiran Petter nampak acuh, rambut berantakan, serta menguap beberapa kali.
Jasmine baru saja terbangun dari alam mimpi karena merasa lapar, setelah berjam-jam berada di perpustakaan sampai ketiduran karena bosan.
"Ahh, lapar sekali..." Jasmine mengusap perut-nya yang tak henti meraung meminta di isi.
Jasmine melewati Petter begitu saja bagai makhluk astral, tak terlihat. Berjalan santai menuju pantry sambil mengikat asal rambutnya tinggi-tinggi.
CK, sayang sekali pemandangan itu untuk di abaikan.
Dari kejauhan Petter terus mengamati gerak gerik Jasmine yang berkutat di pantry, wanita itu nampak bingung di depan lemari pendingin. Berdiri sambil berkacak pinggang.
"Apa yang kau cari disana?"
Jasmine berjengit bersamaan apel yang jatuh dari tangannya. Secepat kilat menoleh kebelakang dengan ekspresi waspada.
Jasmine mengerutkan keningnya dalam, saat melihat pria yang sedang berdiri dengan sedikit mencondongkan tubuhnya di meja bar.
"S-siapa kau?" Tanya Jasmine gugup, Di tangannya sudah menggenggam sebilah pisau dapur yang siap ia tancapkan jika pria itu macam-macam.
"Kembalikan pisau itu, berbahaya." Suruh Petter dengan helaan nafas panjang. "Aku Petter, pengacara Evan."
Eh? Dia tau aku memegang pisau?
Jasmine pun meletakkan kembali pisau itu ke tempatnya bersamaan dengan Petter yang juga meletakkan paper bag ke atas meja bar, dan mulai mengeluarkan isinya sambil menggerutu, "Kekasihmu itu sungguh menyebalkan."
Jasmine menautkan alisnya "Evan?"
"Hem, siapa lagi?" Katanya setelah mengeluarkan kotak terakhir.
"Kau tau? Di sampai mengancam ku dengan pisau terbarunya yang runcing dan bercabang. Jika aku tidak mengantarkan makanan ini dengan segera."
__ADS_1
Jasmine tertawa pelan, "kau takut dengan Evan? Bukankah kalian sama?"
Petter menatap Jasmine lekat, tanpa ekspresi. Reflek Jasmine mengatupkan bibirnya rapat. Bulu di tengkuknya meremang melihat sisi lain Petter.
"OPS, sorry."
"Jangan katakan tentang kami pada siapapun." Ucapnya datar. Dan Jasmine mengangguk cepat.
"Makan lah. Ini menu baru di restauran" perintahnya sambil menyodorkan kotak berwarna biru itu.
"Terimakasih." Jasmine menjawab kikuk. Dan mendudukkan diri di kursi berhadapan dengan Petter.
Sedangkan Petter sendiri bangkit dari kursi dan berjalan memutari meja bar, dimana Jasmine duduk.
Jasmine sudah ketakutan setengah mati, wajahnya pucat pasi dengan menggenggam sendok di tangannya erat.
"Kau takut?" Tanya Petter yang menyadari perubahan raut wajah Jasmine.
"Tentu saja, kau menyeramkan."
Petter tertawa, sembari tangannya membuka lemari pendingin, mencari minuman untuk melepas dahaganya.
"Harusnya kau takut dengan kekasih mu itu. Dia paling mengerikan di antara kami. Tidak ada yang berani mengusiknya." Petter berucap sungguh-sungguh setelah menenggak minuman dingin itu.
"Sungguh? Kau bercanda." Jasmine menolak percaya.
"Evan tak sekuat itu, nyantanya dia takut dengan Benjamin dan Jonathan."
Nyaris saja Petter tersedak minuman-nya. Apa ia tidak salah dengar?
Petter pun meletakkan minuman kaleng itu di atas meja seraya mendudukkan dirinya di samping Jasmine.
"Kau tau? Dia hanya malas berurusan dengan mereka. Jika sudah marah, mungkin Jonathan akan bernasib sama seperti Jony"
🌕🌕🌕
Evan berjalan di Bandara dengan langkah panjang, sempat mengundang perhatian karena para wanita berhenti sejenak untuk menatapnya.
Bagaimana tidak? Penampilan Evan dengan rambut kecoklatan dengan memakai kaca mata hitam dan warna baju yang senada tentu saja menarik perhatian kaum hawa karena ketampanannya yang tidak manusiawi.
"Bisakah pelan-pelan saja jalan mu?" Jonathan berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Evan yang berjalan sangat cepat, bak sedang berlari mengejar pencuri.
"Jangan ikuti aku kalau ingin jalan pelan-pelan." Ketus Evan.
"Dimana mobil ku?" Tanyanya kemudian.
"Ada di luar Bandara, itu di sana" Jonathan menunjuk mobil berwarna hitam yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
__ADS_1
Evan pun segera mempercepat langkahnya, dan langsung masuk ke dalam mobil itu, meninggalkan Benjamin sendiri di luar.
Mobil hitam itu melesat cepat, seperti sedang balapan. Bahkan nyaris saja menabrak mobil di depannya jika Evan tidak pandai menyalip. Jonathan hanya menggelengkan kepalanya dan langsung menghubungi Benjamin.
"Halo Tuan..."
"Ada apa?" Suara berat terdengar dari sana.
"Kami baru aja mendarat di Valencia, dan seperti biasa, Tuan Evan langsung pergi." Ucapnya menyampaikan.
"Biarkan saja. Yang terpenting dia mau menggantikan ku menjalankan bisnis dan memimpin organisasi."
"Kalau begitu, apa saya boleh meminta libur?" Jonathan bertanya ragu.
"Hahahah, terserah. Kau bisa gunakan waktumu untuk menjajal kejantanan mu itu. Jangan sampai tidak berguna."
Tuuutt...
Panggilan terputus, dan jonathan berdesis. Bukan karena panggilan-nya yang di putus sepihak, tapi karena ucapan pria di telepon tadi. Seenaknya menjelekkan dan meremehkan kejantanan ku. Liat saja? Aku bahkan sanggup meniduri tiga wanita sekaligus.
Jonathan berjalan sedikit untuk mencari taxi, ia ingin pergi ke suatu tempat dimana dirinya akan menjajal kemampuannya.
"Antar saya ke City of arts and science" ucap Jonathan. Dan supir taxi itu mengangguk.
Jonathan melirik jam yang melingkar di tangannya, lalu senyum sumringah tercetak jelas di wajah seramnya. Ia masih memiliki waktu untuk bersenang-senang hingga pagi disana.
Tempat yang di tuju adalah TheUmbracle mya, sebuah club' malam besar yang bagus dan berkelas. Tempat itu di buka dari jam 23.30 hingga 07.30. Setidaknya Jonathan bisa melupakan tugasnya yang tak kenal waktu itu, untuk sekedar bermain-main.
Disana juga banyak wanita cantik yang bisa ia pakai untuk mengasah kejantanan-nya. Sungguh sangat menyenangkan bukan?
Memangnya hanya Benjamin saja yang bisa menabur benih? Ia juga bisa.
Taxi itu berhenti tepat di tempat tujuan setelah hampir satu jam perjalanan. Dan Jonathan keluar dari dalam mobil tersebut setelah membayarnya.
"Ambil saja kembalian-nya, aku sedang senang hari ini." Kata Jonathan dengan senyum, namun tetap saja mengerikan.
Jonathan melangkahkan kaki panjangnya menuju tempat yang menyajikan minuman nikmat dan wanita cantik disana, di kepalanya sudah tersusun rencana. Rasanya Jonathan sudah tidak sabar bermain dengan para wanita cantik di sana.
🍁🍁🍁
To be continued...
Jonathan, anggep aja matanya rusak satu 😂
Petter
__ADS_1