
Evan tidak mendengarkan sama sekali pembicaraan orang-orang yang ada di ruang rapat saat ini, fikirannya sejak tadi tertuju pada Jasmine.
Wanita itu mendadak tidak bisa di hubungi, dan firasatnya pun tidak enak. Seolah sedang terjadi sesuatu dengan wanita itu.
"Apa yang sedang kau fikirkan?" Jonathan bertanya, namun pandangannya lurus ke depan, menatap orang-orang yang sedang membahas sesuatu.
"Aku ingin segera pulang. Cepat selesaikan rapat sialan ini." Ucap Evan datar.
"Tidak bisa. Ini sudah ketentuan organisasi, kau harus mengikutinya sampai selesai." Jonathan menjelaskan.
Rahang Evan mengeras, dengan hembusan nafas memburu. Seolah ingin menghabisi semua orang yang ada di ruangan itu, agar cepat selelsai dan ia bisa pulang bertemu Jasmine.
"Katakan aku harus apa? Aku sudah tidak tahan berada disini." Sebisa mungkin Evan menutupi amarahnya agar tidak terlihat oleh orang lain.
Jonathan melirik sekilas, dan kembali menatap ke depan. "kendalikan amarah mu. Sabar lah, sebentar lagi."
"Jika tidak sesuai dengan ucapan mu, maka aku akan meninggalkan pertemuan ini tanpa basa basi." Ancamnya serius.
"Kau bercanda? Aku tidak takut ancaman mu. Justru kau yang harus berhati hati jika salah mengambil keputusan, maka kekasihmu yang akan menjadi tumbalnya."
Evan tidak mampu lagi menahan rasa kesalnya, sambil menatap Jonathan sinis. Lalu membuang wajahnya ke arah lain saat Jonathan membalas senyum mengejek.
CK! Bedebah!
***
Jasmine melebarkan senyumnya ketika mendengarkan Jasson bercerita, bahwa mereka ternyata memiliki tujuan yang sama, yaitu ke New York.
Mulai dari duduk di pesawat hingga mendarat di bandara mereka selalu bersama, seolah seperti sudah kenal lama. Itu lah Jasmine, wanita yang mudah bergaul dan ceria.
"Aku tidak menyangka akan bertemu lagi dengan mu." Jasson tersenyum tipis menatap Jasmine yang melangkah di sampingnya.
"Hum, aku pun begitu. Bahkan rasanya aku masih malu mengingat kejadian itu." Jasmine tertawa pelan.
"Tidak perlu malu, aku tidak menganggapnya serius. Kau itu cantik dan menarik di mata ku." Puji Jasson.
Jasmine tidak bersemu, hanya tersenyum biasa. Lain halnya jika Evan yang mengatakan itu, mungkin saat ini jantungnya sudah meloncat dari tempatnya.
Tapi, ucapan Jasson justru membuatnya mual.
"Ya, ya, ya. Sebaiknya aku pergi sekarang, karena aku sudah sangat rindu ingin bertemu dengan ayahku." Jasmine memilih mengakhiri obrolan tidak berfaedah itu sebelum semakin panjang.
"Biar ku antar kau sampai rumah ayahmu" Jasson menawarkan diri.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Jasmine langsung bergegas melangkahkan kakinya meninggalkan Jasson yang mencoba mengejarnya. Suara koper yang di geret paksa cukup menarik perhatian orang-orang di sekitar.
__ADS_1
"Jasmine tunggu!"
Wanita bernama Jasmine itu tidak menghiraukan. Dia tetap berjalan menuju taxi, dan ingin cepat berlalu.
"Aku bersumpah akan menemukan mu, dan menjadikan mu milikku." Jasson bertekad kuat untuk mendapatkan Jasmine.
Sementara Jasmine nampak tidak sabar lagi ingin segera bertemu ayahnya, dan mengunjungi makam ibunya.
Ibu aku datang....
***
Evan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat begitu mengetahui bahwa Jasmine sudah melarikan diri. Gadis itu pergi tanpa ijin, dan tidak memberi kabar apapun padanya. Bahkan wanita itu tidak bisa lagi di hubungi.
"Fu*k!!" Evan meninju dinding apartemen Jasmine dengan keras hingga tangannya mengeluarkan darah segar.
"Aku akan menemukan mu, dan memberi pelajaran agar kau tau siapa aku sebenarnya." Gumam Evan dengan sorot mata memerah padam.
Dengan emosi yang menggebu-gebu, Evan berlalu dari sana meninggalkan apartemen yang semalam membuatnya bahagia bersama Jasmine.
Bagai kesetanan, Evan melajukan mobil hitamnya dengan kecepatan penuh. Padahal ia sudah dengan berani meninggalkan pertemuan penting itu demi Jasmine.
Tujuannya saat ini adalah bertemu dengan saudaranya yang memiliki kemampuan dalam mencari seseorang dengan cepat.
Sesampainya di sebuah bangunan minimalis dengan nuansa putih dan abu-abu, Evan langsung memarkirkan mobilnya asal dan berjalan memasuki gedung itu dengan tidak sabaran.
Evan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang begitu memasuki rumah Petter. Mencari keberadaan pria itu yang belum juga terlihat batang hidungnya. Bahkan saat ia menghubungi, saudara laknatnya itu malah menolak panggilan-nya.
Dasar saudara tidak ada akhlak.
Tempat terakhir yang ia tuju adalah kamar. Dimana pria itu jarang sekali berada disana.
Dan benar saja, saat Evan membuka pintu berwarna hitam itu, sosok pria berkulit putih dengan rambut kecoklatan menampakkan diri.
Petter sedang berbaring di atas sofa, dengan satu lengannya untuk menutupi wajah lelahnya.
"Heii, bangunlah! Aku butuh bantuan mu."
Evan mendudukkan diri di tepian meja, menatap Petter jengah.
"Ada apa lagi? Aku sangat lelah." Sahut Petter tanpa membuka lengannya. Ia tidak peduli lagi dengan perintah Evan yang selalu menyuruh ini dan itu tanpa kenal waktu. Ia ingin istirahat.
"Jasmine melarikan diri." Katanya datar. Dan berita itu cukup membuat Petter terkejut, lantas membuka lengannya untuk melihat Evan dengan keadaan yang cukup mengenaskan.
"Apa aku tidak salah dengar? Seorang Evan bisa teledor. CK" Petter kembali menutup wajahnya, berniat untuk tidur.
__ADS_1
Evan menghembuskan nafas kasar.
"Bantu aku cari dia, koneksimu kan banyak. Sangat mudah untuk mencari Jasmine dengan cepat."
"Tidak bisa. Aku sangat lelah. Kau tau kalau aku baru saja pulang menonton konser." Tuturnya tanpa melihat raut kesal Evan.
"Ah, percuma. Kau tidak akan pernah mengerti." Katanya lagi dengan hembusan nafas lelah.
"Cepat bangun atau kau akan merasakan akibatnya!" Evan mengeram, lalu meraih pisau lipat di sakunya dan ia goreskan di perut Petter.
"Bunuh saja aku. Tidak akan berpengaruh padaku." Petter berucap amat santai, seolah siksaan Evan hanyalah mainan anak-anak, dan kematian adalah sebuah lelucon belaka.
Evan menarik kembali pisaunya dari perut Petter. Rasanya percuma, pria itu sama sekali tidak merespon goresan yang ia buat. Menyebalkan sekali memiliki saudara psikopat, di ancam pun tidak mempan.
"Wajahmu menyedihkan sekali seperti mayat hidup, kekasihmu itu ternyata lebih mengerikan dari yang ku kira." Petter malah mengejek, dan membuat Evan semakin bertambah kesal.
Dasar kurang ajar!!
Evan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar Petter, tidak ada yang menarik perhatian. Semuanya nampak biasa saja.
Evan berpikir keras, kira kira apa yang membuat Petter mau melakukan perintahnya. Manik hazelnya terfokus pada jejeran poster Blackpink, dengan gambar Jenny yang paling banyak tertempel di dinding.
Lantas Evan pun bangkit, mendekati poster itu dengan ide yang sangat cemerlang. Saudaranya itu begitu memuja sosok Jenny yang begitu sempurna katanya. Lalu bagaimana kalau sosok itu ia hancurkan?
Mari kita liat respon Petter.
Evan meraih poster itu, dan merobeknya dengan kasar hingga menimbulkan suara yang nyaring. Suara itu menelusup masuk ke dalam indra pendengaran Petter dengan jelas membuat pria tampan itu tersentak dan bangkit.
"What are you doing?!" Petter berjalan mendekati Evan dan merebut poster itu yang tinggal setengah. Rautnya menunjukkan kemarahan yang nyata, yang belum pernah Evan lihat sebelumnya.
Sementara Evan tersenyum menyeringai karena menemukan kelemahan Petter.
"Akan ku hancurkan semua postermu itu, berikut orangnya." Ancam Evan, dan Petter tau jika Evan tidak pernah main main.
"Bedebah sialan!!"
Umpat Petter dan segera berlalu dari sana, sebelum Evan menghancurkan seluruh posternya yang susah ia dapatkan dengan tanda tangan Jenny di sana.
πππ
Mau bikin adegan anuh bingung akuhπ..
Aku ngetik jam berapa, kalian baca jam berapaπ
Komen pliss, kasih apa jangan π
__ADS_1