
Evan terduduk di kursi dengan dua tangan bertumpu pada lututnya. Tubuhnya condong ke depan dengan tangannya yang masih memegang pisau berlumuran darah sembari menatap datar ke arah lantai, tak sedikit noda merah itu mengotori sebagian pakaian yang di pakai Evan.
Di depannya sudah tergeletak tiga tubuh tanpa nyawa dengan kondisi yang cukup mengenaskan. Ada yang penuh sayatan di sekujur tubuhnya, ada yang penuh luka tusukan dan ada juga yang sudah tak lengkap lagi organ tubuhnya.
CK CK, Evan sungguh mengerikan.
Mereka adalah orang-orang bodoh yang berani menguntit Evan, juga mencoba memberikan laporan pada pihak kepolisian setempat. Bahwa Evan menyembunyikan seorang gadis, dan menyiksanya.
"Sudah ku peringat kan pada kalian sebelumnya bukan? Jangan pernah mengganggu ku. Maka ini semua tidak akan pernah terjadi" Katanya, berdialog dengan mereka yang sudah tak bernyawa.
Evan beranjak dari kursi itu dengan ekspresi yang sulit di jelaskan, iaย berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sejenak Evan menatap pantulan wajahnya di balik cermin, wajahnya seperti bukanย dirinya. Terasa dingin dan menyeramkan. Dan Evan sudah muak dengan semua itu, ia ingin menjadi pria biasa saja yang normal bukan seperti Iblis. Ia ingin membina rumah tangga bersama Jasmine, memiliki banyak anak dan hidup bahagia sampai tua.
Evan sudah lelah menjadi monster pembunuh, ia tidak mau nantinya Jasmine dan anak-anak mereka ketakutan ketika melihat sosok lain dari dirinya yang menyeramkan.
"Aarrggghhh"
Prang!!!
Evan meninju cermin itu berkali-kali hingga hancur, tak peduli dengan luka dan darah yang mengalir di punggung tangannya.
"Sudah cukup!!" Joe yang baru saja datang langsung menahan tangan Evan dan menggiringnya mejauh dari cermin yang sudah hancur tak berbentuk di atas wastafel.
"Kau sudah gila?"
"Aku memang sudah gila sejak dulu." Sahut Evan dengan wajah menunduk, nada bicaranya rendah seolah menahan tangis dan amarah menjadi satu.
"Ya, aku tau itu. Tapi kau lebih mengerikan dari sekedar gila saat ini." Balas Joe yang duduk di samping Evan dengan masih memegangi tubuh lemah itu.
Evan menghembuskan napasnya kasar.ย "terserah apa katamu, aku lelah dengan semua ini. Bisa kau bunuh saja setan tua itu untuk ku?"
Joe tersenyum tipis, ini bukan hal baru yang ia dengar.
"Sudah ku lakukan sejak dulu, jika memang aku bisa." Joe mengusap kepala botaknya ke belakang, ia ingat bagaimana saat Ben mengancam dirinya ketika menolak untuk bekerjasama.
Sosok Ben saat itu bukan lagi manusia, melainkan jelmaan Iblis.
"Biar aku saja yang melakukannya sendiri." Evan bangkit dari duduknya dan melanjutkan niatnya untuk membersihkan diri.
"Aku akan membantumu." Joe berseru ketika Evan nyaris menutup pintu kaca itu.
***
Axelo menatap heran pada pria yang sedang terduduk di sofa dengan wajah menahan sakit. Tangan pria itu terlihat mengusap-usap bagian leher dan kepala belakangnya.
__ADS_1
"Sepertinya kau kalah bertarung dengan gadis itu." Axelo mengejek sembari mendudukkan dirinya di sofa berhadapan dengan Jacob.
"Bukan gadis itu, tapi si Beast. Monster jelek berkepala botak." Kata Jacob dengan nada kesal, tangannya masih mengusap bagian yang sakit diย punggungnya.
Dahi Axelo mengerut dalam mendengar sahabatnya menyebut nama aneh itu, setahunya pemeran Beast dalam film Beauty and the Beast itu tidak botak. Sedang Monster berkepala botak yang terlintas di otaknya hanya nama Joe yang memiliki wajah menjengkelkan.
"Beast? Apa monster berkepala botak yang kau maksud itu Joe?" Tebaknya.
"Hum, dia... Makhluk aneh. Aku benci sekali dengannya. Dia hampir saja membunuhku sebelum bercinta dengan gadis itu. Menjengkelkan bukan?" Jacob mengadu sambil menggerutu.
"Joe datang kesini? Apa Joe tau kita menculik gadis itu?" Axelo panik.
Jacob menggelengkan kepalanya cepat, "bukan itu."
"Lalu?"
"Dia tahu jika aku yang menyuruh orang untuk melaporkan Evan pada polisi. Atas tuduhan menculik Jasmine dan menyiksanya."
"Bodoh!! Kau sama saja bunuh diri dan menyeret keluarga mu untuk binasa di tangan Ben." Ujar Axelo menjelaskan.
"Jika berita itu sampai bocor, maka seluruh anggota organisasi akan bertindak, dan menghabisi kalian tanpa jejak." Jelasnya lagi.
"Entahlah, aku sudah muak dengan saudara mu itu. Semua memuji dan membandingkan yang lainya dengan dia. Seolah hanya dia yang paling cerdas dan pandai melibihi siapapun."
"Jadi kau sekarang membelanya?" Jacob mencondongkan tubuhnya ke arah Axelo, wajahnya penuh tanya.
Masih dengan senyum yang tak luntur Axelo pun menjawab santai. "Jika aku membelanya, lalu untuk apa aku ada disini?"
Benar juga, pikir Jacob. Ia pun kembali merebahkan punggungnya d sofa, "Lalu apa rencana mu sekarang?"
"Kita siksa saja sahabatnya itu, untuk memancing Jasmine datang kesini seorang diri. Aku yakin dia akan melakukan apapun yang kita suruh, dia itu bodoh." Ujar Axelo.
"Apa kau yakin jika tidak ada yang mengikuti Jasmine nantinya? Menurut ku Evan tidak sebodoh itu, pasti si iblis kecil sudah menyiapkan anjing penjaga untuk kekasihnya itu" balas Jacob.
"Kita bisa memanipulasinya..."
Sesaat Jacob dan Axelo saling pandang, lalu kemudian mereka berdua tertawa bersama, "mari kita lakukan sekarang..."
Mereka berdua pun bangkit dari sofa, dan berjalan beriringan menuju ruangan dimana Lucia berada.
***
Sementara di mansion megah milik Brian. Pria tampan yang memiliki bulu halus di sekitar rahangnya itu sedang menatap gadis di depannya dengan tatapan penuh arti.
Brian tak tega menolak permintaan Jasmine untuk tak meninggalkan gadis itu. Alhasil, Brian terduduk di karpet dengan tangan masih melingkar di perut Jasmine.
__ADS_1
Sementara si pelaku nampak pulas dalam buai mimpi indah, seolah yang memeluknya adalah Evan.
Jasmine belum tau saja nanti jika si pemilik hatinya datang, dan melihat keadaan mereka berdua yang sungguh membuat jiwa penulisnya meronta. Kejam sekali kalian!!!
Huftt, nasib... Jadi seorang jomblo memang memilukan.
Sejak tadi Brian tak luput memandangi wajah tenang Jasmine, gadis itu terlihat semakin cantik dengan wajah polos dalam damai.
"Aku senang masih bisa berada di dekatmu, meski bukan sebagai orang yang kau cintai." Tuturnya sembari meletakan dagu di lengan Jasmine.
"Kasihan sekali, gadis baik seperti mu harus terjebak di antara keluarga psycho seperti kami."
Brian menghembuskan nafasnya pelan, lalu tangan kirinya terangkat bermaksud menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Jasmine.
"Jangan coba coba sentuh aku!!"
Brian terperanjat dengan tangan masih mengambang di udara. Ia terkejut dengan ucapan Jasmine yang seolah tau dengan apa yang akan di lakukannya. Padahal matanya terpejam, tapi tangannya menunjuk-nujuk ke wajahnya seperti sedang marah.
"A-aku tidak bermaksud menyentuhmu, hanya ingin..."
"Bohong!! Kau selalu saja mencuri kesempatan, mencium dan menindih ku..." Jasmine menyela cepat ucapan Brian, yang ia kira adalah Evan seperti di dalam mimpinya.
Dan Brian sendiri hanya melongo takjub mendengar celotehan Jasmine, jadi seperti itu kelakuan adiknya selama ini terhadap gadis itu?
Memaksa, mencium dan menindih?
"Biar aku yang memberinya pelajaran" kata Brian pada akhirnya.
"Kau lucu" Jasmine terkekeh sembari menjambak rambut Brian tanpa dosa. Brian lagi lagi di buat bingung, ia tidka tau harus menanggapi seperti apa.
Sedangkan Jasmine kembali lelap dengan dengkuran halus, seolah tidak terjadi sesuatu beberapa menit lalu.
Brian yang lelah berpikir pun akhirnya tertidur di samping Jasmine dengan kepala berada di atas lengan gadis itu.
๐๐๐
Semoga bang Evan gak liat.
Dia abis kesurupan di toilet. ๐๐
__ADS_1