The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 62


__ADS_3

Mobil Lucas berjalan mengikuti arah yang di ucapkan oleh Jasmine, ketika gadis itu minta belok Lucas pun belok.


Diam-diam Lucas memperhatikan gerak-gerik Jasmine yang terlihat gelisah dan gusar.


"Kau mau kemana sebenarnya?" Lucas bertanya, karena sejak tadi Jasmine hanya menunjuk arah saja tanpa berbicara banyak.


"Aku?"


Lucas mengangguk, "tentu saja kau, siapa lagi yang menumpang di mobil ku?"


Jasmine tersenyum kaku, iya ingin tertawa mendengar ucapan lucas namun tidak bisa. "Aku ingin ke tempat sahabat ku, Lucia namanya."


Lucas tersenyum sembari menambah sedikit kecepatan mobilnya, "apa dia secantik dirimu?"


Pertanyaan bodoh macam apa? Tidak mungkin kan Jasmine mengatakan kalau ia lebih cantik.


"Tentu saja cantik, dia kan wanita. Kalau tampan itu pria."


Lucas tertawa, dan Jasmine menjadi bingung. Bagian mana yang lucu dari ucapannya? Kenapa Lucas malah tertawa?


"Kau benar Jessy, semua wanita memang cantik, kecuali mereka trans hahaha" ucapnya lagi dan Jasmine meyengir paksa.


"Berhenti disana" Jasmine menunjuk sebuah restauran yang tidak terlalu besar, dan Lucas pun menghentikan mobilnya sesuai keinginan Jasmine.


"thanks Luke." Ucapnya setelah melepas seatbelt, dan Jasmine langsung turun dari mobil Lucas. Namun, Jasmine tidak menyangka jika Lucas pun ikut turun dari mobil.


"Kenapa kau ikut turun?" Tanya Jasmine begitu menyadari sosok tinggi itu berada di sampingnya.


"Memangnya tidak boleh? Kaukan tidak bilang kalau aku tidak usah turun."


Jasmine mendengus, sekarang hidupnya di kelilingi oleh pria-pria aneh dan menjengkelkan. Ia pun berbalik menghadap Lucas dengan senyum lebarnya.


"Sekarang aku minta kau kembali ke mobil, karena ini urusan wanita. Kecuali kau ingin berubah menjadi wanita."


Lucas mengusap kepala Jasmine gemas diringi kekehan kecil, "baiklah wanita, aku akan pergi."


Jasmine meringis sembari merapikan rambutnya yang berantakan, bibirnya pun turut menggerutu menatap punggung Lucas yang mulai memasuki mobilnya.


"Dasar gila!!"


Selepas Lucas pergi, Jasmine segera menaiki taxi untuk pergi ke tempat Lucia berada. Sesuai dengan perintah pria yang menahan Lucia, agar Jasmine hanya pergi seorang diri.


Sepanjang perjalanan Jasmine tak hentinya merapalkan doa, berharap para pria biadab itu tidak menyiksa Lucia lebih parah lagi. Dan Jasmine bersumpah akan membalas perbuatan mereka semua, tanpa ampun.


"Kau yakin ingin pergi ke alamat ini Nona?" Tanya driver itu begitu memasuki kawasan yang terbilang sepi. Hanya pepohonan menjulang tinggi di sisi kanan kirinya, Tak terlihat satu manusia pun lalu-lalang disana.

__ADS_1


"Hem, teman ku sudah menunggu di depan sana" Jasmine menunjuk arah dimana ada mobil berhenti.


"Kau yakin Nona itu teman mu?" Tanya driver itu sekali lagi, ia merasa khawatir dengan gadis itu.


"Yes, of course. " Jasmine segera turun dari taxi, begitu berada tidak jauh dari mobil yang terparkir di depan sana.


Jasmine menyerahkan beberapa lembar uang pada driver itu seraya berucap. "Terimakasih pak."


Driver itu mengangguk dengan wajah bingung, antara ingin menunggu gadis itu sana takut jika saja terjadi sesuatu, atau masa bodoh dan pergi darisana.


Setelah mengambil keputusan untuk menunggu, dari kejauhan driver itu melihat Jasmine berbicara dengan si pemilik mobil yang ternyata seorang pria. Merasa semuanya baik-baik saja, dan aman. Driver itu pun berbalik arah dan pergi dari sana.


"Kau Nona Jasmine?" Tanya pria tinggi dengan jaket kulit yang membalut tubuh tegapnya itu.


Jasmine pun mengangguk dengan perasaan cemas, takut, dan kesal menjadi satu bagai gado-gado.


"Masuk lah, aku akan membawamu pada Tuan ku." Titah pria itu datar.


Dan Jasmine menurut saja menaiki mobil itu, duduk di kursi penumpang dalam diam. Matanya mengamati keadaan sekitar begitu benda besar itu bergerak perlahan menjauh.


Jasmine tak pergi begitu saja dengan tangan kosong, di dalam tasnya sudah menyembunyikan beberapa pisau koleksi milik Brian yang ia curi diam diam.


Keheningan mengambil alih suasana di dalam mobil itu, baik Jasmine maupun pria itu sama sama bungkam. Pria itu sibuk menyetir sembari menghubungi seseorang yang berjaga di dekat mansion tersembunyi milik Jake. Sementara Jasmine sibuk dengan pikirannya, ia belum tau caranya menggunakan pisau yang baik dan benar untuk membunuh orang.


Untuk pertama kalinya Jasmine menyesali keputusannya, karena tidak sempat belajar dengan Evan caranya membunuh.


"Siapa yang bodoh?" Pria yang sedang menyetir itu menyahut cepat, ia merasa tersinggung dengan umpatan Jasmine. Karena hanya ada mereka berdua dalam sana.


"Ah, tidak... Driver tadi yang bodoh, karena menolak uang kembalian dariku.


Dengan sama bodohnya, pria itu hanya menganggukkan kepala percaya begitu saja dengan kebohongan Jasmine.


Jasmine kembali mengatur nafasnya saat pria itu tidak bertanya lebih lanjut, tangannya mengepal kuat untuk memberi semangat pada diri sendiri, bahwa ia bisa menyelamatkan Lucia.


Hanya beberapa menit mobil itu berjalan, Jasmine bisa melihat dari kejauhan sebuah mansion dengan halaman yang luas dan cukup menyeramkan bagi Jasmine meski terlihat indah.


"Mari Nona ikut dengan ku."


Ucapan pria itu membuyarkan lamunan Jasmine, hingga gadis itu berjengit karena kaget.


Sekali lagi Jasmine menarik nafasnya untuk mengurangi rasa panik dan takutnya seraya turun dari dalam mobil. Langkah kecilnya mengikuti pria itu sembari mengamati keadaan sekitar.


Bukan hanya satu atau dua, melainkan puluhan pria berjaga di seluruh penjuru bagunan.


Bagaimana caranya bisa lolos dari sini? Bodoh sekali!! Batinnya.

__ADS_1


"Silahkan masuk Nona, Tuan Jake dan Tuan Xelo sudah menunggu di dalam." Kata pria itu setelah membuka pintu berukuran besar berwarna hitam.


"Kau tidak ikut masuk?"


Pria itu mengerutkan dahinya dalam mendengar pertanyaan bodoh Jasmine.


"Kau ingin aku mati, karena ikut masuk bersama mu?!"


Jasmine meremas tali tasnya erat. Jantungnya semakin berdetak tidak karuan. Apa semengerikan itu? Sampai di bunuh hanya karena menemani dirinya masuk?


Tapi, kenapa ia diperlakukan dengan sopan?


Ah, sudahlah masa bodoh.


Baru saja Jasmine berjalan dua langkah melewati pintu besar itu, ia sudah di sambut pria berambut hitam dengan mata yang tajam menusuk.


"welcome to Hell"


***


Evan melajukan Ford Mustang GT berwarna hitam miliknya dengan kecepatan penuh, membelah jalanan kota yang cukup lengang.


Mendapat kabar jika Jasmine pergi tergesa-gesa bersama Lucas membuat Evan kesetanan. Bahkan ia pergi begitu saja meninggalkan rapat penting hingga Ben marah besar.


Masa bodoh dengan iblis tua itu, saat ini yang terpenting adalah Jasmine_kekasih hatinya.


Lima belas menit berlalu. Waktu yang terlalu singkat untuk menempuh jarak yang lumayan jauh. Evan tak menurunkan kecepatan mobilnya sedikitpun, hingga bertemu dengan mobil biru muda milik Brian yang terparkir di tepi jalan.


"Diamana Jessy?" Evan langsung bertanya tanpa turun dari mobil, nada bicaranya cepat dengan nafas memburu, serta wajahnya yang mengeras.


"Jessy di bawa masuk ke dalam mansion Jake oleh Aron." Kata Brian.


"Kau tau, tapi kau diam saja disini?" Evan mencengkram kerah baju Brian, dja pria itu menahannya dengan santai.


"Tenanglah, aku sudah menyusupkan orang ku untuk masuk kesana." Jawab Brian. "Sebaiknya kita masuk kesana diam-diam. Aku sudah membawa beberapa senjata di dalam bagasi, kau ambillah."


Evan menyentak tubuh Brian, dan langsung berjalan menuju bagasi untuk mengambil senjata.


Mereka tidak hanya berdua. Brian sudah menyiapkan kejutan untuk para bedebah yang sudah berani mengusik adik dan wanita yang di sayangi nya.


time to have fun.


🍁🍁🍁


To be continued...

__ADS_1


Beberapa bab lagi tamat. Dan konflik besar yang menegangkan. Siapkan hati kalian ya sayang.πŸ˜‚


Maaf lamaπŸ™


__ADS_2