The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 50


__ADS_3

Makan malam itu berlangsung dengan penuh ketegangan, baik Jasson maupun Jasmine sama-sama menahan diri untuk tidak bersuara. Sedangkan Evan dan Jonathan nampak santai terkesan masa bodoh.


"Bagaimana perjalanan Tuan datang kesini? Apakah sulit menemukan alamat rumah kami?" Tanya ayah Jasmine di sela makannya.


Jonathan melirik ke arah Evan, dan pria itu pun hanya menganggukkan kepalanya seolah mengatakan 'jawab saja'.


"Tidak terlalu sulit, karena Evan mengirimkan alamat nya dengan jelas dan detail." Sahutnya santai dengan senyum tipis, sungguh Jonathan pandai sekali ber-acting. Evan pun sampai terpukau di buatnya.


"Wah benarkah? Kau beruntung Tuan. Karena rekan kerja ku saja kesulitan mencari alamat rumah ku yang sederhana ini." Kekehnya setelah bercerita. Rumahnya memang berada di kota yang cukup ramai, tapi karena berukuran kecil dan sederhana membuat orang lain kesulitan mencari alamat rumahnya.


Sementara Jasson? Pria itu hanya diam menyimak. Jasson sangat tidak suka pembahasan tentang pria tidak sopan itu. Dan, berbagai pertanyaan bercokol di kepalanya. Kenapa juga ayah Jasmine begitu ramah dengan ayahnya Evan? Apakah ada yang ia tidak tahu?


"Ehm, maaf ayah. Aku boleh bertanya?" Jasson akhirnya memberanikan diri menyela perbincangan itu.


"Tentu saja boleh" sahut ayah Jasmine ramah. Dan mendengar itu Evan pun  melirik sekilas ke arah Jasson sembari menyuap makanan ke dalam mulutnya.


"Jadi kapan ayah menikahkan aku dengan Jasmine?"


Jasmine sontak tersedak makanannya mendengar pertanyaan itu, Evan pun dengan sigap menyodorkan minuman ke arah Jasmine bersamaan dengan Jasson yang juga menyodorkan minuman.


"Minumlah" ucap kedua pria itu bersamaan.


Ayah Jasmine dan Jonathan memperhatikan drama itu dalam diam. Jujur saja Jonathan ingin sekali tertawa terbahak melihat Evan yang bersaing dengan bocah lemah macam Jasson, tapi masih menahan diri untuk tidak membunuh. Sesuatu yang  belum pernah terjadi.


Jasmine mengulur kan tangannya memilih meraih minumannya sendiri yang berada di dekatnya, dan segera menenggaknya sampai tandas.


"Pelan-pelan saja Jessy." Kata Ayah Jasmine.


Evan dan Jasson pun kembali menarik gelas mereka menjauh dan meletakkan kembali ke tempat semula.


"Begini nak Jasson, sebelumnya ayah minta maaf padamu. Kita bicarakan ini nanti ya, di lain waktu" ayah Jasmine tidak mengatakan yang sebenarnya karena merasa kasihan dengan Jasson.


Jujur saja Jasson merasa sedikit kesal, kenapa pria tua itu tidak mengatakan saja kebenarannya malam ini. Namun itu semua tak menyurutkan sedikitpun niatnya menikahi Jasmine.


"Kenapa ayah? Apa karena kedatangan pria asing ini?" Tanya Jasson sembari melirik Evan.

__ADS_1


Pria yang di lirik hanya tersenyum tipis, lalu kembali menyantap makan malamnya. Seolah hal itu bukan lah hal yang serius, karena Evan yakin seratus persen jika Jasmine lebih memilih dirinya.


Sedang ayah Jasmine sendiri menatap Evan dan Jonathan. Lalu beralih menatap Jasson. Tentu saja ayah Jasmine jadi dilema.


Setelah beberapa menit terdiam, akhirnya ayah Jasmine membuka suara.


"Ehm, kita bicarakan nanti ya nak. Di lain waktu" Ayah Jasmine sengaja menunda, ia tidak enak hati jika harus mengatakan keberannya di depan Jasson. Pasti pemuda itu akan sangat malu dan kecewa.


"Baiklah" Jasson menyahut tanpa semangat, lalu kembali melanjutkan makannya. Meski sebenarnya ia memiliki perasaan tidak enak dari pertemuan hari ini, karena ayah Jasmine terlihat seolah sedang menutupi sesuatu darinya.


Makan malam kembali berlanjut dengan suasana lebih canggung dari sebelumnya. Hingga acara makan malam itu selesai, tidak ada yang bersuara.


Beberapa menit berselang Evan dan Jonathan pamit dari pada ayah Jasmine untuk kembali ke Valencia.


"Paman, aku pamit pulang. Lain waktu aku akan kembali kesini lagi." Tutur Evan sopan, tak lupa memasang ramah dan senyum lesung pipinya.


Ayah Jasmine pun menyambut dengan senyum hangat, membuat Jasson semakin jengkel.


Lalu bergantian Jonathan yang berpamitan pada ayah Jasmine, "akan aku tunggu kedatangan mu ke tempat kami."


Evan terpaksa harus menutup mulutnya agar tidak terbahak melihat adegan hangat itu. Karena tentu sangat berlawanan dengan sifat asli Jonathan yang sangat buas dan tanpa basa basi.


"Baiklah, kami permisi." Jonathan mengakhiri drama tidak jelas itu. "Sampai ketemu lagi Jasmine." Sempat-sempatnya Jonathan menggoda wanita muda itu.


"Hati hati paman" balas Jasmine.


"Aku pergi dulu, jaga dirimu baik baik" pamit Evan sembari memeluk Jasmine erat.


Jasson sudah tidak tahan lagi melihat adegan itu, rasanya ingin sekali menarik Jasmine dari pelukan pria itu dan membawanya kabur.


Setelah drama pamitan itu, Evan dan Jonathan akhirnya beranjak pergi dari rumah Jasmine, menyisakan Jasson yang diam mematung dengan wajah kesal di teras rumah.


"Kau sungguh pandai bersandiwara Joe" ledek Evan, dengan menahan tawa. "harusnya kau menjadi aktor, bukan menjadi bawahan si setan tua itu."


"Diamlah!! atau aku akan menjahit mulutmu itu." Balas Jonathan dengan nada datar, kembali ke sifat aslinya. Namun, sama sekali tak membuat Evan takut, justru semakin niat menggoda. Hingga tiba-tiba taksi yang mereka naiki berhenti mendadak.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Evan dengan nada serius, tidak seperti tadi.


"Maaf Tuan, di depan ada beberapa pria yang menghadang mobil kita." Kata sang driver itu menjelaskan.


Evan dan Jonathan pun menilik orang yang di maksud oleh driver, mereka berdua akhirnya memilih keluar dari dalam mobil setelah membayar dan meminta driver itu untuk pergi dari sana.


Tidak ada wajah gentar sedikitpun, baik Evan maupun Jonathan justru tersenyum senang seolah mendapat umpan besar.


"Tidak perlu mencari, mereka datang sendiri." Gumam Jonathan sembari berjalan mendekati tiga pria yang tadi menghadang perjalanannya.


"Kau pilih yang mana?" Tanya Evan tanpa menoleh ke arah jonathan.


"Pria jangkung yang menjadi saingan mu itu. Tangan ku sudah gatal sejak tadi ingin mengoyak jantungnya." Kata Jonathan lirih namun dingin.


"Baiklah aku mengalah, dia menjadi milikmu. Sisanya untukku." Ucap Evan tanpa beban, seolah mulai mengeluarkan pisau kecil nan runcing dari sakunya. Begitupun Jonathan yang turut mengeluarkan benda yang sama, hanya berbeda bentuk. Milik Jonathan bergerigi dan lebih panjang.


"Berani juga rupanya kalian menghadapi kami." Ujar pria jangkung yang tak lain ialah Jasson bersama dua preman bayarannya.


Jasson tak pernah tau makhluk apa yang sedang di hadapinya. Mesin pembunuh berdarah dingin yang berwajah tampan, dan satunya adalah pria tanpa hati dan belas kasih dalam melenyapkan nyawa seseorang.


"Apa yang harus aku takuti darimu, Hem?" Evan bertanya balik.


Dan pertanyaan itu tentu membuat Jasson semakin kesal setengah mati. "Cepat habisi mereka berdua." Titah Jasson pada dua preman bayarannya.


Masing-masing dari mereka membawa pisau, dan stik baseball. Begitu juga Jasson yang ikut mengeluarkan senjatanya.


"Enyahlah kau dari hadapan ku keparat!!"


Krak!!


🍁🍁🍁


To be continued...


__ADS_1



__ADS_2