The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 28


__ADS_3


Evan duduk di atas kap mobilnya dengan tatapan fokus mengarah pada pintu keluar dimana Jasmine akan melewati tempat itu.


Sudah hampir satu jam Evan menunggu, namun sosok kekasihnya tak kunjung menampakkan diri, karena memang Evan terlalu awal menjemput dari jam pulang Jasmine.


Bahkan sejak tadi Evan sudah muak mendengar teriakan histeris dari para mahasiswi yang seolah menggoda-nya.


Detik berikutnya Evan di buat geram, ketika melihat sang kekasih berjalan keluar dengan seorang pria sampai begitu akrabnya.



"Pria itu lagi?" Gumam Evan geram. "Tidak bisa di biarkan!"


Tak bisa menunggu lebih lama lagi, akhirnya Evan turun dari kap mobilnya dan berjalan menghampiri Jasmine.


Hanya dalam hitungan detik saja kemarahan Evan sudah bertambah berkali kali lipat, semua itu karena kedekatan Jasmine dan Jordan yang sedang tertawa bersama seolah ada pembicaraan yang lucu.


"Sayang kau sudah pulang?" Nadanya lembut, tapi tangan pria itu turut mencengkeram bahu Jasmine kuat.


"K-kau" sahut Jasmine terbata. Ia bergerak gelisah karena tangan Evan semakin menyakitinya.


"K-kau sudah lama?" Tanyanya lagi sambil menatap wajah Evan yang sama sekali tak menampakkan kemarahan sedikitpun. Tapi gesture tubuhnya mengatakan lain.


Evan mengedikkan bahunya, dengan senyum samar "tidak lama, jika itu menunggumu."


Lain halnya dengan Jordan yang terang-terangan menunjukan raut tidak sukanya pada Evan, bahkan kilatan mata pria itu nyaris mirip dengan sisi lain Evan.


"Aku permisi dulu Jessy, jangan lupa datang nanti malam. Aku mengharapkan kedatangan mu." Jordan berucap sembari meraih tangan Jasmine dan mengecupnya sekilas. Kemudian berlalu pergi begitu saja tanpa dosa, setelah apa yang di lakukan-nya itu.


"Kau akan datang?" Evan bertanya.


"Tentu saja."


"Baiklah..." Evan menjawab santai seolah itu hanya masalah sepele, dan segera menggiring Jasmine menuju mobilnya yang tidak jauh dari tempat-nya berdiri.


***



"Kau sangat cantik dengan gaun itu"


puji Evan tulus hingga membuat Jasmine tertawa malu-malu. Kemudian matanya beralih menyusuri penampilan Evan yang terlihat tampan dengan berbalut jas stelan serba hitam yang melekat pas di tubuh atletisnya.


"Kau juga ikut?"


"Tentu saja. Aku tidak akan membiarkan wanita cantik seperti mu pergi seorang diri." Sahut Evan santai.


Ternyata persetujuan Evan tentang kepergiannya menghadiri pesta Jordan menyimpan tujuan lain.

__ADS_1


Yup, sejak pulang dari kampus pria itu langsung membawanya ke butik. Membeli gaun dan merubah penampilannya. Tak hanya Jasmine, ternyata pria itu juga merubah penampilannya hingga seperti sepasang kekasih yang saling mencintai.


"Apa ini bagian dari rencanamu?" Jasmine memicing tajam. Mencari jawaban atas sikap Evan yang terbilang santai itu.


Evan tak menjawab, tapi senyuman khas pria itu cukup menjadi jawaban atas pertanyaan-nya. Jika Evan ingin membuat ulah disana, atau mungkin akan menghabisi Jordan.


"Aku tidak ingin ada korban lagi." Wajahnya serius, namun nada bicaranya lemah.


"Itu tidak akan terjadi, jika mereka tidak memancing sisi lain ku." Sahut Evan santai sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.


"Please...don't do it. Sudahi permainan mu itu. Berubah lah menjadi pria biasa saja. Pria normal yang bersikap baik." Tuturnya dengan mata berkaca-kaca. Jasmine sudah lelah dengan kejadian yang menimpa nya akhir-akhir ini, belum cukupkah kematian Andreas dan Charlotte karena dirinya?


Pria tampan itu sudah menjungkir-balikkan dunianya menjadi penuh kejutan, yang membuat dirinya hampir gila.


Helaan napas panjang berhembus dari pria yang sedang merapikan dasinya, lalu berbalik menatap Jasmine yang sudah cantik dengan gaun motif bunga-bunga yang amat pas di tubuh wanita itu.


"Akan aku usahakan. Dengan satu syarat." Evan mulai berpikir nakal, setidaknya ia bisa membuat wanita itu tidak bisa lari kemana-mana.


"Apa?" Tanyanya lugu.


"Menikah lah dengan ku" Evan serius mengatakan itu dengan sorot mata teduh seperti ibunya. Evan, bocah laki laki biasa yang cerdas dan berhati lembut bukan seperti saat marah yang berubah menjadi Devils.


"Berhentilah bercanda, itu tidak lucu" sahut Jasmine setelah beberapa detik lalu sempat terharu, dan nyaris melayang.


"Aku serius"


"Oh ya? Tapi maaf aku tidak percaya Tuan" sahut Jasmine sinis.


"Kau mau bukti? Besok kita bisa ke gereja" ujar Evan membalas ucapan Jasmine dengan telak.


Jasmine menggelengkan kepalanya kuat "sebelum kau berubah menjadi lebih baik, aku tidak akan percaya kata-kata mu."


Setelah mengatakan itu, Jasmine melenggang pergi begitu saja meninggalkan Evan yang sedang memikirkan ucapannya barusan.


***



"Tunggu sebentar" Evan menahan langkah Jasmine ketika sudah sampai di pelataran gedung tempat Jordan mengadakan party.


"Ada apa?"


"Pegang tangan ku." Titah Evan sembari meraih tangan Jasmine untuk berpegangan padanya.


"Sudah, ayo kita jalan" Evan berucap dengan senyum lebar hingga memperlihatkan lesung pipinya. Dan senyuman itu berhasil membuat Jasmine ikut tertawa.


"Kau ini sungguh berlebihan. Seperti anak kecil saja bergandengan."


Meski berucap begitu, nyatanya Jasmine senang melakukannya, bahkan senyumnya tak luntur sejak tadi.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan beriringan dengan begitu mesra, Evan sengaja memperlihatkan kemesraan di depan umum. Berbeda dengan Jasmine, wanita itu seperti mulai terbiasa menerima tingkah absurd Evan dan perlahan menerimanya.


Seluruh tamu undangan yang di dominasi teman kampus Jasmine namun berbeda jurusan, serempak mengalihkan perhatian mereka ke arah sepasang kekasih yang baru saja menginjakan kaki di ambang pintu.


Seketika Jasmine si kutu buku dan freak, berubah menjadi cantik bak bidadari. Belum lagi pria tampan di sisinya yang memiliki aura tersendiri, sungguh membuat iri para kaum hawa disana, terlebih yang jomblo.


"Aku malu..." Jasmine berbisik lirih.


"Tenang saja. Ada aku bersamamu." Evan membalas dengan lembut sambil menggenggam jemari Jasmine yang melingkar di lengannya.


"Jessy, akhirnya kau datang..." Suara bariton dari arah samping membuyarkan kemesraan mereka berdua.


Jordan datang tidak sendiri, pria itu di kawal oleh seseorang yang sangat familiar di mata Evan.


"Joe " panggilnya lirih, namun masih terdengar oleh telinga Joe.


Seringai khas pria yang menyebalkan itu terukir jelas disana menambah kekesalan Evan semakin memuncak.


"Sudah ku duga kau pasti ikut bersama wanita-mu" sindir Joe sembari melirik Jasmine yang nampak kebingungan.


"Apa yang kau lakukan disini?" Evan bertanya rendah, namun di setiap nadanya menyimpan ribuan pisau tajam yang siap menikam Joe.


Dengan santai Joe tertawa renyah sembari melirik Jordan, dan pria itu juga ikut tertawa.


"Tentu saja melindungi anak Ben dari anak anaknya yang lain, yang sangat berbahaya." Ucap Joe pelan dengan penekanan kata di bagian akhir.


Jasmine tidak mengerti, dia bagai orang bodoh dengan matanya yang terus mengikuti mereka saling melempar tanya jawab.


"Ben? Jadi dia anak dari si setan tua itu?" Evan berujar berang. "Brengsek!! Dasar iblis!!"


"Kau baru mengetahui sebagian saja, masih ada anaknya yang lain." Sengaja Joe memancing kemarahan Evan, sesuai perintah Ben.


"Akan ku habisi iblis tua itu."


Di saat mereka berdebat, Jasmine justru di seret oleh Jordan ke dalam ruangan, dimana teman-teman yang lain sudah menikmati pestanya bahkan ada yang menceburkan diri ke dalam air kolam yang bertabur busa, dan bermain disana dengan pasangan mereka masing-masing.



"Kau lengah lagi Evan. CK!"


Joe menyingkirkan tangan Evan yang mencengkram kerah bajunya, lalu pergi dari sana dengan senyum penuh kemenangan.


🍁🍁🍁


Aku lagi siapin cerita baru, jadi maaf kalo agak ngaret up nya.


Mudah-mudahan hari Minggu sudah bisa up cerita barunya.


Dukung terus yaw😎

__ADS_1


Terimakasih...😍


__ADS_2