The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 29


__ADS_3

Axelo menatap bosan pada wanita yang tergeletak di atas tempat bermainnya. Wanita itu sudah tidak bernyawa setelah bermain dengannya satu hari penuh.


Sayang sekali wanita itu datang di waktu yang tidak tepat, saat itu dirinya sedang kesal dengan Evan, hingga menjadikan wanita itu sebagai pelampiasan-nya.


Sore tadi wanita itu masih baik baik saja, Kyra masih bisa tersenyum manis ketika Axelo mengikat tangannya dengan borgol ke atas, pada sebuah besi khusus.



Bahkan dengan nakalnya Kyra melingkarkan kakinya di pinggang Axelo yang masih berbalut kemeja putih, karena dirinya baru selesai mengikuti pertemuan dengan rekan bisnisnya Benedict.



Kyra lupa jika dia sedang berhadapan dengan seorang Masokis, yang suka melakukan kekerasan saat having se* dengan lawan mainnya.


Xelo membuka kancing kemejanya perlahan, dan membuang benda itu menjauh. Lalu menurunkan kaki Kyra hingga menapak pada lantai, kemudian membuka ikat pinggang dari celananya.


Ikat pinggang itu Axelo lipat menjadi dua, hingga menjuntai tidak terlalu panjang.


Perlahan kaki panjangnya berjalan memutari Kyra yang terborgol pada besi, lalu mengayunkan ikat pinggang itu untuk mencambuk paha Kyra hingga wanita itu mengerang sakit namun masih bisa tertawa.


Axelo melakukan itu berulang-ulang, bahkan benda lain turut mendarat di tubuh Kyra tanpa terlewat. Mulai dari bahan yang lembut hingga yang sedikit keras.



Dan terakhir Axelo memakai sebuah besi panjang dengan ujung yang pipih. Meletakan benda itu pada lengan Kyra, dan besi itu perlahan bergerak turun menyusuri lengan mulus Kyra yang tak terbalut apapun. Lalu menyusuri rahang, tulang selangka, dan terakhir pada belahan dadanya. Memukul pelan disana.


Sentuhan benda dingin itu membuat Kyra melupakan rasa sakit akibat cambukan yang Xelo berikan sebelumnya. Bahkan Kyra mulai menyukai apa yang Xelo lakukan, memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya menikmati permainan yang awalnya amat menyakitkan itu.


Kyra membuka matanya lebar, begitu besi tadi mendarat di bagian sensitifnya.


"Tidak usah takut" desis Xelo rendah, dengan kilatan gairah yang nyata. Kemudian kembali menggerakkan besi itu untuk melepaskan kain tipis yang menutupi area favoritnya.


"Kau suka?" Xelo bertanya sembari mengusap pipi Kyra lembut. Dan, Kyra mengangguk dengan nafasnya yang tak beraturan.


Axelo merobek dress yang di pakai oleh Kyra hingga wanita itu berdiri tanpa sehelai benangpun.


Senyum puas terukir di bibir Xelo dan perlahan jemarinya membuka resleting celana yang sudah kian sesak mengganjal sedari tadi.


Xelo memegangi miliknya yang sudah mengeras, lalu menarik kaki Kyra untuk kembali melingkari pinggangnya. Menuntun tubuh Kyra hingga miliknya bertemu dengan milik Kyra.


"Ah..." Kyra mengerang saat milik Xelo masuk sepenuhnya. Lantas Xelo mencengkeram pinggang langsing Kyra dan menggerakkannya naik turun.


Rupanya Xelo memakai tenaga dalam hingga Kyra merasakan sakit bukan main namun masih bisa menikmatinya. Belum cukup sampai disitu, Xelo pun akhirnya melepas borgol di tangan Kyra dengan tubuh masih menyatu. Dan berjalan menuju tempat tidur.


Tubuh Kyra langsung di hempaskan ke atas ranjang yang di dominasi warna merah hitam itu. Meminta Kyra untuk berbalik dan berpegangan pada kepala ranjang dengan posisi  berlutut.


Xelo menempatkan diri di antara kedua paha Kyra, dan kembali membenamkan miliknya dengan sekali hentakan saja.

__ADS_1


"Ohh ****!!" Xelo mengerang sembari memukul b*k*ng Kyra, satu tangannya lagi menarik rambut wanita itu kebelakang sembari menggerakkan tubuhnya maju mundur.


"Jangan seperti ini Xelo, ini sakit sekali" mohon Kyra ketika tangan Axelo beralih ke lehernya, seperti mencekik.


Namun tangisan dan permohonan Kyra sama sekali tak di hiraukan oleh Xelo. Pria itu masih terus melakukan sesukanya, bahkan sampai Kyra mulai kesusahan bernapas.


Detik itu juga Kyra tergeletak tak bernyawa bersamaan dengan Axelo yang merasakan pelepasannya. Kemudian Axelo menghempaskan tubuh itu dan beranjak turun dari tempat tidur.


Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Axelo berlalu dari tempat itu setelah menghubungi seseorang untuk menyingkirkan mayat Kyra.


***


Di sisi kolam renang seorang pria dengan rambut gimbalnya yang di kepang sedang mengangguk-anggukan kepala. Tangannya masih menggenggam ponsel yang ia tempelkan ke telinga, mendengarkan dengan seksama seseorang yang sedang berbicara di sebrang sana.


"Apa yang harus aku lakukan?" Joe bertanya pada orang di balik line telepon.


"Awasi terus anak itu dan juga wanitanya, jangan sampai lengah."


Titah orang itu mutlak. Dan Joe kembali menganggukkan kepala meski sebenarnya percuma, karena orang yang menelponnya tidak bisa melihat.


"Lalu bagaimana jika dia membunuhnya?" Joe kembali bertanya.


Terdengar kekehan dari sebrang sana, membuat Joe mengerutkan keningnya bingung. Entah apa yang ada di pikiran Benedict, Joe tidak pernah bisa menebaknya.


"Biarkan saja, anak itu tidak bisa di harapkan"


Panggilan terputus bahkan sebelum Joe menjawabnya. Ia hanya menggelengkan kepala, lalu memasukan benda pipih itu kembali ke dalam sakunya.


Meski matanya hanya tinggal sebelah akibat perbuatan Evan dulu, tapi tak mengurangi kejeliannya mengawasi seseorang, terlebih orang itu adalah Evan Leandro Matias. Keturunan Benedict si iblis tua.


***


Evan kelimpungan mencari keberadaan Jasmine yang di sembunyikan oleh Jordan.


Banyaknya manusia di ruangan itu membuat Evan kesal, karena sulit menemukan wanitanya di antara manusia yang setengah mabuk dan bercumbu disana .


"Brengsek!!"


Manik hazel-nya mengitari ruangan dengan teliti, mencari wanita dengan gaun motif bunga yang ia belikan sore tadi.


Dan, detik kemudian Evan menangkap sosok yang di carinya sedang berjalan menuju lorong yang terlihat sepi.


Segera Evan mempercepat langkahnya sebelum kehilangan jejak Jasmine untuk kedua kalinya. Cukup banyak rintangan yang Evan lalui melewati kerumunan manusia mabuk dan benda-benda tak berguna yang menghalangi jalannya.


Semakin jauh Evan melangkahkan kakinya, cahaya lampu di depan sana semakin terlihat jelas.


Lorong itu menuju pada sebuah ruangan yang di kelilingi dinding kaca, ruangan tersebut memperlihatkan dengan jelas pemandangan kota Valencia yang nampak indah dari atas sana, hamparan lampu terlihat kecil hingga menambah indah pemandangan malam itu.

__ADS_1


Mansion Jordan memang berdiri di atas tebing yang mengarah langsung pada keindahan kota Valencia, terlebih pada saat malam hari.


"Indah bukan?" Jordan melirik ke samping. Dan Jasmine mengangguk dengan senyum tipis.


"Aku baru tahu jika kota Valencia seindah itu saat malam hari."


Jordan merasa di atas awan karena berhasil membuat Jasmine senang, dan ia bisa membawa Jasmine tanpa gangguan Evan yang ternyata saudara tirinya. Ia baru saja di beritahu oleh Joe kemarin.


Mata birunya melirik bahu polos Jasmine yang terbalut tali kecil di sana, lalu beralih pada punggung Jasmine yang terbuka sempurna memperlihatkan keindahan tubuh wanita itu. Hasrat untuk memiliki Jasmine semakin besar, dan semakin mendorongnya untuk berbuat nekad. Terlebih lagi ia mendapat dukungan dari Joe dan juga Benedict sang ayah.


Padahal sebaliknya, dua manusia itu hanya menjadikan Jordan sebagai umpan agar Evan mau kembali.


Dengan lancang jemari Jordan menyentuh bahu itu hingga membuat Jasmine terkejut dan reflek menoleh ke arah Jordan.


"Ada apa?" Jasmine menjauhkan tubuhnya menjaga jarak dengan Jordan.


"Ada binatang kecil di bahu mu" Jordan berbohong.


"Bi-binatang?" Jasmine panik dan mulai bergerak gelisah sambil mengibas-ngibaskan tangannya di bahu. Seolah menyingkirkan binatang itu.


"Sudah pergi" Jordan berpura-pura mengusir binatang itu sembari mengusap bahu Jasmine.


Jordan sudah tidak tahan lagi, hingga akhirnya mendorong bahu Jasmine sampai membentur dinding kaca, memojokkan wanita itu sembari mendekatkan wajahnya berniat mencium.


"A-apa yang kau lakukan Jordan? lepaskan aku!" Jasmine mendorong wajah Jordan dengan telapak tangannya, namun tak membuat Jordan menjauh. Akhirnya Jasmine menendang kejantanan pria itu dengan keras menggunakan lututnya.


"B*tch!!" Jordan marah. Dan sisi lain Jordan mulai mendominasi. Lantas pria itu kembali mendekat ingin memberi pelajaran pada Jasmine.


"Mau kemana kau?!" Evan menarik kerah belakang Jordan hingga pria itu kembali mundur.


Jordan tidak terima, dan menyerang Evan lebih dulu. Tapi sayangnya Jordan hanya bermimpi, karena pukulannya meleset.


Dua pria yang sama sama sakit jiwa itu saling serang dengan tangan kosong, sampai akhirnya Evan merasa bosan lalu membenturkan kepala Jordan ke tembok dengan sangat keras berkali kali hingga pecah.


"Haaah?" Jasmine menutup mulutnya dengan telapak tangan, wajahnya berubah pias melihat kejadian mengerikan di depan matanya.


Sementara Evan tersenyum puas melihat tubuh Jordan tergeletak di lantai dengan kondisi yang memprihatinkan. Sedang di ambang pintu Jordan bertepuk tangan diiringi tawa renyah.


"Kau memang monster."


🍁🍁🍁


Serem gak sih? Maap atuh ya, memang gitu jalan ceritanya.😂


Xelo Matias.


__ADS_1


__ADS_2