The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 44


__ADS_3

Jasmine membulatkan matanya lebar-lebar saat pria berpakaian serba hitam itu perlahan berjalan mendekat ke arahnya.


"K-kau!!" Ucap Jasmine terbata, saat pria itu menampakkan wajahnya.


Pria itu tersenyum menyeringai, dan semakin bersemangat ketika melihat raut ketakutan Jasmine, lantas ia pun melangkah mendekati gadis itu.


"Kenapa? Kau terkejut?" Pria itu berucap pelan dengan tangan masih di dalam kantung jaketnya.


Jasmine terdiam membisu dengan tubuh bergetar hebat sambil menggelengkan kepalanya.


"Ba-bagaimana mungkin k-kau tau?" Jasmine tergagap seraya berjalan mundur.


Evan berdecak, "Kau lupa? Aku akan selalu menemukan mu, bahkan sampai lubang neraka sekalipun" Kata pria berpakaian serba hitam itu, yang tak lain ialah Evan.


"Sepertinya aku harus memberitahu mu sedikit tentang siapa aku." Evan membuka tudung di kepalanya, serta mengeluarkan pisau dari sakunya.


Jasmine semakin kalang kabut melihat pisau yang berayun manja di tangan Evan, bahkan ia sampai jatuh terjengkang karena saking takutnya.


"CK,CK, santai Beby. Kau tidak perlu setakut itu."


"T-tolong ja-jangan sakiti aku." Jasmine memohon sambil menggelengkan kepala agar Evan berubah menjadi manis saja, atau setidaknya ada satu manusia saja yang lewat dan membantu dirinya.


"Ini tidak sakit sayang, kau akan menyukainya nanti." Evan berucap berat dengan sisi lainnya yang lebih mendominasi.


Jasmine kehilangan nafasnya untuk beberapa saat, ketika Evan berjongkok di depannya. Wajah itu tersenyum, namun menyimpan kemarahan yang luar biasa di baliknya.


"Kenapa kau pergi meninggalkan ku Jessy?" Sekali lagi Evan bertanya.


"A-aku tidak bermaksud me-meninggalkan mu, a-aku hanya ingin pulang menemui orang tuaku. Itu saja." Jasmine berucap jujur dengan keringat dingin membasahi wajahnya.


Evan hanya menganggukkan kepala, lalu menarik dagu Jasmine agar menatap matanya lebih lekat. "Aku sudah melarang mu bukan? Lalu kenapa kau masih melakukannya hem?"


Jasmine menelan salivanya yang terasa sekeras batu, wajah Evan saat ini benar-benar menakutkan. Sampai-sampai mengalahkan wajah seram ibu tiri yang gila harta.


"Aku merindukan ayahku, tapi kau tidak mengijinkan ku pulang. Jadi aku terpaksa pergi diam diam." Tutur Jasmine membela diri.


Kemudian yang terjadi, Evan meraup tubuh Jasmine dan memeluknya erat-erat. Seolah takut di tinggalkan lagi. "Jangan pernah pergi lagi dari ku, Atau aku akan menikahi mu sekarang juga."


"Lepas Evan, aku tidak bisa bernafas. Aku bisa mati saat ini juga sebelum kau nikahi." Gerutu Jasmine dari balik dada bidang Evan.

__ADS_1


Pria itu sontak melepaskan pelukannya, dan menangkup kedua pipi Jasmine lalu meraup bibir lembut itu dengan penuh kerinduan. Amat sangat rindu.


Kecupan demi kecupan, hingga berubah menjadi *******, mereka berdua lakukan di bawah sinar rembulan yang menemani ke syahduan dua anak manusia yang saling meluapkan rindu.


"I love you Jessy." Ucapnya di sela sela kecupan.


Jasmine tak bisa berkata-kata, ia tidak tau perasaannya saat ini untuk Evan. Yang ia tahu, ia sangat bahagia dan nyaman dengan pria itu.


"Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan ku, karena itu tidak akan pernah terjadi."


Jasmine menganggukkan kepala, dan mereka berdua bangkit berdiri. Berjalan beriringan menuju kediaman Jasmine.


***


Sementara di rumah, ayah Jasmine sudah menunggu sejak beberapa jam yang lalu. Pria itu tidak sendiri, ia bersama dengan seorang pemuda yang akan di jodohkan dengan Jasmine.


Ayah Jasmine berbicang-bincang dengan pemuda itu sambil menunggu Jasmine pulang. Pemuda itu tak lain ialah anak dari teman ayahnya Jasmine. Dan mereka berdua sudah sepakat untuk menjodohkan anak mereka kelak setelah dewasa.


"Bagaimana kuliah mu?" Ayah Jasmine memulai obrolan, bertanya tentang kehidupan sang calon menantu.


"Baik-baik saja, hanya tinggal menunggu sidang dan aku mendapat gelar doktor." ujar pria itu menyombongkan diri.


Tidak lama perbincangan itu berjalan, tiba-tiba terdengar suara tawa dari arah luar. Yang di duga adalah Jasmine, tapi suara itu berbeda jenis, laki-laki dan perempuan.


Sontak mereka berdua menghentikan obrolan itu, dan saling beradu pandang seolah bertanya. Kemudian mereka berdua pun akhirnya bangkit dan berjalan ke arah teras untuk melihat siapa yang sedang bersama Jasmine.


"Jessy" panggil sang ayah yang membuat gadis itu berhenti tertawa, begitu juga Evan yang lantas menoleh ke arah sumber suara.


"Ayah, ayah sudah pulang?" Jasmine berjalan mendekat, dan memeluk pria parubaya itu serta mencium pipinya.


"Kemana saja? Ayah menunggu mu sejak tadi." Ayah Jasmine mendorong kening Jasmine pelan, dan Jasmine pun terkekeh geli. Ia suka perlakuan itu yang ia artikan sebagai tanda sayang.


"Hai"


Jasmine menoleh ke samping dimana seorang pria yang tidak asing menyapa dirinya. "Kau?"


Pemuda itu mengangguk, "ini aku."


"Apa kalian sudah saling kenal? Wah kebetulan sekali kalau begitu." Ayah Jasmine berucap antusias.

__ADS_1


Jasmine menghembuskan nafas pelan,


"Hem, dia Jasson. Kami tidak sengaja pernah bertemu." Kata Jasmine menceritakan.


Sementara Evan terdiam menyimak dengan raut menahan kesal, ia di abaikan bagai makhluk tak kasat mata.


Hingga Ayah Jasmine yang mulai bertanya lebih dulu saat melihat sosok asing yang bersama putrinya.


"Siapa laki laki itu?" Tanya ayah Jasmine yang membuat gadis itu tersadar jika sejak tadi ia mengabaikan pria tampan itu.


Jasmine menoleh ke arah Evanย  dengan menampilkan senyum takut. "Di-dia...emm"


"Aku Evan, Evan Leandro Matias." Evan mengulurkan tangannya pada ayah Jasmine. Dan di sambut hangat oleh pria parubaya itu.


Namun, Jasson. Pria itu diam menatap Evan lekat dengan tatapan tidak suka. Jasson masih ingat jika Evan adalah pria yang pernah ia lihat bersama Jasmine di supermarket, bahkan pria itu juga melecehkan Jasmine dengan kata-kata tidak sopannya.


"Evan" Evan mengulurkan tangannya seraya menyebutkan nama pada Jasson. Hingga setelah beberapa detik Jasson hanya diam, akhirnya menyambut uluran tangan Evan dengan ketus.


Tapi Evan? Katakan lah ia The king of acting. Evan sangat pandai bersandiwara, menyembunyikan wajah kesalnya dengan menampilkan raut manis. Meski di dalam tubuhnya iblis sudah menguasai untuk menghabisi Jasson.


"Ah, kau tampan dan manis sekali. Apa kau teman kuliah Jasmine?" Tanya si ayah yang mulai terhipnotis.


"Bukan, tapi aku ..."


"Ehm, ia dia teman kuliah Jessy. Hanya saja beda jurusan." Jasmine menyela cepat.


Evan nampak marah, karena Jasmine tidak mengakui dirinya sebagai kekasih atau mungkin calon suami. Tapi tangan Jasmine menggenggam jemarinya kuat seolah ingin meredakan emosi Evan.


"Ehm, kalau begitu mari kita masuk dulu."


Mereka semuanya masuk tak terkecuali Jasson dan Evan. Dan mereka berdua tetap pada awalnya_saling diam.


Sementara Ayah Jasmine bersiap untuk membicarakan mengenai perjodohan itu.


Entah bagaimana reaksi Evan nanti begitu tau bahwa Jasmine akan di jodohkan dengan orang lain.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Maaf lama๐Ÿ™ aku lagi kurang enak badan. Tempel kasur penginnya bobok terus.

__ADS_1


Makasih buat yang masih setia nunggu Ian aku.


__ADS_2