
Perkelahian antara dua kubu tak terelakkan, setelah Anderson menyerang lebih dulu dan di sambut manis oleh Ben.
Mereka saling serang dengan tangan kosong, membalas pukulan dengan tendangan hingga berguling di lantai dan saling mengunci satu sama lain. Begitu juga anak buah mereka yang saling menyambut dengan senjata tajam.
Petter, Lucas dan Daren pun keluar dari persembunyian, turut bergabung menyerang Xelo dan Jake.
Semua berawal ketika Brian tiba-tiba bangkit dari pingsannya sembari merenggangkan otot-ototnya, seolah tidak terjadi apa-apa. Kemudian di susul para pasukan yang tadi menyerang Evan kini beralih menjadi sekutu Ben.
Ternyata Brian yang merencanakan semuanya, menyelundupkan orang-orangnya menyatu dengan pasukan Anderson. Dan berpura-pura memukulinya. Belum lagi peran Lucas, Petter dan Daren yang menyebar di berbagai sisi.
Jelas saja hal itu membuat Anderson merasa seperti orang bodoh di depan musuhnya, terlalu mudah di kelabui.
Pukulan bertubi pun Anderson layangkan ke wajah Ben hingga pria itu jatuh terhempas.
"C'mon Ben, bangunlah. Sepertinya kau sudah terlalu tua untuk berkelahi" ujar Anderson mengejek seraya melambaikan tangannya pada Ben untuk bangkit.
Ben tak merespon, ia tetap berusaha tenang. Perlahan bangkit sembari mengusap darah yang mengotori sudut bibirnya. Kemudian merobek kemeja yang dipakainya dan membuangnya ke lantai.
"Majulah... kau terlalu banyak bicara seperti wanita"
Rahang Anderson mengeras karena ucapan Ben, ia pun turut melepas pakaiannya hingga memperlihatkan otot-ototnya yang membentuk sempurna.
"Mari kita selesaikan ini hingga tuntas."
Anderson maju sembari melayangkan tinjunya ke arah Ben, namun di tangkis mentah-mentah oleh Ben, pria itu menyerang balik wajah Anderson dengan lututnya.
"F*CK!!" Anderson mundur sambil memegangi hidungnya yang terasa patah dengan darah kental yang mengalir.
Ben menggerakkan bahunya dengan gerakan siap memukul, lalu melambaikan tangannya menantang Anderson untuk menyerang lagi.
"Majulah, kau merasa masih muda bukan?" Senyum kecil Ben tampilkan membuat Anderson semakin kesal.
Anderson mengambil pisau dari anak buahnya. Tak hanya satu, tapi dua. Panjang dan runcing.
"Pengecut!!"
"Aku hanya mencoba memanfaatkan keadaan" sahut Anderson dengan senyum lebarnya.
Ben pun meraih besi yang tergeletak di lantai, dan mengacungkan benda itu pada Anderson.
"Matilah kau!!"
Anderson menangkis serangan Ben dengan pisau yang di pegangnya, hingga menimbulkan suara bising dari senjata yang saling beradu.
__ADS_1
Di sisi kiri Jake melawan Luke. Sedang Xelo melawan Petter dan Daren.
Tak kalah mengerikan dari Ben dan Anderson, para pria tampan itu saling balas pukulan telak. Hingga beberapa barang koleksi disana hancur berantakan, dan lantai marmer yang penuh dengan noda merah.
Luke berhasil melukai perut dan punggung Jake, dengan beberapa tusukan acak. Sementara Petter dan Daren sedikit kerepotan menghadapi Xelo yang memang pandai memakai samurai. Beberapa sayatan mengenai lengan dan kaki hingga menciptakan sobekan di pakaian mereka.
"Penghianat!!" Ucap Petter sembari menangkis serangan brutal dari Xelo dengan besi panjang.
"Itu lebih baik, daripada aku jadi budak" Xelo masih terus menyerang Petter dengan samurainya hingga pria bertahilalat itu terpojok.
Sedang dari belakang Daren menyerang, naik ke punggung dan mengaitkan rantai besar ke leher Xelo.
"F*cking shit!!"
Pria berkulit putih pucat itu sedikit kehilangan keseimbangan, dan reflek membuang senjatanya untuk melepas rantai yang mengait lehernya.
Melihat kesempatan itu, Petter langsung menendang tubuh Xelo ke belakang tepat menghantam bongkahan patung keramik yang runcing dan menancap di pinggang Xelo hingga menembus ke perut.
Darah segar mengalir dari mulut Xelo hingga terbatuk-batuk.
Jake yang melihat itu sedikit gentar, kini dua bersaudara itu turut menyerang dirinya.
Daren mengambil alih samurai milik Xelo untuk menyerang Jake, bersama Petter yang masih dengan besi panjang di tangannya.
Sementara Evan dan Brian berusaha mengejar Jasmine yang di bawa pergi oleh Aron saat pertarungan itu terjadi.
Brian menambah kecepatan motornya menyusul Evan yang sudah berada di samping mobil Aron.
Evan melihat Jasmine berteriak sambil memukul-mukul kaca mobil dengan kedua tangannya yang terikat.
Evan pun mengambil tindakan ekstrem dengan mendekatkan motornya ke body mobil. Sembari menarik handle gas, tangan kiri Evan menghantamkan alat pengunci stir mobil yang di bawanya untuk menghancurkan kaca.
Namun sayang, baru satu kali hantaman, Aron mengetahui aksinya dan langsung memutar setirnya dengan sengaja menyenggol motor Evan, hingga kuda besi itu nyaris terperosok.
"Shit!!" Motor Evan mengerem mendadak membuat kerikil di sekitarnya terpental.
Brian melirik sekilas ke arah Evan di tepi jalan, melihat Evan baik baik saja Brian pun kembali menambah kecepatan motornya mengejar mobil Aron.
Dalam sekejap motor Brian sudah berada di samping pintu kemudi, dan Brian langsung mengacungkan pistol pada Aron.
Aron yang merasa terancam pun kembali memutar setirnya menyenggol motor Brian. Dengan cepat Brian menghindar, dan kembali mendekati pintu kemudi.
Brian membuka setengah kaca mobil itu dan menodongkan pistol ke arah Brian.
__ADS_1
Bugh!
Brian langsung melayangkan tinjunya ke wajah Brian hingga membuat mobil itu sempat oleng. Bahkan Brian mendengar teriakan Jasmine yang ketakutan di kursi belakang.
Perkelahian di atas kendaraan itu kembali terjadi, baik Brian maupun Aron saling berbalas pukulan dan tarik menarik hingga tubuh Brian akhirnya ikut masuk ke dalam mobil. Motor yang di kendarai Brian pun jatuh terhempas ke aspal.
Tubuh Jasmine turut terombang-ambing, mengikuti mobil yang tak tentu arah tujuannya karena si pengemudi saling pukul. Beberapa kali kepala Jasmine terbentur bodi mobil dan terpelanting, membuat anggota tubuhnya terasa sakit.
Jasmine yang awalnya berteriak ketakutan pun akhirnya membantu Brian, mengaitkan tangannya ke lehernya Aron.
Sambil mengunci pergerakan Aron yang terus memukul, Brian pun berusaha mengendalikan laju mobil yang nyaris terjun bebas ke jurang.
Evan yang berada di samping mobil pun terserempet beberapa kali akibat perkelahian itu. kembali Evan mendekati mobil setelah membuka kaca helmnya. "Kau baik baik saja?"
"Hum, IM fine." Sahut Jasmine sedikit kencang.
"Selamatkan Jessy" timpal Brian. Evan pun mengangguk.
Sembari mengatur kecepatan motornya, Evan langsung membuka pintu belakang untuk mengeluarkan Jasmine dari mobil.
Pintu sudah terbuka dengan Evan mengulurkan tangannya pada Jasmine, namun gadis itu terlihat ragu untuk berpindah ke motor Evan.
Gila saja, ia harus melompat dari mobil yang sedang melaju kencang.
"Come on baby, you can do it." Evan memberi semangat agar Jasmine mau melompat.
Jasmine melepas kaitan tangannya di lehernya Aron, menarik nafasnya dalam-dalam dengan pandangan fokus ke arah motor.
Bugh!!
Aron meninju wajah Brian hingga punggung pria itu menghantam stir mobil, dan membuat mobil itu oleng.
"Aaa..." Jasmine terjerembab ke samping, nyaris terjun bebas ke aspal. Untung saja Brian cepat mengendalikan laju kendaraan roda empat itu.
"Cepatlah, Jessy" seru Brian.
"Are you ok?" Evan kembali mendekat ke arah mobil, setelah sempat terserempet tadi.
Jasmine mengangguk sebagai jawaban bahwa ia baik baik saja, kemudian mulai bergerak ke pinggir pintu. Satu tangan berpegangan pada tepian, dan satunya lagi menyambut uluran tangan Evan.
Begitu Jasmine hampir melompat, mobil itu membanting stir ke arah berlawanan hingga membuat Jasmine terpental dan jatuh berguling bersama Evan.
Sementara mobil itu masih melaju kencang ke arah jurang, bersama dengan Aron dan Brian di dalamnya.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Lanjut....