The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 63


__ADS_3

Sebelumnya Brian mengawasi gerak gerik Jasmine melalui cctv, ia melihat gadis itu mondar-mandir dengan raut panik setelah menerima telepon dari seseorang, kemudian Brian melihat Jasmine mencuri pisau miliknya.


Untuk apa gadis itu mencuri pisaunya?


Gadis itu tidak tahu jika semua pisau koleksi Brian sudah di beri alat pelacak. Dan ketika Jasmine pergi tanpanya, Brian pun dengan mudah menemukan dimana keberadaan Jasmine meski gadis itu berbohong padanya.


Dan kini semua kecurigaannya terjawab, ternyata ada yang ingin mempermainkan Jasmine. Brian tidak sebodoh itu, untuk menebak siapa dalang yang bermain di belakang semua permainan ini.


Setelah menyusun rencana bersama Evan, perlahan dua pria berparas tampan itu menyusup melalui halaman belakang dengan cara bersembunyi di balik pepohonan.


Krak...


Srakk...


Brian memelintir kepala salah satu pria yang berjaga di sana, sementara Evan menyayat leher penjaga lainnya.


Setelah menghabisi satu persatu penjaga disana, mereka berdua masuk ke dalam untuk mencari keberadaan Jasmine.


"Kita ke arah sana" Brian memberi usul, dan mereka berdua mulai melangkah dengan berjalan mengendap-endap sembari mengamati sekitar. Kalau-kalau ada jebakan yang tiba-tiba menghadang.


Tidak lupa Brian menghancurkan cctv yang ada di sudut-sudut ruangan,  sedangkan Evan fokus menatap ke depan.


Benar saja, baru beberapa langkah mereka berjalan sudah di berondong tembakan dari arah depan.


Dengan cepat Evan dan Brian menghindar, bersembunyi di balik tembok. Evan mencoba memancing mereka agar terus menembak dengan melempar benda apa saja yang ada di sekitar nya.


Mereka terpancing, dan terus memberondong tembakan tanpa henti hingga ke habisan peluru. Dan di saat mereka mengganti magazine, Evan segera melempar pisaunya beruntun pada para pria itu.


Dalam sekejap mereka tumbang, dan jatuh ke lantai dengan berlumuran darah.


Namun, sayang. Ketika Evan berjalan dua langkah mendekati pintu dimana penjaga tergeletak. Tiba-tiba kembali terdengar suara tembakan.


Dorr!!


Evan melirik bahunya yang ternyata mengeluarkan darah, Brian cukup terkejut. Namun Evan langsung berbalik badan untuk melihat siapa yang menembaknya. Wajah Evan tak menunjukan rasa sakit sedikitpun, melainkan sisi iblisnya yang lebih mendominasi sedang terbakar amarah.


Terlihat seorang pria dengan luka tusuk di lehernya yang ternyata masih hidup, dan pria itulah yang menembak Evan.


Dengan emosi yang sudah tak terbendung lagi, Evan pun menginjak pisau yang menancap di leher pria itu dengan sepatu boots-nya sekuat tenaga.


"Die."


***

__ADS_1


Sementara Jake dan Xelo sedang tertawa puas di dalam sebuah ruangan, karena berhasil mendapatkan Jasmine dengan begitu mudahnya.


"ku pikir kekasih Evan yang di puja puja itu cerdas, ternyata hanya gadis bodoh...hahaha"


"Kau beruntung Xelo, rencanamu berjalan lancar berkat kebodohan gadis itu." Sahut Jake.


"Kau benar Jake, haruskah aku berterimakasih padanya?" Xelo berpura-pura bertanya dengan tampang innocent.


Jake pun mengangguk dengan senyum lebarnya.


"Sepertinya tidak perlu, dia tidak butuh ucapan terimakasih. Bukan begitu Nona Jasmine?"


Jasmine berdecih melihat tingkah dua pria aneh di depannya, rasanya seperti ingin muntah.


Melihat respon yang Jasmine berikan, Xelopun berjalan memutari Jasmine yang berdiri kaku di tengah ruangan, tangannya meraih beberapa helai rambut Jasmine dan menghirup aromanya dalam-dalam.


"Wangimu sungguh menggoda." Xelo berbisik di telinga Jasmine membuat gadis itu reflek menghindar.


"Jaga sikap mu Tuan. Cepat katakan dimana sahabat ku?!" Jasmine bertanya dengan nada kesal.


"Wohoo, kau sungguh galak Nona, pantas saja iblis kecil itu tergila-gila padamu." Xelo bertepuk tangan diiringi kekehan keras bersama Jake.


"Tertawalah sepuas mu Tuan, jika Evan datang maka tamat riwayat kalian." Jasmine berucap santai, ia yakin Evan akan datang mencarinya dan menemukannya.


Ya, Jasmine sangat yakin.


"Justru itu yang aku inginkan. Aku sengaja meminta mu datang seorang diri untuk memancing kedatangan iblis kecil itu."


Jasmine menampik tangan Xelo menjauh, seraya memicing tajam, "Jadi tujuan kalian memintaku datang, dengan mejadikan temanku sebagai tawanan hanya untuk memancing Evan?"


Jasmine menarik nafasnya kesal "kalian bodoh atau apa sih?! kenapa tidak datangi saja rumahnya? Atau mencegatnya di jalan? Kenapa harus menyiksa teman ku? Menyusahkan saja!"


Dua pria sakit jiwa itu saling pandang, ternyata gadis itu bukannya takut berada dalam bahaya, tapi justru malah melucu.


Jake menarik rambut Jasmine kencang, hingga gadis itu mengaduh kesakitan. "Jaga bicaramu b*tch!! Hidup mu ada di tangan ku."


"Kau lihat itu" Xelo menunjuk sebuah layar monitor yang menampilkan dua pria sedang di kepung segerombolan pria bersenjata.


Evan dan Brian sudah terjebak. Xelo dan Jake tidak bermain berdua, mereka melibatkan orang tua Jake_Tuan Anderson, yang notabenenya membenci Ben, dan ingin mengambil alih kedudukannya.


"Aku akan memberi pelajaran pada iblis kecil itu, dengan cara menyiksamu di depan mata kekasihmu itu." Xelo berbisik lagi dengan suara beratnya.


Jasmine tersenyum mengejek, lalu menarik nafasnya dalam.

__ADS_1


"Lakukanlah jika kau sudah bosan hidup. Karena aku tidak takut mati. Bagi ku kehilangan Evan lebih menyakitkan dari sebuah kematian." Dengan mengangkat dagu dan suara lantangnya Jasmine mengucapkan itu.


Jake dan Xelo terperangah mendengar ucapan Jasmine, baru kali ini mereka berdua melihat wanita yang tangguh dan tak takut mati.


"Aku sungguh iri dengan iblis kecil itu," kata Xelo kemudian. "Aku akan merubah rencana."


"Apa?" Jake bertanya.


"Menjadikan wanita ini milikku seutuhnya, dan menikmati tubuhnya di depan mata Evan." Senyum sumringah terukir di bibirnya. Niat untuk menyiksa hilang berganti menjadi ingin memiliki Jasmine dengan apapun caranya.


"Bermimpi lah jerk! karena itu tidak akan pernah terjadi. Lebih baik aku mati." Jasmine meraih pisau dalam tas kecilnya, dan menodongkan benda tajam itu pada perutnya sendiri sembari bergerak mundur.


"Stop it!" Jake dan Xelo berseru seraya mengangkat tangannya. Jasmine tidak boleh mati begitu saja sebelum rencanya berhasil.


"Jangan mendekat!! Atau aku tidak akan segan-segan menusuk pisau ini...." Jasmine berpikir sejenak. "Ke leher ku."


Benda tajam itu langsung berpindah ke leher Jasmine, dengan tangan yang bergetar dan keringat yang mulai bercucuran di dahinya.


***


Brak!!!


Ben menggbrak meja kerjanya hingga nyaris retak karena saking kerasnya pukulan itu. Ben marah, amat marah. Setelah melihat bukti kecurangan yang Anderson lakukan.


Pria bertubuh kekar itu mengepalkan tangannya kuat hingga otot-otot di sekitar lengannya muncul ke permukaan.


"Habisi mereka tanpa sisa dengan siksaan terlebih dahulu, termasuk anak dan istrinya." Titah Ben pada Joe.


Namun Joe justru menunjukkan sesuatu yang membuat Ben bertambah kesal. Sebuah rekaman dimana Evan dan Brian sedang di kepung oleh anak buah Anderson.


Wajah Ben memerah padam dalam sekejap, meraih ponsel itu dengan kasar lalu kemudian membantingnya ke lantai.


"F*CK you!!"


Joe melirik sekilas pada ponselnya yang sudah hancur tak berbentuk, lalu kemudian kembali menatap Ben.


"Anak-anak yang lain sudah menyusul, termasuk Daren." Ucap Joe kemudian.


"Aku yang akan mengirim bajingan itu ke Neraka." Ucap Ben datar nan dingin dengan sisi iblisnya yang dominan.


🍁🍁🍁


To be continued...

__ADS_1




__ADS_2