
Mobil hitamnya berhenti tepat di depan bangunan mewah dengan nuansa tenang nan teduh itu. Perpaduan warna hitam dan putih, menjadi kombinasi yang pas membuat bangunan itu tidak terlalu seram meski di dalam rumah itu berisi keluarga psycho.
Langkah panjangnya membawa Evan masuk ke dalam bangunan itu, dengan memasang wajah datar-nya yang khas.
Sejak memasuki bangunan itu Evan belum menemukan manusia disana, hingga salah satu pisau melayang ke arahnya.
Nyaris saja mengenai wajah Evan jika pria itu tidak segera menghindar, lalu terdengar suara tepuk tangan diiringi bderap lagkah dari balik tembok. Sosok tinggi dengan wajah datar serupa dengan Evan muncul dari sana.
Dia Xelo. "Kau masih tangguh rupanya."
Malas, Evan tak ingin meladeni saudara tirinya itu, ia lebih memilih melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga untuk bertemu dengan Benedict, si setan tua.
"Ku dengar kau punya pawang sekarang, apa dia akan berakhir di pisaumu seperti yang lainnya?" Ejek Xelo sengaja memancing emosi Evan.
Kepalanya menoleh ke arah sumber suara dengan melempar tatapan tajam "bukan urusan mu!"
Kembali Evan melanjutkan langkahnya, meski masih terdengar suara dari mulut sampah Xelo.
Di ujung lorong seorang pria berkemeja putih menatap Evan dengan senyum samar.
"Brother, sungguh ini kau? Apa aku sedang mimpi?"
Helaan napas panjang Evan hembuskan saat Luke menghampirinya, ketika menapaki undakan anak tangga terakhir.
"Tidak usah berlebihan. Dimana bjngan itu?" Evan bertanya ketus.
"Kau ingin bertemu Benedict? Untuk apa? Luke bertanya lagi.
"Berhenti bertanya dan tunjukkan dimana dia berada?!" bicaranya pelan namun datar.
Luke mengedikan bahunya, kemudian berbalik badan "ikuti aku"
Kaki panjang itu mengikuti langkah Luke dari belakang, hingga berhenti di sebuah ruangan serba hitam dengan beberapa gambar pria tanpa ekspresi menghiasi dindingnya.
"Disini?"
"Hem" Luke mengangguk. Dan Evan mulai membuka pintu berwarna hitam dengan ukiran yang khas itu.
Di rumah itu hanya Luke yang dekat dengannya, meski di sana ada banyak anak Benedict yang memiliki kelainan seperti dirinya. Tapi, tak satupun membuat Evan nyaman. Sebagian saudara tiri lainnya memilih bekerja di luar sana berbaur seperti manusia biasa yang normal.
Pria parubaya atau yang biasa di sebut Evan 'setan tua', sedang berdiri di depan dinding kaca menghadap langsung ke arah luar. Dimana terdapat pohon besar dengan beberapa bagian yang penuh sayatan pisau disana.
"Kau sudah mengambil keputusan?" Bjngan tua itu bertanya dengan masih fokus menatap dinding kaca.
Evan tidak menjawab, hingga akhirnya Ben berbalik badan. Manik birunya bertabrakan dengan mata hazel putra kesayangannya, yang sedang menatap penuh kebencian.
"Ayah yakin kau akan kembali."
Evan berdecih, dengan seringai kecil, "kau terlalu percaya diri. Kedatangan ku ke tempat ini hanya ingin memberitahu mu, jangan mengusik ketenangan ku."
__ADS_1
"Itu tidak akan terjadi jika kau mau menetap disini." Ujar Ben tetap pada keinginan awalnya.
"Sepertinya aku hanya membuang waktu saja"
Merasa percuma, akhirnya Evan keluar dari ruangan itu dengan membanting pintu keras.
Kesal, karena ia tidak punya pilihan lain selain kembali ke neraka itu lagi.
****
Evan menyandarkan tubuhnya di body mobil menunggu Jasmine keluar dari gedung kampus, matanya menelusuri bangunan tersebut dengan teliti, barangkali Jasmine berada di salah satu tempat di sana.
Suasana hatinya semakin buruk, belum reda amarahnya dengan setan tua di rumah itu. Kini, hati-nya semakin panas kala ia melihat Jasmine sedang berbicara dengan pria lain di depan matanya.
"Siapa dia, kenapa dekat sekali"
Sudah beribu pertanyaan bercokol di kepalanya, seolah ingin memecahkan kepala Evan saat itu juga.
Rahang-nya semakin mengeras ketika pria itu berani menyentuh tangan Jasmine. "berani sekali pria itu! Awas saja"
Tanpa pikir panjang Evan melangkahkan kakinya mendekati Jasmine, dan berdiri di antara mereka berdua.
Cup.
Mengecup pelipis Jasmine tanpa permisi, dan merangkul bahu wanita itu. "Sayang, kau sudah selesai?"
Sengaja. Evan memanggil Jasmine dengan sebutan itu bernada manja. Sontak membuat gadis itu terkejut dan gugup.
"Dia kekasih mu?"
Jasmine mengalihkan fokusnya kembali pada Maxim, sang senior yang sedang berbicara padanya tadi.
"Uh, dia..." Jasmine berpikir sejenak.
"Kekasih Jasmine." sela Evan cepat.
What the ****!!
Jasmine merasa kesulitan bernapas mendengar pengakuan Evan barusan. Sampai-sampai ia hanya melongo tanpa suara.
"C'mon baby, sepertinya kita harus menyiapkan segala sesuatunya" Evan menarik paksa bahu Jasmine berbalik meninggalkan pria bernama Maxim itu.
"Jessy, aku harap itu semua bohong. Aku akan menunggu mu besok." Teriak Maxim begitu langkah Jasmine semakin menjauh. Kemudian ia pergi dari area gedung kampus itu dan masuk ke dalam mobilnya dengan perasaan kesal.
***
Langkah cepat dengan hentakan keras di lantai, sengaja Jasmine lakukan sebagai protes atas ucapan pria itu barusan.
Dengan santainya Evan mendudukkan dirinya di sofa sembari menarik gadis itu duduk di pangkuannya.
__ADS_1
"EVAN!!" Pekik Jasmine.
"Hum, aku tidak tuli sayang, tidak usah berteriak." Kata Evan sengaja berbisik di telinga Jasmine.
"Hentikan!!"
"Tidak!"
"Kau!!" Jasmine menggigit tangan Evan dengan keras, terpaksa Evan melepas lengannya di perut gadis itu.
"Woahh, kau ini sebenarnya siluman ya?" Evan meringis melihat bekas gigitan Jasmine di lengannya. Sedangkan Jasmine tersenyum puas, berhasil melukai pria sinting itu.
"Ya, aku vampire. Aku akan menggigit mu dan menghisap darah mu sampai habis. Aarrrggg" memperlihatkan gigi runcingnya.
Bukannya takut, Evan malah tertawa terpingkal. Karena vampir tidak ada yang berkulit coklat, atau eksotis seperti Jasmine. Mereka semua pucat bagai mayat hidup.
"Kau sangat lucu sayang." Evan berjalan mendekat "kini giliran ku yang mengigit mu."
"No!" Jasmine melebarkan matanya saat mengucapkan itu.
Tapi, sayang. Belum sempat Jasmine bergerak menghindari Evan, pria itu lebih dulu menangkap tubuhnya dan mengurungnya di sofa. Dengan posisi Jasmine di bawah tubuh pria itu.
"Kau tidak bisa lari dari ku sayang." Evan menyeringai.
"Menyingkir lah dari tubuhku dasar sinting! Me__"
Ucapannya tertelan, karena Evan membungkam bibirnya dengan ciuman yang melumpuhkan saraf otaknya.
Lemah, pasrah. Jasmine justru menikmati ciuman itu sambil memejamkan matanya rapat daripada memberontak seperti tadi.
Erangan tertahan meluncur dari bibir Jasmine ketika telapak tangan Evan merayap di sekitar kulit perutnya. Tangannya yang dingin perlahan berpindah tempat dengan hati-hati dan sangat lembut membuai Jasmine hingga gadis itu kehilangan kendali.
Hembusan nafas yang memburu serta mata yang terbuka cepat, membuat Evan terkekeh pelan.
"I'm sorry baby" berucap di atas bibir Jasmine, "kau sungguh manis" di kecupnya sekali lagi bibir itu sebelum beranjak dari atas tubuh Jasmine yang mematung di tempat.
"Kau!! Sialan! Beraninya kau menyentuh..."
"Apa?" Evan tersenyum mengejek "kau mau lagi?"
Kedipan mata menggoda, dengan senyum berlesung pipi itu membuat Jasmine meleleh. Sumpah demi apapun dia sangat tampan.
Tidak, tidak...tidak boleh lemah.
Menggelengkan kepalanya cepat dengan kembali memasang wajah kesalnya dan berlalu dari sana sebelum ia khilaf untuk yang kedua kali.
Brengsek! Bedebah sialan! Beraninya dia menyentuh dadaku.
Aaaaa, aku sudah tidak suci lagi.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Yah neng, gimana atuh 😂😂