The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 26


__ADS_3

Seorang pria sedang tertawa puas di balik kursi kebesarannya, di tangannya memegang sebuah tab yang menampilkan video seseorang. Dimana orang tersebut sedang memainkan pisaunya dengan beringas pada tubuh seorang wanita.


Wajah pria itu semakin berbinar kala melihat si pelaku menghentikan kegiatannya ketika wanitanya datang memergokinya.


"Bodoh!" Umpat pria itu. Lalu beranjak dari kursi dan meletakkan benda pipih tadi ke atas meja.


"Kau sudah mengurus mayatnya?" Pria itu bertanya pada Jonathan yang berdiri di depan meja besar.


"Sudah Tuan, aku membakarnya sampai tak bersisa, dan ini..." Jonathan menyerahkan kantung plastik berisi pisau berlumuran darah pada pria parubaya bernama Benjamin itu. "Pisau milik Evan yang tertinggal."


"Bodoh sekali anak itu." Benjamin kesal. "Kau awasi terus dia, terutama wanitanya."


Jonathan mengangguk "baik Tuan" kemudian bergegas pergi dari ruangan itu dengan membawa pisau milik Evan untuk di bersihkan.


Sedang Benjamin kembali duduk di kursi tadi, tangannya meraih pigura kecil dan mengusapnya pelan. Di dalam pigura tersebut seorang wanita tengah tersenyum lepas dengan seorang anak laki laki yang sedang bermain bola.


"Anak itu sama seperti mu"


***


Axelo meremas pisau di tangannya, kemudian melempar benda itu pada papan yang terpasang di dinding.


Bidikan-nya selalu pas, tak pernah meleset. Tapi, kenapa sulit sekali mengalahkan seorang Evan saja. Bertahun-tahun ia berlatih untuk mengungguli Evan, dan menjadi penerus kelurga Matias untuk memimpin perusahaan ayahnya_Benjamin Matias.


"Sayang... Apa yang sedang kau pikirkan?" Suara lembut nan merdu mengalun di telinga Axelo, serta jemari lembut yang meraba dada bidangnya diiringi kecupan singkat di pipinya.


Axelo tak bergeming, tatapan-nya masih lurus pada titik di bagian tengah papan tersebut, ia masih merasa kesal.


Kehadiran wanita cantik dengan tubuh seksi di sampingnya sama sekali tak di anggap, bagai angin lalu yang berhembus lalu hilang tak berbekas.


"Aku rindu permainan mu" bisik wanita itu di telinga Axelo bersamaan jemarinya yang meraba resleting  pria itu.


Axelo menoleh ketika merasakan ada yang menyentuh miliknya, mata birunya menilik penampilan wanita itu dari atas hingga bawah.


Lalu tersenyum samar dan langsung menyambar bibir Kyra, wanita yang beberapa kali menghabiskan malam dengannya. Tangan dingin nan lebar itu merayap di paha mulus Kyra yang hanya memakai dress hitam jauh dari lutut.


Kyra meremas rambut kecoklatan milik Axelo ketika tangan pria itu menyelinap masuk di balik dress-nya, Kyra mendesah tertahan karena bibirnya masih di bungkam oleh pria itu.

__ADS_1


Bagian bawah dress-nya tersingkap tinggi akibat perbuatan Axelo, lalu pria itu mengangkat kedua kakinya hingga melingkar sempurna ndi pinggang Axelo. Pria itu berjalan dengan posisi membopong tubuh Kyra berhadapan dan bibir masih saling bertaut semakin liar.


"Awww" Kyra memekik namun tersenyum.



Tubuhnya terpelanting ke atas tempat tidur karena Axelo melemparnya tanpa aba aba. Kemudian pria itu berjalan ke sisi kiri dan mengambil sesuatu dari lemari kaca. Seutas tali merah menjuntai di tangannya, lalu melingkarkan benda itu di kedua tangan Kyra pada tiang ranjang itu. Lalu melakukan hal yang sama pada kaki Kyra.


Pria itu melepas pakaiannya lalu naik ke atas tempat tidur dimana Kyra sudah tergeletak pasrah dengan dress-nya yang tersingkap sampai dada.


Kini kaki Kyra terbuka lebar karena terikat di sisi ranjang, memperlihatkan dengan jelas bagian miliknya yang hanya tertutup kain putih nan tipis.


Axelo mendaratkan bibirnya di paha Kyra dengan hisapan kecil, juga menampar-nya disana beberapa kali hingga menciptakan rona merah. Kyra memekik diiringi tawa ketika Axelo melakukan itu, seolah menikmati.


Bibir itu terus menjelajah hingga bertemu di bagian milik Kyra, menciumnya disana. Tangan Axelo merayap melepas tali kecil yang melingkar di pinggang wanita itu, hingga kain putih yang menghalangi pandangannya terlepas sempurna, memperlihatkan dengan jelas milik Kyra yang sudah basah.


"Oh, babe..." Kyra mendesah, ketika lidah Axelo menelusup masuk, menciptakan sensasi yang luar biasa nikmat.


Remasan kuat di kedua pahanya diringi gerakan lidahnya yang semakin liar membuat Kyra kembali mendesah.


"Emh... You're really good at driving me crazy honey"


***



Ah, sial! Jasmine mengumpat kesal, matanya membulat sempurna begitu melirik bagian tubuhnya. Ternyata yang menghimpit tubuhnya adalah Evan si pria gila itu. Dengan seenaknya pria itu menaruh kaki panjangnya di atas pahanya.


Dan... Sial!! Lengan pria itu juga menguasai bagian dadanya, menyilang di sana dengan kuat.


"Heii!! Menyingkir lah dari tubuhku, dasar mesum!!"


Jasmine menggoyangkan tubuhnya sekuat tenaga dengan maksud menyingkirkan Evan.


"Asshh..." Evan meringis sembari menutupi benda pusaka miliknya. Hentakan Jasmine yang begitu kuat menghantam ujung juniornya yang menegang.


"Kau!!"

__ADS_1


"Apa?!" Balas Jasmine tak kalah sengit. "Siapa suruh kau memelukku? Kau sengaja ingin mecari kesempatan hah?!"


Evan tak mengerti dengan wanita di depannya ini, di saat semua wanita mengemis untuk tidur bersamanya dan ia tolak mentah-mentah. Tapi...wanita di depannya ini justru marah dan mengumpat saat dengan suka relanya Evan memberikan tubuhnya secara cuma cuma pada wanita itu.


Aneh bukan? Harusnya Jasmine bersyukur karena bisa tidur satu ranjang, dan mendapat pelukan darinya.


"Rupanya kau tidak pandai bersyukur, harus kah kau kukenakan biaya karena sudah di temani tidur oleh seorang billionaire?"


Cih. "Gratis pun aku tidak sudi." Balas Jasmine tak kalah sengit, lalu bangkit dari atas tempat tidur untuk melakukan ritual paginya seperti biasa.


"Aaww, shit!!" Jasmine kembali terjerembab ke atas tempat tidur.  Tangannya tertarik karena masih terikat borgol dengan Evan. Sial! Sial! Sial!


Evan tertawa puas melihat raut kesal Jasmine, wanita itu seperti singa yang sedang marah dengan rambut yang berantakan.


"Lepaskan borgolnya, aku mau ke kamar mandi." Bentak Jasmine kesal seraya mengangkat tangannya di depan wajah Evan.


"Wait..." Evan menoleh ke samping, manik hazel-nya meneliti sekitar nakas, tempat dimana ia terakhir menaruh kunci itu. Tapi...


"Tidak ada."


"Apanya yang tidak ada?" Bingung. Jasmine mengikuti arah pandang Evan ke atas nakas.


"Kuncinya tidak ada." Sahut pria itu santai, seolah hanya masalah kecil saja.


"What?!" Jasmine memekik kencang "you..." Jasmine kehilangan kata-katanya dan memilih meremas selimutnya kuat sembari membenamkan wajahnya di sana.


Jasmine kembali mengangkat wajahnya dan mendelik tajam. "I Will kill you!!"


Umpat Jasmine berang seraya menunjuk Evan tepat di depan wajahnya.


Evan menangkap tangan Jasmine, seraya berucap di depan wajahnya yang begitu dekat.


"I love you too." Sahut Evan dengan senyum tampan sembari mengerlingkan sebelah matanya.


"Evan bedebah sialan!!" Umpat Jasmine bersamaan tubuhnya yang di bopong oleh Evan masuk ke dalam kamar mandi.


***

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2