
Rintikan hujan mulai membasahi tubuh seseorang yang sedang duduk di kursi besi seorang diri, rasa dingin dan pusing di kepalanya ia abaikan. Hembusan nafasnya teratur dengan mata yang terpejam seolah sedang tidur.
Evan diam saja ketika merasakan seseorang turut duduk di sampingnya_atau lebih tepatnya masa bodoh. Udara musim gugur yang dingin seolah tidak mempengaruhi keduanya.
"Masuklah, nanti kau sakit."
Evan berdecih mendengar ucapan Joe barusan, jelas saja ia tidak boleh sakit, karena memang itu tujuan Benedict agar ia terus bekerja tanpa henti mengikuti kemauan iblis itu.
Padahal baru saja kemarin ia kembali dari Barcelona, dan sekarang sudah di paksa ke Tokyo oleh Ben. Kepalanya terasa mau pecah karena harus menahan rindu berjauhan dengan Jasmine.
Kalau saja bisa, mungkin ia sudah memilih kembali pulang dan memeluk gadis itu. Tapi sayangnya monster berkepala botak itu terus menahan-nya dengan mengatakan jika ia sampai pergi maka nyawa Jasmine akan dalam bahaya. Tentunya semua rencana si iblis tua itu, jadi mau tak mau terpaksa Evan menurut meski kesal setengah mati.
"Apa peduli mu?" Balas Evan sinis.
Dan Joe menghembuskan napasnya pelan, kalau saja bukan karena perintah atasannya, mungkin ia tidak akan mau repot-repot ikut bersama Evan ke negara matahari terbit ini.
"Kita akan pulang nanti malam, istirahat lah. Memangnya kau tidak ingin terlihat baik-baik saja di depan wanita-mu?"
Bukannya mendengarkan, Evan justru semakin merebahkan tubuhnya lebih nyaman. Ia seolah menikmati suasana sunyi di rooftop itu. Evan masih tetap terdiam dan tidak ada keinginan untuk menjawab ucapan Joe.
"Jangan menyusahkan ku, kau harus istirahat." Joe mengeram kesal.
Evan menoleh dengan raut tanpa ekspresi, "Kalau begitu katakan pada bos mu itu agar membebaskan ku dari bisnis ini. Berikan saja pada anak-anaknya yang lain."
Joe mendesah pelan, ia mengusap kepalanya yang botak karena mulai terasa dingin.
"Percaya atau tidak, Ben hanya menganggapmu dirimu sebagai anaknya, sedangkan yang lainnya tidak."
Evan berdecih, "aku merasa tersanjung." Ujarnya dengan nada mengejek.
"Kau begitu istimewa di matanya, dia juga menyayangi dirimu dan dia lebih..."
"Menyayangi ku? Kau bercanda? Lucu sekali" Evan tertawa setelah berhasil menyela ucapan omong kosong Joe.
"Aku tidak bercanda, dia juga sangat mencintai ibumu."
"Jangan bawa-bawa ibuku" Evan mengepalkan tangannya kuat, kepalanya terasa mendidih ketika mendengar nama ibu.
"Tapi itu memang fakta." Joe kembali menjelaskan agar Evan percaya.
"Dia tidak pernah menyayangi ibuku." Balas Evan lagi.
"Memangnya kau sudah hidup pada saat itu? Aku yang melihat bagaimana ayahmu begitu mencintai ibumu." Kata Joe lagi.
Evan berdecih untuk yang kesekian kalinya, ia amat jiji mendengar kalimat itu.
__ADS_1
"Berhentilah membela pria itu, itu tidak akan merubah kebencian ku padanya."
"Terserah apa katamu, tapi memang itulah kenyataannya." Joe pasrah, percuma juga berdebat dengan Evan, tidak akan ada titik temu.
"Kau sendiri bagaimana? Apa kau mencintai wanitamu dengan benar?"
Evan menoleh dengan memicingkan matanya tidak suka.
"Benar kan? Kau pasti melukai wanita mu itu..." Joe tersenyum mengejek.
Evan mengeram kesal "tutup mulut busukmu itu, aku ingin pulang sekarang." Evan beranjak dari kursi.
"Heiii, kau mau kemana? masih ada satu pertemuan lagi setelah ini." Joe turut bangkit sambil berseru sebelum Evan benar-benar menghilang dari pandangannya.
Evan hanya mengangkat sebelah tangannya tanpa menoleh sebagai jawaban, ia melenggang pergi begitu saja meninggalkan Joe yang kesal karena di abaikan.
Joe sendiri hanya menggeleng maklum, dasar ayah dan anak sama saja.
Menyusahkan!
***
Tidak pernah bosan bagi seorang Axelo meniduri wanita, setelah menghabisi nyawa Kyra beberapa hari yang lalu, kini pria itu mendapatkan pengganti untuk memuaskan nafsunya. Bukan hanya sekedar nafsu dalam bercinta yang biasa, tapi Axelo memiliki kesenangan tersendiri melihat lawan mainnya kesakitan di tengah permainannya.
Semua itu saling berkaitan, bercinta tanpa kesakitan itu tidak nikmat bagi Axelo yang memang seorang masokis.
Seperti saat ini, Axelo memulai permainan-nya dengan mencium kaki wanita tersebut, seolah memuja setiap jengkal tubuhnya.
Jennifer, wanita cantik bertubuh langsing dengan kulit seputih salju yang sedang duduk di kursi menikmati kecupan Axelo di sepanjang kakinya.
"Eeummh..." Jennifer menggigit bibirnya, bergerak gelisah seolah ada yang menyengat tubuhnya membuat Jennifer kepayahan mengatur nafas.
"Kaki mu bagus" puji Axelo di sela kecupannya, dan kembali mencumbu kaki jenjang nan mulus tanpa noda itu dengan menjilatinya.
Cukup lama Axelo melakukan foreplay. Bibir Axelo menjelajah kaki Jennifer hingga ke tempat yang tersembunyi. Membuat wanita itu memohon untuk di tuntaskan dengan segera, karena sudah tidak tahan lagi ingin segera di masuki.
"Kau harus mencobanya sayang"
Axelo mengikat kedua tangan Jennifer pada sebuah tiang, begitu juga dengan kedua kakinya yang sengaja di ikat dengan posisi terbuka.
"Lakukan saja sesukamu, aku akan menurut" Jennifer berucap rendah, dengan ekspresi yang sudah di penuhi hasrat.
Lantas Axelo berjalan menuju tempat dimana berbagai macam alat main-nya terpajang disana. Ia meraih besi dengan ujung yang pipih berwarna merah seraya tersenyum menyeringai.
"Kau sudah siap?" Tanya Axelo sembari memasukan besi tadi ke dalam wadah berisi es.
__ADS_1
Jennifer mengangguk mantap, dan Axelo pun menempelkan benda itu pada kaki Jennifer.
Rasa dingin mulai menelusup ke dalam kulit Jennifer, di tambah gerakan sensual yang Axelo lakukan membuatnya semakin menggila.
"Oouuhh, shit..." Jennifer tak tahan saat benda pipih itu merayap di antara kedua pahanya.
Dan, Axelo semakin nakal. Setelah mengusapkan benda itu disana, kini beralih ke arah dua gundukan besar yang menggoda.
Axelo menempelkan besi tadi pada ujung dada Jennifer, mengusapnya perlahan-lahan membuat wanita itu bergerak gelisah seolah ingin menerkam Axelo jika tangan dan kaki Jennifer tidak di ikat.
"Relax dear" bisik Axelo di telinga Jennifer. Diiringi kecupan singkat.
Axelo mundur beberapa langkah untuk mengembalikan benda yang di pakainya tadi, lalu bersidekap di hadapan Jennifer sambil menatapnya dari atas hingga bawah.
Jennifer berdiri tanpa sehelai benangpun, dan Axelo akui wanita itu benar-benar sempurna, tubuhnya indah dengan lekukan-nya yang tak perlu di tanya lagi.
"Akan ku pastikan kau merintih di bawahku setelah ini." Axelo berjalan mendekat dan langsung menyambar bibir Jennifer. Begitu buas dan menuntut.
Kecupan itu bergerak turun menelusuri rahang dan lehernya, Axelo meninggalkan banyak jejak merah disana membuat Jennifer kesakitan. Karena Axelo tak hanya menghisap tapi juga menggigit. Begitu juga pada ujung dada Jennifer yang tak terlewat dari remasan juga hisapan Axelo.
"S-sakit sekali" rintih Jennifer.
"Kau akan menikmati-nya nanti, aku bersumpah." Lirih Axelo.
Dan benar saja, Axelo langsung melepaskan ikatan pada tangan dan kaki Jennifer, kemudian membawa wanita itu pada sebuah kursi panjang yang di lapisi oleh busa tebal.
Axelo meminta Jennifer untuk telungkup disana, hingga seperti posisi membungkuk. Dengan dirinya yang mulai melucuti celana panjangnya hingga tak bersisa.
Axelo memegangi miliknya dengan sedikit mengusap, dan mulai mengarahkannya pada milik Jennifer.
"Aahh..."
"Kau sempit sekali sayang." Axelo memukul bokong Jennifer, dan wanita itu tertawa pelan.
Awalnya pelan, dengan Axelo yang terus mengecupi punggung Jennifer dengan gerakan sensual, lalu berubah menjadi cepat dan kasar. Axelo terus memukul tubuh Jennifer, bukan dengan tangan, melainkan cambuk.
Jennifer tak kuasa menahan sakit di sekujur tubuhnya, belum lagi tarikan kuat di kepalanya membuat rambutnya nyaris rontok.
"C-cukup, he-hentikan. A-aku tidak tahan lagi" rintih Jennifer. Namun tak di hiraukan oleh Axelo, hingga pria itu merasa puas di puncaknya. Jennifer tergeletak tak sadarkan diri alias pingsan, bersamaan dengan Axelo yang merasakan orga***.
🍁🍁🍁
Ok ,segitu dulu 😂
Like, komen vote yang banyak ya 😂, tar aku rajin nulis yang manis-manis buat kalian 😂
__ADS_1
kira kira ini cocok gak, buat visual Benedict.🤔