
Jasmine bersiap-siap dengan pakaiannya setelah serapan bersama Evan yang penuh drama. Bahkan pria itu dengan beraninya meminta imbalan atas masakan itu.
Cih, tidak akan pernah aku berikan. Enak saja.
"Kau yakin mau ke kampus?" Evan bertanya dengan raut tidak rela, ia masih merindukan wanita itu. Memeluk dan menciumi aroma tubuh Jasmine menjadi candu buatnya.
"Kau pikir aku akan menyia nyiakan beasiswa ku haya untuk menjadi pengangguran bersama mu?!" Jasmine bertanya sinis dengan menyilangkan tangan di depan dadanya.
"Aku bukan pengangguran, aku punya pekerjaan" kata Evan santai.
"Apa? Yang aku lihat kau hanya bermalas malasan di mansion mu ini"
"Mencintaimu, aku terlalu sibuk mencintai dirimu sampai aku tak bisa melakukan pekerjaan lain."
Jasmine menganga lebar, pekerjaan macam apa itu? Dasar Evan bedebah! Memang cinta itu bisa bikin kenyang apa?!
Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang.
Lalu jika pria di depannya ini hanya mengumpankan cinta, bagaimana ia bisa bertahan hidup?
"Kalau begitu jangan dekat dekat dengan ku, aku tidak suka pria yang hanya bermodalkan cinta saja."
Evan tersenyum menyeringai dan berjalan mendekat ke arah wanita itu yang berdiri di depan cermin besar. "Jika aku memiliki pekerjaan, apa kau bisa menerima ku?"
"Akan aku pikirkan"
"Tak ada pilihan lain selain ya."
Evan mengunci pergerakan Jasmine yang ingin menghindari-nya, wajah mereka berdekatan hingga Evan merasakan nafas gugup Jasmine yang menerpa wajahnya.
"Buka matamu, kau akan terlambat jika terus menutup mata."
Evan terbahak sembari berjalan keluar dengan jaket kulit yang bersandar di bahunya.
Sial! Kenapa ia malah memejamkan mata? Apa yang kau harapkan dari pria gila itu? Sebuah ciuman? Dasar bodoh!
Jasmine menggerutu sepanjang berjalan menuruni tangga, menyusul Evan yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
Jasmine menghela nafas, melihat Evan yang duduk di dalam mobil dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung-nya.
Kenapa pria itu berpenampilan sangat sangat rapih sih? berlebihan sekali. Apa pria itu sengaja ingin menarik perhatian wanita di kampus nanti?
Cih, menyebalkan!
__ADS_1
"Cepatlah dear, kau bisa terlambat"
Jasmine tersadar dari lamunannya, dan melangkahkan kakinya dengan sedikit menghentakkan ke lantai dan bibir mengerucut tajam.
Jasmine membuka pintu mobil itu, masuk ke dalam, kemudian menutup pintu dengan sedikit membantingnya.
"Hei, kau bisa merusak mobil Ku!"
"Biar saja!" Sahut Jasmine ketus. Dan Evan hanya menggelengkan kepalanya, lalu melajukan roda empat itu meninggalkan pelataran mansion-nya.
Sepanjang perjalanan Jasmine hanya menatap ke luar jendela, mengabaikan Evan yang terus bertanya padanya.
"Kau marah padaku?" Evan melirik sekilas lalu kembali menatap ke depan. Memperhatikan jalanan yang sedikit licin akibat hujan semalaman.
"Marah? Padamu? Buang buang energi saja."
Evan menghela nafas kasar, lalu memutar stir mobilnya memasuki area gedung kampus Jasmine.
"Tunggu"
Evan menghentikan pergerakan Jasmine yang nyaris membuka pintu mobilnya, menahan lengan wanita itu seraya berucap pelanย "Aku akan menjemputmu"
"Whatever"
Jasmine melenggang keluar dari dalam mobil Evan dengan wajah kesal, dan hal itu tentu saja menjadi pusat perhatian segerombolan wanita yang berdiri tidak jauh dari mobil Evan.
Salah satu wanita berpakaian amat seksi itu berbisik dengan teman wanita lainnya untuk memperhatikan Jasmine. Wanita itu merasa tersaingi sejak Andreas lebih memilih Jasmine menjadi kekasihnya ketimbang dirinya. Dan sekarang Jasmine sudah mendapatkan pengganti yang jauh lebih tampan dan mapan.
"Sial! Kekasihnya tampan sekali. Bahkan lebih keren dari Andreas." Kata teman wanita itu.
"Kau akan diam saja?" Timpal temannya mengompori.
"Diam lah! Aku sedang berpikir bagaimana caranya wanita itu mendapat pria tampan? Padahal aku jauh lebih seksi dan menarik dari si jalang itu."
Wanita itu membentak teman temannya yang terus mengejek dan mengompori. Sementara Jasmine nampak acuh melewati gerombolan wanita yang sedang membicarakan dirinya.
"Aaww" Jasmine terjatuh ketika salah satu wanita itu dengan sengaja menjegal langkahnya.
"Opss! Sorry...kau buta yah?!" Kata wanita itu mengejek Jasmine yang sedang meringis kesakitan di bagian lutut dan telapak tangannya.
Jasmine terdiam membisu, ia berusaha mengontrol emosinya agar tidak meladeni siluman ulat bulu.
"Selain buta kau juga tuli yah?" Ejek teman wanita itu. Dan Jasmine masih terdiam lalu memilih pergi dari sana sebelum mencakar mereka semua dengan kuku panjangnya.
__ADS_1
"Dasar jalang, idiot!"
Jasmine mengehentikan langkahnya dan berbalik menatap wanita yang mengatainya dengan senyum manis yang mengandung racun.
"Ku rasa kata kata itu lebih cocok untuk mu" sahut Jasmine santai dan berlalu meninggalkan gerombolan wanita itu.
"Hei, kau sangat tidak sopan!"
Wanita itu menarik rambut Jasmine hingga terhuyung kebelakang, lalu menampar wajahnya dengan keras.
Mereka semua mentertawakan Jasmine yang tragis dan menyedihkan. Jasmine hanya meronta dan sambil mengusap pipinya yang terasa panas.
"Lepaskan aku!" Pinta Jasmine sembari memegangi rambutnya.
"Aku akan melepaskan mu jika kau mau mengenalkan ku dengan kekasih barumu itu." Wanita itu mengajukan syarat yang membuat Jasmine terbahak.
Mereka semua tidak tau bagaimana mengerikan-nya seorang Evan yang mengidap kelainan jiwa. Andai mereka tau pasti sudah pasti memilih tidak mengenalnya sama sekali.
Sejak lama dirinya ingin lepas dari pria itu saja sangat sulit, dan kini pria itu semakin menjeratnya dengan cinta di luar logika yang mengikat kaki dan lehernya.
Para wanita itu merasa ketakutan dengan tawa Jasmine yang terbahak, tidak biasanya Jasmine si kutu buku tertawa sekencang itu_seperti orang kerasukan.
Perlahan cengkeraman di rambut Jasmine mengendur dan terlepas sempurna.
"Kau ingin mengenal kekasih ku? Silahkan saja kalau kau bisa." Tantang Jasmine dengan nada sinis, dan melanjutkan langkahnya dengan senyum kemenangan. Ia yakin jika Evan tidak akan tertarik dengan wanita itu, tapi... kenapa hatinya sedikit nyeri mendengar ada wanita lain yang menginginkan kekasihnya.
Ah, apa pedulinya. Biar saja wanita itu mendekati Evan, lagi juga memang ini yang ia inginkan sejak lama. Yaitu lepas dari Evan.
Wanita yang menampar wajah Jasmine menatap punggung itu dengan perasaan jengkel. Ia mengepalkan tangannya kuat, dengan menggerutu.
"Ku rasa wanita itu tidak waras." Kata teman wanita itu sambil merangkul bahunya.
"Aku tidak peduli, aku hanya ingin pria itu menjadi miliku bagaimana pun caranya." Ucap wanita itu dengan wajah kesal.
Sementara di ujungnya sana, seorang pria sedang mengeram kesal sembari meremas setir mobilnya kuat. Evan melihat dengan jelas dari balik kaca spion mobilnya yang tidak sengaja berhenti karena suara pekikan Jasmine. Wanita itu dengan beraninya menyentuh kulit Jasmine dengan kasar, bahkan menyakiti kekasihnya dengan kata kata kotor.
Sepertinya ia perlu memberi kejutan pada wanita itu. Setidaknya ia bisa melepaskan hasratnya pada sasaran yang tepat.
Evan melajukan mobilnya meninggalkan pelataran gedung itu dengan senyum ganjil, ia ingin menemui Benjamin lebih dulu sebelum mengerjai wanita itu.
__ADS_1
๐๐๐
To be continued...