
Jasmine keluar dari dalam kamar mandi hanya memakai handuk putih yang melilit tubuhnya, mengekspos jelas kulit mulusnya yang basah. Rambutnya yang di gerai menambah kesan seksi bagi seseorang yang tengah duduk di sofa sambil memandangi Jasmine tanpa permisi.
Jasmine sama sekali tidak menyadari kehadiran Evan di dalam kamar itu, karena berjalan sambil menunduk memperhatikan pergelangan tangannya yang terasa sakit akibat borgol sialan itu.
Dan, detik kemudian saat ia hendak membuka lemari, terlihat lah wajah Evan yang sedang menatapnya penuh minat dari dalam cermin itu. Jasmine langsung berbalik sambil mengeratkan handuknya.
"Sedang apa kau disini?" Tanyanya dengan nada gugup, ini pertama kalinya ada yang melihat dirinya nyaris naked.
Bukannya menjawab, manik pria itu justru semakin liar menatap tumbuhnya dari atas hingga bawah sambil menopang kepalanya ke samping.
Untuk pertama kalinya nyali seorang Jasmine melempes bak kerupuk yang tersiram air, tatapan itu mampu menghipnotis Jasmine hingga tak berkutik.
Jasmine tidak lari, tidak juga mengusir Evan. Wanita itu terdiam mematung di depan lemari seraya membalas tatapan Evan, dengan tangan masih setia memegangi lilitan handuk di antara buah dadanya agar tidak terlepas.
Detik-detik berlalu mereka saling beradu pandang, hingga Evan akhirnya bangkit berdiri dan berjalan mendekati Jasmine.
Tubuh Jasmine semakin berguncang seperti terkena tremor. Gugup, canggung, dan... Entahlah. Rasanya campur aduk menjadi satu.
Evan berhenti tepat di depan Jasmine, tangannya terulur menyentuh rambut pirang yang setengah basah itu. Jantung Jasmine mendadak berhenti berdetak ketika sentuhan itu berpindah ke bahu polosnya, matanya turut terpejam erat tanpa di minta seolah tahu perannya. Kini hembusan nafas hangat pria itu terasa menyapu daun telinga-nya.
"Meski tubuhmu hanya terbalut handuk saja kau tetap terlihat rata." Ejeknya diiringi kecupan singkat di telinga Jasmine.
Mata lentik itu terbuka lebar mendengar ucapan Evan, pria itu bahkan melempar senyum mengejek sambil mengerlingkan sebelah matanya sebelum menghilang di balik pintu.
"Evan!!!" Nafasnya memburu, meski semuanya telat dan percuma, tapi rasanya kurang jika bibirnya belum menyumpahi pria itu.
"Sialan kau! Dasar mesum! Brengsek!"
***
Jasmine melangkahkan kaki jenjangnya menyusuri koridor kampus setelah di antar oleh Evan sampai depan gedung, dan seketika itu juga semua mata menatap kearahnya. Entah apa yang mereka lihat dari dirinya, seingatnya Jasmine tidak pernah berbuat ulah selama menjadi mahasiswi disana.
Sayup-sayup telinga Jasmine menangkap pembicaraan mereka saat melewati gerombolan geng itu, kabar tentang menghilangnya Charlotte rupanya sudah menyebar di kampus.
Seketika bayangan gadis malang itu kembali berputar di kepalanya, rasa mual itu muncul dan Jasmine ingin segera memuntahkan isi perutnya saat itu juga.
"Jessy, tunggu..."
Seorang gadis berkacamata berteriak menyerukan nama panggilan Jasmine, ketika wanita itu melangkah cepat nyaris lari. Si pemilik nama sontak menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
"Luci..." Jasmine mengerutkan keningnya.
"Yeah, ini aku. Kau mau kemana, terburu-buru sekali." Luci berdiri di depan Jasmine menatapnya intens.
Jasmine hanya mengedikkan bahunya acuh dan kembali berjalan, "mau kemana lagi? Aku mual jika terus berlama-lama berdekatan dengan makhluk seperti mereka"
Luci terkekeh mendengar ucapan sahabatnya itu, sambil mensejajarkan langkahnya Luci berkata. "Kau benar, aku juga alergi berdekatan dengan mereka"
__ADS_1
Mereka tertawa bersama dan berlalu pergi dari sekumpulan pecundang yang hanya bisa menyombongkan harta orang tuanya.
"Mari kita rayakan pesta" Luci berseru di sela langkahnya.
"Kau berulang tahun?" Tanya Jasmine terkejut.
"No!"
Jasmine mengernyit dengan jawaban sahabat-nya itu "lalu, merayakan pesta untuk apa?"
"Tentu saja merayakan pesta atas hilangnya wanita ular itu." Luci berucap penuh semangat. Karena ia amat membenci Charlotte yang selalu menyusahkan dirinya dan Jasmine.
Jasmine terdiam, tidak bersemangat seperti biasanya saat membully Charlotte dulu. Suara Charlotte yang menangis meminta maaf kembali berdenging di telinga Jasmine.
"Hei, kau melamun?" Luci menyentuh bahu Jasmine yang mendadak bisu.
"Yeah, em...tidak. maksud ku, tidak perlu merayakan pesta karena aku harus segera masuk ke kelas." Jasmine melangkahkan kakinya cepat menjauh dari Luci.
"Lain kali saja kita merayakannya..." Jasmine berseru di sela langkahnya sebelum benar-benar menjauh, agar Luci tidak menaruh curiga padanya.
Luci mengangguk dengan penuh semangat, lalu melangkahkan kakinya berbelok menuju kantin.
***
Evan memarkirkan mobilnya di depan bangunan putih itu, yang terlihat damai bak surga, tapi nyatanya penghuninya iblis semua.
Terhitung ini kali kedua Evan menginjakkan kakinya di rumah terkutuk itu. Rumah dimana kenangan buruk itu terjadi, hingga merusak kejiwaan Evan kecil dan perlahan beranjak dewasa merubahnya menjadi monster pembunuh berdarah dingin.
Mulai hari ini Evan kembali kerumah sang ayah, atau lebih tepatnya neraka. Setelah pagi tadi Joe kembali mengancam akan menyakiti wanitannya. Bahkan Joe sudah berani menghubungi ponsel Jasmine yang saat itu sedang di pegang-nya karena gadis itu sedang mandi.
Sepatu sneaker yang di kenakan Evan menyentuh lantai garasi, lalu keluar dari dalam mobil dengan raut malas dominan kesal. Langkah panjangnya mulai memasuki pintu utama yang tidak ada penjaga seorang pun.
Yup, siapa yang berani mendatangi rumah itu selain klan mereka sendiri. Terkecuali mereka berniat menyerahkan nyawanya dengan percuma.
Tak ada seorangpun yang terlihat disana, nampak sepi. "Baguslah, lebih baik seperti ini."
Evan melanjutkan langkahnya hingga ke pantry, tujuannya adalah lemari pendingin. Evan membuka benda itu lebar hingga memperlihatkan keseluruhan isi lemari pendingin itu.
Lengkap dan penuh.
Niat awalnya yang hanya ingin melepas dahaga, kini beralih ketika melihat buah segar berwarna merah. Buah itu mengingatkan dirinya akan sosok wanita bar bar yang sudah mengusik hidupnya beberapa bulan terakhir.
"Si bodoh..." Gumamnya dengan senyum samar sembari menyambar buah merah itu.
"Siapa yang bodoh?"
Reflek Evan menoleh kebelakang, dimana sosok bocah menyebalkan sedang berdiri di balik punggungnya dengan raut penasaran.
"Bukan urusanmu"
__ADS_1
Evan berjalan melewati Luke, mengabaikan keberadaan pria cerewet itu.
"Ayolah, pasti itu Jessy..." Luke kembali bersuara memancing kekesalan Evan.
Langkah itu terhenti bersamaan dengan tubuh Evan yang berbalik menatap Luke horor "darimana kau tau nama itu?"
Bukan takut, Luke justru tersenyum lebar dan berjalan mendahului Evan menuju teras belakang.
"Hei bodoh! jawab pertanyaan ku."
Evan mempercepat langkahnya menyusul Lucas yang sudah terduduk di teras belakang sembari memainkan pisau miliknya.
"Kau ajari aku bermain pisau, baru aku akan menjawabnya." Luke memberi pilihan, dan Evan benci itu.
"Aku tidak bisa, lebih baik kau belajar dengan Axelo saja." Evan berucap santai sambil menggigit buah di tangannya.
"Dia tidak seperti mu, kau harus berhati-hati dengannya." Luke mengingatkan. "Aku tahu tentang Jessy karena menguping pembicaraan Xelo dengan Jake."
"Jake?" Evan mengerutkan keningnya.
"Hem" Luke mengangguk. "Dia begitu membenci kehadiran mu di rumah ini, karena posisinya akan terancam untuk menggantikan kedudukan Ben."
Evan meremas apel itu kuat, lalu melemparnya ke dinding hingga hancur tak berbentuk.
"Apa lagi yang kau tau?" Tanya Evan tanpa menoleh dari pandangan pada dinding tadi.
"Tentang Jordan, senior Jessy di kampus, yang ternyata juga menyukai wanita mu."
Kali ini Evan terpancing, dan menarik bahu Luke agar mau menceritakan segalanya yang dia tahu.
"Baiklah, baiklah... Akan aku ceritakan. Tapi lepaskan dulu."
Luke menghela napas panjang, lalu mulai bercerita. "Malam ini Jordan akan merayakan pesta ulang tahun, dan tentunya mengundang Jessy sebagai seseorang yang spesial. Atau mungkin Jordan akan mengutarakan isi hatinya pada wanita mu disana."
Jleb!!
Tanpa kata Evan langsung bangkit dari kursi dan bergegas pergi meninggalkan Luke yang kebingungan.
"Heii, kau mau kemana? Kau belum mengajari ku bermian pisau."
Teriakan Luke sama sekali tak di gubris, Evan sudah tidak ada waktu untuk membalas perkataan Luke. Saat ini pikirannya hanya Jasmine, wanitanya yang sedang dalam bahaya.
🍁🍁🍁
maaf lama, aku cari foto dulu 😂
ini ekspresi Evan pas liat Jasmine nyaris naked😂
__ADS_1