
Jacob dan Axelo akhirnya pergi dari kediaman Evan, dua pria itu kesal sendiri karena tidak menemukan siapapun di sana. Padahal Axelo mendengar kabar dari Lucas, jika Evan sudah kembali bersama kekasihnya. Tapi, ternyata ia sedang di permainkan.
"Brengsek!!" Umpat Axelo sembari memukul setir mobilnya.
Jacob yang melihat itu tak bergeming, ia hanya menoleh sekilas lalu kembali menatap kedepan seraya berucap, "ini bukan salah Lucas, aku yakin dia hanya di beri informasi palsu. Kau tau Lucas tidak bisa menjaga mulutnya bukan?"
Axelo menoleh, "kau benar."
"Jadi yang patut kau curigai adalah Petter dan Brian atau mungkin Lionel si dokter gila itu." Jacob menyebutkan satu persatu nama yang patut di curigai karena berpengaruh besar dan lumayan tangguh di antara yang lain.
"Sial!! Kenapa tidak pernah terpikirkan sebelumnya." Rutuk Axelo seraya memukul setir mobilnya sekali lagi, "sepertinya aku membutuhkan peran Daren dsisini."
"Daren?" Jacob mengernyitkan dahi. "Kau gila jika melibatkannya."
"Aku memang sudah gila." Katanya santai. Memang sedari janin ia sudah gila, karena ia memiliki gen dari Ben yang memang seorang psikopat.
"Aku tau kau memang gila, tapi pakai otak mu. Jika sampai Ben tau kau memakai racun racikan Daren, maka habislah riwayat mu di tangan ayahmu dengan cara yang mengerikan" tutur Jacob menjelaskan.
"Terlebih si Joe, manusia tanpa ekspresi." Tambahnya lagi.
Axelo terdiam mendengar rentetan ocehan Jacob, sahabatnya itu memang benar. Meski bukan keturunan Ben, nyatanya sahabatnya itu tahu banyak tentang keluarganya yang memang paling di takuti. Itu karena seorang Ben dan Joe, dua manusia menyeramkan yang mampu membuat siapa saja melilih untuk tidak di lahirkan ke dunia jika harus berhadapan dengan mereka.
Bisa di bayangkan bukan, bagaimana mengerikannya dua iblis itu?
Belum lagi hadirnya Evan, malaikat pencabut nyawa yang memiliki paras nyaris sempurna, dan mampu mengelabui musuhnya dengan pesonanya. Axelo akui Evan tidak pernah meleset dalam mengincar target, bermain bersih, cerdas juga tangguh, membuat pertahanan keluarga Matias semakin ditakuti.
"Aku sudah tidak tau lagi, bagaimana cara untuk menghancurkan Evan." Katanya.
"Kelemahannya hanya pada kekasihnya." Kata Jacob dengan senyum tipis, "kau sendiri yang mengatakan jika Evan begitu mencintai wanita bernama Jasmine itu bukan? bahkan Evan sampai berdebat dengan Ben secara terang-terangan."
Axelo mengangguk, "aku ada ide" katanya menoleh dengan senyum licik.
"Apa?"
"Aku tau Jasmine memiliki sahabat." Kata Axelo antusias.
"Lalu?"
"kita culik sahabatnya untuk memancing gadis itu keluar dari persembunyiannya. Dari yang aku dengar, Jasmine tipikal orang yang peduli dengan orang lain terlebih sahabatnya."
Jacob mengangguk setuju, kemudian mereka berdua tertawa bersama.
__ADS_1
"Mari kita bersenang-senang."
***
Brian sudah menyadari kehadiran Evan yang sedang menatap ke arahnya dengan wajah mengeras. Namun pria dengan paras tampan dan terkenal dingin itu nampak santai, bahkan ia sengaja mendekatkan wajahnya ke arah Jasmine seraya berbisik pelan.
"Iblis kecil mu sudah datang." Katanya dengan senyum tipis seolah sengaja memancing kemarahan Evan. Jasmine langsung menoleh dengan raut takut bercampur gugup.
"F*CK!! Kau sengaja mengambil kesempatan saat aku tidak ada jerk" Evan melemparkan pisaunya mengincar bagian kepala Brian, namun benda tajam itu tak mendarat sempurna. Karena Brian lebih dulu menangkap pisau itu sebelum melukai kepalanya yang berharga.
Jasmine yang melihat itu hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bagaimana tidak? Posisi Brian saat itu berdiri di belakangnya, dan pisau itu terlihat dengan jelas melayang di depan matanya.
Evan yang melihat ketakutan Jasmine pun langsung berlari mendekat, dan segera memeluk gadis itu erat. "Heii, tenanglah...aku tidak berniat melukai mu."
Jasmine langsung membuka telapak tangannya, dan melempar tatapan tajam pada Evan. Kemudian memeriksa bagian tubuhnya, apakah ada pisau yang menancap.
"Kau nyaris membunuh ku, kau gila!!!" Teriaknya.
"Aku tidak berniat melukaimu, tapi monster di belakang mu." Kata Evan menjelaskan, dan Jasmine pun langsung menoleh ke belakang dengan raut terkejut.
Brian sendiri mengabaikan keributan dua manusia itu, bahkan tidak menyadari tatapan terkejut Jasmine. Ia sibuk melihat telapak tangannya yang berdarah akibat menangkap pisau Evan yang tajam.
"Tidak usah berlebihan, itu hanya luka kecil saja." Evan berucap santai, seolah luka di tangan Brian hanya goresan ringan. Sebenarnya Evan cemburu, karena Jasmine begitu peduli dengan saudara tirinya.
"Ini sakit bodoh!!" Brian menjawab ketus. Dan Evan hanya mengedikan bahunya acuh.
"Tentu saja sakit. Jika tidak, mana mungkin aku mengincar kepalamu."
"Kurang ajar!!" Brian tiba-tiba bergerak cepat dan langsung melingkarkan lengannya di leher Evan, menjeratnya kuat.
Evan pun berontak, berusaha melepaskan lengan Brian dengan sekuat tenaga dan balik menyerang. Mereka berdua saling serang dengan tangan kosong, membuat Jasmine beringsut mundur ketakutan.
"Heii, hentikan!!" Jasmine berteriak ketika Brian berhasil meninju wajah tampan Evan hingga sudut bibir pria itu berdarah.
"Kau takut wajah kekasih mu ini tidak tampan lagi?" Brian bertanya sembari melipat tangan Evan kebelakang. Mereka berdua ber-acting seolah-olah Evan menderita dan Brian bersungguh-sungguh menyiksa. Padahal kenyataannya hanya sandiwara.
"Habisi saja aku jerk!!" Kata Evan dengan raut kesakitan yang nyata, dan itu semakin membuat Jasmine kalang kabut.
"Stop!! Don't do it, please..." Jasmine hampir menangis, bahkan tubuhnya sampai merosot ke lantai saat mengatakan itu, tangannya juga turut serta meremas rambut panjangnya frustasi.
Tak membuat dua bersaudara itu cukup puas, Brian pun meraih kepala Evan berniat memutar kepalanya kebelakang.
__ADS_1
"Don't...." Menangis, Jasmine sampai bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Evan setelah mendorong tubuh Brian menjauh.
Evan dan Brian seketika tertawa, mereka berdua sampai terpingkal-pingkal melihat ekspresi Jasmine yang nyaris gila karena ketakutan.
Jasmine sendiri melongo di buatnya, manik abu abunya melihat Brian dan Evan bergantian dengan seksama.
Jadi mereka hanya bercanda? Mereka berdua bersandiwara? Sengaja membuat dirinya agar ikutan gila?
Ya Tuhan, lelucon macam apa ini?
Sementara Evan dan Brian masih belum berhenti tertawa, saking lucunya karena drama tadi sampai mereka berdua tidak memperhatikan apa yang Jasmine lakukan.
Wanita cantik itu berdiri dan meraih stik baseball di sudut ruangan, mengangkat benda itu tinggi-tinggi sembari menatap tajam dua makhluk tampan yang sudah mengerjainya.
"Kalian sengaja melakukan ini? Kalian ingin membuat aku gila? Baiklah tuan psikopat, akan aku buktikan seberapa gilanya aku..."
Jasmine melayangkan benda itu pada evan yang memang posisinya lebih dekat dengannya. Evan yang melihat itupun lantas berdiri dan berusaha melarikan diri.
"Sayang... Kau bercanda kan?" Evan berherak mundur perlahan sembari mengindari serangan Jasmine.
"Apa wajahku terlihat sedang bercanda?" Balas Jasmine ketus dengan masih mengayunkan stik baseball itu.
Sedangkan Brian yang berdiri tidak jauh, bukannya membantu Evan malah semakin memperkeruh keadaan. "Ini semua ide kekasih mu. Dia ingin tau seberapa besar kau mencintai iblis kecil itu."
"Heii, kau berbohong!! Ini semua ide busuk mu! Kau yang mengajakku melakukan drama sialan ini, bahkan aku merelakan diri untuk kau sakiti..." Tutur Evan mencoba menjelaskan meski sepertinya percuma, karena Jasmine nyatanya semakin gila menyerang dirinya.
"Kau jangan percaya kata-katanya Jessy, dialah yang merencanakan semuanya." Brian membalas.
"Kalian berdua sama saja, menyebalkan!!" Jasmine turut menyerang Brian dan Evan bersamaan. Dan dua pria tampan itu berlari kesana-kemari sambil tertawa.
Sebenarnya ide gila itu muncul di otak keduanya tanpa di sengaja atau di rencanakan. Otak Brian dan Evan satu pemikiran, karena mereka sedarah atau satu ibu.
Bagaimana bisa?
***
To be continued...
__ADS_1