
Di sebuah ruangan dengan nuansa Lilac, yang damai dan tenang. Jasmine duduk berdiam di depan cermin, gadis itu menatap bingung pada pantulan wajahnya disana. Jasmine tidak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan oleh dua manusia asing pada wajah dan tubuhnya.
Seorang make up artist dengan gayanya yang gemulai, menambahkan sentuhan terakhir di bibir Jasmine. Bibir gadis itu di beri aksen cute dengan sentuhan warna dreamy soft pink, dan peach eyeshadow.
Jasmine sendiri sampai tak mengenali dirinya, wajahnya begitu asing dengan berbagai benda aneh yang di poleskan ke wajahnya, entah apa Jasmine tidak tau. Boro-boro tau namanya, memakainya pun tidak pernah.
Jasmine gadis yang terbilang tomboy. Pergi ke kampus dan bekerja hanya memakai pakaian seadanya, dan rambut yang hanya di kuncir kuda. Benda yang Jasmine tau hanya lip balm, untuk melembabkan bibirnya. Selain itu Jasmine angkat tangan.
"Kau sangat cantik Nona" puji pria berkemeja biru muda, yang baru saja merias wajahnya, membuyarkan lamunan Jasmine.
Jasmine tersenyum tipis, menoleh ke arah pria yang sedang menatap kagum padanya. "Thanks... Ini semua berkat mu, aku sampai tidak mengenali diriku sendiri."
"Kau memang sudah cantik tanpa make up Nona, wajahmu masih asli." Katanya lagi, membuat Jasmine terbengong sesaat. Memangnya ada wajah tidak asli?
Dan, lamunannya kembali buyar saat mendengar kegaduhan di luar ruangan. Jasmine dan kedua orang yang meriasnya pun menoleh ke arah pintu.
"Berisik sekali..."celetuk pria berkemeja pink itu, seorang hairstylist yang sedang merapikan hasil karyanya pada rambut Jasmine.
"Biar aku lihat..." Jasmine bangkit.
Brak!!
Suara pintu yang di buka paksa dari luar, membuat ketiga orang di dalam ruangan itu kaget. Jasmine sendiri sampai jatuh terduduk di kursinya.
Terlihat dua makhluk yang saling berdebat berdiri di depan pintu, tanpa menghiraukan apa yang sudah mereka berdua lakukan.
"Luci? Luke?" Panggil Jasmine dengan dahi berkerut. Membuat dua manusiaΒ yang sedang berdebat itu menoleh.
"Jessy...." Lucia berlari ke arah Jasmine sambil merentangkan tangan, berniat memeluk.
"Stop!!" Jasmine mengangkat tangannya.
"Why?"
"Kau bisa merusak riasan ku dengan tangan nakal mu itu." Kata Jasmine dengan wajah di buat-buat kesal.
"Kau menyebalkan Jessy" Lucia memberengut seraya menurunkan tangannya, membuat pria yang berdiri bdi ambang pintu susah payah menahan tawa.
"Aku hanya bercanda, kemarilah" Jasmine merentangkan kedua tangannya, dan gadis berkulit kecoklatan itu langsung memeluk Jasmine erat, sambil terkekeh.
"Bagaimana kau bisa bersama Luke?" Tanya Jasmine, setelah melepas pelukan.
"Aku..."
"Yeah, aku dipaksa mengantarkan sahabat mu yang cerewet ini." Luke langsung memotong ucapan Lucia.
__ADS_1
Lucia membulatkan matanya, dengan rahang terbuka lebar. "Heii, kau berbohong. Siapa yang memaksa? Jangan dengarkan dia Jessy, aku bersumpah itu tidak benar."
Lucia berusaha meyakinkan Jasmine.
"Hahaha, iya iya baiklah, aku memang berbohong. Kau memang tidak memaksa, tapi kau merayu ku agar mau mengantar mu... Benar begitu bukan?" Ucap Luke sambil mengerlingkan sebelah matanya menggoda.
"Kau!!"
Lucia berdesis dengan mata mendelik tajam. Namun Luke hanya melempar senyuman manis pada Lucia sambil berbalik badan dan sempat melambaikan tangannya pada Jessy sebelum benar-benar menghilang dari sana.
"Kau dengan Luke???" Tanya Jasmine.
"Aku? Dengan pria tidak waras itu? Yang benar saja..." Balas Luci, gadis itu meraih kursi dan duduk di samping Jasmine sambil mengatur nafasnya yang memburu karena kesal.
"Mungkin saja, kau kan mudah jatuh cinta. Terlebih dengan pria tampan seperti Luke." Sindir Jasmine sambil menahan senyumnya.
"Sudahlah lupakan pria itu, kita bahas tentang dirimu saja." Lucia mengalihkan pembicaraan. Menatap Jasmine intens, menyadari penampilan Jasmine yang sungguh berbeda, membuat gadis itu terpukau.
"Ini sungguh kau, Jessy?" Seru Lucia heboh, sampai membuat dua orang MUA itu harus menutup telinganya karena suara cempreng Luci. Gadis itu kagum dengan sosok Jasmine yang nampak berbeda dari biasanya. Seperti bidadari yang sedang mampir ke bumi.
"Kau berlebihan Luci..." Sahut Jessy seperti biasa, mematahkan pujian Lucia.
"Ini tidak berlebihan, kau sungguh cantik Jessy. Jika aku pria, mungkin aku akan langsung jatuh cinta padamu." Kekehnya geli sambil berjalan mendekat ke arah Jasmine.
"Dasar bodoh!! Lalu mau kau kemanakan pangeran mu itu huh?" Sindir Jasmine. Seketika wajah Lucia berubah warna, pipinya merona. Gadis itu terlihat malu-malu saat Jasmine menyebutkan kata pangeran.
Pikiran Lucia langsung melayang, membayangkan sosok pria tampan yang pertama kali di lihatnya saat membuka mata. Pangeran, begitulah Luci menyebutnya. Wajah pria itu masih melekat jelas di otak sempit Luci. Matanya, suaranya, serta bulu halus yang menghiasi sekitar dagunya. Ya, hanya itu yang Luci ingat ketika tersadar dari pingsannya. Karena pria itu amat pelit senyum, dan wajahnya terlalu datar, sampai Lucia mengira pria itu hanya sebuah patung jika tidak berkedip.
"Heii, kau melamun?" Jasmine mengusap wajah Luci dengan telapak tangannya, membuat Luci tersentak.
"Kau mengagetkan ku Jessy, hampir saja jantung ku ini berpindah tempat." Sahut Lucia spontan.
"Bisa ku tebak, kau pasti sedang berpikir mesum tentang pangeran itu bukan? Mengakulah..." Jasmine kembali menggoda.
"No, you know I don't have a mind right? Jadi berhenti menunduhku yang bukan-bukan Jessy, atau aku akan menggantikan posisimu menikahi Evan."
"Coba saja jika kau ingin aku panggang hidup-hidup..." Balas Jasmine dengan nada cemburu yang kental, membuat Lucia tertawa puas. Namun tidak untuk dua orang pria yang berdiri di belakangnya. Mereka memasang wajah bingung sekaligus ngeri mendengar candaan dua gadis cantik itu.
***
Evan sudah berdiri di altar, di temani Joe, Brian dan pendeta. Tuxedo hitam dengan kemeja putih sudah melekat pas di tubuh tegapnya, menambah kadar ketampanan Evan yang tidak manusiawi itu.
Evan amat tidak suka dengan keadaan seperti ini, dimana dirinya menjadi pusat perhatian. Tatapan para tamu, terkhusus wanita, yang menatap dirinya dengan tatapan memuja. Evan sudah meminta untuk hanya mengundang keluarga saja, tapi nyatanya sang Kaka justru menghianatinya, dengan mengundang beberapa rekan bisnis dari berbagai negara, serta orang-orang organisasi.
__ADS_1
Iblis satu itu memang sangat menyebalkan.
Alunan musik can't help falling in love with you yang di iringi piano, mulai terdengar. Lagu sambutan untuk Jasmine yang akan segera tiba disana.
Dua Bridesmaids cantik, Josephine dan Lucia tiba lebih dulu. Lalu di susul Jasmine yang di dampingi sang ayah melangkah pelan menuju altar.
Jantung Evan berdegub tidak beraturan, darahnya berdesir, dan tubuhnya menghangat. Belum lagi saat mata mereka saling bertemu ketika Jasmine berhenti tepat di depannya, rasanya Evan kehilangan nafas untuk sesaat.
Evan tak lepas menatap wajah cantik Jasmine yang begitu memukau, bisa ia lihat pancaran kebahagiaan dari sorot mata nan teduh itu.
Alunan musik pun mulai berhenti, seketika mereka berdua menjadi pusat perhatian. Semua tamu yang ada disana turut merasakan kebahagiaan, tak terkecuali Joe yang berdiri tidak jauh dari Evan.
Seketika keadaan menjadi hening dan sakral. Pendeta lantas mempersilahkan Evan dan Jasmine untuk saling berpegangan tangan setelah melewati beberapa liturgi, atau tata cara pembaktian. Evan pun menyiapkan diri untuk mendengarkan ayah Jasmine menyampaikan pesan.
"Aku titipkan Jasmine pada mu, jaga putri ku baik-baik, seperti aku menjaganya penuh kasih sayang."
Jasmine terenyuh, matanya mulai berkaca-kaca mendengar pesan sang ayah.
Evan menarik nafasnya sambil menatap mata Jasmine, dan mulai mengucap janji.
"Aku, Evan Leandro Matias, mengambil engkau Jasmine menjadi istriku,Β untuk saling memiliki dan juga menjaga untuk saat ini dan selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan ataupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita sesuai dengan hukum Allah yang kudus. Dan inilah janji setiaku yang sangat tulus."
Jasmine menahan tangis harunya, sebelum mengucap janji yang sama dengan sedikit nada bergetar. Meski sempat tersendat, namun Jasmine mampu menuntaskan nya.
Semua orang yang melihat tak satupun orang yang tidak bertepuk tangan. Suasana haru nan bahagia menyelimuti tempat itu.
Dan, selanjutnya Evan menyematkan cincin pada jari manis Jasmine. Terukir senyum haru di bibir itu, membuat Evan ikut tersenyum lebar untuk yang pertama kalinya. Ya, karena Evan tidak pernah senyum setulus itu, biasanya hanya sandiwara saja.
"Kau gemetaran Evan" ucap Jasmine lirih.
"Ini karena mu, I love Jessy..." Ucap Evan. Kemudian mereka melakukan wedding kiss untuk yang pertama kalinya sebagai pasangan suami istri yang sah.
Tepuk tangan semakin meriah karena adegan romantis itu.
Setelah melepas kecupan singkat itu, Evan mendekatkan bibirnya ke telinga Jasmine, dan berbisik lirih.
"Kita sah sudah menjadi suami istri sekarang, bagaimana kalau malam ini kita buat Jessy kecil yang mungil, Hem..."
πππ
Masih lanjut, bab selanjutnya 21+ ya...yang belum cukup umur di skip aja ππ
Makasih yang masih setia baca, story ini pasti aku tamatin kok, cuma ya gitu π, aku masih sibuk sama real. Maaf atuh ya....
__ADS_1
Di bab terakhir nanti, ada bonus foto mereka. So, jangan tinggalin Abang ya , kesayangan...π