The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 58


__ADS_3

Lucia terbatuk-batuk saat wajahnya tersiram air dengan kasar oleh seseorang.


"Uhuk, uhuk..." Perlahan Lucia membuka matanya yang terasa perih, belum lagi kepalanya yang turut berdenyut-denyut hebat seakan mau pecah.


Dan, begitu matanya terbuka sempurna, Lucia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang nampak minim pencahayaan.


Dimana aku?


Lucia mulai panik, terlebih saat ia mencoba menggerakkan tubuhnya. Ternyata kedua tangannya terikat kuat di sebuah besi yang berjarak beberapa centi dari kepalanya. Belum lagi sosok pria bertubuh jangkung yang berdiri tidak jauh darinya dengan wajah datar.


"F*CK!! Sara b*tch!!" Lucia mengumpat kasar, ia berpikir semua itu adalah ulah Sara dan teman-temannya.


"Diam lah!!" Bentak Aron.


Lucia membuka rahangnya dengan mata melebar sempurna, ia tidak terima di bentak oleh orang asing.


"Lepaskan aku, dasar bodoh! Maka aku akan diam." Lucia membalas ucapan Aron tak kalah pedas. Sebenarnya Lucia takut, tapi ia tidak mau memperlihatkan rasa takutnya, karena itu akan membuat lawanya merasa menang.


Aron berjalan mendekati Lucia, dengan cepat dan kasar tangan Aron mencengkeram kedua pipi Lucia hingga gadis berkacamata itu meringis kesakitan.


"Jaga ucapan mu!! Atau kau akan berakhir membusuk di ruang bawah tanah." Aron berucap pelan dengan bibirnya yang nyaris menyentuh pipi Lucia.


Suara berat Aron menelusup ke dalam telinga Lucia bak bisikan kematian, hingga seketika itu juga wajah gadis berkulit eksotis itu berubah pias, seolah tak berdarah.


Aron tersenyum tipis amat tipis, mungkin hanya Aron saja yang tahu kalau ia tersenyum. Ia bahkan sedikit bernafsu untuk menghabisi Lucia, tapi sayang, ia tidak berani mendahului atasannya_Axelo.


"Kau selamat dari ku Nona, tapi tidak dengan atasan ku." Katanya sambil menepuk pipi Lucia dua kali. Dan berlalu pergi dari sana menyisakan Lucia seorang diri di dalam ruangan yang cukup luas dengan dominasi warna hitam dan merah.


Blamm!


Suara pintu yang di tutup dengan keras membuat Lucia berjengit kaget, "shit!! F*CK you!"


***


Sera tak luput melebarkan senyumnya sejak memasuki bangunan megah nan luas itu. Meski dari luar nampak kuno, nyatanya interior di dalam bangunan itu tak kalah modern dengan hotel berbintang, bahkan menyerupai istana.


"Ini mansion kalian?" Mata Sara berbinar saat bertanya, gadis bertubuh langsing itu tak mampu menyembunyikan rasa kagumnya akan keindahan mansion itu.


"Ya, ini mansion kami." Kata Jacob dengan senyum termanisnya. Tentu saja Sara semakin terhipnotis di buatnya.

__ADS_1


"Ini sungguh indah" Sara memuji sembari tangannya mulai menyentuh barang-barang yang dekat dengan jangkauannya. Mulai dari sofa yang luar biasa empuk, serta pajangan antik yang berjajar di sekitarnya.


"Kau menyukainya?" Jacob bertanya. Dan Sara mengangguk dengan senyum meyakinkan.


"Kau boleh tinggal disini kapan pun kau mau." Kini Axelo yang berucap, nadanya ramah tapi sorot matanya penuh amarah.


"Benar kah?"


"Yeah, aku bukan tipe pria pembohong" katanya lagi. "Mari kita lihat lantai dua, kau pasti akan menyukainya."


Jacob dan Axelo mempersilahkan Sara untuk berjalan di depannya, sementara mereka berdua merencanakan hal menarik apa untuk menyiksa Sara sembari melangkah menaiki undakan anak tangga.


"Kau yakin ingin melakukan itu?" Jacob bertanya.


Axelo mengangguk dengan kilatan mata penuh nafsu, nafsu untuk menyiksa. "Menurutku itu seru."


"Terserah kau saja, aku akan menemui Aron dan mengurus gadis bernama Lucia itu." Kata Jacob bersamaan langkahnya menapak pada anak tangga terakhir.


"Woow. this is really beautiful." Sara berseru heboh ketika melihat balkon lantai dua yang menyuguhkan pemandangan alam yang indah, serta kolam renang yang berada di tepian balkon berpagar kaca tebal.


"Pergilah, tapi jangan kau sentuh dia sebelum aku datang. Dan... Jangan lupa hubungi Jasmine."  Titah Axelo pada Jacob, dan pria itu hanya tersenyum simpul sebagai jawaban.


"Aku ingin mencicipi gadis itu" ujar Jacob seraya berbalik badan meninggalkan Axelo.


***


"Cepat katakan siapa yang menyuruhmu!!"  Evan mencengkram kerah baju seseorang yang sedang duduk di kursi dengan wajah yang amat mengenaskan. Tangan dan kakinya terikat kuat tak mampu membalas perbuatan Evan.


"Uhuk...uhuk..." Pria itu terbatuk, dari mulutnya mengeluarkan darah yang cukup kental. "A-aku tidak akan pernah m-mengatakannya."


"Baiklah, mungkin pisau ku ini bisa membuatmu berbicara, meski sulit." Seringai mengerikan terbit di bibir Evan sembari tangannya mengeluarkan benda tajam itu dari saku celananya.


Pria yang sudah babak belur itu sama sekali tak menunjukan raut takut, bahkan ia tertawa dan meludah ke arah Evan. "Lakukanlah, itu Takan merubah keputusan ku."


"Kau terlalu banyak bicara, bodoh!!"


Crakk!!!


"Aagghh"

__ADS_1


Sebilah pisau menancap di dada pria itu, dan Evan sedikit mengoyaknya, hingga menimbulkan bunyi yang membuat siapa saja ngilu.


"Cukup!" Joe mengingatkan Evan untuk berhenti memainkan pisaunya, karena pria yang terikat di kursi itu sama sekali tak mau menyerah.


"Simpan tenaga mu untuk nanti." Kata Joe lagi.


Dan Evan langsung menarik pisaunya dari dada pria itu dengan gerakan kasar, "apa rencana mu?"


Evan bangkit dari kursinya, berdiri di hadapan Joe sembari tangannya membersihkan pisau itu dengan tisu.


"Kematian sepertinya terlalu mudah untuk pria itu, biarkan dia melihat orang yang di cintainya terluka lebih dulu." Joe memberi usul, dan Evan terdiam mencerna ucapan Joe. Karena sebelum-sebelumnya korbannya selalu memohon ampunan dan memperlihatkan raut memelas, tidak seperti pria itu.


"Kau benar" Evan menyetujui ucapan Joe, kemudian berbalik menatap pria itu lagi.


"Bagaimana jika putrimu menggantikan dirimu duduk di kursi ini, hum? Apa kau masih tetap bungkam?" Evan menempatkan pisaunya di bawah dagu pria itu, hingga si pria mendongak.


Wajah sombong pria itu lenyap seketika, berganti pucat pasi. Bibirnya pun bergetar seolah ingin mengucapkan sesuatu namun tertahan.


"Katakan lah..." Ujung pisau Evan sedikit menusuk bawah dagu pria itu, tidak terlalu dalam namun cukup menyakitinya.


"H-habisi saja a-aku." Kata pria itu lagi.


"Pasti, setelah kau mengatakannya." Balas Evan.


"Itu tidak akan pernah terjadi, dasar psikopat." Pria itu meludah, mengenai wajah Evan. Sengaja memancing pria gila itu untuk membunuhnya dengan cepat.


Rahang Evan mengeras, giginya bergemeletuk saling beradu. Evan sudah tidak sanggup menahan amarahnya, sisi gelapnya sudah mendominasi sepenuhnya. Joe yang melihat itupun langsung merebut pisau di tangan Evan, dan membuangnya jauh.


"Jangan terpancing, dia sengaja melakukan itu agar kau membunuhnya dengan cepat." Kata Joe memberitahu, ia sudah hapal dengan para korban yang bersangkutan dengan organisasi. Mereka lebih memilih mempertahankan rahasianya meski di bawah ancaman kematian.


"Aku ingin sekali mengoyak jantungnya, dan merobek mulut busuknya itu" kata Evan sambil mendorong tubuh Joe. Kemudian berjalan mondar mandir seraya mengatur napasnya yang memburu, menyugar rambutnya kebelakang dengan satu tangan berada di pinggang.


"Pergilah, temui keluarga bajingan ini. Sisanya biar aku yang urus." Titah Joe.


Pria itu langsung bereaksi, berusaha bangkit dari kursinya_memberontak.


"Don't touch my family."


🍁🍁🍁

__ADS_1


To be continued...



__ADS_2