
Seorang pria tengah duduk di sofa sembari memperhatikan gadis yang tengah tertidur di atas ranjang, atau lebih tepatnya pingsan. Raut wajahnya tenang, setenang air, membuat pria itu sedikit terpesona melihatnya.
Andai saja gadis itu belum termiliki.
Tak cukup puas memandang dari kejauhan, pria itupun bangkit berdiri dan berjalan mendekati ranjang, sekedar ingin menatap lebih dekat wajah cantik gadis itu.
"Evan sangat beruntung bisa mendapatkan mu" tutur pria itu setelah mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
Meski mengagumi, nyatanya pria itu tak mengambil kesempatan dalam kesempitan di saat Jasmine sedang tak sadarkan diri.
"Mhh..." Jasmine melenguh, mengerjapkan mata lentiknya seraya menggerakkan tubuhnya pelan. Manik abu-abunya membuka perlahan menyesuaikan cahaya yang ada di ruangan itu.
Sejenak Jasmine menyapukan pandangannya dengan dahi berkerut, pasalnya ia sama sekali tidak mengenal tempat yang saat ini ia lihat. Semuanya nampak asing, hingga matanya menyorot sosok pria yang tak asing baginya.
"K-kau?" Pekik Jasmine terkejut, seraya menggeser tubuhnya ketika melihat sosok pria yang duduk tak jauh darinya.
"Tidak perlu terkejut seperti itu, aku bukan hantu." Kata pria itu yang tak lain ialah Brian. Brian pun beranjak dari tepian kasur, lalu meraih gelas di atas nakas, dan menyerahkan nya pada Jasmine.
"Minumlah."
Dengan sedikit ragu Jasmine meraih gelas itu, hanya di pegang tapi tak di minum. Ia kembali menatap Brian dengan sorot penuh tanya, seingatnya ia berada di mansion Evan.
"Bagaimana aku bisa berada disini?" Tanya Jasmine pada Brian yang sejak tadi berdiri memperhatikan dirinya."Kau menculik ku?!"
Brian mengedikan bahunya acuh. "Bisa di bilang begitu."
"Untuk apa?" Tanya Jasmine bingung.
Brian tak menjawab, ia terdiam sambil menatap Jasmine, ingatannya kembali berputar pada beberapa jam yang lalu, dimana Axelo dan Jacob berniat tidak baik dengan mengawasi mansion Evan diam diam.
Axelo dan Jacob ternyata juga berada disana, dua pria itu bersembunyi di balik pepohonan sembari memperhatikan keadaan sekitar mansion.
Pada saat itu Brian memang di utus untuk mengambil sesuatu disana atas perintah Evan, dan kebetulan tidak sengaja melihat mereka berdua dengan gerak gerik yang mencurigakan.
Dan, di saat yang bersamaan dirinya hendak menangkap basah Axelo dan Jacob. Tiba-tiba saja suara mobil terdengar, lalu di susul Jasmine yang turun dalam benda itu.
Tanpa berpikir lama, Brian langsung menghampiri Jasmine yang sedang berjalan masuk melewati pagar. Dan Brian pun langsung membekap mulut gadis itu dengan saputangan yang sudah ia beri obat bius. Brian tidak sengaja, ia terpaksa melakukan itu sebelum Axelo dan Jacob menyadari kehadiran Jasmine.
__ADS_1
"Ini perintah Evan" Sahut Brian setelah terdiam beberapa detik.
"Evan?" Dahinya berkerut dalam saat menyebut nama itu. "Untuk apa Evan memyuruhmu menculik ku? Tanpa di culik pun aku sudah berada di mansion nya."
Brian tertawa pelan mendengar jawaban Jasmine, gadis bodoh itu sama sekali tidak tau bahaya yang mengintainya karena menyandang status kekasih seorang pimpinan organisasi.
"Kau adalah kekasih orang yang berpengaruh di dunia bisnis, jadi gerak gerik mu di awasi oleh orang-orang yang ingin menjatuhkan Evan."
Brian menjelaskan hal yang masuk akal saja, agar gadis itu paham. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu, bahaya yang mengancam Jasmine lebih mengerikan. Bahkan mungkin Jasmine bisa saja menjadi mainan untuk mereka yang membenci Evan sebelum Jasmine menemui ajalnya. Dan, Brian tidak akan membiarkan itu terjadi pada Jasmine.
Jasmine mengembuskan napas panjang. "Sepenting itukah kedudukan Evan di dunia bisnis? Sampai gerak gerik ku saja di awasi."
Brian tersenyum tipis, kemudian berjalan mendekati Jasmine dan mengusap kepala gadis itu gemas.
"Kekasih mu itu orang yang paling di takuti di dunia bisnis. Dan kau manusia pertama yang mampu menaklukkan iblis kecil itu hingga tunduk di bawah pesona mu." Tuturnya dengan senyum menawan.
"Kau seorang pawang iblis."
Brian pun melangkahkan kakinya menuju pintu setelah mengucapkan itu.
Jasmine pun melongo mendengar perkataan Brian. Jahat sekali pria itu, wanita cantik seperti dirinya di sematkan gelar pawang iblis.
"Kemarilah, ikut dengan ku."
Jasmine yang saat itu belum sepenuhnya sadar pun akhirnya beranjak dari tempat tidur. Menapakkan kaki telanjangnya menyentuh lantai, dan berjalan pelan menyusul Brian yang sudah lebih dulu meninggalkan dirinya.
Gadis berambut pirang itu menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan begitu keluar dari dalam kamar. Ia sedikit kagum dengan interior bangunan itu, sederhana namun elegan.
Tidak ada pigura, atau benda apapun yang terpajang selama Jasmine berjalan menuruni setiap undakan anak tangga, rumah itu nampak polos tak memiliki pajangan atau benda koleksi semacamnya. Jasmine yang terlalu asik mengagumi bangunan itu sampai tidak memperhatikan langkahnya dan akhirnya terjatuh menimpa punggung Brian.
"Ma-maaf" Jasmine salah tingkah karena posisinya yang terlalu dekat dengan Brian.
"Hati hati" kata Brian mengingatkan, setelah membantu Jasmine membenarkan posisi tubuhnya.
Mereka berdua pun kembali melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga dengan perasaan canggung. Brian menuntun langkah Jasmine menuju pantry, dan menyuruh gadis itu untuk duduk.
"Diam lah disana, aku akan membuatkan mu makanan." Titah Brian, dan Jasmine pun manut saja duduk di bar stole.
__ADS_1
Jasmine jadi teringat dengan Evan, dimana pria itu juga selalu membuatkannya makanan. Jasmine jadi semakin rindu.
"Apa kau tau dimana Evan?"
Suara Jasmine memecah keheningan suasana di pantry, Brian pun menoleh sekilas lalu kembali menatap sayur-sayuran yang ada di hadapannya.
"Dia masih mengurus pekerjaan-nya" kata Brian singkat.
"Pekerjaan apa?" Tanya Jasmine lagi.
"Mengurus perusahaan Matias. Perusahaan yang bergerak di bidang pangan, salah satunya adalah daging."
Jasmine mengangguk paham, dan Brian tersenyum tipis melihat gadis itu dari ekor matanya. Jasmine begitu polos dominan bodoh, membuat Brian merasa semakin khawatir dengan keselamatan gadis itu. Brian bersumpah akan menjadi tameng untuk Jasmine, jika saja ada yang berani menyakitinya maka akan berhadapan dengannya.
Keheningan kembali menyelimuti keduanya, hingga spaghetti buatan Brian selesai di buat.
"Makan lah." Brian menyodorkan sepiring spaghetti ke hadapan Jasmine.
Gadis itu mengerutkan dahinya dalam. "Hanya untukku?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, Brian pun mencondongkan setengah tubuhnya hingga wajah mereka berdua berjarak beberapa centi saja.
"Aku tidak lapar."
Bukanya mundur atau setidaknya salah tingkah, Jasmine justru menopang dagunya dengan kedua tangan dan membalas tatapan Brian dengan berani.
"Tapi sayangnya perutmu tidak bisa berbohong." Jasmine menyindir saat mendengar suara perut Brian, dan mereka berdua pun tertawa bersama.
Kemudian tanpa rasa canggung, Jasmine dan Brian pun menyuap spaghetti itu bersama-sama. Sifat Jasmine yang ceria dan mudah bergaul membuat kedekatan di antara mereka berdua terjalin begitu saja. Bahkan Brian sampai lupa jika Jasmine adalah kekasih saudaranya, ia tidak ragu untuk mengusap sisa bumbu yang mengotori sudut bibir Jasmine dengan jarinya.
"Cara makan mu seperti anak kecil saja."
Dan di saat bersamaan adegan itu terjadi, Evan sedang berdiri di ambang ruangan dengan rahang mengeras.
🍁🍁🍁
To be continued...
__ADS_1