
Lucia menatap layar ponselnya dengan bibir menggerutu. Bukan tanpa sebab, pasalnya seseorang yang sedang ia hubungi tak kunjung menerima panggilan darinya.
"Dasar bodoh!"
Lucia memaki pada operator yang sedang berbicara, lalu menjauhkan benda itu dari telinganya dan kembali memasukan-nya ke dalam tas selempangnya. Rasanya Lucia ngin sekali mengepang bibir operator itu.
Lagi, Lucia menggerutu sembari berjalan keluar dari area kampus. Namun sayang, jalannya tak semulus yang di harapkan, ia bertemu dengan segerombolan manusia tidak berguna.
"Heii, dimana teman sampah mu itu?" Seorang wanita dengan tubuh tinggi berkulit eksotis menjegal langkah Lucia.
Bukan Lucia namanya jika hanya diam saja. Lucia melipat kedua tangannya dengan memasang wajah malas.
"Siapa yang kau maksud? Aku tidak memiliki teman sampah." Lucia maju selangkah seraya menunjuk bahu gadis itu berniat melangkah pergi.
Bruk!!
Punggung Lucia menghantam dinding kampus akibat sentakan kuat dari beberapa gadis kurang kerjaan itu.
"Aww..." Pekik Lucia dengan mata terpejam, karena kepalanya turut membentur dinding. Rasanya pusing sekali hingga orang-orang di depannya terlihat banyak.
"B*tch!!" Maki Lucia pada segerombolan gadis itu yang justru malah tertawa.
"Katakan di mana teman mu itu? Atau aku akan menghabisi nyawa mu juga sebagai gantinya" Ancam gadis itu yang tak lain ialah sahabat Charlotte. Gadis yang meregang nyawa di tangan Evan. Sahabat Charlotte curiga jika Charlotte di bunuh oleh Jasmine.
Mendengar itu, Lucia pun tertawa tepat di depan wajah gadis berkulit eksotis itu, lalu berucap dengan senyum tipis "kau mengancam ku? Kau lucu"
Plak!!
Sebuah tamparan keras mendarat sempurna di wajah Lucia, hingga meninggalkan jejak merah disana. Lucia meringis menahan sakit, namun tak bisa menyentuh wajahnya karena teman-teman gadis itu memegangi tangannya.
"Pengecut!! Lepaskan aku! kita gulat secara adil." Tantang Lucia berang. Bahkan tubuhnya turut berontak hendak menyerang gadis itu.
"Kau!! Beraninya menantang ku..." Gadis itu kembali melayangkan tangannya ingin menyerang Lucia.
"Permisi..."
Serangan itu mendadak berhenti kala mendengar suara halus dari balik punggung Sara_teman Charlotte.
Sara-pun menoleh ke belakang, begitu juga teman-temannya yang lain. Tapi tidak dengan Lucia, gadis itu malah sibuk merenggangkan tangannya yang sakit.
"Apa kalian tau dimana gadis bernama Lucia? Yang ku dengar dia kuliah di kampus ini" tanya seorang pria berkulit putih dengan wajah ramahnya.
Sara dan teman-temannya pun saling pandang, sementara si pemilik nama nampak acuh. Atau lebih tepatnya tidak peduli.
"Disini ada beberapa gadis bernama Lucia..." Kata Sara mencoba mengecoh, padahal di kampus itu hanya ada satu gadis bernama Lucia_yaitu teman Jasmine.
"Benar kah? Tapi Lucia yang ku cari itu sahabat Jasmine." Sahut pria itu lagi yang tak lain ialah Axelo.
__ADS_1
Sementara Jacob nampak sibuk sendiri dengan gadis berambut kecoklatan, bahkan pria itu juga tak segan mencumbunya.
Sara terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah Lucia yang ternyata sudah tidak lagi berada di tempatnya. Karena Lucia sudah pergi sejak awal percakapan itu di mulai.
Semyum lebar terukir di bibir Sara saat itu juga, lalu kembali menoleh ke arah Axelo dengan wajah manisnya, semanis madu.
"Kau datang pada orang yang tepat, akulah Lucia yang kau cari." Kata Sara, dan teman-temannya turut mengiyakan. Hingga berlanjut lah kebohongan itu.
***
Jasmine memberontak ketika tubuhnya di angkat oleh Evan ke atas bahunya.
"Evan turun kan aku!!" Jasmine terus berteriak, namun tak menyurutkan niat Evan untuk menjahili gadis itu.
"Memohon lah dengan benar" kata Evan yang semakin membuat Jasmine bertambah jengkel.
"Tidak mau..." Balas Jasmine.
Sedangkan Brian hanya menonton adegan itu dari atas sofa dengan ekspresi yangg sulit di jelaskan. Satu tangannya menopang kepala, sorot matanya terkunci pada sosok Jasmine dengan rambut yang berantakan dan wajah memerah padam menahan kesal. Yang justru membuat Jasmine semakin terlihat seksi.
Bruk!!
"Aww..." Jasmine meringis ketika bokongnya mendarat dengan kasar di atas sofa. Begitu juga kepala dan punggungnya. Sial!!
"Kau sengaja ingin mematahkan tulang-tulang ku?" Sentak Jasmine tidak terima.
"Kau mau? Baiklah, kita pindah ke kamar..." Evan bangkit dari duduknya hendak membopong tubuh Jasmine lagi.
"Tidak boleh!!" Kata Brian tiba-tiba. Dan tentunya membuat Evan menoleh dengan dahi berkerut.
"Kau tidak setuju?" Tanya Evan, dan Brian hanya mengedikan bahunya.
"Bisa di bilang begitu." Brian beranjak berdiri, memasukan kedua tanganya ke dalam saku celana sambil menatap Evan serius. "Jika kau sampai melukainya, maka aka berhadapan dengan ku."
Evan mencoba mencerna kata kata pria yang berstatus sebagai kakanya, meski hanya terpaut satu tahun, nyatanya Evan tetap menghormati pria itu.
"Heii, kau ini kenapa?" Evan berseru sambil menatap punggung Brian yang mulai menjauh menaiki anak tangga. Tapi, Brian sendiri tak menjawab, menoleh pun tidak.
Sementara Jasmine hanya bisa mengerjapkan kedua matanya bingung, sebenarnya ada apa ini?
Evan mengalihkan pandangannya ke arah Jasmine, menatap lekat wajah bodoh sang kekasih. "Kau tau? ini pertama kalinya dia melarang ku. Bahkan sampai mengancam ku, hanya karena melindungi mu."
"Aku tidak mengerti" Kata Jasmine berterus terang, dan Evan tersenyum tipis melihat raut wajah Jasmine.
Kemudian Evan mendekatkam wajahnya hingga berjarak beberapa centi saja dengan wajah Jasmine, dan mulai mengeluarkan jurus merayunya.
"Kau tidak perlu mengerti, cukup kau tau saja bahwa aku mencintaimu. Sangat."
__ADS_1
Jasmine mendadak bisu, dan kepalanya terasa kosong hingga tidak bisa berpikir waras. Sedang napasnya tersendat dengan jantung yang berdetak tidak berirama.
"A-aku juga mencintaimu..." Balasnya lirih dan gugup.
Mendengar itu, Evanpun merasa seperti mimpi. Apakah telinga tidak salah mendengar?
"Kau yakin dengan ucapamu? Coba katakan sekali lagi." Pinta Evan dengan ekspresi bahagia. Namun berbanding terbalik dengan tanggapan Jasmine, ia amat malu hingga akhirnya memilih menghindar.
"Aku lupa..." Katanya seraya bangkit dari sofa.
"Kau bercanda,,, come on sayang, katakan sekali lagi, aku ingin mendengarnya." Evan menghalangi langkah Jasmine dengan wajah menjengkelkan, senyum lesung pipi khasnya membuat Jasmine lemah.
Jasmine menghela napas panjang sembari melihat kedua tangannya, "baiklah, kau dengarkan baik baik karena aku tidak mau mengulanginya lagi."
Evan mengangguk mantap dan memasang telinga nya baik-baik. Wajah sumringahnya membuat Jasmine ingin tertawa.
Dengan susah payah Jasmine menahan tawanya agar terlihat serius, dan mulai mendekatkan wajahnya.
"Aku tidak ingat..."
Evan tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya, gadis itu sudah berani mengerjai dirinya. Gadis nakal!
Evan pun segera berlari mengejar Jasmine, ia harus memberi hukuman pada gadis itu. Dan otak mesumnya mulai bekerja dengan baik.
Sepertinya kamar di lantai atas tidak terkunci...
Evan menangkap tubuh Jasmine dan menghimpit nya di dinding. "Kau mau kemana sayang?"
Jasmine mencoba mengatur napasnya yang sesak karena lelah berlari, kedua tangannya menahan dada bidang Evan agar tidak menempel.
"Kau harus di hukum sayang"
Cup.
Evan langsung membungkam bibir Jasmine sebelum gadis itu mengeluarkan kata penolakan. Cukup lama adegan itu terjadi, membuat seseorang yang berdiri di tepian pagar lantai dua menatap iri.
Sial! Sedang lapar malah di suguhi pemandangan seperti itu. Brian menggerutu, lalu berbalik badan meninggalkan pemandangan yang menyakitkan mata dan hatinya.
🍁🍁🍁
To be continued...
Evan.
__ADS_1
Brian.