The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 37


__ADS_3

Mobil hitam milik Evan melaju dengan kecepatan sedang, menyatu bersama kendaraan lainnya yang kebetulan tidak terlalu ramai. Cuaca hari ini seperti biasanya, berawan tapi tidak hujan. Di tubuhnya sudah melekat baju hangat pemberian Evan, yang pria itu bawakan dari Tokyo kemarin.


Jasmine tidak pernah menyangka sebelumnya, jika pria menyeramkan seperti Evan bisa bersikap romantis, layaknya kekasih sungguhan.


Entahlah, Jasmine masih belum percaya sepenuhnya dengan ucapan pria itu. Rasanya masih terlalu tabu untuknya. Bayangkan saja? Pria misterius yang menyimpan banyak rahasia dan hobi membunuh, mengajaknya menikah. Lalu bagaimana dengan rumah tangganya nanti.


Jangan sampai hanya karena masakan nya tidak enak, ia akan di sayat. Atau mungkin karena ia tidak pandai Bersih-bersih maka ia yang akan di bersihkan dari muka bumi.


No!


"Untuk mu"


"Hm?" Jasmine tersadar, lalu mengerutkan keningnya dalam.


Evan menoleh sekilas dan mengarahkan dagunya pada dasboard. Disana sudah tergeletak sebuket bunga mawar merah yang masih segar.


"Apa?" Jasmine tidak mengerti maksud Evan.


"Bunga itu untuk mu." Kata Evan sembari memutar setir mobilnya, dengan mata fokus menatap jalanan.


Jasmine pun meraih bunga itu, dan menghirup aromanya dalam-dalam. Lalu meletakkan bunga itu di atas pangkuannya.


"Kenapa kau memberi ku bunga?"


Kini Evan yang mengerutkan dahinya bingung mendengar pertanyaan Jasmine, ia pun menoleh dan menjawabnya. "Bukan kah semua wanita suka bunga? Jadi aku ingin memberikan mu sesuatu yang kau sukai."


"Tapi aku lebih menyukai makanan. Bunga kan tidak bisa di makan." Sahut nya dengan wajah polos.


Gemas, Evan pun tertawa melihat raut wajah Jasmine. Seperti anak kecil yang merajuk karena hadiahnya tidak sesuai.


Dengan senyum tipis dan gelengan kecil, Evan pun berucap. "Baiklah, ayo kita restauran sebentar."


"Tidak bisa, nanti aku lebih terlambat dari ini. Kau tau, harusnya aku sudah sampai sejak tadi. Tapi karena ulahmu yang terus menindih ku, aku jadi kehabisan waktu."


"Kenapa kau diam saja? Harusnya kau bilang padaku kalau kau ada kelas pagi."


Lihat? Evan malah membalikan kata, dan membuat Jasmine mendengus sebal. "Aku sudah mengatakannya, tapi kau tidak dengar!"


"Benar kah?" Evan mengelak "aku hanya mendengar kau menyebut nama ku dengan suara desah...awww" Evan memekik kesakitan karena Jasmine mencubit lengannya.


"Ini sakit sekali sayang"


"Biar saja! Harusnya mulutmu yang aku cakar."  Geram Jasmine.

__ADS_1


"Kau sadis sekali. Apa kau keturunan Mutan yang mengeluarkan pisau di sela-sela jarimu?" Evan menilik lengannya yang terdapat goresan merah disana. Sebenarnya tidak sakit, Evan hanya berpura-pura saja.


"CK, berlebihan. cepat turunkan aku!" Pinta Jasmine saat mobil Evan berada tidak jauh dari kampusnya.


"Di depan saja, aku kasihan dengan sepatu bututmu itu jika di ajak berjalan jauh." Kekehnya sembari menambah kecepatan. Sementara Jasmine mendengus sambil melipat kedua tangannya, dan menatap Evan tajam.


                          🌕🌕🌕


"Dari mana saja?"


Evan menatap seseorang yang baru saja bertanya padanya dengan pandangan datar. "Kau tak perlu tau."


Lucas yang duduk di sofa ruang tengah hanya mengangguk maklum. Sejak kedatangan Evan kembali ke rumah ini Lucas menyadari sesuatu.


Bahwa Evan tidak pernah berubah. Tetap dingin, tak berperasaan, tetapi masih tetap jenius dan kuat.


Kalau boleh jujur, sejak mengenal Evan sedari kecil ia sudah kagum dengan laki-laki itu. Untuk standar anak seorang Benjamin Leandro Matias Evan termasuk sempurna.


Paras menawan? Jangan di tanya. Sudah berapa banyak wanita muda yang mati karena tertipu oleh hal itu.


Ketrampilan dalam membunuh? Benjamin saja mengakui bagaimana Evan adalah anak yang membanggakan.


Lucas sendiri paling kagum dengan cara Evan melempar pisau-nya yang selalu tepat sasaran tak pernah meleset.


"Jangan terlalu dingin padaku." Protes Lucas sambil menyesap minuman di tangannya.


Lucas sendiri terkejut sesaat ketika melihat pisau yang melayang ke arahnya dan menancap di sofa tepat di dekat kepalanya.


"Ya Tuhan, ka mengejutkan ku. Bagaimana kalau pisau ini malah menancap di kepalaku?" Lucas mencabut pisau itu dan menimang-nimangnya.


"Itu bukan urusan ku!"


Lucas mendengus, "jadi ini caramu bercanda hmm?"


Evan mengabaikan ucapan Lucas, ia melirik jam dinding yang menunjukan pukul delapan pagi, ia harus segera bersiap untuk pergi setengah jam lagi.


"Dimana yang lain ya?" Lucas meremas kaleng minumannya hingga tak berbentuk. Dan Evan hanya diam sebagai jawaban bahwa ia tidak tau.


"Big bro, boleh aku bertanya padamu?"


Evan yang sedang memakai jas tanpa kancing pun menoleh sambil mengerutkan dahi. "Apa?"


"Kapan kau akan mengajariku bermain pisau agar hebat seperti mu."

__ADS_1


Sebelum menjawab pertanyaan Lucas Evan melirik jam dinding, lalu berucap datar. "Aku ada urusan."


Lucas merengut "lain waktu kau biasakan?"


Evan mematut dirinya di depan cermin, melihat apakah jas hitam itu sudah sesuai dengannya. "Aku tidak tau."


"Ayolah"


"Lihat nanti saja" kemudian Evan meraih ponselnya yang tiba-tiba saja berbunyi.


Pesan dari Jonathan, sepertinya ia harus segera bergegas.


"Baiklah, jika kau sudah memiliki waktu luang ajari aku ya. Aku tunggu sampai kau mau mengajariku."


Evan tak menjawab, pria itu berjalan ke arah pantry dan meminum segelas air putih sebelum benar-benar pergi dari sana.


Lucas terus menatap punggung Evan yang perlahan bergerak menjauh. Ia tidak terlalu dekat dengan penghuni lain di rumah ini, hanya Evan yang mau berbicara dengannya walau sedikit.


Lucas menghembuskan nafasnya ketika Evan menghilang di balik pintu, lalu keadaan kembali sunyi membuat Lucas merasa bosan.


Di dalam kepalanya bertanya-tanya, sebenarnya apa yang Evan kerjakan sampai sesibuk itu. Sampai ia tak pernah melihat Evan untuk sekedar buang air besar, lalu kemana makanan yang selama ini masuk ke dalam perut pria itu?


Ah entahlah, masa bodoh.


Lucas pun bangkit dari sofa dan memilih pergi dari sana, lebih baik ia tidur atau latihan melempar pisau sendiri di taman belakang.


🌕🌕🌕


Evan memarkirkan mobilnya begitu sampai di area parkir perusahaan Matias. Mata nya mengawasi keadaan sekitar, di sana terdapat beberapa mobil asing berwarna hitam yang berjajar rapih. Sangat tidak cocok dengan keadaan gedung yang putih bersih.


Firasat Evan mengatakan ada sesuatu yang sedang di rencanakan oleh Benjamin, dan itu membuat Evan waspada.


Sepatu boot hitam milik Evan menapak sempurna di bawah, dan tangannya menutup pintu mobil itu dengan sedikit hentakan.


Evan berjalan menuju lift dengan terus mengamati keadaan sekitar, mengantisipasi kemungkinan jika ada sesuatu yang tidak pernah di duganya. Dan, begitu tiba di depan lift, benda itu terbuka dengan menampilkan sosok pria menyebalkan dengan senyum smirk yang membuat Evan jengah.


🍁🍁🍁


To be continued...


Evan


__ADS_1


Lucas



__ADS_2