The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 43


__ADS_3

Jasmine mendesah pelan, ia berguling di atas tempat tidurnya yang empuk. Rasanya sama saja ia pulang ke New York atau tidak, tetap saja ia di rumah sendirian. Ayahnya belum pulang bekerja karena memang belum waktunya jam pulang. Sementara Jasmine tidak ada kegiatan apa apa di rumah, ia jadi bosan.


Padahal ia sudah bertemu dan bercerita banyak hal seharian dengan pria itu. Tapi, rasanya masih amat rindu.


Akhirnya Jasmine memutuskan untuk keluar dari kamar, dan pergi ke minimarket. Jasmine memakai jaketnya yang berwarna hijau tua dan mengikat rambutnya asal.


Keadaan di sekitar rumahnya sangat sepi, mungkin karena sudah malam. Meskipun di jalan besar masih terdengar deru kendaraan, dimana keadaan masih ramai seperti biasanya. Tapi, tidak ada pejalan kaki yang ia temui.


Jasmine menghembuskan nafas ketika memasuki minimarket, ia segera berjalan menuju rak yang terpajang berbagai jenis ramen. Jasmine mengambil du buah dan bergerak ke rak lain, mengambil camilan yang biasanya selalu ia makan saat pulang ke sini, seperti keripik, biskuit, coklat kacang dan roti isi keju.


"Hei, sejak kapan kau pulang?" Jasmine menoleh, mendapati Josephine yang menepuk bahunya dengan tatapan antusias seraya tersenyum lebar.


"Jossy" Jasmine berjalan mendekati perempuan itu dan memeluknya.


Mereka adalah teman satu sekolah dulu, sangat dekat. Hingga beberapa orang mengira mereka adalah kembar. Meskipun akhirnya Jasmine yang memilih meneruskan pendidikannya di luar negri, dan harus berpisah dengan Jossy yang meneruskan pendidikannya masih di New York. Dia memilih jurusan hukum yang membuat Jasmine mengerutkan dahi.


Menurutnya, Jossy lebih pantas menjadi seorang instruktur yoga profesional, karena tubuhnya yang begitu bagus.


"Kau semakin gemuk tau" Jossy mencubit pipi Jasmine yang semakin bulat dari terakhir mereka bertemu.


"Lalu kenapa kau semakin kurus? Seingat ku kau agak gemuk dulu" tanya balik Jasmine.


"Hukum benar-benar membuatku stress!! selama ini aku sudah meremehkan ayah ku."


Jasmine hanya tertawa mendengar keluhan sahabatnya, sambil membawa barang belanjaan-nya ke kasir untuk membayarnya.


"Ku kira kau baik baik saja selama disini."


Jossy menggelengkan kepala "memang banyak pria tampan disini, tapi mereka kebanyakan bersikap kaku. Aku jadi kikuk di buatnya."


Jossy menghampiri rak berisi minuman yang tersusun, dan mengambil jus jeruk asam dari sana. "Bagaimana denganmu? Apakah psikologi membuatmu jadi gila?"


"Kadang-kadang" sahut Jasmine.


"Lalu bagaimana dengan mahasiswa-nya? Apakah tampan-tampan." Jossy menarik Jasmine keluar minimarket, mengajaknya duduk di sebuah kursi yang terlindung payung besar di sana.


Mendengar kata tampan, entah mengapa ia jadi ingat dengan Evan.


Perasaan khawatir segera menghinggapi-nya, apakah laki laki itu sekarang sudah pulang, dan mengetahui bahwa dirinya sudah tidak ada? Apa dia marah?


Jujur, Jasmine takut kejadian saat ia gagal melarikan diri terulang kembali. Bekas sayatan di tangannya yang masih belum kembali ke semula, cukup menyakitinya. Ia tidak ingin di siksa lagi. Tidak, terimakasih.


"Ya, begitulah" Jasmine mengambil satu bungkus keripik dan membukanya, lalu menawarkan makanan itu pada Joosy yang langsung di sambut senang.


"Kau tidak banyak berubah Jasmine, tetap skeptis terhadap laki laki. Biar ku beri tau jika mereka adalah anugrah terindah yang Tuhan ciptakan pada kaum kita."

__ADS_1


Jasmine terkekeh geli, Josephine juga tidak banyak berubah. Hanya rambutnya saja yang berubah menjadi coklat dan tubuhnya semakin bagus, perangainya juga tetap sama.


"Entahlah, mereka kadang-kadang membuat ku muak."


Jossy memicingkan matanya curiga, "kau sudah punya pacar ya? Ekspresimu tadi seperti seseorang yang sedang di sakiti pacarnya."


Oh ya, tebakan Jossy tepat sasaran. Jasmine tidak hanya di sakiti secara fisik, tapi juga di sakiti secara mental.


Lama lama ia malah menjadi pasien rumah sakit jiwa, bukan seorang psikolog. Kan tidak lucu.


"Tidak juga" Jasmine berucap kemudian.


"Tapi, apakah benar kau sudah punya pacar?" Jossy meminum minumannya sambil mengangkat satu alisnya ke atas menggoda Jasmine.


"Entahlah." Jasmine juga tidak mengerti apa hubungannya dengan Evan. Kekasih? Ia rasa tidak, karena hubungan antara kekasih itu saling menghargai.


Dulu sekali Evan pernah menyebut akan menjadikan dirinya sebagai mangsa, tapi rasanya itu terlalu kasar jika melihat perilaku Evan yang sering bertindak manis.


Psikopat dan tawanannya. Ia rasa itu yang pas.


"Apa dia tampan?" Jossy membuyarkan lamunan Jasmine.


Dan, Jasmine mendengus. "Kau suka pria tampan ya?"


"Tentu saja, apalagi Hero Fiennes Tiffin pujaan ku." Jossy memeluk botol minumannya seolah sedang memeluk idolanya itu.


Mendengar sepupunya di sebut,  membuat Jossy memutar bola matanya malas. "Jangan di tanya. Dia semakin sombong dan meremehkan ku. Menyebalkan."


"Benarkah?"


"Yeah, katanya aku tidak berbakat menjadi seorang mahasiswi hukum. Dan kemampuan ku bahkan tidak berbanding dengan ujung kukunya. Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa bersikap seperti itu. Oke aku akui dia memang pintar, tapi perangainya nol besar. Kau sih, kenapa memilih kuliah ke luar negri, padahal kan saingan dia satu saatunya cuma kau Jessy."


Jasmine menopang dagunya. Memang benar, ia sering bersaing dalam bidang akademik dengan sepupu Jossy saat sekolah dulu. Tapi ia bersyukur, karena otaknya tidak menguasai dirinya dan menjadi tinggi hati.


Jasmine ingat apa yang di katakan ayahnya dulu saat ia kalah dalam nilai ujian dan sepupu Jossy meremehkannya.


Sehebat apapun dirimu, jika sampai merendahkan orang lain, maka derajat mu lebih rendah dari tanah.


Ayahnya juga berkata bahwa ia harus berjanji pada diri sendiri di saat terpuruk dan sedih seperti itu. Karena biasanya akan kita ingat dan kita tepati. Ketimbang di saat kita sedang senang.


"Aku heran, mengapa dia berbeda sekali dengan mu."


Mendengar ucapan Jasmine, Jossy pun lagi lagi mendengus. " Aku saja tidak sudi masih satu keluarga dengan nya."


Jasmine tertawa, "akupun begitu kalau jadi kau."

__ADS_1


"Omong-omong kau sedang cuti, atau sekedar liburan disini?" Jossy bertanya sambil menyomot kripik kentang milik Jasmine yang hampir habis.


"Hanya liburan. Banyak masalah disana dan aku ingin menenangkan diri." Ucap Jasmine sambil melirik tangannya yang tertutup lengan jaket yang panjang.


"Masalah? Kuliah mu macet?" Jossy bertanya.


"Tidak, bukan begitu. Hanya saja aku merasa butuh waktu untuk beristirahat lebih. Tugas, bolak balik tempat tinggal dengan kampus yang menonton membuat ku jenuh."


"Oh, heii. Sudah jam berapa ini" Jossy memandang alrojinya, dan membulatakan matanya "sudah jam sepuluh! Mengapa kau tidak memberi tahuku?" Jossy berseru panik seraya bangkit dari kursinya.


Jasmine menaikan alisnya, "ada apa?"


"Aku ada kencan buta." Sahut Josephine.


"Malam-malam begini?"


"Sebenarnya ini bukan kencan buta, tapi pertemuan antara dua keluarga. Aku jodohkan." Kata Jossy.


Jasmine ingin tertawa tapi mati matian ia tahan, "serius?"


Jossy mengedikan bahunya, "untung saja, laki laki yang di jodohkan dengan ku itu tampan dan mapan, seperti Hero-ku."


Jossy membenarkan letak tas selempang-nya, "ku harap masih banyak waktu untuk berbicara dengan mu."


Jasmine ikut berdiri, "kau bisa datang besok ke merumahku."


"Benarkah? Jangan pulang dulu ya."


"Tentu." Sahut Jasmine cepat.


Jossy memeluk Jasmine beberapa saat lalu melepaskan nya kembali, "aku pergi dulu ya, sampai ketemu nanti." Jossy berjalan menjauh sambil melambaikan tangan nya.


Jasmine melakukan hal yang sama, senyuman lebar tercetak di wajah cantiknya. Bertemu teman lama memang selalu menyenangkan.


Jasmine pun mulai melangkahkan kakinya meninggalkan minimarket tersebut, dan berjalan santai menuju rumah sambil menikmati hembusan angin malam yang menenangkan.


Namun, perasaannya sedikit tidak tenang. Keadaan sekitar yang nampak sepi membuat Jasmine bergidik ngeri, ia jadi ingat saat awal bertemu Evan dulu, sama persis dengan keadaan saat ini.


Ah, tapi tidak mungkin kan jika Evan tiba-tiba datang ke negaranya dan berada di sini saat ini.


Dan, benar saja. Perasaannya semakin tidak karuan saat melihat sosok berpakaian serba hitam sedang berdiri di bawah lampu penerangan jalan, seolah sedang mengawasinya.


Jasmine mengatur detak jantungnya yang berdegup kencang. Berharap sosok itu hanyalah pejalan kaki biasa yang sama seperti dirinya.


Namun ternyata dugaannya salah, laki-laki itu berjalan mendekat kearahnya. Dan mulai menampakkan wajahnya.

__ADS_1


🍁🍁🍁


To be continued...


__ADS_2