
Joe tersenyum senang begitu memasuki ruangan dengan lampu yang berwarna warni, dan musik yang memekakkan telinga. Di tambah wanitanya yang cantik dan seksi dengan pakaian yang membuat mata iritasi.
Dari tempatnya berdiri terdengar suara disc jockey menggema bersahutan dengan musik, menyemangati para manusia yang sedang meliuk-meliukan tubuhnya di lantai dansa.
Dan Joe pun mulai mengedarkan pandangan matanya mencari wanita, sembari mendudukkan dirinya di bar stole. Sejenak Joe menyesap minuman yang baru saja di pesannya.
"Hai, apa kami boleh bergabung?"
Tiba-tiba saja dua wanita datang menghampiri-nya, Joe pun tersenyum menyambut dua wanita cantik itu.
"Tentu..." sahut Joe dengan gaya sok cool.
"Kau sendiri? Atau sedang menunggu seseorang?" Tanya salah satu wanita.
"Aku sedang menunggu kalian." Jawab Joe dengan senyum menawan nya. Dan, tanpa aba aba mereka langsung meraba dada bidang Joe, sedang wanita yang satu naik kepangkuannya membuat kejantanan Joe bangkit dari persembunyian karena bersentuhan dengan bokong wanita itu.
Come on junior tunjukan bakatmu...
Joe meraup bibir wanita yang duduk di pangkuannya, dengan tangannya yang meremas bokong teman wanita itu.
"Kalian ingin main bersama?" Tawar Joe.
Dua wanita itu saling pandang lalu tertawa, "tidak masalah, selagi kau mampu memuaskan kami." Jawab si rambut hitam.
"Kau tidak boleh menyudahi permainan sebelum kami memintanya." Ujar si pirang dengan senyum meremeh.
Joe mengusap kepalanya yang setengah botak, dengan seringai kecil. "aku pastikan kalian tidak akan bisa berdiri setelah junior ku berulah di dalam sana."
Dua wanita itu kembali tertawa, dan yang satu bangkit dari pangkuan Joe. "Mudah untuk mu berbicara, tapi kebanyakan menyerah di akhir hanya dengan satu wanita saja."
"Lebih baik kita cari tau sekarang." Joe tersenyum lebar, dan menarik dua wanita itu untuk ke lantai dua. Dimana tersedia kamar untuk di sewakan bagi mereka yang ingin bercinta, atau sekedar having ***.
🌕🌕🌕
Hari ini seperti biasa, Jasmine akan terbangun dengan perasaan hampa. Biasanya ia akan terbangun dengan lengan kekar yang melingkari tubuhnya, atau nafas teratur yang terasa menerpa kulit lehernya. Bukan Evan yang ia lihat ketika membuka mata, tapi justru sinar mentari yang menyambutnya melalui celah gorden kamarnya.
Sebenarnya hari ini Jasmine ada kelas pagi, tapi jujur saja rasanya malas sekali untuk bangun. Meski ia tidak sendirian pergi ke kampus, karena saudara Evan pasti akan mengantarkannya. Tapi, Jasmine sudah terlampau terbiasa bersama Evan, dan melakukan kegiatan apapun bersama-sama.
Jasmine sudah mencoba menanyakan tentang Evan pada Brian dan Petter, tapi mereka menjawab tidak tau. Karena jika Evan sudah terikat dengan Ben, dia akan sulit untuk di ganggu, di sampingnya selalu ada anjeng penjaga yang mengawasinya.
__ADS_1
Jasmine membuang ego dan harga dirinya jauh-jauh untuk sekedar menyadari bahwa kini ia terikat dengan seorang psikopat tampan bernama Evan. Kepalanya sendiri bertanya-tanya kenapa hal itu bisa terjadi, padahal sikap Evan selalu berubah-ubah. Kadang pria itu marah-marah sampai berbuat kasar, lalu berubah sikap menjadi lembut dan manja dalam waktu yang bersamaan.
Mungkin juga karena ada perasaan nyaman dan terlindungi yang selalu ia rasakan bila bersama Evan yang saat ini jauh darinya.
Jasmine menghela napas lelah, enggan untuk terjaga. Karena jujur saja ia bosan dengan terbangun tanpa Evan di sampingnya.
Entah karena terlampau rindu, atau karena sudah terbiasa dengan kehadiran Evan.
Dan begitu Jasmine membuka mata, yang pertama di lihatnya adalah Evan. Sosok pria yang selama ini ia rindukan. Tapi Jasmine menganggap itu hanya mimpi.
Sejenak Jasmine menghirup aroma tubuh Evan yang khas dengan tersenyum mengembang.
"Kau begitu nyata, bahkan bau mu juga sama." Jasmine membelai pipi Evan dengan lembut.
Dan Evan susah payah menahan tawanya melihat tingkah Jasmine. Ia masih berpura-pura tertidur, membiarkan wanita itu melakukan apapun pada wajah dan tubuhnya.
"Ahh, rasanya aku malas sekali bangun." Jasmine menghela napas pelan, dan menyatukan keningnya dengan Evan. "Kau tau, aku sangat merindukanmu"
Jasmine tidak menyadari bahwa kehadiran Evan yang memang nyata, bukan mimpi. Hingga akhirnya Evan bersuara, karena sudah tidak tahan lagi menahan tawanya.
"Hei, Nona blushing. Bangunlah, aku sudah kembali." Evan berucap sambil mengecup bibir Jasmine sekilas bersamaan dengan matanya yang terbuka, menampilkan manik tajam nan menusuk itu.
"Ini sungguh kau?"
"Aaww," Evan memekik kesakitan, karena Jasmine mencubit pipinya keras. "Tangan mu kecil, tapi cubitan mu sakit sekali. Ini kekerasan dalam rumah tangga namanya."
Jasmine melongo mendengar ucapan Evan, rumah tangga embah mu! Menikah saja belum.
"Jadi sejak tadi kau disini? Dan sengaja membiarkan aku menyentuh wajahmu?" Jasmine mendengus.
"Harusnya aku memukul mu dengan stik baseball saja tadi, biar otakmu sedikit waras."
"Dan, harusnya aku membiarkan mu sampai mencium ku, atau bahkan lebih itu." Evan terkekeh geli melihat raut kesal Jasmine.
Jasmine mendengus dengan wajah yang menggemaskan, dan Evan semakin senang menggodanya seraya berucap.
"kau tau, sejak semalam kau tak lepas memelukku, sampai tulang-tulang ku terasa remuk." Dusta. Padahal Evan baru tiba dini hari dan tak lama kemudian Jasmine membuka mata.
Jasmine berdesis mendengar ucapan Evan, di tambah melihat pria itu menggerak-gerakkan tubuhnya seolah kesakitan. Rasanya Jasmine ingin menjambak rambut Evan kuat kuat.
Bohong sekali. Mana mungkin ia meremukkan tubuh kekar Evan yang keras seperti batu pondasi itu.
__ADS_1
"Kau salah orang jika ingin membuat drama. Ini bukan sinetron."
Evan tertawa, sampai menutup wajahnya dengan tangan karena saking gelinya "Darimana kau tau sinetron?"
Jasmine diam mencoba mengingat.
"Apa kau mencari tau tentang ku? sampai tau tentang sinetron?" ledeknya.
Jasmine malu, dan memilih bangkit dari sana sebelum Evan membuatnya bertambah malu. Namun sayang, saat dirinya baru saja menurun kan satu kaki, tubuhnya justru kembali terhempas ke atas tempat tidur karena Evan menarik lengannya.
"Kau mau kemana hem?" Evan bertanya setelah mengurung Jasmine di bawah Kungkungan lengan kekarnya.
Jasmine membeku nyaris kehilangan kesadaran, berdua dengan Evan dengan posisi seperti itu jujur saja membuat Jasmine lemah. Karena ia tau kemana arah selanjutnya setelah ini.
"M-minggir, j-jangan seperti ini Evan. A-aku tidak bisa bergerak."
"Sengaja..." Evan berucap dengan kerlingan nakal. Buru-buru Jasmine mengalihkan pandangannya ke samping sebelum Evan melihat wajahnya yang mungkin memerah seperti pantat bayi.
"Don't put on a face like that dear, I can eat you right now. " Evan mengeluarkan jurus andalannya. Lalu mengecupi wajah Jasmine hingga berulangkali.
"EVAN!!!"
"YESS dear, say my name..." Evan tergelak dan kini berganti menggelitik perut Jasmine hingga wanita itu berguling-guling tidak jelas.
"Aku menyerah, tolong hentikan Evan, perutku sakit sekali." Jasmine memohon.
Evan pun menghentikan perbuatannya itu dan membaringkan tubuhnya di samping Jasmine dengan nafas yang saling memburu.
Lalu menoleh kesamping dan kembali mengungkung Jasmine di bawah tubuhnya.
"Aku mencintaimu, menikahlah dengan ku."
🍁🍁🍁
Maaf lama aku agak susah balikin mood beda gendre 😂😂
Sebenarnya udah jadi kemarin, tapi apus lagi, kurang sreg.
I'm so sorry babe.😌
__ADS_1