The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 57


__ADS_3

Setelah pengakuan palsunya sebagai Lucia, Sara pun di bawa oleh Axelo dan Jacob ke tempat terpencil. Bukan tidak tau atau bodoh, tapi diam diam Jacob dan Axelo sudah menyuruh Aron untuk menculik Lucia yang asli dan di bawa ke tempat yang berbeda.


Sementara dua pria kurang kerjaan itu ingin bermain-main sebentar dengan Sara. Buka tanpa sebab, mereka berdua melakukan itu karena kesal pada Sara yang berbohong dan juga menyakiti calon korbannya.


Bagi Axelo, tidak ada yang boleh menyentuh calon korbannya. Apalagi sampai menyakiti. Tidak boleh!!


Axelo mengamati gadis yang mengaku Lucia itu dari balik kaca spionnya, dan dalam sekejap berbagai macam penyiksaan sudah tersusun di kepalanya.


"Aku tau isi kepala mu" ujar Jacob dengan senyum tipis.


Axelo hanya membalas dengan senyum smirk andalannya, dan langsung menambah kecepatan laju mobilnya menembus jalanan yang cukup sepi.


Sedangkan Sara sendiri sama sekali tak pernah tau apa yang akan terjadi dengan dirinya nanti, gadis itu terlalu bodoh untuk berpikir ke arah sana. Di otak secuilnya hanya terlintas bersenang-senang dengan dua pria tampan itu saja.


"Kau asli penduduk sini?" Tanya Jacob memecah keheningan, karena Sara berpura-pura bersikap manis dan anggun.


"Yeah, sedari kecil aku tinggal disini." Katanya dengan nada manja. Sungguh, Jacob dan Axelo geli mendengarnya.


Memang mereka berdua akui, jika Sara cukup cantik dan menarik. Tapi sifat dan perilakunya sungguh buruk.


"Kau bersahabat dengan Jasmine sudah berapa lama?" Kini Axelo yang bertanya.


"Hemm, kami berteman saat awal masuk kampus. Karena kebetulan kami mengambil jurusan yang sama." Katanya berdusta. Tidak lupa di bumbuhi senyum manis untuk meyakinkan.


Dua pria tampan itu hanya menganggukkan kepala, percaya saja dengan ucapan Sara.


Dan keheningan pun kembali menyelimuti suasana di dalam mobil itu. Jacob dan Axelo memilih menatap ke arah jalanan dengan pikiran masing-masing. Berbeda dengan Sara yang terus saja mencuri pandang pada Jacob.


Kenapa mereka berdua mencari Lucia? Memang apa yang di miliki oleh Lucia si gadis bermata empat itu. Menyebalkan!! Gerutu Sara dalam hati.


Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam itu, kini mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti tepat di depan bangunan tua yang masih berdiri kokoh, nampak biasa namun elegan.


"Tempat apa ini?" Tanya Sara setelah mobil berhenti sempurna di pelataran bangunan itu.


"Ini tempat kami bersenang-senang setelah bekerja seharian, untuk sekedar menghilangkan penat." Jacob menyahut, kemudian keluar dari dalam mobil di susul Axelo yang juga turun dari benda itu.


Sara pun turun, kemudian mengikuti Axelo dan Jacob memasuki bangunan megah itu dari belakang tanpa rasa curiga sedikitpun.


***


Evan tak berhentinya mengecup bibir lembut Jasmine, hingga akhirnya gadis itu mendorong dada Evan karena nyaris kehabisan napas.

__ADS_1


"Kau ingin membunuh ku?"


Evan tertawa pelan mendengar pertanyaan Jasmine. Mana mungkin ia membunuh gadis yang sangat di cintainya. Suatu kebodohan.


"Itu tidak akan pernah terjadi sayang, kecuali kau melarikan diri dariku." Katanya sambil menyatukan keningnya dengan kening Jasmine.


"Dan aku akan berpikir ribuan kali untuk pergi dari mu." Kata Jasmine membalas, dan itu mampu membuat Evan berbunga-bunga seperti rentenir.


"I love you" ucap Evan lirih, dengan nafas yang masih sama-sama memburu karena kegiatan laknat tadi.


Dan Jasmine semakin gugup saat Evan mengusap bibirnya dengan ibu jari pria itu.  Sementara Evan tersenyum melihat benda kenyal itu sedikit membengkak karena ulahnya yang terlalu bersemangat mencumbu.


"Aku harus pergi sekarang, kau jaga diri baik-baik, terlebih dengan predator satu itu." Kata Evan mewanti-wanti, seraya melirik ke arah lanti dua dimana kamar Brian berada.


"Siapa yang kau sebut predator?" Brian bertanya sembari menuruni anak tangga, ia merasa tersindir dengan ucapan sang adik yang mengarah padanya.


"Siapa lagi selain pemilik bangunan ini" kata Evan santai sengaja memancing amarah sang Kaka.


"Jadi kau mesti berhati-hati menitipkan kekasihmu itu pada ku. Benar bukan?" Kata Brian.


"Sial!!! Aku sedang tidak ingin membunuh, jangan menggoda ku." Kata Evan.


"Heiii, kalian ini kenapa sih? Kalau begitu biar aku saja yang pergi."


"Baiklah, aku tidak akan pergi. Tapi dengan satu syarat..."


"Apa?" Lagi, mereka berdua bertanya bersamaan.


"Aku tidak ingin melihat kalian berdua berdebat lagi." Kata Jasmine.


Brian dan Evan saling pandang. Evan sendiri menatap malas, sedang Brian hanya tertawa.


"Mari berdamai brother, atau wanitamu akan pergi" Brian mengejek seperti biasa dengan raut konyol yang menjengkelkan bagi Evan.


"Sungguh menggelikan!!" Evan berbalik dari hadapan Brian dan berjalan ke arah Jasmine.


"C'mon brother, aku menyayangimu..." Ucap Brian dengan nada manja yang sungguh membuat Jasmine ingin tak kuasa menahan tawanya.


"Sekali lagi kau berkata seperti itu, maka aku akan merobek mulutmu!!" Evan mengancam tak sungguh-sungguh, meski ia kesal setengah mati dengan sikap Brian yang sering kali memancing emosinya. Tapi hanya Brian sang Kaka yang ia percaya, dan ia miliki selain Ben si iblis Tua.


"Aku pergi dulu sayang, ingat kata kata ku..." Evan mengecup kening Jasmine sekilas dan berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


"Heii!! Kau tidak berpamitan padaku? Kau belum mencium kening ku" Brian berseru dengan gelak tawa menggoda Evan. Dan Evan hanya membalas dengan lambaian pisau di tangannya tanpa menoleh.


Meski mereka berdua sering terlihat berdebat, nyatanya dua pria yang sama memiliki sisi gelap itu saling menyayangi.


"Apa dia selalu bersikap begitu?" Jasmine bertanya pada Brian setelah Evan benar-benar hilang dari pandangan-nya.


"Hum."


"Kenapa dia bersikap begitu padamu? Bukankah kalian bersaudara?" Jasmine menatap Brian intens menanti jawaban.


"Apa dia pernah menangis di depan mu?" Brian balik bertanya sembari berbalik badan mendudukkan dirinya di bar stole.


"Yeah..."


"Seharusnya kau tau sebabnya" kata Brian lagi berteka teki membuat Jasmine bertambah bingung. Karena yang Jasmine tau, Ben si setan tualah yang Evan benci bukan Brian.


"Jangan membuat ku bertambah bingung Brey" Jasmine melangkahkan kakinya mendekati Brian, berdiri di depan pria tampan itu yang sedang menyesap minumannya.


"Kau yakin ingin mendengarnya?" Brian menaikan kedua alisnya menilik ekspresi Jasmine yang terlihat penasaran.


Jasmine pun mengangguk mantap.


"Baiklah, akan aku ceritakan sedikit padamu." Brian meletakan gelas yang di pegangnya ke atas meja, lalu menepuk kursi yang kosong di sampingnya untuk Jasmine duduki.


"Darimana aku harus memulai?" Brian bertanya pada Jasmine bagian mana yang ingin gadis itu tau, agar ia tidak perlu menceritakan kejadian yang tidak seharusnya Jasmine dengar.


"Apa yang membuat Evan bersikap acuh dan seolah benci padamu? Padahal kau bersikap baik padanya..." Tanyanya.


Brian mengangguk paham, ia sedikit lega karena Jasmine tidak bertanya hal yang rumit.


"Aku sudah mengecewakan Evan, karena aku tidak bisa berbuat apa apa saat Ben merencanakan untuk menghabisi ibu ku." Brian berucap lirih dengan nada yang terdengar cukup pilu, meskipun pria itu mencoba menutupinya dengan senyum tipis.


"Kau membiarkannya? Padahal kau tau?" Jasmine terkejut dengan pengakuan Brian. Dan pria itu mengangguk, membenarkan pertanyaan Jasmine sebagai jawaban.


"Bagaimana bisa? Apa kau sama jahatnya seperti setan tua itu?" Jasmine geram, sampai ia turut memanggil calon ayah mertuanya dengan sebutan setan tua.


Brian tertawa mendengarnya.


"Setan tua katamu?"


🍁🍁🍁

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2