The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
BONCHAP 1


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Sore itu keluarga Matias di buat repot, pasalnya beberapa jam lagi prosesi pernikahan akan segera di mulai,Β  namun mempelai prianya tak kunjung terlihat.Β 


Para pasukan pun di kerahkan untuk mencari keberadaan Evan, termasuk Brian. Pria yang paling di takuti setelah kepergian papa Ben, yang kini menjabat sebagai pemimpin organisasi dan perusahaan besar Matias di Valencia.


Brian mengedarkan pandangannya mencari anak Ben yang lain. Begitu terlihat, pria berjas hitam itu segera menghampiri Petter, Luke, Daren dan juga Lionel yang sedang berbicara di satu meja.


"dimana Evan?" Tanya Brian. Wajahnya sedikit kesal.


Mereka berempat menaikkan sebelah alisnya serempak, lalu mengangkat bahunya sebagai jawaban.


"Dasar bocah itu, selalu merepotkan" Gerutunya sambil berkacak pinggang. Tapi yang lain malah terkesan santai.


Luke menyesap sedikit minumannya, sambil menatap Brian ia pun berucap. "Kau sudah mencari di tempat wanitanya?"


Brian menoleh "dia tidak ada di ruangan Jasmine."


"Lalu dimana?" Timpal Petter.


"Jika aku tau, tidak mungkin aku bertanya..." Kesal Brian lagi.


Merasa tidak mendapat jawaban, Brian pun berbalik badan untuk mencari di tempat lain.


"Aku rasa dia sedang berada di toilet"


Brian menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Ternyata suara tersebut berasal dari Lionel, pria yang jarang sekali berbicara.


"Apa menurut mu dia sudi berada di tempat itu lama-lama?" Tanya Brian.


Lionel mengangkat bahunya, "Mungkin saja, karena iblis kecil itu sebentar lagi akan mengikat janji dengan gadis yang di cintainya, dan dia merasa gugup lalu bersembunyi disana."


"Gugup katamu? Bukankah ini yang dinginkan Evan? Bahkan semua dekorasi dan keperluan lainya dia yang mengurusnya."


Lionel menatap Brian dengan seulas senyum tipis "Kau lupa kita jenis makhluk seperti apa?"


Benar. Mereka bukan pria normal pada umumnya. Setelah berpikir sejenak atas penjelasan Lionel yang di rasa masuk akal, Brian pun pergi berlalu dari sana.


"Thanks dude..." Brian mengangkat tangannya tanpa melihat ke arah Lionel.


"Ughh, Kaka yang baik..." Seloroh Luke menggoda.


"Jangan menggodanya jika kau masih ingin melihat gadis cantik tanpa busana di ranjang mu." Balas Petter sambil memainkan benda pipih di tangannya.

__ADS_1


"Brian tidak seperti itu, jika Evan mungkin aku percaya, Luke akan tamat dengan tubuh terpisah." Timpal Daren dengan wajah serius.


"Jangan menakutiku... aku belum mendapatkan gadis seperti Jessy, yang cantik dan konyol" Luke kembali berceloteh membuat mereka yang ada disana tertawa mendengarnya.


"excuse me..."


Suara lembut menelusup ke dalam indra pendengaran ke empat pria tampan itu. Mereka pun menghentikan tawa, dan menoleh ke arah sumber suara bersamaan. Tiga di antaranya memasang wajah biasa saja, Namun berbeda dengan Luke.


Pria itu seperti terhipnotis dengan kehadiran gadis berambut ikal yang di Cepol asal, berdiri tepat di sampingnya.


"Ada apa Nona?" Tanya Petter pada akhirnya, karena yang lain hanya diam saja.


"Apa kalian tau dimana tempat Jessy? aku sudah bertanya pada orang-orang yang ada disini tidak ada yang tau." Kata Lucia dengan wajah putus asa.


"Jessy?" Petter menatap ketiga saudaranya bingung, dan mereka hanya mengangkat bahu.


"Iya Jessy, dia mempelai wanita disini." Kata Luci lagi.


"Maksudmu Jasmine... Benar?" Luke menyela, menuntaskan kebingungan ketiga saudaranya. Luke tau Jessy adalah panggilan singkat dari Jasmine.


"Hum, kau benar. Kau tau dimana Jasmine?" Tanya Luci lagi.


"Yeah aku tau." Luke menilik penampilan Luci dari atas hingga bawah, "Ternyata kau jauh lebih cantik dari pada kemarin, gadis malang."


Petter memukul kepala belakang Luke, "kenapa kau berbicara seperti itu, dasar bodoh!!" lirihnya.


Sedang Luke yang paham dengan kesalahannya lantas berdehem, "ehem... Kau mau menemui Jasmine bukan? Mari ku antar."


"Sungguh?" Luci memasang wajah sumringah.


"Tentu saja, apa wajah tampanku ini kurang meyakinkan mu?" Ucap Luke seraya mendekatkan wajahnya ke arah Lucia.


Lucia kehilangan nafasnya sejenak karena ulah Luke, buru buru ia mengalihkan degub jantungnya yang berantakan sebelum liur nya yang mengambil alih.


"hemm... Tampan? Menurutku ku, kau lebih mirip dengan.... Frankenstein" Selorohnya asal dan mengundang gelak tawa ketiga pria itu.


Hahahah...


Daren, Luke dan Petter tertawa terbahak-bahak. Baru kali ini ada gadis yang berani mengatai kaum mereka yang memang terlahir tampan kebangetan.


Selain Jasmine tentunya.


***

__ADS_1


"Huft... Ternyata benar kau ada disini rupanya." Brian bersandar pada pintuΒ  yang nyaris rusak akibat di dobrak olehnya.


Evan hanya melirik sekilas lalu kembali menatap pantulan wajahnya di cermin sambil membasuh wajahnya. Pria berjas putih itu nampak acuh, seolah tak menganggap keberadaan Brian.


"Kenapa kau masih disini? Cepat ke altar, pendeta sudah menunggu." Ujar Brian memberitahu.


"Tidak bisakah di tunda sebentar saja?" Tanya Evan lirih tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin. Wajahnya kusut, dan tak bersemangat.


"kau gugup?"


Evan menoleh, menyandarkan tubuhnya pada tepian wastafel. Setelah terdiam beberapa detik, Evan pun membuka suara. "Aku takut..."


"Takut?" Brian berjalan mendekat, dan berdiri di samping Evan.


"Apa yang kau takutkan? Aku dan yang lainnya akan menjaga Jessy, kau tidak perlu cemas, tidak akan ada lagi yang menyakiti wanitamu. Terkecuali orang itu ingin mati dengan siksaan lebih dulu."


"Bagaimana jika aku yang menyakiti? Apa kau akan menyiksaku?" Balas Evan.


Brian pun membisu, sepertinya ia lupa darimana Evan dan dirinya di lahirkan. Dari keluarga psycho.


"Kau tentu ingat bukan, bagaimana ayah menghabisi mom?" Evan menatap Brian lekat, dan pria yang di tanya hanya diam.


Tentu saja Brian ingat, bagaimana sadisnya Ben menyiksa sampai menghabisi ibu mereka dengan alasan karena terlalu mencintai wanita itu. Ben terlalu takut kehilangan mom, Ben terlalu berlebihan mencintai mom. Sampai di suatu hari, akhirnya Ben membunuh sang istri melalui Evan. Daripada wanitanya di culik dan di siksa oleh orang yang ingin menjatuhkannya, Ben lebih memilih menghabisi wanitanya dengan caranya sendiri.


"Kau bukan Ben." Jawab Brian singkat.


"Tapi aku keturunannya, darah iblis itu mengalir di dalam tubuhku." Sahut Evan lagi dengan nada sedih, kesal dan marah menjadi satu.


"Yasudah, kalau begitu biar aku saja yang menikahi Jasmine. Maka kau tidak akan melakukan hal bodoh seperti Ben." Kata Brian lagi sambil berlalu dari sana.


Evan mengerutkan dahinya, mencerna ucapan pria berbadan tegap itu, bahkan sampai terbengong seperti orang bodoh. Hingga kata 'menikahi Jasmine' terlintas di otak cerdasnya dan membuatnya sadar.


"Heiii tunggu!!!" Evan berjalan cepat mengejar Brian.


"Apa yang kau ucapkan tadi? Kau sudah bosan hidup hahhh?!!"


Brian tersenyum tipis melihat reaksi Evan yang mengejarnya, dan pria itu semakin menggoda dengan mengucapkan kalimat yang memancing tanduk Iblis itu keluar.


"Tidak! Tapi aku bosan hidup sendiri, aku ingin menikah saja dengan Jessy." Katanya lagi.


"Kauu, bedebahh sialan!!!" Evan berlari, dan Brian mempercepat langkahnya, hingga menjad pusat perhatian orang-orang yang ada di sekitar sana.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Masih ada bonchap...😎


Evan menikah, dan nganu sama Jessy πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2