
Malam itu menjadi malam awal untuk Evan menyandang status baru, sebagai suami Jasmine Martinez. Begitu juga Jasmine yang menyandang status baru, sebagai nyonya Matias. Sekaligus menjadi wanita yang paling di takuti di kota Valencia.
Siapa yang tidak mengenal keluarga Matias?
Mungkin mereka hidup di tahun sebelum Masehi, atau mereka tinggal di hutan belantara yang tidak ada teknologi.
Jelas, keluarga Matias adalah keluarga kaya raya yang terkenal di dunia bisnis, juga di takuti dunia bawah. Perusahaan Matias sukses di bidang senjata tajam dan perusahaan besar yang bergerak di bidang pangan, yaitu pengolahan daging.ย Di tambah semua keturunannya berisikan pria pria super tampan yang tidak masuk akal.
Siapa yang tidak ingin menjadi salah satu bagian dari keluarga itu?
Mustahil!
Hampir semua wanita muda di Valencia menginginkan posisi itu, namun hanya sebatas angan-angan belaka dan justru membawa mereka dalam petaka. Menghilang dari muka bumi tanpa jejak.
Hanya Jasmine, wanita yang mampu meruntuhkan sisi Dark Side seorang Evan Leandro Matias. Salah satu anggota keluarga Matias yang paling di takuti karena kecerdasannya. Dan kini pria seram nan kejam itu menjadi budak cinta seorang gadis biasa saja.
Dengan kepolosan dan tingkah bodohย Jasmine yang justru mengalihkan hasrat membunuh Evan menjadi rasa ingin memiliki.
Seperti saat ini, Evan tidak sudi berbagi kecantikan sang istri lebih lama untuk di pandang oleh orang lain, dan memilih meninggalkan acara pesta dansa itu lebih awal.
"Ikut dengan ku..." Evan menarik lengan Jasmine, membuat gadis cantik yang sedang berbincang itu pun terkejut, dan menoleh dengan dahi berkerut dalam.
"Ada apa Evan?"
"Sudahlah, ikut saja..." Evan kembali menarik lengan Jasmine, namun wanita itu menahan tubuhnya untuk tetap disana.
"Tunggu dulu..." Tolak Jasmine.
Dan Evan benci itu. Evan semakin mengeratkan cengkramannya di lengan Jasmine, hingga menampilkan otot wajahnya yang mulai mengeras. Jasmine mengerti dengan ekspresi itu, lantas memilih menuruti kemauan Evan tanpa bertanya lagi dan berpamitan pada kedua sahabatnya.
"Jossy, Luci... Aku pergi dulu." Jasmine berpamitan dengan sedikit rasa tidak rela karena harus meninggalkan kedua sahabatnya. Tapi bagaimana lagi, jika Evan sudah menampilkan sosok iblisnya, maka Jasmine tidak bisa menolak.
"Kenapa terburu-buru sekali?" tanya Josephine seraya menaikan sebelah alisnya.
"Kau ini! mereka kan sudah menikah, biarkan saja...mungkin mereka ingin segera melakukan itu, dan cepat memberikan kita keponakan yang lucu-lucu seperti ayahnya." Luci muli ngawur, dan membuat semburat merah timbul di pipi Jasmine.
Dan, seperti biasa. Evan menampilkan wajah ramahnya dengan senyum menawan. "Kami permisi, bersenang-senang lah Nona. Akan ku suruh orang ku untuk menemani kalian."
Dua gadis cantik itu berjingkrak kegirangan dengan teriakan kecil, hingga menjadi pusat perhatian untuk beberapa detik.
Setelah mengatakan itu, Evan kembali menarik Jasmine. Kali ini lebih kasar dari sebelumnya, membuat Jasmine sedikit kesusahan mengikuti langkah lebar sang suami.
"Pelankan langkah mu Evan, aku kesulitan..." Jasmine merengek. Dan Evan tak menghiraukan.
Sebenarnya bukan niat Evan menyakiti Jasmine. Atau mengganggu waktu senang sang istri bersama sahabatnya. Tapi, karena pria yang berada tidak jauh dari tempat Jasmine berdiri, terus saja memperhatikan wanitanya tanpa berkedip.
Rasanya ingin sekali Evan mencongkel mata mereka.
Sebut saja, Matteo, Javier, dan Enzo. Ketiga pria bertubuh tegap dengan berpakaian serba hitam, dan logo huruf K di leher mereka. K, yang berarti Kenneth, Matteo Jean Kenneth, Javier Kenneth dan Enzo Abraham Kenneth. Anggota organisasi baru, yang menggantikan klan Anderson.
"Kita mau kemana Evan?" Jasmine bertanya lirih, saat melewati beberapa orang yang berpapasan dengannya. Dan lagi lagi Evan hanya diam. Langkah pria itu berhenti ketika bertemu dengan Brian dan Joe yang sedang berbicara dengan ayah Jasmine, juga rekan bisnis yang lain.
Evan mendekat dan berbisik lirih pada Brian. "Lindungi sahabat Jessy, dan awasi keluarga Kenneth."
Brian mengangguk paham, kemudian memberikan isyarat pada Joe untuk memperketat keamanan serta menjaga ayah Jessy. Sementara dirinya beralih mendatangi Lucia dan Josephine, untuk menemani sekaligus menjaga dua orang terpenting bagi Jasmine.
***
"Turun kan aku Ev, aku bisa berjalan sendiri..." Jasmine sedikit meronta, ia malu menjadi pusat perhatian beberapa orang yang berpapasan dengannya.
Namun si pelaku nampak acuh, menoleh pun tidak. Evan masih tetap berjalan dengan membopong tubuh Jasmine dalam gendongannya, tanpa memperdulikan kekehan orang yang menatapnya.
__ADS_1
"Evan aku malu..." Sekali lagi Jasmine berucap, dan kali ini mendapat respon dari sang suami. Pria itu menoleh dengan wajah datarnya, sambil melirik ketiga gadis yang baru saja melewati nya.
"Kau malu karena mereka mentertawakan mu? Biar ku robek mulut mereka agar tidak bisa lagi tertawa untuk selamanya..." Evan menurunkan tubuh Jasmine dan berbalik badan, berniat untuk menghampiri ketiga gadis itu.
"No, no, no..." Jasmine menahan lengan Evan hingga langkah sang suami terhenti. Ia tidak ingin ada pertumpahan darah di hari bahagianya.
"Ehm, Kau ingin membuat Jessy kecil bukan? Ayo kita buat sekarang..."
See? Ucapan Jasmine baru saja meruntuhkan amarah Evan, yang justru malah membangkitkan sisi mesum sang suami. Seringai kecil pun terbit di bibir sensual itu.
"Akan aku buatkan tiga sekaligus untuk mu..."
Hemm kumat!
Belum sempat Jasmine mengajukan protes, tubuhnya sudah kembali di angkat oleh Evan dan berhenti di depan sebuah ruangan.
Dan begitu pintu ruangan itu di buka, Jasmine membulatkan matanya sempurna dengan rahang yang terbuka lebar. Ia terhipnotis untuk beberapa saat dengan pemandangan indah di depannya.
Sebuah kamar pengantin yang di dekorasi sebegitu rupa. Lilin aroma teraphy yang ditata, serta kelopak bunga mawar yang bertebaran di lantai juga di atas ranjang. Belum lagi kalimat ungkapan cinta yang turut menambah kesan romantis.
"Kau tidak suka? Biar ku suruh orang ku untuk membersikan-nya..."
"Aku menyukainya, sangat... Ini sungguh indah Evan" sahut Jasmine cepat sebelum Evan benar-benar membereskan tempat itu.
"Benarkah?"
"Huum..." Jasmine mengangguk sembari melangkahkan kakinya masuk lebih dalam, menginjak kelopak bunga mawar yang bertebaran di lantai.
Evan pun turut masuk setelah mengunci pintu, ia berjalan di belakang Jasmine sembari melempar tuxedo hitamnya ke sofa. Perlahan ia melepas satu persatu kancing kemejanya dengan senyum nakal.
Tanpa melepas pakaiannya, Evan langsung memeluk tubuh Jasmine dari belakang. Hingga Jasmine yang saat itu sedang menyentuh balon pun terkejut dan reflek menoleh.
"Kau mengagetkan ku Ev..."
"Aku belum membersihkan diri Ev, nanti sa__" ucapannya terpotong karena Evan langsung membalik tubuhnya, hingga posisi mereka kini saling berhadapan.
"Sssttt... Aku tidak peduli, aku sangat menyukai aroma tubuh mu" Evan kembali mendekat namun justru telapak tangan Jasmine yang mendarat di wajahnya.
"Tunggu du__"
Secepat itu Evan langsung membungkam bibir Jasmine agar diam, istri cantiknya itu terlalu berisik.
Kecupan singkat Evan perlahan semakin dalam dan menuntut membuat Jasmine kehilangan tenaga untuk menolak. Tangan Evan yang tadinya di rahang pun telah berpindah di pinggang Jasmine. Bergerak naik turun dengan usapan lembut.
Efect sentuhan itu membuat Jasmine terbakar, dan mulai larut dengan permainan Evan. Hingga Jasmine membutuhkan sesuatu untuk sekedar berpegangan, ia pun meremas rambutย pirang sang suami diiringi lenguhan lirih.
"Eummhh..."
Breettt...
Jasmine menjauhkan wajahnya hingga pangutan itu terlepas. Ia melirik gaun bagian bawahnya yang baru saja di sobek paksa oleh Evan.
"Im sorry..."
Setelah mengucapkan itu Evan langsung menghempaskan tubuh Jasmine ke atas tempat tidur sebelum gadis itu melontarkan protes.
"K-kau mau apa?"
Jasmine berniat bangkit dari posisinya ketika Evan mulai menyentuh kakinya dengan sentuhan menggoda.
"Membuat Jessy kecil tentu saja..."
__ADS_1
Tatapan penuh gairah yang Evan pancarkan saat mengucapkan kalimat itu membuat Jasmine tak berdaya kemudian memejamkan matanya.
Bisa Jasmine rasakan jemari nakal sang suami perlahan merayap naik meninggalkan jejak panas di sekujur tubuhnya. Hingga detik kemudian terdengar suara robekan dari gaun yang di pakainya.
Jasmine pun langsung membuka matanya. Dan yang terlihat adalah tubuhnya terpampang nyata dengan hanya menyisakan kain tipis saja yang menutupi bagian bawahnya.
"Tidak perlu malu, kau akan terbiasa nanti..."
Jasmine hanya diam tak tahu harus merespon apa.
Lantas Evan pun mengusap lembut bibir Jasmine dengan jari telunjuknya. kemudian jari jari jahanam itu bergerak turun, membelai leher, dan tulang selangka. Lalu berakhir tepat di dua benda kenyal dengan ujung merah muda menggoda. Memilin ujungnya pelan.
Kecupan dan hisapan mendarat lembut di sana, melewati perut hingga berakhir di area sensitif milik Jasmine. Membuat wanita itu tak kuasa menahan suaranya untuk tak mengerang.
"Eunghhh." Jasmine meremas sprei dengan mata terpejam erat ketika jemari Evan menyelinap masukย ke dalam area miliknya.
Evan tersenyum puas melihat reaksi Jasmine. Lalu ia membuka kaki wanita itu lebih lebar, setelah melepas kain penutup itu tentunya. Terlihat jelas, cairan yang membasahi daerah inti milik Jasmine.
"You're wet baby" katanya, yang membuat Jasmine menutup wajahnya malu.
Kemudian Evan bangkit untuk melepas seluruh pakaiannya tanpa sisa, dan setengah berlutut di antara kedua paha Jasmine yang terlentang pasrah dengan wajah memerah malu.
Evan memegang miliknya yang sudah mengeras, mengusapnya lembut dan mulai mengarahkannya ke milik Jasmine. Ia tidak langsung memasukkannya, tapi memberikan gesekan laknat disana, yang membuat Jasmine tak karuan menahan sesuatu yang ingin kembali meledak.
"Stop it, I can't stand anymore." Ucapnya frustasi dengan perbuatan Evan.
"Calm down dear, after this you will ask for more"
Evan mulai mengarahkan miliknya, dengan perlahan-lahan, agar tidak menyakiti wanita itu meski mustahil. Karena Jasmine benar-benar sempit.
"Aahhhhh..."
Evan berhenti sejenak, memberi jeda untuk Jasmine meredakan rasa sakitnya.
Detik kemudian Evan kembali bergerak perlahan, hingga membenamkan seluruh miliknya ke dalam.
"Ouuwhhh shit!!" Jasmine mengerang sakit bercampur nikmat, meremas lengan kekar Evan dengan kuat.
Hanya beberapa detik Evan berhenti, dan kembali bergerak seirama. Semakin lama gerakan itu semakin cepat, Kini bukan rintihan sakit yang terdengar, namun erangan nikmat dari bibir keduanya.
Pukulan demi pukulan mesra di b*kng Jasmine turut mewarnai permainan itu, hingga bermandikan keringat.
"Oh God, Ev aku ingin..."
"Aaahhhh..." Jeritan pelepasan itu mengudara.
Evan menjatuhkan tubuhnya dia atas tubuh mungil Jasmine. Dan saling berebut oksigen satu sama lain.
"Kau mau lagi?"
๐๐๐
SELESAI...
1588 kata buat kalian, ๐๐
Gimana? Kurang hot? Coba bacanya sambil makan mie rebus pake telor plus cabe rawit 20 biji ๐๐
Selesai ini, aku tuntasin Crazy Marriage, dan lanjut Stuck With You. Kisah tentang menegangkan si kembar Delion Anindhita, si bule Arsenio dan tentunya anaknya si gila Evan, aku gabungin jadi satu... Hahahah.
Jangan unfav dulu ya kesayangan.. karna aku bakal infoin disini.
__ADS_1
I love you babe ๐