
Lucia menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka, derap langkah sepatu yang beradu degan lantai begitu jelas terdengar membuat Lucia sedikit waspada. Matanya terus tertuju pada seseorang yang baru saja memasuki ruangan. Tidak begitu jelas seperti apa rupanya karena minim pencahayaan. Namun, ketika sosok itu semakin mendekat, mulai terlihat siapa yang menemuinya.
Dahi Lucia berkerut dalam, ketika melihat sosok itu yang begitu familiar di ingatannya. "Kau..."
Pria itu hanya melempar senyum pada Lucia.
"Kau Pria yang di kampus tadi bukan? Kau kekasih Sara, si perempuan ular itu?"
"Kekasih? Aku bahkan tidak mengenal wanita itu..." Sahut pria itu santai. Manik hazelnya terus menatap Lucia dari atas hingga bawah, memperhatikan lekukan tubuh padat itu.
"Kau kira aku akan percaya, huh? Lepaskan aku!!" Lucia berontak hingga menimbulkan bunyi besi yang beradu cukup berisik.
Jacob sendiri tersenyum tipis melihat respon Lucia yang terbilang cukup berani. Yups, pria yang sejak tadi berdebat dengan Lucia adalah Jacob.
"Kau ada masalah apa dengan wanita bernama Sara itu? dia bahkan mengaku sebagai dirimu di depan kami"
Alis Lucia terangkat sebelah. Apa ia tidak salah dengar jika sara mengaku sebagai dirinya?
"Untuk apa wanita ular itu mengaku sebagai diriku?" Tanya Lucia heran.
Jacob hanya mengedikan bahunya sebagai jawaban, ia tidak peduli dengan wanita bernama Sara itu.
"Jika kau bukan kekasih Sara, lalu untuk apa kau menculik ku? Aku sama sekali tidak mengenalmu" Tanya Lucia.
"kau sahabat Jasmine bukan?"
Lucia semakin di buat bingung dengan pertanyaan Jacob, sebenarnya pria di depannya ini berkaitan dengan Sara atau Jasmine sih?
"Katakan saja apa tujuan mu menculik ku, jangan membuatku bertambah kesal." Bentak Lucia yang sudah kehabisan kesabaran, memangnya tangan terikat di atas tidak sakit apa?
"CK, CK...Patient, dear... Kita akan bermain-main sebentar sambil menunggu sahabat mu itu datang."
"Ma-maksud mu?" Lucia tergagap.
Dan setelah mengatakan itu Jacob pun berjalan mendekati Lucia, hingga jarak di antara mereka tersisa sejengkal saja. Dapat Jacob rasakan hembusan napas Lucia yang mulai tersendat, serta tubuh gadis itu yang mulai bergetar.
Namun, wajah Lucia tetap menunjukan keberaniannya. Dan itu membuat Jacob semakin bergairah.
Jacob pun mendekatkan wajahnya berniat mencium bibir Lucia.
Lucia memundurkan wajahnya, menghindari ciuman Jacob. "Jangan coba coba menyentuhku, atau aku akan membunuhmu!"
"Anggap saja ini sebagai kado perpisahan dariku, sebelum kau membunuhku Nona." Jacob mencengkeram leher Lucia erat, agar tidak berontak lagi. Kemudian Jacob kembali mendekatkan wajahnya.
__ADS_1
"S-stop!!"
Jacob tak menghiraukan perkataan Lucia, ia tetap melanjutkan niatnya hingga bibir mereka akhirnya bersentuhan.
"Maaf Tuan Jake, Joe ingin menemui Anda di depan."
Entah darimana datangnya, tiba-tiba Aron membuka suara mengganggu kegiatan Jacob tanpa permisi. Mendengar nama Joe di sebut, Jacob pun menghentikan kegiatannya. Dan dengan berat hati ia terpaksa meninggalkan hasratnya bersama Lucia di dalam ruangan itu.
"Kita akan lanjutkan lagi nanti." Katanya pada Lucia sebelum benar-benar pergi menjauh.
Lucia langsung memalingkan wajahnya sambil menggerutu, tidak sudi untuk melanjutkan lagi.
Baru saja Jacob keluar, Joe sudah berdiri di hadapannya dengan wajah mengeras. Tentu saja membuat jantungnya nyaris copot karena terkejut.
"Kau tidak bisa menunggu di luar saja?" Jacob mendorong tubuh Joe agar menjauh dari pintu ruangan dimana Lucia berada.
Tanpa basa basi Joe langsung mencekik leher Jacob dan menghimpitnya ke dinding. Aron sendiri hanya bisa menonton tanpa bisa membantu.
"Kau yang mengirim orang untuk membocorkan tentang siapa Evan pada publik bukan?" Cecarnya langsung pada Jacob.
Wajah yang memerah serta nafas yang mulai tersendat tak lantas membuat Jacob ketakutan. Pria itu tetap melebarkan senyumnya seraya berucap.
"kau bercanda? apa aku terlihat bodoh untuk melakukan itu?" Jake menjawab sesantai mungkin.
Setelah mengatakan itu, Joe melepaskan tangannya dari leher Jacob dengan kasar hingga tubuh pria itu merosot ke lantai sambil terbatuk-batuk.
***
Sara menghembuskan napasnya yang terasa sesak dan menyakitkan, karena Axelo baru saja menancapkan pisau di lehernya setelah mereka selesai bercinta di dalam kolam renang.
"K-kau..." Sara berusaha mengucapkan kata-kata untuk Axelo meski tak sepenuhnya meluncur dari bibirnya.
Axelo menarik rambut Sara untuk lebih dekat dengannya dan berucap pelan di telinga gadis itu.
"Ini hadiah untukmu, karena kau sudah berbohong padaku. Dan kau berani menyakiti calon korban ku."
"Uhukk..." Sara terbatuk mengeluarkan darah yang cukup kental hingga mengotori bahu telanjang Axelo.
Bibir Sara terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu, namun tidak mengeluarkan suara sama sekali karena luka di lehernya yang terlalu menyiksa.
Padahal baru beberapa saat lalu axelo memperlakukan dirinya dengan penuh cinta bak ratu yang amat di puja. Tapi ternyata pria itu menyimpan sosok Iblis di balik sikap lembutnya yang menipu.
Krak..
__ADS_1
"Tenang lah kau di Neraka dear..." Ucap Axelo setelah memutar dan memperdalam pisau yang menancap di leher Sara.
Sara pun meregang nyawa dan menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir.
Lantas Axelo segera pergi dari sana tanpa rasa bersalah, meninggalkan tubuh Sara yang mengambang di atas air kolam. Kolam renang yang tadinya bening dan jernih kini berubah menjadi merah akibat bercampur dengan darah Sara.
Dan sembari berjalan keluar dari area itu, Axelo menghubungi seseorang untuk membereskan tubuh Sara, untuk menghilangkan jejak. Setelah itu ia bergegas membersihkan diri lalu segera menemui Jacob juga Lucia di tempat lain.
***
Brian berjalan menuruni anak tangga dengan selimut berwarna biru di tangannya. Dan langkahnya mulai memelan ketika sampai di sebuah sofa panjang.
Bukan untuk dirinya, namun selimut itu Brian pakaikan untuk seseorang yang tertidur pulas di atas sofa.
Jasmine, gadis itu tertidur saat mendengarkan Brian bercerita tentang masa kecil dirinya dan Evan yang sengaja di pisahkan oleh Ben_ayah kandung mereka.
Bahkan Jasmine berkali-kali menggelengkan kepala dengan tangan mengepal kuat, saat dirinya membeberkan betapa kejamnya Ben memperlakukan mereka berdua. Bukan hanya kekerasan fisik, namun juga mental.
Ben mendidik mereka untuk tak saling berbelas kasih, baik pada lawan, korban, bahkan dengan saudara mereka sendiri. Karena cinta dan kasih sayang akan membuat mereka lemah dan mudah di manipulasi.
Ben tak hanya menjelaskan secara teori, namun juga mempraktekan langsung di depan mata mereka cara membunuh seseorang sedari kecil. Bagaimana cara menyiksa, dan membuat musuh mereka merasakan kematian yang amat menyakitkan.
Hingga suatu hari tanpa sengaja Brian mendengar percakapan ayahnya dengan Joe, tentang dirinya dan Evan yang ternyata saudara kandung. Setelah mengetahui kebenaran itu, Brian pun mulai menjaga Evan secara diam diam.
Dan, menit menit berlalu Jasmine menemani Brian, hingga rasa kantuk menyerang gadis itu, dan Jasmine pun akhirnya tertidur di sofa.
Tapi sayang, ketika Brian selesai memakaikan selimut hingga batas dada Jasmine. Tiba-tiba saja gadis itu menarik tangannya, menggenggamnya erat seraya berkata.
"Don't leave me... Evan."
🍁🍁🍁
To be continued...
Evan
Jasmine
Brian.
__ADS_1