
Suasana seketika menjadi kaku, setelah aksi Evan yang mencium Jasmine tanpa permisi. Bukan hanya Josephine yang menjadi saksi, tapi Jasson turut hadir disana.
Evan nampak santai, terkesan masa bodoh. Sementara Jasmine, merasa malu, kesal dan senang menjadi satu. Berbeda dengan ekspresi Jossy dan Jasson, Jossy merasa bahagia melihat sahabatnya bahagia. Tapi Jasson marah, karena calon istrinya di sentuh pria lain.
"Tidak bisakah kalian menikah saja? Kalian berdua sangat cocok sekali, aku yakin kalian akan menjadi pasangan paling fenomenal di jagat raya." Seru Jossy begitu adegan mersa selesai.
Jagat raya embah mu!!
"Ehmm...ehmm" Jasson berdehem menyela serentetan pernyataan Jossy yang membuat dirinya kepanasan.
"Jasmine itu calon istri ku." Jasson berjalan mendekati tiga manusia yang berdiri di ambang pintu.
Mendengar ucapan Jasson yang tiba-tiba itu cukup membuat Jasmine panik, ia takut jika Evan akan menyerang Jasson saat itu juga. Tapi...saat Jasmine menoleh kesamping, yang ia lihat justru Evan tersenyum manis, amat manis bahkan karena saking manisnya sampai mengalahkan gula darah.
"Jadi...kau?" Jossy memecah keheningan yang terjadi beberapa detik, "kau calon suami Jessy? Lalu kau siapa?"
Jossy bertanya sambil menatap Evan dan Jasson bergantian. "Katakan padaku Jessy, sebenarnya siapa calon suami mu?"
"Aku" Jasson menyela dengan percaya diri. Tapi Jasmine menggelengkan kepalanya.
"Kau lihat? Calon istrimu saja tidak mengakui dirimu." Evan bertutur lembut, selembut popok bayi.
Tidak ada amarah sedikitpun yang tersirat di wajah tampan itu. Karena apa? Karena Evan sudah mendengarnya sendiri saat Jasmine berbicara dengan ayahnya, jika Jasmine menolak mentah-mentah perjodohan itu. Dan itu sudah cukup menjadi bukti, bahwa hanya dirinya yang Jasmine inginkan, meski bibir gadis itu terus menolaknya.
"J-Jasson, bisakah kau pulang saja. Ayah ku juga sedang tidak ada di rumah." usirnya secara halus, agar pria itu tidak tersinggung. Meskipun pada kenyataannya itu tetap menyakiti Jasson, karena baru saja datang sudah usir.
"Aku tidak ingin bertemu dengan ayahmu, tapi dengan mu." Kata Jasson.
"Tapi dia tidak ingin bertemu dengan mu." Balas Evan begitu menohok.
"Kau!!! Aku tidak sedang bicara dengan mu. Diam saja, mengerti?!" Jasson marah.
Evan melebarkan senyumnya, seolah mentertawakan Jasson yang malang. "Aku? Harusnya..."
"Cukup!!"
__ADS_1
Bentak Jasmine. Dan Jossy sampai tersentak hingga punggungnya membentur tembok. Ini kali pertama ia melihat seorang Jasmine membentak. Yang ia tahu Jasmine lemah lembut, meski sedikit bar bar.
"Aku mohon Jasson, kau pulanglah dan kembali nanti saat ayah ku di rumah." Pinta Jasmine, kali ini nada bicaranya tidak sebrutal tadi dan raut wajahnya lebih kalem.
Sementara Evan mengangkat kedua alisnya menatap Jasson, seolah menunggu pria itu berlalu dari hadapannya. Dan Jasson sendiri harus mati-matian menahan kesal, agar tidak merendahkan imagenya sebagai pria terpelajar di depan Jasmine.
"Baiklah, aku akan kembali nanti. Aku pamit" Jasson terpaksa mengalah, dan berlalu dari sana dengan rahang mengeras juga tangan terkepal.
"Hati-hati" Evan berseru ketika Jasson mencapai gerbang rumah Jasmine. Entah apa maksud dari kata hati-hati yang Evan lontarkan, hanya Evan dan penulis yang tau.
Jossy diam tak mengerti, namun Jasmine mulai pucat pasi. Otaknya berpikir keras mencari arti kata hati-hati yang Evan ucapkan itu. Hingga satu kata muncul di kepalanya 'die'.
Senyum Evan mengembang, dan air mukanya begitu tenang. Itu yang membuat Jasmine curiga jika Evan sedang merencanakan sesuatu.
Jasmine menarik lengan Evan seraya berbisik. "Kau tidak berpikir ke arah sana kan?"
Evan menoleh, dan kilatan mata itu menunjukkan sisi lainnya. "Aku? Apa yang aku pikirkan? Aku hanya memikirkan mu saja."
"Kau bohong"
"Nona, kemari lah." Evan berucap lembut memanggil Jossy, dan itu cukup membuat Jossy lupa daratan seolah terbang melayang di udara.
Gadis itu langsung masuk ke dalam rumah menyusul sepasang kekasih yang membuat siapa saja iri.
"Kemarilah, kau coba? Ini masakan Evan." Jasmine menawarkan.
Dan Jossy menggelengkan kepalanya seba tanda menolak, "tidak. Terimakasih, aku sudah kenyang, mungkin lain waktu."
Jasmine mengangguk paham, lalu kembali menyantap steak itu hingga habis tak bersisa.
Sementara Jossy tidak melakukan apa apa, ia hanya duduk manis di sofa memperhatikan Jasmine dan jelmaan malaikat itu menghabiskan sarapannya.
***
Evan tak sedikitpun melepas genggamannya pada jemari Jasmine, suasana yang cukup ramai di tempat ini karena banyak wisawatan lokal dan asing yang berseliweran membuat Evan takut akan terpisah dengan gadis itu.
__ADS_1
"Pelan-pelan saja, bunganya juga tidak akan pergi kemana-mana" tutur Evan, agar Jasmine tidak terlalu aktif kesana kemari seperti anak kecil.
"Iya, aku hanya sedang senang saja, karena aku masih bisa menyaksikan keindahan bunga bunga ini." Jasmine, dan Jossy pun mengangguk.
Tapi, tetap saja mereka asik sendiri memotret bunga-bunga itu dan ia di abaikan. Menyedihkan sekali, bukannya senang bisa berjalan-jalan dengan sang kekasih malah menjadi penjaga untuk dua wanita yang super aktif bak anak TK.
Saat ini mereka sedang berada di New York Botanical garden city, salah satu kebun botani utama di Amerika Serikat yang terletak di Bronx New York City. Kebun itu menduduki wilayah Bronx Park seluas 250 ekar dan juga menjadi tempat di didirikannya beberapa laboratorium tanaman terdepan di dunia.
Keindahan itu hanya bisa di nikmati pada musim semi, tepatnya di bulan Maret hingga Juni. Namun, bunga-bunga anggrek itu akan bermekaran pada pertengahan bulan April. Kebun Botani ini sering menyelenggarakan pameran dan acara bunga sepanjang tahun yang menarik sampai 800.000 pengunjung di setiap tahunnya.
"Jessy, kau lihat bunga di sebelah sana" Jossy menunjuk dua jenis bunga lain, yaitu tulip dan sakura.
Jasmine mengangguk, dan mereka berdua pun berhambur kesana untuk melihat lebih dekat, atau mungkin memotretnya.
Lagi-lagi Evan menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua wanita itu. Matanya tak pernah sedikitpun lengah untuk terus mengawasi Jasmine, namun karena saking fokusnya sampai ia tidak sengaja menabrak seseorang.
"Maaf" kata Evan namun matanya sama sekali tak melihat gadis yang baru saja di tabrak, melainkan sosok Jasmine yang menjadi obyek utamanya.
"Ponsel ku" gadis itu berteriak dan menarik lengan Evan, hingga mengalihkan perhatiannya.
"Jangan menyentuh ku!" Evan menyentak tangan gadis itu dengan tatapan tidak suka, tidak ada yang boleh menyentuhnya selain Jasmine.
"Heii! Kau sudah merusak ponsel ku. Kau Lihat?" Gadis itu menunjukan ponselnya yang tadi sempat terjun bebas dari tangannya. "Ponselku tidak bisa menyala lagi. Kau harus menggantinya!"
Evan menatap gadis itu dari atas hingga bawah dengan tatapan malas, jika bukan di tempat keramaian Evan tidak akan menunggu lagi untuk mengirim gadis itu ke Neraka sana. "Aku tidak peduli."
Evan berlalu begitu saja dari hadapan gadis tadi. Tapi sayang, karena ia meladeni gadis itu ia jadi kehilangan jejak Jasmine.
"Shit!!" Evan mengepalkan tangannya kuat. "where are you honey?"
🍁🍁🍁
To be continued...
__ADS_1
Makasih semangatnya, semoga bisa up setiap hari. 🙏