The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 24


__ADS_3

Usai melakukan pemotretan, Evan bergegas keluar dari tempat itu dengan menggandeng jemari Jasmine.


Membukakan pintu mobilnya untuk wanita itu masuk lebih dulu, kemudian berjalan memutar dan duduk di kursi kemudi.


Mobil hitamnya bergerak menjauh dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang nampak sedikit sepi.


Evan melirik dengan ekor matanya, wanita itu nampak asik menatap ke arah luar jendela ketimbang menatap ke arahnya, jelas itu membuat Evan tergoda untuk bersuara.


"Apa yang kau lihat di luar sana?"


Menoleh, Jasmine mengerutkan keningnya tidak paham.


"Apakah obyek di luar sana lebih menggoda, sampai kau tak ingin beralih?"


Mulai. Sisi posesif pria itu kambuh lagi membuat Jasmine jengah, lalu membalas ucapan pria itu "Hem, lebih menggoda dan lebih segar."


Jasmine lupa sedang berbicara dengan siapa. Tiba-tiba saja mobil itu berhenti mendadak lalu dengan kasar Evan menarik dagu Jasmine agar menatap ke arahnya.


"Kau hanya boleh melihat ku! Hanya aku!" Ujarnya dengan suara serak. Begitu dingin dan menyeramkan sampai Jasmine kehilangan napasnya untuk sesaat.


Jasmine mendengus, lalu berucap "fine. Kau puas!"


Evan melepaskan cengkraman tangannya, mengusap dagu itu lembut. Dan mobil itu kembali bergerak menyatu dengan kendaraan lain.


Jasmine tak lepas memandangi wajah Evan sesuai perintah pria gila itu, meski awalnya terpaksa lambat laun Jasmine mulai menikmati pemandangan yang lebih indah dari luar jendela tadi.


"Teruslah menatap ku seperti itu, dan kau akan jatuh cinta padaku." Ujar Evan percaya diri dengan senyumnya yang menjengkelkan bagi Jasmine.


Jasmine berdecih, menyangkal ucapan pria itu yang memang benar adanya, hanya saja ia malu mengakuinya.


"I hate you!" Kata Jasmine.


Namun, jawaban yang Evan berikan justru semakin menjadi, dengan balik menyudutkan gadis itu "Yes I know, but you love me too"


Jasmine mendengus sebal, dan memilih menatap keluar jendela. Ia menyerah, percuma saja meladeni pria gila yang tidak punya akhlak, sama saja dengan terjun bebas ke dasar jurang berisi ribuan ular beracun. Mati konyol.

__ADS_1


Mobil hitam itu bergerak cepat seperti sedang terburu-buru hingga melewati bangunan-bangunan tua dan pohon besar yang berjajar rapih di kanan kiri jalan yang nampak sepi dan gelap.


"Eh, kenapa kita lewat sini?" Jasmine membalik tubuhnya kembali menghadap Evan, pria itu hanya tersenyum manis sembari memutar stir mobilnya. Dan berhenti tepat di depan gedung kosong.


"Aku ada perlu sebentar, kau disini saja tunggu sampai aku kembali." Evan melepas seatbelt-nya dan membuka pintu, namun kembali menoleh ke arah Jasmine.


"Ingat, jangan kemana-mana." Kata Evan tegas tak terbantahkan.


Jasmine hanya menganggukkan kepalanya bingung, sorot mata pria itu terasa asing bagi Jasmine, aura hitam mengelilingi Evan seperti saat mengikat dan menyayat lengannya dulu.


Cukup lama Jasmine berkutat dengan pikirannya tentang Evan, hingga matanya membulat sempurna dengan mulut menganga ketika melihat sosok wanita yang tidak asing di penglihatannya.


"Charlotte?" Ujar Jasmine terkejut.


Kenapa wanita itu masuk ke tempat dimana Evan masuk? Apakah mereka membuat janji untuk bertemu disana? Apa yang mereka berdua lakukan di dalam bangunan tua itu?


Berbagai macam pertanyaan bercokol di kepala Jasmine, kepalanya mendadak pusing, jantungnya terasa di remas kuat, perutnya ikut mual  membayangkan Evan dengan Charlotte di dalam sana yang sedang bercinta.


Ya Tuhan! Jasmine tidak sanggup...


Hanya bermodalkan mengikuti sedikit penerangan dari lampu remang-remang yang nyaris mati, gadis itu masih terus melangkahkan kakinya ke dalam bangunan itu. Jasmine menajamkan kedua telinganya untuk mencari keberadaan  Evan dan Charlotte yang sejak beberapa menit lalu masuk ke dalam sana.


"Kemana mereka berdua? Kenapa sunyi sekali?" Gumam Jasmine sembari menoleh ke kanan dan kiri di dua cabang. Ketika sedang memilah-milah jalan yang mana, tiba tiba telinganya mendengar suara gadis yang sedang menangis meminta maaf.


"I'm sorry, ampuni aku...ku mohon..." ujar Charlotte diiringi isakan tangis yang memilukan.


Apa ia tidak salah dengar? Kenapa Charlotte meminta maaf?


Jasmine mengikuti arah sumber suara, perlahan tapi pasti suara itu semakin jelas terdengar.


"Ku mohon jangan sakiti aku..." Jeritan itu kian memilukan membuat Jasmine turut bergidik ngeri mendengarnya.


"Tidak ada maaf untuk mu, kau sudah menyakiti kekasih ku. Dan, neraka tempat yang pas untukmu"


Suara Evan menelusup ke dalam indra pendengaran Jasmine dengan nada mengerikan, sontak Jasmine semakin gemetaran di buatnya.

__ADS_1


"Aaaaaaa" teriakan Charlotte terdengar memekakkan telinga, dan  Langkah Jasmine kian melemas dengan mata membulat sempurna ketika melihat Evan sedang menghujamkan pisaunya ke wajah Charlotte tanpa belas kasih. Merobek mulut gadis itu hingga ke telinga.


"Charlotte" Jasmine menutup bibirnya dengan kedua telapak tangannya terkejut.


Sontak Evan menghentikan gerakan tangan-nya dan menoleh ke arah sumber suara.


" Jessy, kenapa kau ada disini?!" Evan melangkahkan kakinya mendekati Jasmine setelah melempar pisaunya serta melepaskan tubuh Charlotte yang sudah tidak bernyawa.


Jasmine sendiri terus saja menggelengkan kepalanya tanpa suara sembari melangkah mundur. tulang kakinya terasa lepas, nafasnya tersengal, rasa takut yang membuncah membuat Jasmine tidak memperhatikan langkahnya hingga tidak terasa punggungnya membentur dinding bangunan yang dingin dan lembab.


"Kenapa kau tidak menuruti perintah ku huh?! Tidak bisa kah sekali saja kau menurut padaku?" Evan berucap dengan nada dingin yang membuat siapa saja merinding takut.


"Stop! Jangan mendekat!" Bentak Jasmine dengan suara parau yang mengganjal di tenggorokannya akibat menahan tangis.


Ia sudah salah mengira jika Evan sudah sedikit berubah, nyatanya pria itu semakin mengerikan saja.


"Kenapa? Kau takut padaku?"


Evan sudah berdiri di depan Jasmine dengan meletakkan kedua lengannya di antara kepala gadis itu_mengurungnya.


"Aku tidak takut dengan mu." Ujarnya gemetaran sembari menggelengkan kepalanya dengan keringat yang sudah mengucur deras membasahi pelipisnya. "Kenapa kau lakukan itu pada Charlotte?!"


Evan tertawa keras, suara beratnya menggema memenuhi seluruh ruangan bangunan kosong itu.


"Aku tidak suka melihat wanita itu menyakitimu. Dan dia harus di hukum atas perbuatannya."


"Lalu bagaimana jika kau yang menyakiti ku huh?! Apa kau akan menghukum dirimu sendiri?" Tanya Jasmine cepat, dan tentunya membuat Evan terdiam seketika.


"Aku tidak akan menyakitimu jika kau menurut padaku. Jadi jika kau membantah perintah ku, maka itu bukan salah ku jika aku sampai melukaimu."


"Aku sangat membenci mu, Kau monster yang mengerikan." Bentak Jasmine seraya mendorong tubuh Evan menjauh, namun itu semua hanya sia sia. Tubuh pria itu sama sekali tidak bergeser dari tempatnya.


"Kau tidak bisa lari kelinci kecil ku."


🍁🍁🍁

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2