The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 31


__ADS_3

Jasmine mengerutkan dahinya melihat seseorang yang baru saja menepuk bahunya, seolah bertanya 'siapa'


"Kau lupa?" Pria itu mendudukkan diri di sebrang kursi Jasmine.


Jasmine nampak berpikir, mencoba mengingat pria di depannya yang tidak asing baginya.


"Aku Brian, manager Evan" ujar Brian kemudian, karena melihat Jasmine yang bingung dan tak kunjung menjawab pertanyaan-nya.


Jasmine mengangguk begitu mendengar nama itu di sebut, "kau yang di suruh Evan untuk menjemput ku?"


Brian mengangkat alis-nya dengan senyum ramah, "Evan sudah memberitahu mu?"


Jasmine mengangguk, dan Brian tidak tahan untuk tidak tertawa. Pria itu sampai menyandarkan tubuhnya di kursi dengan kepala menengadah ke atas.


"Kenapa kau tertawa? Memang ada yang lucu?" Jasmine tak lepas memandangi wajah Brian yang masih tertawa geli, entah bagian mana dari kata-katanya yang lucu sampai pria itu tertawa.


Brian kembali menegakkan tubuhnya, lalu mulai membuka suara.


"Menggelikan sekali, rupanya si gila itu bisa bersikap manis dan protektif padamu" sahut Brian dengan menatap Jasmine intens.


"Kau juga sama dengan Evan bukan?" Jasmine menyahut polos. Ah tidak, tapi bodoh, karena terang-terangan menyebut pria di depannya sama dengan Evan.


"Kau tidak terima aku menyebut kekasihmu itu gila?" Brian mengejek.


"Dia bukan kekasih ku." Jasmine mengoreksi ucapan Brian. "Dan satu hal lagi, kalian semua juga sama gilanya kan?"


Pertanyaan Jasmine membuat Brian tertarik, sejauh mana saudaranya itu menceritakan tentang silsilah keluarganya.


"Evan menceritakan tentang kami padamu?"


"Tidak" Jasmine menyahut cepat.


"Lalu, dari mana kau menyimpulkan jika kami semua gila. Siapa yang kau sebut semua?" Brian bertanya pelan bagai berbisik, karena kafetaria itu mulai sedikit ramai.


Jasmine menghela napas panjang, kemudian mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Brian.


"Evan menyebut Benedict si iblis tua, lalu Joe. Dan kemarin dia membunuh saudara tirinya sendiri yang bernama Jordan karena nyaris melecehkan ku" kata Jasmine lirih sambil mengingat-ingat nama-nama itu.


"Jadi aku hanya menyimpulkan jika kalian satu keluarga, gila semua. Karena psikopat itu bisa di sebabkan oleh faktor genetik, dan bisa juga karena trauma di masa kecil." Jasmine menjelaskan panjang lebar.


Brian bertepuk tangan sembari menggelengkan kepala, "woah, ternyata otak mu tidak sebodoh wajahmu ya..."


Jasmine berdesis, tidak terima di cap berwajah bodoh. "aku tidak bodoh" Jasmine berseru, hingga sedikit menarik perhatian orang-orang di kafetaria.


Brian menahan tawanya dengan terus menatap Jasmine intens "kau menggemaskan jika sedang marah, pantas saja si gila itu menyukai mu dan membiarkan mu hidup"

__ADS_1


Jasmine menggeleng, "Dia tidak benar-benar menyukai ku, dia hanya menjadikan ku mainannya." Sahut Jasmine mengoreksi.


Dan, Brian mulai tertarik untuk berbicara lebih banyak dengan wanita di depannya, "kau seorang psikolog?"


"Hem, yeah. Aku mengambil jurusan psikolog."


Senyum tipis terukir di bibir Brian, "kau suka membaca kepribadian seseorang, pantas saja kau tau jika kami memiliki kelaianan. Dan kau sama sekali tidak menunjukkan ketakutan mu sedikitpun meski sedang berdekatan dengan kami."


Jasmine mendengus, "kau pikir aku ini robot? Tentu saja aku takut, terlebih saat kalian mulai menunjukkan sisi lain itu."


Brian kembali tertawa renyah, lalu bangkit dari kursinya. Menatap Jasmine sekilas sebelum benar-benar pergi dari sana seraya berucap, "sebaiknya kita sudahi obrolan ini sebelum aku berubah pikiran."


"Heii, tunggu! Apa maksud mu berubah pikiran?" Jasmine berseru sembari mengejar Brian yang sudah melangkah jauh di depannya.


"Cepatlah sedikit Nona, sebelum kekasih mu itu cemburu padaku."


Brian berucap dengan senyum tipis melihat Jasmine yang tergopoh-gopoh mensejajarkan langkah lebarnya.


"****!" Jasmine mengumpat ketika dirinya menabrak punggung tegap Brian hingga jatuh terjengkang.


"Kau ceroboh sekali" Brian membantu Jasmine untuk berdiri.


"Ini salah mu karena jalan terlalu cepat!" Jasmine menggerutu dengan bibir mengerucut, di tambah mata abu-abunya membulat sempurna membuat Jasmine terlihat semakin menggemaskan.


Damn it! That woman is really testing me. Semoga saja Evan tidak melihat ekspresi ku yang terpesona dengan wanitanya. Brian berucap dalam hati.


Dan, pria itu langsung melangkahkan kakinya menjauh meninggalkan Jasmine di koridor kampus yang memasang raut bingung.


***



Joe berdiri kaku di samping Evan yang nampak gusar dengan kegiatannya. Matanya tak lepas mengawasi Evan di ruangan milik Benedict, atau kantor pimpinan utama.


"Berhenti mengawasi ku seperti itu Joe. Aku bukan buronan." Evan berucap datar tanpa melihat pria jelek di sampingnya. Tangannya masih setia membolak-balik lembaran berkas di depannya.


"Tapi kau seorang pembunuh." Sahut Joe santai dengan senyum samar. Pria bertubuh besar itu sama sekali tak terlihat takut meski ia tau Evan bukanlah manusia yang bisa di ajak bercanda.


"Jika kau terus berada disini, maka aku akan menjadikan mu calon target ku selanjutnya." Evan menatap Joe tajam. Meski tetap terlihat tampan, tapi aura iblis di dalam tubuh Evan tidak bisa di tutupi.


"Aahhh, baiklah. Aku akan menunggu di luar." Joe mengalah, lalu berbalik dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu sebelum Evan menancapkan pisau di tubuhnya.


"Hubungi aku jika butuh sesuatu." Ucap Joe sebelum menutup pintu.


"Aku benci pekerjaan ini."

__ADS_1


Evan menutup lembaran berkas itu kasar, bersamaan dengan Joe yang menutup pintu.


"Iblis tua itu menyebalkan sekali."


Evan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil memejamkan kedua matanya.


Tiba-tiba saja bayangan Jasmine melintas di kepalanya.


"Sedang apa ya wanita itu?"Β  gumamnya dengan diiringi kelopak matanya yang terbuka sempurna. Kemudian meraih ponselnya di tumpukan berkas tadi untuk menghubungi seseorang.


"Kau dimana?" Evan langsung bertanya begitu panggilan tersambung.


"Aku di jalan pulang." Pria di sebrang sana menyahut.


"Kau meninggalkan-nya sendiri di mansion ku?" Evan panik.


"Tentu. Mana mungkin aku menemani wanita mu semalaman. Kau ingin aku mencicipi-nya?" Kekehan pelan dari balik telepon terdengar jelas di telinga Evan.


"Lakukan saja, jika kau ingin mati dengan tubuh saling terpisah." Evan mengancam.


"Ck, come on dude. Aku lebih baik bermain dengan kamera kesayangan ku daripada harus berdebat dengan mu karena wanita."


Evan tersenyum puas sembari berputar di kursi kebesarannya, seperti anak kecil yang tidak jadi kehilangan mainannya.


"Aku pegang ucapan mu, jangan sampai kau memiliki niat sedikit saja untuk menyukai wanita ku yang langka itu." Evan berucap serius, dengan penekanan di setiap kata-katanya.


"Hahahah, aku tidak bisa menjamin itu brother jika kau terus meminta ku untuk menjemput wanita mu. Jangan salahkan aku jika wanita mu lah yang justru tertarik padaku."


"Kau__"


Tuuuuttt.


Panggilan terputus sepihak, sebelum Evan selesai meluncurkan kalimat termanisnya untuk saudaranya itu.


"Sial!!" Evan menggebrak meja dengan keras, lalu pintu terbuka lebarΒ  menampilkan sosok Joe yang siaga satu di ambang pintu.


Pria itu menggelengkan kepala melihat tingkah Tuan mudanya, atau lebih tepatnya Iblis muda. "Ada apa denganmu? Kau kesurupan?"


🍁🍁🍁


Bentar bang Joe, psycho kalo kesurupan kayak apa ya πŸ€”πŸ˜‚πŸ˜‚


Brian


__ADS_1


Evan



__ADS_2