The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 39


__ADS_3

Langkah panjang Evan terhenti begitu  benda di saku celananya bergetar, senyum tipis terukir di sana ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


Jasmine.


Tanpa menunggu lama, Evan pun mengangkat panggilan tersebut.


"Kau merindukanku?" Evan langsung bertanya begitu panggilan tersambung.


"Apa? Jangan terlalu percaya diri dude!" Seseorang memekik di sebrang sana.


"Lalu mengapa kau menghubungi ku?"


"Aku lapar, bisa kau membawakan makanan untuk ku?" Suara Jasmine terdengar sedikit pelan.


"Aku bisa membawakan mu cinta." Kekehnya geli.


"Evan! Aku serius!" Suara disana meninggi.


"Aku juga serius." Balas Evan.


"AKU INGIN MAKANAN."


Evan sedikit menjauhkan ponselnya ketika Jasmine mengucapkan kalimat itu dengan keras.


"Hem, baiklah. Aku tau ini hanya akal akalan mu saja untuk bertemu dengan ku." Evan sengaja terus menggoda.


"Jangan mulai!"


"Tunggu saja di apartemen mu. Aku akan membawakan makanan." Perintah Evan.


"Baiklah."


"Tapi, aku ingin imbalan atas makanan yang ku bawakan untuk mu."


"Ka__"


Evan menutup teleponnya sepihak. Dan kembali terkekeh.


"Kau begitu mencintainya ya?" Lucas tiba-tiba berada di samping Evan sambil melempar pertanyaan.


Evan mendengkus, memasukan kembali ponselnya sambil melempar tatapan tajam. "Tidak sopan!"


"Hei, aku kan hanya bertanya. Kenapa kau marah." Lucas mengikuti langkah Evan sampai keluar rumah.


"Boleh aku ikut?"


"Tidak!" Sahut Evan ketus.


"Tapi aku ingin ikut."


"Tidak boleh!" Sentak Evan lagi ketika Lucas berdiri menghalangi jalannya.


Lalu menggeser tubuh Lucas menjauh, dan segera  masuk ke dalam mobil meninggalkan Lucas yang kecewa.


"Dasar pelit!"


Lucas pun berbalik badan, dan kembali masuk ke dalam rumah.


***

__ADS_1


Jasmine menghentikan langkahnya begitu klakson mobil terdengar, seperti memanggil. Jasmine membalikan badan dan mengernyitkan dahi ketika melihat seseorang yang menyapa-nya dari balik kemudi. Jasmine tidak tau pernah bertemu atau tidak dengan laki-laki yang sedang tersenyum sebelum nya.


"Hai" laki-laki itu menyapa.


Dengan bingung Jasmine menoleh ke kasana kemari dimana para pejalan kaki berlalu lalang. Kebanyakan tengah sibuk dengan ponselnya masing-masing. Ada yang hampir tersandung karena tidak memperhatikan jalan, ada juga yang menabrak tiang karena terlalu fokus dengan dunia mayanya.


"Kau, Nona."


Jasmine menghembuskan napas pelan, ia merutuki ingatannya yang buruk.


"Ya?"


"Apa kau perlu tumpangan? Kau kekasih Evan bukan?" Tanya pria itu.


"Ya."


Sebenarnya Jasmine enggan berbicara dengan orang asing, yang entah kenapa terlihat sangat familiar ini. Pesan dari Evan untuk menjauhi pria berpakaian serba hitam dan berambut kecoklatan dengan kalung bertuliskan huruf A, dan itu membuat tubuh Jasmine bergetar takut.


"Biar ku antar kau sampai ke rumah."


"Tidak usah." Tolak Jasmine cepat.


Jasmine menyunggingkan senyum sopan, lalu kembali melanjutkan langkahnya menapaki trotoar untuk sampai ke apartemennya. Brian mengatakan bahwa itu tidak apa apa, karena kasawan sana tida terlalu sepi.


"Ku rasa pacar psikopat mu itu masih ada urusan di perusahaan, lebih baik ku antar saja."


Jasmine tercekat melihat pria berambut kecoklatan itu tersenyum semakin lebar, seolah baru saja memenangkan sebuah pertandingan.


Jasmine tidak mengerti kenapa pria itu bisa tau kalau Evan seorang psikopat. Apa pria itu adalah saudara Evan yang lain? Ah, entahlah.  Jasmine sudah lelah menghitung ada berapa banyak saudara Evan sebenarnya.


Lucas, Jonny, Petter, Lionel, Brian, entah siapa lagi kali ini?


"Kau... siapa? Jasmine bertanya dengan salah satu alisnya naik ke atas.


Axelo turun, dan bersandar pada pintu mobil dengan tangan terlipat. Lagi-lagi Jasmine tertegun ketika menyadari gen keluarga Evan nampak tanpa cacat, semua anggota keluarga Matias selalu menawan dari segi fisik.


Meskipun dari segi mental tidak.


"Jadi mau ku antar ke tempat tinggal mu?"


Jasmine menggeleng, ia belum terlalu mengenal Axelo. Lagi pula ia harus bertanya pada Evan terlebih dahulu, atau Brian sebagai alternatif kedua. Laki-laki itu lebih bisa di ajak bicara di banding Petter, Yang terlalu kaku dan sensitif.


Jasmine menggelengkan kepalanya pelan, "tidak usah, aku pulang sendiri saja."


Axelo mengangkat bahu, "Yasudah, aku akan mengawasi mu saja sebagai ganti tidak mengantarkan."


Jasmine mengernyit tidak suka, "tidak usah, aku bisa sendiri." Ucapnya dengan menekan tiga kata terakhir.


Axelo kembali mengangkat bahunya yang lebar, dan masuk ke dalam mobil. Melajukan benda itu dengan kecepatan rendah, sambil mengikuti langkah Jasmine.


Jasmine berdecak sembari melangkah ke arah tempat tinggalnya, yang hanya memerlukan waktu sepuluh menit saja jika berjalan kaki. Kalau malas pun ia bisa menggunakan transportasi umum yang murah dan cepat. Tapi, rasa kesal yang menggunung dan kekhawatiran yang belum hilang, membuat Jasmine merasa lebih bertenaga hanya untuk berjalan kaki saja.


Mobil itu terus mengikuti, namun Jasmine sudah tidak peduli lagi karena gedung apartemen sudah di depan mata. Jasmine tetap melangkah masuk ke dalam gedung itu tanpa berniat sedikitpun untuk menoleh ke belakang, atau sekedar mengucapkan sesuatu.


Selain karena mencari aman, ia juga tidak tau bahaya apa yang menunggunya jika membiarkan pria itu berdekatan dengannya. Karena Evan pernah melarang-nya untuk dekat dengan saudara-saudaranya yang lain, jika tidak di minta.


Jasmine menghela napas lega begitu membuka pintu, dan masuk ke dalam apartemen-nya. Cepat-cepat Jasmine mengunci pintu itu dan berjalan ke kamar untuk bersembunyi.


Lebih baik ia menunggu Evan di dalam kamar saja.

__ADS_1


Jemari Jasmine nyaris saja menekan tanda panggil pada layar ponselnya, tapi di urungkan karena mendengar ketukan di pintu berulang kali.


Jasmine tersentak, panik bercampur takut. Siapa yang sedang mengetuk pintu apartemennya?


Di tengah ketakutannya yang luar biasa, suara bariton dari balik pintu terdengar jelas di telinga memanggil namanya.


"Jessy, buka pintunya, ini aku."


Jasmine menghela nafas sembari mengusap dadanya lega. Ternyata yang berdiri di balik pintu apartemennya adalah Evan, bukan pria bernama Axelo tadi.


"Tunggu" Jasmine segera berjala menuju pintu, dan membuka benda itu perlahan hingga menampilkan sosok tampan dengan senyum yang menyebalkan.


Evan menyelinap masuk begitu saja, ia merasa lelah menunggu di depan pintu, padahal hanya beberapa menit saja.


"Kemari" Evan melambaikan tangannya pada Jasmine yang terdiam mematung di ambang pintu. Dan Jasmine pun melangkahkan kakinya mendekati Evan.


Evan terus memperhatikan raut wajah panik Jasmine, dan ia yakin sudah terjadi sesuatu. "Ada apa?"


"Aku bertemu Axelo."


Evan tersedak minuman yang baru saja di tenggaknya hingga menyembur sedikit.  "Dia melukai mu?"


Jasmine menggeleng, dan Evan sudah berpindah tempat di depannya tanpa di sadari.


"Jika bertemu dia lagi cepat hubungi aku. Mengerti"


.


Jasmine mengangguk lemah. Lalu terlintas di kepalanya untum bertanya "sebenarnya kau memiliki berapa saudara?"


Evan mendesah pelan, ia malas jika membahas tentang keluarga. "entahlah, terkadang aku bingung, setan tua itu membuat anak banyak sekali."


"Hem, siapa saja yang kau tau? boleh aku juga tau?" Jasmine bertanya dengan raut polos membuat Evan luluh.


Dan, Evan pun mulai menyebutkan nama saudaranya, "Petter, Daren, Lucas, Brian, Lionel, Aldrich, Jonny, dan yang terakhir yang kau temui tadi, Axelo"


Mendengar itu Jasmine jadi sedikit penasaran, "Aldrich? apa yang kau maksud Aldrich si model tampan dengan rambut pirang itu?"


Evan berdecih, " tidak perlu kau menambah kan kata tampan untuk bjngan itu"


"Dia kan memang tampan, lalu dimana salahnya?" Jasmine membalas.


Evan sedikit kesal dan meraih tangan Jasmine untuk di remasnya. Dan, itu embuat Jasmine terkesiap. "katakan sekali lagi kalau dia tampan"


Jasmine meringis, merasakan sakit di pergelangan tangannya, lalu menggeleng pasrah sebelum Evan semakin marah. "dia tidak tampan, cuma kau yang tampan. kau puas?!"


Evan tersenyum, dan mulai melepaskan cengkraman itu "jangan pernah memuji laki laki lain, terlebih di depan ku."


Jasmine memutar bola matanya jengah. Tapi, masih penasaran dan kembali bertanya. "apa ibumu tidak kerepotan mengurus banyak anak seperti itu?"


"kami beda ibu." sahut Evan malas.


Jasmine mengangguk paham, karena mereka memang tidak terlihat mirip. Dan lagi, umur mereka sepertinya tidak berjarak jauh.


"Hem, lalu dimana ibu mu? apa aku boleh bertemu?"


🍁🍁🍁


to be continued

__ADS_1


Daren



__ADS_2