The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 51


__ADS_3


Evan terlampau santai menghadapi dua preman bayaran itu, bahkan ia mengacungkan jari telunjuknya Seolah menyuruh mereka untuk maju lebih dulu menyerangnya.


Tentu saja dua preman itu saling melempar pandang dengan senyum menyeringai, lalu bergerak mendekati Evan dengan mengacungkan senjatanya.


"Hiyaaa"


Evan memainkan pisaunya dengan lincah, memutar mutar di tangannya. Dan begitu mereka mendekat, Evan menangkis serangan mereka sembari menancapkan pisaunya di tubuh mereka bergantian dengan gerakan cepat tanpa di duga oleh dua preman itu.


Evan berbalik badan, pisau di tangannya sudah bernoda merah yang menetes netes ke bawah.


Sementara dua preman bayaran itu mematung di tempat, senjata di tangan mereka sudah jatuh ke aspal sejak tadi. Mereka berdua saling pandang melihat darah yang mengalir dari bagian dada hingga membasahi baju yang mereka pakai.


"Kemarilah" tantang Evan lagi, kali ini  wajah itu tanpa ekspresi. Evan kembali memainkan pisau di tangannya menggoda dua pria itu.


Tapi, dua pria itu lebih memilih pergi dengan tertatih. Langkah yang terpincang-pincang karena menahan sakit di tubuh mereka.


"Kalian mau kemana?" Evan menarik baju bagian belakang dua pria itu, hingga mereka terhuyung kebelakang dan jatuh terjengkang.


Sedangkan Jonathan sedang sibuk dengan mainannya, menyayat manjah tubuh Jasson yang sudah tergeletak tidak jauh dari posisi Evan berada.


Evan berjongkok di depan dua pria itu, segaris senyum terukir di bibir Evan. Senyuman itu bagai terompet kematian mereka berdua.


"Mari kita selesaikan ini dengan sedikit bermain-main, pasti kalian akan menyukainya." Ucap Evan lambat lambat sembari memperhatikan raut ketakutan di wajah mereka.


Belum lagi bos mereka yang sudah tergeletak di aspal dengan kondisi yang mengenaskan.


"Tolong, biarkan kami pergi. Kami minta maaf." Kata salah satu pria itu. Dan pria satunya mengangguk setuju.


"Lepaskan kami Tuan, kami janji tidak akan pernah muncul lagi di hadapan mu." Kata pria satunya.


"Ahh, aku setuju. Kalian tidak akan pernah muncul lagi di hadapan ku. Karena aku akan mengirim kalian ketempat yang jauh." Evan tertawa lantang memecah keheningan malam itu. Tempat yang sepi dan sunyi, serta jauh dari pemukiman warga, membuat Evan leluasa melakukan itu.


"let's have fun."


Krak!!

__ADS_1


Pisau Evan menancap dimulut salah satu pria itu, hingga darahnya mengenai teman di sampingnya. Dia shock bukan main, bahkan nyaris muntah melihatnya.


Pria itu sudah tidak bernyawa, dengan wajah rusak, serta mulut yang robek sampai telinga.


Kini giliran pria satunya lagi, Evan memainkan hal berbeda. Ia menancapkan pisaunya tepat di tenggorokan, dan memutar pisaunya disana hingga darah mengucur deras tanpa bisa di hentikan. Pria itu pun tewas seketika.


Malam itu Evan dan Jonathan benar-benar menunjukan jati dirinya yang lebih mengerikan. Monster tampan, dan mesin pembunuh tanpa belas kasih yang sudah di usik, maka habis riwayat mereka dalam sekejap saja.


Sementara di tempt lain, masih di kota yang sama. Seorang gadis tengah termenung di dalam kamarnya, Sejak beberapa menit yang lalu gadis itu tidak bisa memejamkan matanya untuk tertidur lelap.


Seseorang yang menemaninya sudah tidak lagi disina, Jasmine merasa kehilangan. Padahal kemarin saat Evan belum datang, ia baik baik saja. Tidak merasakan sesak seperti saat ini.


Harusnya tadi ia ikut saja kembali ke Valencia bersama Evan dan Jonathan.


"Ahh, dasar bodoh, bodoh bodoh." Jasmine memukul kepalanya sendiri dengan boneka. Merutuki kebodohannya karena tidak ikut pulang bersama Evan.


Jika tadi ia ikut, mungkin saat ini ia sedang berduaan dengan Evan.


Ah, Jasmine jadi ingat kejadian di sofa sore tadi. Dimana mereka berdua  untuk yang kedua kalinya nyaris melakukan hal itu.


Sungguh memabukkan.


"Ah, Evan sudah sampai mana ya?" Tiba-tiba Jasmine teringat, segera ia meraih ponselnya untuk menghubungi pria itu.


Jemari lentik Jasmine men-scroll layar tujuh inci itu, mencari kontak Evan untuk menanyakan keberadaan-nya.


Cukup lama Jasmine menunggu, namun panggilan itu tak kunjung tersambung. Sampai Jasmine kesal sendiri dan akhirnya membanting benda pipih itu asal dia atas tempat tidur.


"Menyebalkan! Awas saja nanti kalau ketemu!!"


Jasmine pun meraih selimut dan membungkus tubuhnya hingga seluruh wajah, Memaksakan matanya untuk terpejam meski percuma.


"Kenapa kau tidak pergi juga dari pikiran ku sih?"


Jasmine merutuk sendiri seperti orang tidak waras, lalu kembali membuka selimutnya dan menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan gelisah. Perasaannya tidak enak, seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


Ah sudahlah. Sepertinya rasa rindunya terlalu dalam sampai membuat dirinya seperti orang tidak waras.

__ADS_1


***


Sedangkan di negara yang berbeda, Petter kembali di repotkan oleh Evan dan Jonathan. Mereka berdua selalu saja membuat hidup Petter susah. Menyuruh tanpa mengenal waktu, entah itu pagi, siang atau malam. Jika mereka berdua memerintah, maka harus di laksanakan jika idolannya ingin selamat.


Menjengkelkan sekali.


"Baiklah, akan aku lakukan" sahut Petter pada pria di balik line telepon. Dan langsung mematikan sambungan itu sepihak.


Mimpi indahnya bersama sang idola harus kandas karena panggilan dari Jonathan.


Dengan malas Petter turun dari atas tempat ternyaman nya, dan menghubungi orang orang Benjamin di New York untuk membereskan masalah yang sudah di buat oleh Evan dan Jonathan.


"Kapan aku akan bebas dari lingkaran setan ini?" Petter menggerutu sembari berjalan menuju kamar mandi. Ia ingin sekali memiliki hubungan serius dengan Jenny tanpa bayang-bayang ancaman dari Benjamin.


Petter juga sudah membayangkan akan memiliki anak yang banyak dari Jenny. Kombinasi yang pas, Jenny yang putih dan memiliki mata serta hidung minimalis, sedangkan dirinya bermata biru dan hidung mancung.


Ah, baru membayangkan nya saja Petter sudah sesenang ini. Apalagi jika itu benar terjadi? Mungkin Petter akan pensiun menjadi pengacara agar bisa membuat banyak anak bersama Jenny. Cukup saja menjual aset milik Benjamin untuk hidup tujuh turunan delapan tanjakan tidak akan habis.


Petter membasahi tubuhnya di bawah kucuran shower, menghapus bayangan indah hidup bersama Jenny. Karena semua itu tidak akan pernah terjadi selama Benjamin masih bernapas dan memijakkan kakinya di bumi. Kecuali iblis tua itu sudah sudah tidak bisa menggoyang wanitanya, barulah semua akan mudah untuk mengirimnya ke neraka sana.


CK! Kapan iblis tua itu tidak bisa mencetak anak? Kadang Petter bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya ayahnya itu memiliki rahasia apa sampai bisa meniduri beberapa wanita sekaligus meski usianya sudah tidak lagi muda.


Entahlah, Petter tak mau ambil pusing. Apa pedulinya?


Mungkin bagi Benjamin, jika duduk bersama tidak menyelesaikan masalah, maka cobalah dengan tidur bersama. Terkecuali pria.


Pantas saja pria itu memiliki banyak anak.


🍁🍁🍁



Wah, boleh di coba tuh resepnya 😂


Mau bikin masalah ah sama doi.


maaf ya, aku lama updet. ceritanya lagi ikutan mudik kaya yang lain, eh kena razia cowo single 🤦

__ADS_1


__ADS_2