The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 23


__ADS_3

Setelah kejadian sore tadi yang cukup menggucang jiwa polosnya, lalu dengan seenak jidatnya Evan memaksa dirinya untuk ikut dengan pria itu ke suatu tempat.


Ia bagai itik yang kehilangan induknya berada di tengah kerumunan orang yang sama sekali tidak di kenalnya.


Dia. Evan sedang di poles oleh beberapa pria dengan gestur gemulai bak wanita. Mata pria itu tak lepas memandangi dirinya meski sedang di kerumuni wanita cantik dengan tatapan memuja dari kejauhan.


Jasmine mengalihkan pandangannya ke arah lain, di sisi kanan seorang wanita sedang bergaya di depan kamera mengikuti perintah.



"Kau ingin seperti mereka?"


Jasmine tersentak ketika suara Evan tiba-tiba terdengar begitu dekat di telinganya.


"Kau menganggetkan ku!" Sentak Jasmine "aku tidak tertarik menjadi seperti mereka."


Jasmine menilik penampilan Evan yang sudah siap dengan kostum untuk pemotretan. Ia baru tahu jika Evan ternyata seorang model. Hidupnya terlalu rumit untuk mengamati orang lain selain Alegio.


"Matamu berkata lain Nona" Evan terkekeh seraya bangkit dari kursinya, meninggalkan Jasmine yang menggerutu kesal dengan mata melotot.


Kini giliran pria itu yang berdiri di depan kamera, namun mata Evan terus menatap ke arahnya membuat Jasmine salah tingkah.



Kenapa dia terus menatapku? Menyebalkan!


Berbagai kostum dan gaya Evan lakukan dengan senyum, entah senyum karena dengan hati melakukan pekerjaannya atau senyum dengan wanita yang menggantikan pakaiannya. Jasmine jadi kesal sendiri melihatnya.


Huh, sok tampan sekali dia.


Dusta. Dalam hati kecilnya, Jasmine justru memuji ketampanan pria itu. Mata tajamnya, hidung mancungnya , bibirnya, serta rahangnya yang kokoh membuat siapa saja meleleh dan memuji ciptaan Tuhan yang satu itu.



Nyaris sempurna.


Hingga sebuah tangan menepuk bahunya membuyarkan lamunan Jasmin kala itu.


"Hei, apa kau bosan?" Pria itu duduk di sampingnya tanpa beban, dengan memasang senyum ramah.


Jasmine tidak tau harus merespon apa, Evan pasti akan marah kalau melihat dirinya berdekatan dengan pria lain.


"Hem...yeah" sahutnya sambil mengedikan bahu. Matanya melirik ke tempat dimana Evan berada. Tapi, pria itu tidak ada dimana-mana.


"Kau mencari siapa?" Tanya pria itu lagi.


Tak menjawab, Jasmine masih celingukan tidak jelas membuat pria itu beridiri di hadapan Jasmine.


"Kau mencari Evan?" Tebaknya, dan tepat sasaran. "Dia sedang di ruang ganti"

__ADS_1


Jasmine melirik pria berkacamata itu, siapa sebenarnya pria itu?


"Kau__"Jasmine berpikir.


"Aku Brian, saudara tiri Evan." Pria itu mengulurkan tangannya, lagi lagi dengan senyum ramah hingga kerutan di sudut matanya terlihat jelas.


Brian adalah manager Evan sekarang, sebelumnya pria itu adalah manager Alegio sebelum Al tewas di tangan Evan. Jadi mau tidak mau, Evan menggantikan Alegio menjadi model.


Ragu-ragu Jasmine meraih tangan itu dan menjabatnya. "Jasmine"


"Aku sudah tau namamu" celetuk Brian dengan menyesap minuman kaleng di tangannya. "Kau mau?"


Jasmine menggeleng, menolak tawaran pria itu. "Evan bergosip tentang ku?"


Brian terbatuk. Pertanyaan Jasmine membuatnya ingin tertawa kencang, namun ia urungkan agar tidak menarik perhatian orang-orang di dalam studio ini.


"Mana mungkin manusia satu itu menceritakan miliknya pada orang lain." Kata Brian.


"Lalu, darimana kau tau?" Jasmine mengangkat sebelah alisnya bingung.


"Luke, si cerewet." Brian beranjak dari sana setelah mengatakan itu, sebelum Evan memergokinya sedang berbicara dengan kekasih pria itu. "Senang bertemu dengan mu Jasmine."


Brian mengedipkan sebelah matanya dari balik kacamata bening yang membingkai wajahnya. Langkah pria itu semakin menjauh bersamaan dengan Evan yang datang dari sisi satunya.


Evan berjalan mendekat dengan kaos hitam yang melekat di tubuhnya, tidak lagi memakai kostum pemotretan. Apa pria itu sudah selesai?


"Maaf membuat mu menunggu lama" Evan berucap tulus. Menyodorkan minuman kaleng pada Jasmine dan duduk di samping wanita itu.


"Kau marah?" Mata pria itu menatap tajam mengamati ekspresi kesal Jasmine.


Dan, wanita itu mendengus seraya berucap "Menurutmu?"


Evan terkekeh, kemudian beranjak dari kursi sembari menarik lengan Jasmine pelan untuk turut bangkit.


Dengan malas Jasmine mengikuti kemana Evan pergi membawanya, kakinya terus mengikuti langkah Evan hingga masuk ke dalam lift.


"Untuk apa kita naik lift?" Jasmine menoleh kesamping "kau mau apa? Jangan macam macam dengan ku?!"


Jasmine menyilangkan tangannya di depan dada sebagai tameng pertahanan, dengan raut serius siaga satu. "Tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu. Badanmu terlalu kurus seperti papan kayu."


Mata Jasmine membulat sempurna dengan rahang terbuka. Apa katanya? Papan kayu? Keterlaluan!!


"Apa katamu?! Papan kayu?" Jasmine bertanya dengan berapi-api. "Lalu kenapa sore tadi kau menyentuh ku?"


"Kau masih ingat? Aku bahkan sudah melupakannya" Evan tersenyum kecil.


"Aku lupa ukuran dadamu seberapa ya?" Evan mengangkat telapak tangannya di depan wajah seolah sedang mengingat-ingat.


"Kau!! Bedebah sialan! Enyah kau dari muka bumi!"

__ADS_1


Evan terkekeh saat Jasmine terus memukul tubuhnya membabi buta, itu sama sekali tak berpengaruh di tubuh kerasnya.


"Kau rata" ejeknya lagi hingga tanpa terasa pintu lift terbuka bersamaan bunyi denting sebagai penanda.


Evan keluar dari dalam lift sambil berlari karena Jasmine terus mengejarnya.


"kemari kau sialan!!" Terengah-engah Jasmine mengambil napas sambil membungkukkan tubuhnya, lalu berjongkok.


Kekehan kencang semakin mengudara melihat Jasmine kelelahan, lalu Evan berjalan mendekati wanita itu sambil mengulurkan tangan.


"Kemari lah"


"Tidak!" Jasmine kesal.


"Aku hanya bercanda sayang, kau tidak rata." Rayunya dengan senyum manis. Duh Jasmine meleleh.


"Boleh aku menyentuh mu lagi?" Bertanya sambil tertawa kecil. "Aku menyukainya."


Fu*k!!


Baru saja ia luluh, dalam hitungan detik Evan sudah kumat lagi. Dasar mesum!


"Dalam mimpi mu jerk!!" Katanya seraya beranjak berdiri, menepis tangan Evan yang terulur padanya.


Evan masih tertawa kecil sembari mengedikkan bahunya, wanita itu jika sedang marah sangat menggemaskan sekali, rasanya Evan ingin mengurung wanita itu di bawah tubuhnya.


"Hei, jangan terlalu menepi, berbahaya!" Evan berjalan cepat menghampiri Jasmine yang berdiri di tepian rooftop, berpegangan pada besi pembatas.


Tak menghiraukan, Jasmine justru merentangkan kedua tangannya sambil memejamkan mata. Seolah menikmati hembusan angin malam yang menusuk kulitnya meski terbalut jaket tebal.


Tanpa aba aba Evan melingkarkan tangannya di perut Jasmine, meletakkan dagunya di atas bahu wanita itu seraya mengecup pipinya.


"Kau cantik"


"Singkirkan tanganmu itu! Jangan merusak mood ku malam ini." Wanita itu berucap tanpa membuka mata. Namun, tak menepis tangan Evan dari tubunya.


"Aku mencintaimu" bisiknya di telinga Jasmine.


"Aku tidak!" Sahut Jasmine cepat.


"Aku ingin menikahi mu"


Jleb! Jasmine mengerjapkan matanya, menoleh ke samping di mama Evan menyandarkan dagu di bahunya.


Wajah mereka terlalu dekat, hidung mereka bersentuhan hingga Jasmine dapat merasakan hembusan napas pria itu. Matanya yang tajam seperti elang yang sedang mengincar mangsanya, melumpuhkan Jasmine.


Tak mendapat jawaban, lantas Evan memberanikan diri mendekat kan bibirnya dan berbisik di sana, " menikah lah dengan ku."


Setelah mengucapkan itu Evan mengecup bibir Jasmine, menumpahkan perasaan cintanya pada wanita itu. Membiarkan malam menjadi saksi pengakuan cinta seorang Evan.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Adek mau bangπŸ˜‚ kuy KUA.


__ADS_2