
Evan dan Jonathan kembali ke Valencia setelah menghabisi 3 nyawa dengan brutal dalam sekejap, mereka pergi dengan aman tanpa beban karena orang orang Benjamin mengurus semuanya sampai bersih tanpa jejak.
Tidak tanggung-tanggung, Petter juga mengirimkan private jet untuk menjemput dua manusia laknat itu yang selalu menyusahkan dirinya.
Dan, dalam waktu singkat Jonathan juga Evan sudah tiba di Valencia.
Tanpa menunggu waktu lama untuk sekedar beristirahat, Evan langsung di giring menemui Benjamin.
Sungguh kejam.
"Tidak bisakah aku pulang untuk membersihkan diri dulu?" Evan bertanya dengan raut datar pada pria di sampingnya. Dan Jonathan hanya melirik tajam tanpa bersuara, yang berarti tidak ada alasan untuk melarikan diri lagi dari Benjamin.
"Kau ternyata lebih menjengkelkan dari setan tua itu." Kata Evan dan berjalan mendahului Jonathan memasuki lift.
Di dalam benda itu mereka berdua saling diam dengan pikiran masing-masing hingga Jonathan membuka suaranya lebih dulu.
"Kau tidak berniat untuk memutuskan wanita mu saja? Sebelum ayah mu yang memutuskan."
Evan menoleh sekilas, lalu kembali menatap ke depan menunggu benda itu terbuka.
"Selama aku masih bernapas. Aku tidak akan melepaskannya" katanya tanpa ragu. Masa bodoh dengan ayahnya nanti, ia tidak akan membiarkan siapapun melukai Jasmine.
"Aku tidak yakin" Jonathan menegakkan tubuhnya, "Kau tau pasti bagaimana sifat ayahmu bukan?"
Benar. Perkataan Jonathan menyadarkan dirinya, bagaimana kekejaman sang ayah terhadap dirinya dan juga ibunya. Bahkan pria itu tak segan-segan menghabisi nyawa ibunya dengan keji.
"Aku akan membunuhnya lebih dulu, sebelum iblis tua itu menyentuh wanita ku." Katanya dengan sorot mata memancarkan kemarahan dan kebencian yang nyata, kemudian berlalu dari sana setelah pintu lift terbuka, meninggalkan Jonathan.
Pria botak itu hanya menggelengkan kepalanya menatap punggung Evan yang melenggang pergi, mungkin nanti akan ada pertumpahan darah antara ayah dan anak.
Bukan cuma Evan, bahkan anak-anak nya yang lain pun menginginkan hal yang sama, yaitu kematian Benjamin.
Sungguh miris.
Jujur saja, ia pun juga menginginkan kematian Benjamin. Ia ingin hidup normal dan memiliki keluarga serta keturunan. Seperti Evan mungkin? Ia melihat bagaimana Evan mencintai dan mengasihi wanitanya, serta bercanda ria begitu lepas, seolah tidak memiliki beban sedikitpun.
Jonathan pun ingin hal yang sama, meski entah siapa yang mau menjadi pasangannya menghabiskan sisa hidup hingga maut memisahkan.
Buang jauh jauh pikiran mu Jonathan!.
Bruk!!
Evan menoleh dengan raut heran menatap pria parubaya yang baru saja menabrak punggungnya.
"Kau melamun?" Evan bertanya sembari mengamati raut wajah Jonathan. "Ternyata kau punya pikiran juga ya"
__ADS_1
"Sialan!! Kau pikir aku tidak memiliki pikiran?!" Kesal Jonathan.
"Mungkin saja, kau kan melakukan apapun tanpa berpikir." Ejeknya dengan senyuman tipis.
Jonathan meraih pisaunya di balik saku, berniat ingin menyerang Evan_hanya bercanda. Tapi, sayangnya seseorang yang melihat kejadian itu salah paham.
Benjamin dan bodyguardnya langsung menahan tangan Jonathan, dan langsung membekuk pria itu ke lantai dengan posisi tangan di kunci ke belakang. Juga lehernya yang di kait dengan lengan kekar hingga kesulitan bernapas.
"Heii, lepaskan dia!!" Bentak Evan. Sembari menepuk lengan yang mengait leher Jonathan.
"Jangan dengarkan dia." Suara bariton terdengar dari dalam ruangan. Benjamin berjalan santai mendekati Evan dan Jonathan di depan pintu. Sontak Evan pun menoleh dengan ekspresi yang sulit di artikan.
"Apa maksudmu?" Tanya Evan.
"Sudah jelas bukan? Joe ingin menghabisi mu. Bahkan dia berani melakukannya di tempat ini." Benjamin menatap marah pada Jonathan, ia melihat kejadian itu dari cctv. Dimana Jonathan berniat menikam putra kebanggaan-nya secara diam-diam.
Evan menggeleng tidak percaya dengan senyum mengejek pada Benjamin, bagaimana bisa ayahnya berpikir seperti itu pada orang kepercayaannya. Jika Jonathan berniat menghabisi dirinya, mungkin sudah di lakukan sejak di New York kemarin, di saat tiga pria menyerangnya.
"Kau terlalu berlebih Benjamin." Evan menatap Benjamin tajam, "Jika Joe ingin menghabisi ku, sudah pasti aku tidak akan berdiri di depan mu. Atau mungkin sebaliknya, Joe tidak akan berada disini saat ini."
Benjamin menatap Jonathan, mengamati orang kepercayaannya dengan seksama. Benar juga perkataan Evan.
Tapi, terlalu banyak orang yang menginginkan kematiannya, membuat dirinya menjadi waspada. Karena terkadang orang terdekat lah yang berpontensi melakukan hal itu. Terlebih Jonathan yang lama bekerja dengannya, sudah pasti mengetahui seluk beluk keamanan pertahanan-nya, hingga mudah untuk menghabisi dirinya.
"Lepaskan dia, dan kalian kembali ketempat masing-masing." Titah Benjamin pada pria berpakaian serba hitam yang baru saja membekuk Jonathan. Mereka semua pun bergegas pergi ketempat semula setelah melepaskan Jonathan.
"Kau berhutang nyawaku" bisik Evan di telinga Jonathan. Dan Jonathan memberikan senyum menjengkelkan andalannya.
"Aku akan menukarnya dengan nyawaku." Balasnya.
Evan menepuk bahu Jonathan berulang kali dengan senyum lebarnya. Ini akan menjadi lebih menarik, batin Evan.
"Masuklah kalian." Perintah Benjamin, dan Evan juga Jonathan mulai berjalan di belakang Benjamin memasuki ruangan utama yang di dominasi warna putih itu.
***
Axelo mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil menatap ke arah luar jendela. Bahkan dinding yang tak berdosa pun menjadi pelampiasan kemarahan Axelo. Dinding itu di tinjunya beberapa kali hingga menimbulkan suara yang mengganggu tidur kekasihnya_Ara.
Ara pun bangkit dari tempat tidur dan berjalan mendekati sang kekasih yang terlihat sedang emosi.
"what's wrong with you honey?" Ara meraba punggung bidang Axelo, lalu mengecup pelan bahu telanjangnya.
Pria itu pun menghentikan gerakannya seketika, lalu membalikan tubuh hingga berhadapan dengan Ara.
"Apa aku mengganggu tidur mu?"
__ADS_1
Ara menggelengkan kepalanya, dan menjatuhkan-nya ke dada bidang pria itu. "Kau tidak mengganggu ku, aku haus." Ucapnya berbohong.
"Kemarilah, aku ambilkan kau minuman." Axelo menuntun Ara untuk duduk di sofa berwarna putih di ruang tengah, lalu ia berjalan menuju pantry.
Tidak lam Axelo kembali pada Ara dengan membawa segelas air putih di tangannya. "Ini, minumlah."
Ara menerima gelas itu, dan menenggak isinya hingga tandas. Padahal tadi ia hanya berbohong, tapi nyatanya ia benar-benar haus.
"Kau ada masalah?" Ara bertanya sembari meletakan gelas itu di atas meja. Lalu meraih tangan sang kekasih yang nampak diam tak berniat menjawab. "Kalau kau tidak mau bercerita tidak masalah. Aku bisa mengerti."
See? Bagaimana Axelo tidak jatuh cinta dengan wanita ini. Sungguh pengertian dan lembut.
"Kau ingat saudara tiri ku yang menduduki posisi yang sangat aku inginkan?"
Ara mengangguk, "pria bernama Evan, yang selalu di banggakan oleh ayah mu?"
"Aku sangat membencinya." Tutur Axelo dengan nada datar, menyiratkan kebencian yang amat sangat, terlihat dari sorot matanya.
"Ada apa dengan Evan?" Tanya Ara, ia belum paham apa yang membuat kekasihnya marah.
"Dia kembali lagi, dan Benjamin memberinya orang-orang kepercayaannya untuk menjaga Evan." Axelo mengepalkan tangannya kuat saat mengucapkan itu.
"Aku ingin sekali menghabisi nya, tapi itu akan sangat rumit, karena akan berurusan dengan Benjamin yang begitu membanggakan Evan, belum lagi aku harus berurusan dengan organisasi."
"Kau bisa menggunakan cara lain untuk menaklukkan nya" usul Ara.
"Misalnya?"
"Kau gunakan kelemahannya, pasti pria bernama Evan itu memiliki kelemahan." Katanya lagi.
Axelo diam nampak berpikir, mencerna perkataan sang kekasih. Lalu di otaknya terlintas nama seorang gadis yang pernah ia temui tempo lalu. "Jasmine."
Ara mengerutkan keningnya, "siapa Jasmine?"
"Aku tau apa yang harus aku lakukan untuk menghancurkan Evan." Axelo tersenyum lebar, sembari mengusap dagunya.
"thank you honey, you are the best." Axelo mengecup kening Ara, lalu berpindah hingga memenuhi wajah gadis itu.
"Aku sangat mencintaimu." Axelo bergegas pergi setelah mengucapkan itu. Ia ingin menemui Jacob untuk menyusun rencana untuk membuat Evan hancur.
🍁🍁🍁
To be continued...
__ADS_1