The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 61


__ADS_3

Pagi itu Jasmine di kejutkan dengan dua pria yang saling baku hantam di dekatnya, sampai-sampai ia nyaris kena serangan jantung. Untung saja ia masih bisa menahan serangan itu sebelum jantungan.


Jasmine sendiri masih belum sepenuhnya sadar dengan apa yang di lihatnya, semuanya terjadi begitu cepat. Yang terlihat oleh matanya adalah, Brian sedang di pukuli seseorang dengan membabi buta. Coba kalo babinya melek, mungkin Brian bisa melakukan perlawanan dengan baik dan benar.


"Stop it!!" Jasmine langsung berlari ketika melihat pria itu mengarahkan pisau tepat di leher Brian.


Dengan sekuat tenaganya Jasmine mencoba menahan lengan Evan, meski tak mampu mengimbangi, hingga akhirnya tubuhnya terlempar oleh Evan dan kepalanya membentur sudut sofa.


"Awww"


"Jessy!!" Seru Evan dan Brian seraya saling berebut berlari mendekati Jasmine yang sedang meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.


"Kau tidak apa apa?" Tanya mereka berdua bersamaan, dan Evan pun langsung mendorong tubuh Brian menjauh, ketika pria itu hendak menyentuh Jasmine.


"Jangan sentuh wanita ku!!" Bentaknya dengan wajah merah padam sambil menunjuk wajah Brian penuh ancaman.


"Kalian ini kenapa sih?" Jasmine bertanya sambil menatap dua pria tampan itu bergantian.


Brianpun menghembuskan nafas beratnya dengan wajah tertunduk lesu, wajanya masih sakit akibat pukulan brutal Evan. Sementara Evan sendiri masih dengan aura Iblisnya yang kental, meski sudah menjelang siang.


"Bajingan ini berani memelukmu dengan tangan kotornya." Ucap Evan kesal.


"Memelukku? Kapan?" Jasmine bertanya dengan menampilkan wajah bodohnya seperti biasa. Dan itu membuat Evan kehilangan amarahnya dalam sekejap.


"Dia hanya salah paham" Brian membenarkan.


"Salah paham gundulmu!!" Evan kembali marah sampai mengucap kalimat aneh bagi telinga Brian dan Jasmine.


Berada di Indonesia beberapa tahun membuat Evan sedikit hapal kalimat-kalimat aneh nan konyol itu.


"What!!" Jasmine bingung.


"Lupakan." Balas Evan.


Dan, Brian hanya menahan senyum melihat Evan yang salah ucap hingga membuat Jasmine bingung. Kemudian ia pun bangkit berdiri meninggalkan dua manusia itu.


"Heii, jangan pergi? aku belum puas menghajar mu." Evan berseru melihat kepergian Brian.


Sementara Brian masih terus berjalan menaiki anak tangga sambil berucap, "Simpan saja tenaga mu, karena nanti aku akan membalasmu untuk Jasmine."


"Aku? Memangnya aku kenapa?" Lagi, lagi Jasmine menyahut dan menampilkan sisi bodohnya dengan wajah lugu bak bayi koala.


Ahh tidak, sepertinya Jasmine lebih cocok dengan bayi singa, karena sikap bar-barnya.


"Tidak usah dengarkan dia, aku minta maaf soal tadi. Apa kepalamu masih sakit?" Evan menyesali perbuatannya.


"Tentu saja masih sakit, coba saja sini kepalamu" Jasmine menarik rambut Evan agar mendekat, dan pria itu malah tertawa sambil mencuri cium bibir Jasmine.


"Evan!!"


"Yess honey, say my name..."

__ADS_1


Gerrr...


***


Di tempat lain, dua pria kurang kerjaan sedang bersenang-senang dengan apa yang di lakukannya semalaman. Axelo dan Jake sedang duduk di sofa dengan beberapa botol minuman tergeletak di meja.


Axelo sedang memainkan ponsel milik Lucia di tangannya, ia berniat menghubungi Jasmine memakai ponsel gadis itu.


Beberapa detik berlalu panggilan tak kunjung terjawab, dan hanya terdengar suara oparator dari sebrang sana. Axelopun kembali mencoba panggilan itu dengan sedikit gerutuan di bibir sensualnya.


"Dasar operator gila!!aku benci menunggu..."


"Tenanglah dude, mungkin dia sedangย  bercinta dengan saudara tirimu itu" Jake menggoda dengan kekehan geli, dan Axelo memukul kepala Jake dengan botol minuman kosong.


"Diam lah!"


Sementara di depan mereka, seorang gadis masih terikat dalam keadaan sadarkan diri, gadis itu pingsan karena tak kuat menahan sakit atas siksaan dua pria biadab itu semalam. Tubuhnya penuh luka, terutama di bagian wajah, sampai nyaris tak di kenali.


Axelo mencoba kembali menghubungi nomor Jasmine dan tak lama kemudian terdengar suara lembut dari sebrang sana.


"Luci...kau selalu saja menggang..."


"Aku bukan Luci" Axelo menyela ucapan Jasmine, membuat gadis itu terdiam beberapa saat.


"Kau kekasih Luci?" Terdengar nada ragu dari balik line telepon.


"Aku... malaikat pencabut nyawa sahabat mu" kata Axelo tanpa basa basi, kemudian mengalihkan panggilan itu menjadi video call.


Axelo mengarahkan kamera itu pada wajah Lucia, terlihat luka lebam dan darah yang mulai mengering.


Dengan kamera yang masih mengarah pada wajah Lucia, Jake pun membantu menarik rambut panjang Lucia kebelakang hingga mendongak. Dengan jelas memperlihatkan wajah Lucia yang luar biasa parahnya.


Dapat Axelo lihat jika Jasmine membulatkan matanya lebar dengan tangannya menutup mulut yang menganga karena terkejut.


Dua pria biadab itu tersenyum puas melihat raut panik dan takut Jasmine, bahkan mereka juga tertawa ketika Lucia tersadar dengan ringisan kesakitan yang cukup memilukan.


"C-cukup, s-sa..sakit..." Lucia terbata dengan susah payah.


"Luci... Buka matamu, ini aku. Aku akan menolongmu, bertahanlah." Suara teriakan Jasmine bergitu jelas, hingga membuat Lucia membuka matanya yang bengkak.


"J-Jessy..."


"Sudah cukup!!" Axelo menjauhkan kamera ponsel itu, hingga hanya mengarah pada wajahnya saja.


"Dasar gila, monster!! Cepat kembalikan sahabat ku" suara Jasmine begitu nyaring terdengar.


"Aku akan kembalikan sahabat mu, dengan satu syarat."


"Katakan! Berapa uang yang kau mau?" Jasmine menantang, mungkin Jasmine pikir Axelo membutuhkan uang, dan dia bisa meminjam uang Evan untuk menebus Lucia.


"Dengarkan aku baik-baik Nona. Jika kau mau sahabat mu itu kembali dalam keadaan hidup, datang lah kemari seorang diri. Tanpa sepengetahuan Evan dan saudaranya yang lain. Kau sanggup?" Kata Axelo memberi syarat.

__ADS_1


Hanya beberapa detik saja keheningan itu terjadi, hingga akhirnya Jasmine kembali menjawab. "Katakan dimana aku harus menemui kalian?"


"Berjanjilah, kau tidak akan memberitahu Evan dan yang lainnya."


"I promise" Jasmine mengucap janji dengan anggukan mantap. Dia tidak peduli dengan nanti yang akan terjadi pada dirinya, saat ini Lucia sedang membutuhkan bantuannya.


"Baiklah, Jika sampai kau berbohong, maka Luci akan ku kembalikan dalam keadaan tubuh yang terpisah."


Tut!


Axelo memutus panggilan itu, sebelum Jasmine sempat melontarkan protes.ย  Lalu Axelo mulai mengirimkan alamat yang harus Jasmine datangi, dan memerintahkan anak buahnya untuk berjaga dari kejauhan. Hingga Axelo bisa mengantisipasi jika saja ada yang mengikuti Jasmine diam-diam.


***


Lucas memarkirkan mobilnya di halaman mansion milik Brian, pria berkulit pucat itu sengaja berkunjung hanya untuk menemui Jasmine. Jika bukan karena gadis itu, mungkin ia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di sana.


Baru saja Lucas menapakkan sepatu boots-nya ke aspal, ia sudah di hadapkan dengan sosok Brian. Pria menurutnya menyeramkan setelah Ben dan Joe.


"Mau apa kau datang kesini?" Tanya pria itu sambil mengghalangi tubuh Lucas.


Lucas sendiri sudah menduga ini pasti akan terjadi, dan ia pun menjawab pertanyaan itu dengan santai. "aku ingin bertemu dengan Jessy."


"Untuk apa?" Brian memang tidak percaya dengan siapapun yang bersangkutan dengan Ben, meski ia tau Lucas dekat dengan Evan.


"Aku hanya ingin berteman dengannya, dia lucu. Aku menyukainya." Kata Lucas jujur.


"Lebih baik kau pergi, sebelum Evan mencabik tubuh mu dengan pisaunya."


"Tapi... Jessy"


"Luke..." Jasmine membalas sapaan Lucas. Dan Brian pun menoleh ke belakang, dimana Jasmine sedang berjalan ke arah mereka dengan tergesa-gesa.


"Kau mau kemana?" Tanya Brian.


"Aku ingin bertemu sahabat ku" katanya, berusaha sebisa mungkin menyembunyikan kepanikan di dalam dirinya.


"Biar aku antar" kata Brian sembari berbalik badan.


"Biar aku saja yang mengantarnya." Lucas menyela sembari melirik ke arah Jasmine.


"Iya benar, biar Luke saja yang mengantar ku." Jasmine menerima tawaran Lucas dengan senyum lebar.


"Tidak. Evan sudah menitipkan mu padaku, jadi biar aku saja yang mengantarmu." Keputusan Brian mutlak.


"Aku akan menjaganya dengan nyawaku." Lucas kembali menimpali. Bahkan Jasmine juga sudah membuka pintu mobil Lucas masuk ke dalamnya.


"Aku akan memberitahu Evan." Ujar Brian ketika Lucas juga mulai masuk ke dalam mobil.


"Sampaikan salam ku padanya." Lucas melambaikan tangan pada Brian seraya menjalankan mobilnya keluar dari halaman mansion Brian.


Begitu mobil Lucas menjauh, Brian segera menghubungi Evan yang belum lama juga pergi bersama Joe menemui Ben.

__ADS_1


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


To be continued...


__ADS_2