The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 66


__ADS_3

Evan menilik keadaan Jasmine yang berada di atas tubuhnya, setelah tadi terpental dan berguling-guling di atas aspal.


"Hei, Are you ok?"


Jasmine mengangkat wajahnya dari dada bidang Evan, kemudian mengangguk pelan.


"Yes, i'm ok" dustanya, padahal tubuhnya terasa remuk akibat mencium aspal dan kerikil tadi.


Buru-buru Evan membantu Jasmine bangkit dari atas tubuhnya hingga gadis itu bisa duduk.


"Kau tunggu disini"


"Aku ikut..."


"Tidak! kau disini saja" kata Evan.


"Ta-tapi..."


Belum sempat Jasmine mengutarakan niatnya, pria tampan itu sudah lebih dulu pergi meninggalkan dirinya sendiri.


Evan berlari munuju jurang dimana mobil yang di tumpangi Brian dan Aron menghilang.


Meski Evan yakin, Brian tidak akan semudah itu untuk mati, tapi nyatanya Evan tetap cemas karena Brian tak kunjung muncul ke permukaan.


"C'mon dude, jika kau mati lalu siapa yang akan mengurus penangkaran para gadismu..." gumam Evan sepanjang berlari.


Bukan cemas karena Brian akan pergi untuk selama-lamanya, tapi karena penangkaran para gadis-gadis yang akan di tinggalkan oleh Brian. Sungguh saudara yang baik.


Begitu sampai di bibir jurang, Evan menghentikan langkahnya. Terlihat mobil hitam milik Aron sudah hancur tak berbentuk di dasar jurang yang di penuhi bebatuan, lalu di susul ledakan dan api yang mulai membakar benda besar itu.


"Kau tak berniat membantu ku?"


Suara bariton dari sisi kirinya mengalihkan perhatian Evan dari kobaran api di bawah sana.


Senyum tipis pun terukir di bibir sensual Evan, kemudian berjalan mendekat kearah pria yang sedang bergelantungan di ranting pohon kering.


"Sudah kuduga, Iblis seperti mu pasti di tolak bumi." Selorohnya sembari mengulurkan tangan membantu Brian keluar dari jurang.


Brian tertawa seraya memeluk Evan dan mengacak-acak rambut pria itu sambil berucap.


"Sesama iblis dilarang saling mencela, kau tau itu hm..."


Evan mendorong tubuh Brian menjauh, sambil merapikan rambutnya iapun berucap. "aku bukan lagi Iblis, kau saja sana..."


"Tidak usah menggurutu, kau iblis paling tampan di muka bumi." Brian kembali merangkul Evan, sambil mengacak-acak rambutnya dengan sengaja menggoda.


"Berhenti merusak tatanan rambut ku, atau aku akan mendorong mu kembali ke jurang" Evan menyingkirkan tangan Brian dari bahunya.


"Dan kau harus menghadapi ku jika sampai itu terjadi" Jasmine menyela sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Dan Tentu saja itu membuat Evan terkejut.


"kau dengar itu boy? Hahahah" sahut Brian sambil tertawa pongah karena mendapat pembelaan dari Jasmine.


"Sepertinya aku harus menikahi mu sekarang juga Nona Jessy." Evan tersenyum smirk, kemudian berjalan ke arah Jasmine dan langsung mengangkat tubuh gadis itu di atas bahunya seperti memanggul beras.


"Heii, turunkan aku!!" Jasmine meronta sambil memukuli punggung Evan. Tapi pria berparas tampan itu nampak acuh dan terus berjalan.


"Brian help me..." Mencoba meminta bantuan pada pria yang berjalan tidak jauh darinya. Dan Brian hanya menggelengkan kepala dengan wajah tak berdosanya. Seolah berkata, 'Maaf kan aku Jessy, aku tidak bisa membantu'.


"Kau!!! Dasar curang!! Aku akan membunuhmu..."


***

__ADS_1


Di sel bawah tanah yang gelap nan kotor, Joe sedang bertarung melawan dua pria yang menjaga Lucia.


Dengan kampak di tangannya, Joe terus menangkis serangan dua penjaga sel. Lawan yang tak imbang membuat Joe kewalahan, tubuhnya terhimpit pada jeruji sel tahanan dengan tangan terlipat kebelakang.


"Jangan pernah bermimpi bisa membawa gadis itu keluar dari sini..." bisik salah satu penjaga berkepala plontos itu.


"Benarkah?" Sahut Joe santai, kemudian ia menginjak kaki serta membenturkan kepalanya kebelakang tepat mengenai hidung penjaga itu.


"Shit!!" Penjaga itu mundur kebelakang sembari memegangi hidungnya yang berdarah. Melihat temannya terluka, lantas si penjaga satunya pun langsung menyerang Joe.


Serangan brutal itu membuat Joe terluka di bagian perut, dengan senyum kecut, Joe pun berusaha berdiri tegak sambil berucap. "Aku bosan..."


Dan saat itu juga Joe melangkah maju sembari mengacungkan Kampak di tangannya.


Krak...


Crraatt...


kampak Joe menancap di kepala penjaga bertubuh besar itu, dan tumbang seketika. Kemudian di susul pria satunya yang bernasib sama.


Segera Joe membuka sel besi itu, dan perlahan melepas rantai yang mengikat kuat kaki dan tangan Lucia.


Tubuh Lucia yang penuh luka, tak mampu lagi berdiri, hanya meringis kesakitan saat Joe menyentuh lukanya.


"Gadis yang malang" Joe pun akhirnya membopong tubuh Lucia keluar dari sana.


Sementara di ruang utama dua keluarga psikopat masih baku hantam.


Petter, Luke dan Daren menyerang Jake yang tinggal seorang diri dengan sedikit permainan. Hingga nyaris sekujur tubuh Jake di penuhi luka, namun tak juga membuat pria berkulit kecoklatan itu menyerah begitu saja.


"Kau masih tak mau menyerah?" Luke bertanya sembari memainkan tongkat besi di tangannya dengan senyum remeh. Tapi Jake nampak acuh, tak terpancing.


"Pria bodoh itu sudah mengantarkan nyawanya dengan cuma-cuma. Jadi biarkan saja dia bermain-main di sisa waktunya." Timpal Petter santai.


"Kau tau? Aku tidak akan pernah kalah. Majulah..."


Daren sendiri hanya tersenyum tipis atas ucapan ngawur si Jake dan siap menyerang. Namun, serangannya terhenti ketika mendengar suara dentingan besi yang saling beradu dari lantai dua. Lalu muncullah dua manusia jelek tanpa ekspresi yang berdiri kaku di tepian pagar pembatas dengan membawa samurai di tangannya.


Mereka yang ada di lantai bawah menatap bingung, terkecuali Anderson dan Jake yang memang mengenal dua makhluk aneh itu. Dan tanpa aba aba dua pria bersenjata itu melompat, lalu menyerang Ben, Daren, Petter dan Luke membabi buta.


Masing-masing dua kubu saling serang dengan berbagai jenis senjata tajam seperti anak STM sedang tawuran. Tak ada yang takut mati, karena dendam sudah menguasai otak hingga nadi mereka.


Ben pun terluka di bagian punggungnya akibat sabetan samurai milik salah satu pria berwajah datar itu. Luka robek yang cukup lebar tercipta, Namun tak membuat Ben tumbang, justru semakin memperlihatkan sisi gelapnya yang murka.


"time to have fun." Kata Ben dengan suara berat nan serak.


Ben balik menyerang pria yang melukai punggungnya dengan Kakute ring yang ia pakai di jari-jarinya. Benda kecil di jarinya itu memang tidak melukai, tapi untuk melumpuhkan lawannya. Dan dalam sekejap saja pria tanpa ekspresi itu tumbang secara perlahan akibat luka dari benda kecil nan tajam itu di titik titik fitalnya.


Anderson murka, karena pria yang baru saja tumbang adalah salah satu anaknya.


"Aku bersumpah akan mencincang mu hidup-hidup Ben..." Teriak Anderson sambil melangkah maju ke arah Ben.


Anderson mengacungkan Jadgkommando di tangannya, pisau yang memiliki tiga sisi tajam dan di gabung berbentuk memutar spiral dengan ujung yang runcing. Pisau itu memang terlihat biasa saja, tapi mampu menyisakan luka robek yang cukup lebar dan dalam, hingga menyulitkan dokter untuk menjahit luka akibat benda tersebut. Senjata yang sederhana namun mematikan.


Sementara Daren tergeletak di lantai dengan luka yang cukup parah akibat pisau Jadgkommando milik Anderson, dia tak imbang melawan pria berambut klimis itu yang memang sudah senior dalam beladiri.


Kini giliran Ben yang tersudut di ujung meja, pria bertubuh kekar itu kesulitan mengimbangi serangan Anderson. Karena pria berambut klimis itu sudah berhasil melukai lengan dan pinggangnya.


"Waktumu sudah habis Ben... Bersenang-senang lah di Neraka" Anderson bersiap menghujamkan pisau runcing itu di dada Ben dan...


Jleb...

__ADS_1


Dua Kunai besi menancap di leher Anderson bersamaan dengan pisau runcing milik Anderson yang menancap di telapak tangan Ben.


Anderson pun tewas bermandikan darah yang mengalir dari lehernya, dan pria berambut klimis itu jatuh menghantam lantai.


"No!!!" Teriak Jake tidak terima melihat sang ayah telah kalah.


Dan kesempatan itu langsung di manfaatkan oleh Petter dan Luke untuk menyerang Jake serta si pria berwajah datar.


"Die.." seru Evan dramatis. Dan Brian hanya tersenyum tipis, sementara Jasmine hanya melongo sambil menutup mulutnya. Gadis itu masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Kau memang selalu tepat sasaran dude..." Puji Brian sembari berjalan mengikuti Evan.


Namun pria yang di puji nampak tuli, matanya hanya berpusat pada pria yang terlihat kesakitan dengan pisau yang masih menancap di telapak tangannya.


"Kau terluka..." Kata Evan datar dengan ekspresi yang sulit di artikan. Lalu menarik pisau runcing itu dari tangan Ben yang ternyata menembus ke dada sang ayah.


"Aakhhh..."


"Heii, Cepatlah bawa paman kerumah sakit, kenapa kau malah diam saja!!"ย teriakan cempreng Jasmine membuyarkan fokus mereka. Bahkan Ben pun turut tersenyum mendengarnya.


Setelah beberapa detik saling pandang, akhirnya Brian memutuskan untuk membawa Ben kerumah sakit.


"Tidak perlu" Ben menahan tangan Brian, "Ini akan percuma"


Ben menarik nafasnya dalam-dalam, sambil meringis kesakitan ia pun berucap "Ma-maafkan ayah, sudah menyusahkan kalian."


Ben beralih menatap Jasmine dan meraih tangan gadis itu, "Jaga bocah nakal itu baik baik, aku merestui hubungan kalian."


Ben mengembuskan nafas terakhirnya dengan senyum bahagia. Dan Jasmine menangis dalam diam membalas genggaman tangan pria parubaya itu yang mulai melemah.


"Don't... don't go, don't leave us. Please wake up!!"


"Wake up!!" Jasmine menggoyangkan tubuh Ben dengan Isak tangis yang mulai pecah.


Sedang Evan dan Brian hanya diam, dengan mata yang mulai memerah dan rahang yang mengeras seolah menahan sesak di dada mereka.


Percayalah...


Tuhan sudah berjanji menjamin setiap kehidupan di muka bumi, Tuhan juga berjanji memberi kemudahan untuk setiap kesulitan.


Teruslah berjuang dan berdoa, biar Tuhan yang mengatur hasil akhirnya.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


The end.


Maaf buat para kesayangan Oby, kemarin Oby sakit, dan butuh waktu lama buat pemulihan. Makasih buat yang masih setia nemenin Oby disini..


I love you all...๐Ÿ˜Ž


ini contoh senjata yang di pake mereka.


Jadgkommando..



Kunai



Kakute

__ADS_1



__ADS_2